Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Tidak akan melepasmu


__ADS_3

Gunawan tidak ingin tinggal diam melihat istrinya di bawa oleh pria lain. Ia adalah orang yang berhak atas istrinya, untuk apa ia mengalah dan membiarkan sang istri justru di antar pulang oleh orang lain.


Gunawan berlari mengejar Vicky dan Kiara yang sudah berjalan jauh darinya. Ia menangkap pergelangan tangan Kiara yang hendak memasuki mobil Vicky dengan pintu yang sudah di bukakan oleh pria itu.


“Kiara istri gue. Gue yang akan bawa dia pulang,” ujar Gunawan menantang.


“Kalau lu suami yang baik. Jangan biarkan dia pergi sendirian,” jawab Vicky dengan menunjuk Kiara. “Dia sedang hamil besar. Apa lu tega ngebiarin dia jalan kemana-mana sendiri. Kalau gue ngga akan tega.”


Kiara hanya menatap bergantian kedua pria yang sedang berseteru ini.


“Sudah-sudah, aku tidak perlu di kasihani. Walau sedang hamil besar, aku masih bisa kemana-mana sendiri,” sahut Kiara lantang. Ia tidak ingin lagi disebut wanita manja.


Lalu, Kiara melepaskan cengkraman pergelangan tangannya yang masih di cekal sang suami. Ia berjalan menjauh dari kedua pria yang masih terlihat tegang itu.


“Ra, kamu mau kemana?” teriak Vicky yang melihat Kiara sudah semakin menjauh.


Namun, tubuh Vicky dihadang oleh Gunawan agar tidak mengejar Kiara. Kemudian, Gunawan berbalik dan mengejar Kiara. Seketika, Kiara merasa tubuhnya melayang, karena Gunawan langsung menggendongnya ala bridal dari arah belakang.


“Turunin,” sungut Kiara.


Namun, Gunawan menghiraukan permintaan Kiara.


Gunawan mendekati mobilnya dan mendudukkan Kiara di dalam sana.


“Diam. Jangan keras kepala!” bentak Gunawan, membuat Kiara terdiam dan merengutkan bibir.


Sementara, Vicky hanya menghelakan nafasnya kasar. Ia tak bisa berbuat apa-apa, saat melihat Kiara dibawa paksa oleh Gunawan. Vicky memasuki mobil, setelah melihat mobil Gunawan berlalu lebih dulu. Lalu, ia menaiki mobil itu dengan malas dan mengemudikannya menuju kantor.


Di dalam mobil, Gunawan dan Kiara hanya terdiam. Belum ada satu patah kata pun yang keluar dari mulut mereka. Kiara memandang lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Gunawan sekali pun. Sedangkan, Gunawan sesekali menoleh ke arah Kiara. Ia ingin mengucap maaf atas mulutnya yang tak terkendali tadi, tapi rasanya sulit.


“Mas.”


“Ra.”


Kiara dan Gunawan mengeluarakn suara bersamaan.


“Kamu duluan,” kata Kiara.


“Kamu saja yang duluan bicara,” jawab Gunawan.

__ADS_1


Kiara terdiam sejenak dan menghempaskan nafasnya kasar. “Aku tidak ingin kejadian ini terulang lagi.”


“Kalau begitu, jangan meminta bantuan apapun dari pria itu,” sahut Gunawan.


Kiara menoleh ke arah suaminya yang masih fokus menyetir.


“Kapan kamu melepasku, Mas?” tanya Kiara.


Namun, Gunawan tetap terdiam dan pandangannya masih tertuju pada jalanan yang ada di depan.


“Apa kamu benar-benar ingin berpisah dariku?” Gunawan balik bertanya.


Kiara mengeryitkan dahi. “Bukankah sejak dulu, kamu yang ingin berpisah dariku. Mengapa hingga sekarang belum juga kamu lakukan. Padahal aku sudah menandatanangi surat itu.”


“Karena ada dia di sini,” jawab Gunawan dingin.


Kiara semakin bingung dengan cara berpikir pria yang duduk di sampingnya ini.


“Bukankah, kamu tidak mengakui anak ini. Jadi biar aku yang mengurusnya. Kamu tidak perlu khawatir. Aku akan membesarkannya dengan baik.”


Gunawan memberhentingan mobilnya di tepi jalan dengan tiba-tiba.


Bunyi rem mobil Gunawan yang sontak membuat tubuh Kiara sedikit menghuyungkan tubuhnya ke depan


“Sebenarnya apa maumu, Ra?” tanya Gunawan kesal dengan menggeser tubuhnya agar berhadapan dengan Kiara..


“Seharusnya aku yang bertanya seperti itu. sebenarnya apa maumu, Mas? Aku sudah minta maaf padamu, menerima perlakuan kasarmu, bahkan ikhlas untuk melepasmu. Lalu apa lagi?”


Mereka saling bertatapan. Gunawan menatap kedua bola mata Kiara yang indah. Rasanya sulit untuk melepaskan Kiara, walau semula ia yang menggebu-gebu untuk berpisah dari wanita ini. Namun, semakin perpisahan itu dekat, semakin ia tak bisa melakukannya.


“Aku tidak akan melepasmu.”


“Kenapa? Masih belum puas menyiksaku?” tanya Kiara dengan tersenyum kecut.


“Ya. Aku belum puas menggunakan tubuhmu,” jawab Gunawan bohong.


Padahal ia benar-benar belum siap kehilangan sang istri, sosok Kiara yang semula tak berarti, mendadak kini sangat berarti baginya. Apalagi nanti, jika ia melapaskan wanita itu, pasti Kiara akan bersama Vicky. Dan, ia tak terima itu.


Seketika Kiara melepaskan kontak mata pada Gunawan. Ia tersenyum, sembari memandang ke arah lain. Ia sadar bahwa kesalahan yang ia lakukan pada Gunawan sangat besar, mungkin pria itu tidak akan memaafkannya. Kiara pasrah, ia memang sudah tidak berharap mendapatkan kebahagiaan dari seorang pria. Ia sudah terjebak oleh permainannya sendiri.

__ADS_1


Kiara tak lagi bicara. Ia lebih memilih duduk menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi mobil dan memandang ke arah jendela. Sementara Gunawan mulai menjalankan kembali mobilnya.


Gunawan sadar bahwa dirinya pun sudah banyak menyakiti Kiara. Walau, Kiara melakukan kesalahan besar pada hidupnya, tapi ia pun tidak jarang melakukan kesalahan pada wanita itu. Gunawan sadar ia sering berlaku kasar pada Kiara. Entah itu berupa fisik atau kata-kata.


Gunawan menoleh sekilas ke arah Kiara yang masih memiringkan padangannya ke arah jendela. Hatinya terenyuh melihat ketidakberdayaan wanita itu. Ya, Gunawan peduli terhadapnya. Untuk pertama kalinya, ia kasihan pada Kiara. Entah benar-benar rasa kasihan karena Kiara sedang hamil, atau memang kasihan karena cinta yang bersemi di dada. Namun, satu yang pasti Gunawn tidak akan melepas Kiara.


Sesampainya di kediaman Aditama. Gunawan memarkirkan mobil di pekarangan luas rumah itu. Ia mendekatakan tubuhnya pada tubuh Kiara yang sedang tertidur pulas dengan menempelkan kepalanya pada kaca jendela.


Gunawan menatap wajah cantik itu. Ia merutuki dirinya yang baru menyadari bahwa istrinya memang cantik. Ia pun menyungging senyum dan perlahan membenarkan posisi duduk Kiara agar kepalanya tak lagi menempel pada kaca jendela itu.


Gunawan keluar dari sana dan membuka pintu mobul Kiara perlahan. Lalu, ia kembali menggendong sang istri ala bridal menuju kamar.


“Gun. Kiara kenapa?” tanya Rasti panik, mendapati Kiara yang dibopong seperti itu.


"Tidak apa, Mam. Kiara hanya tertidur saat perjalanan tadi dan Gunawan tak tega membangunkannya.”


Sontak Rasti tersenyum, karena ini pemandangan romantis pertama yang dilakukan Gunawan untuk putrinya.


“Oh." Rasti mengangguk dan kembali menyungging senyum.


Sungguh Rasti sangat senang. Ia selalu berdoa agar hubungan sang putri dengan suaminya kembali baik-baik saja dan selalu bahagia, karena satu yang ia selalu pegang teguh adat keluarga ini. Ia pun ingin anak-anaknya memegang teguh adat itu juga, bahwa tidak ada perceraian dalam keluarga Kean.


Gunawan meletakkan tubuh istrinya dengan hati-hati. Lalu, ia meletakkan tas Kiara di atas nakas. Tetapi sebelum itu, ia menjatuhkan seluruh isi tas yang ia pegang asal itu.


Brak ...


Dompet, ponsel dan lotion itu berserak di lantai. Ternyata Kiara lupa meresleting tasnya. Di sana pun tergetak beberapa kertas.


Gunawan mengambil semua yang terjatuh itu dan memasukkan kembali ke dalam tas. Namun, lembaran kertas itu sengaja ia lihat dengan seksama. Tiga lembar hasil USG empat dimensi yang sengaja di cetak tadi membuat senyum Gunawan mengembang. Walau hasil USG itu belum memperlihatkan raut wajah layaknya seperti sebuah foto sempurna. Namun, cetakan lembaran itu seperti terlihat sebuah sketsa, lebih tepatnya adalah sketsa bentuk wajah dirinya.


Gunawan duduk di tepi tempat tidur dan mengelus perut Kiara. “Maaf, papa meragukanmu.”


Dug.


Perut Kiara menyenbul, memberikan getaran dan hentakan pada tangan Gunawan yang sedang berada di perut itu.


“Hei, kamu marah, karena papa baru menyapamu. Maaf.” Gunawan kembali bicara sendiri dan tersenyum.


Untung saja, Kiara masih tertidur pulas, jadi wanita itu tak melihat apa yang tengah Gunawan lakukan. Jika Kiara melihat ini, mungkin Kiara akan mengira dia memiliki kepirbadian ganda yang terkadang baik dan terkadang kasar.

__ADS_1


__ADS_2