
Papa Attar memasuki gedung apartemen yang di tempati putranya. Sejak kemarin, Attar memang hanya mengurung di sana. ia masih syok dengan kabar pernikahan Rea.
“Pa, tunggu Mama,” teriak Gina, Mama Attar yang berlari menuju lift, sementara Papa Attar sudah berada di dalam lift itu.
“Cepat dong, Ma.”
“Iya, Pa.” Gina masuk ke dalam Lift. Ia melihat raut wajah suaminya yang menahan marah.
“Pa, jangan keras-keras pada Attar,” ucap Gina ketika kaki mereka menuju unit apartemen putranya.
“Kamu selalu memanjakan anak itu. Begini jadinya.”
“Loh, kok jadi Mama yang disalahin. Papa juga kenapa bisa kecolongan! Sampe ngga tahu kalau putra kita dan sekeretarisnya itu berhubungan.”
Papa Attar terdiam. Lalu, ia menekan passcode dan masuk. Ia dan istrinya melihat keadaan apartemen yang kacau. Botol minuman berserakan dimana-mana. Baju, sepatu dan dasi Attar pun berceceran di lantai. Kedua orang tua Attar berpikir bahwa putranya tengah patah hati, sehingga menjadi frustrasi seperti ini.
“Eum ... terus, Kak.” Terdengar suara seorang wanita dari balik kamar Attar yang pintunya tertutup sempurna.
“Suara siapa itu, Pa?” tanya Gina pada suaminya.
“Dasar, anak kurang ajar!” Papa Attar semakin geram dan langsung mendobrak pintu kamar itu.
Sontak dua insan yang tengah bergelut di atas ranjang itu pun terkejut.
“Papa,” panggil Attar.
Lagi-lagi, Attar melakukan hubungan badan dengan Sila di apartemennya. Saat itu, setelah Attar mengantarnya ke Bandung, Sila kembali menemui Attar keesokan harinya. Ia tak terima Attar mencampakkan dirinya begitu saja. Ia ingin menghancurkan hubungan Attar dengan Rea, karena jika dirinya tak bisa mendapatkan Attar, maka Rea pun tidak boleh. Itu yang ada di benak Sila. Namun, keadaan memang berpihak pada Sila, karena saat wanita itu ke apartemen ini, Attar dalam keadaan kacau. Pria itu mabuk karena telah ditinggal nikah oleh kekasihnya. Akhirnya, Sila kembali masuk ke hati Attar dengan mudah, karena selain kondisinya yang kacau, Attar pun butuh pelampiasan dan hanya Sila yang mau untuk menjadi tempat pelanpiasan hasratnya.
Sila langsung menutup tubuhnya yang polos dengan selimut tebal itu. Dengan gerakan kaki yang melangkah cepat, Papa Attar langsung mendekati putranya dan menampra keras pipi itu.
Plak
“Papa,” teriak Gina, Mama Attar.
Gina menghampiri suaminya dan menahan tangan sang suami yang hendak menampar Attar lagi. “Papa, Jangan!”
Attar sudah menunduk, mempersiapkan wajahnya untuk dipukul lebih keras lagi oleh sang ayah.
Gina melirik ke arah Sila. “Kamu yang menggoda anak saya. Dasar jal*ng.”
Plak
Gina menampar pipi Sila dan hendak ingin menamparnya lagi. Namun, tangan Attar menahan lengan ibunya.
“Mama, jangan!”
“Kamu membelanya? Huh!” Darah Gina ikut berkobar. “Wanita murahan seperti ini tidak pantas untukmu.”
“Kamu memang bodoh, Tar. Papa tidak habis pikir denganmu. Buat apa kamu meminta Papa dan Mama mendatangi Rea, kalau ternyata kamu malah asyik-asyikan di sini dengan wanita murahan ini.” Mata Papa Attar menganggap remeh Sila.
“Justru Sila yang membuat Attar tidak lagi frustrasi, Pa.”
“Diam kamu!” bentak Papa Attar.
__ADS_1
“Mulai besok, tidak perlu ke kantor. Biar perusahaan itu Papa pegang lagi. Bagaimana kamu bisa mengurus perusahaan, jika mengurus diri sendiri saja tidak bisa,” ucap Papa Attar emosi dan langsung meninggalkan kedua insan itu.
Mama Attar ikut mengekori suaminya. Ia pun hendak keluar dari apartemen itu.
“Pa,” panggil Attar pada sang ayah sembari memakai boxernya. “Pa, ngga bisa gitu dong. Papa ...”
Papa Attar menoleh ke arah putranya. “Tidak bisa, bagaimana? Papa yang menentukan keputusan. Mulai sekarang urusi hidupmu sendiri. Papa ingin lihat bagaimana kamu bisa hidup tanpa uang Papa. Dan, kamu tahu, pasti wanita itu akan meninggalkanmu karena kamu tak memiliki uang lagi,” ujar Papa Attar dengan lantang, lalu ia benar-benar meninggalkan putranya yang mematung.
“Pa, apa kita tidak berlebihan?” tanya Gina pada suaminya.
Gina sangat menyayangi putranya. Apapun kesalahan Attar selalu ia tutupi, sehingga yang ayahnya tahu memang putranya adalah anak baik-baik dan tidak macam-macam.
“Ini satu-satu cara agar putra kita dewasa, Ma.”
“Tapi, Pa?”
“Stop! Papa tidak ingin lagi terhasut oleh Mama dan memanjakan Attar. Dia sudah seharusnya menjadi seorang pemimpin, Ma. Bukan terus berada di bawah ketiak kita.”
Papa dan Mama Attar berdebat di sepanjang jalan, hingga lift yang mereka naiki sampai di lobby.
“Tapi, walau bagaimana pun Attar putra kita satu-satunya, Pa. Mama ngga tega.”
“Lebih tidak tega, ketika dia rapuh dan hancur perlahan tanpa bisa berdiri. Papa hanya memberinya pelajaran. Papa mau lihat sejauh mana dia bisa berdiri tanpa kita. Ketika dia tidak bisa berdiri, pasti Papa akan membantunya.”
Gina menarik nafasnya kasar. Apa yang diucapkan suaminya memang benar. Gina pun setuju, walau hatinya masih berat.
****
“Kamarku kedap suara, jadi kalau kita mau ngapa-ngapain di sini. Thia dan Nisa ngga bakal denger,” ucap Vicky ketika ia dan istrinya berada di dalam kamar utama.
Rea tengah membersekan beberapa pakaian yang ia bawa dari rumahnya tadi ke lemari besar yang ada di dalam kamar itu. Sebelum pindah ke apartemen ini dan meninggalkan rumahnya, Rea menitipkan rumah itu pada Pak Rt. Vicky meminta rukun tetangga itu untuk membantu merawat rumah Rea dan jika ada yang ingin menyewanya, maka Rea akan menyewakan rumah itu beserta isinya.
“Memangnya, kita mau ngapain?” tanya Rea denga melirik ke arah Vicky.
“Hah.” Vicky merebahkan tubuhnya di atas ranjang. “Mau ngapain kek, udah gede ini.”
Rea yang sudah kembali fokus di depan lemari besar itu, kini melirik lagi suaminya. “Dasar, Om mesum.”
Vicky tertawa. “Tapi suka kan?”
Rea mencibir dan menggeleng tanpa melihat lagi ke arahnya, membuat Vicky kembali gemas. Ia pun bangkit dan mendekati sang istri yang masih berdiri di depan lemari.
Kedua tangan Vicky melingkar di pingga Rea dan bibirnya menelusuri leher jenjang itu.
“Mas, ih geli,” rengek Rea, karena bulu-bulu tipis itu membuat Rea meremang.
Namun, Vicky tak menghiraukan. Ia tetap menggelitiki sang istri dengan sengaja menggesekkan bulu tipis itu di leher Rea.
Rea tertawa. “Mas, geli ih. Pekerjaanku belum selesai.”
“Pekerjaanku juga belum selesai,” jawab Vicky.
“Ngapain?” tanya Rea bingung dan menoleh ke arah suaminya.
__ADS_1
“Membuat kamu keenakan di bawahku dan menyebut namaku. Ah ... Mas ... Mas Vicky terus.” Vicky memeragakan suara sensual Rea.
“Mas,” teriak Rea dan hendak memukul tubuh suaminya, tapi dengan cepat Vicky menghindar.
Rea mengejar Vicky dan pria itu pun terus menghindar sehingga mereka saling kejar-kejaran di dalam kamar itu.
“Awas ya kamu. Hmm ...” Rea menyipitkan mata sembari mengacungkan kepalan tangannya ke atas.
Rea berdiri persis di depan ranjang besar itu dan ia pun sudah tak lagi mengejar Vicky
Vicky tertawa. “galak banget sih istri aku.” Ia berlari ke arah Rea dan memeluk tubuh itu hingga terjatuh dir anjang.
“Tapi, aku suka,” bisik Vicky di telinga Rea.
Rea tertawa, karena Vicky lagi-lagi menggelitikinya. Kedua insan yang masih berstatus pengantin baru itu pun tertawa.
“Oh, iya sayang. Besok malam, kita di undang makan malam oleh keluarga Adhitama,” ucap Vicky.
“Keluarganya, Pak Kenan?” tanya Rea.
Vicky mengangguk. “Keluarga Kenan sudah seperti keluargaku sendiri. Mami Kenan ingin mengenalmu.”
“Oh, ya? Apa itu penting?”
Vicky kembali mengangguk. “Sangat penting, karena bagiku Mami Kenan sudah seperti Mami ku sendiri.”
Rea pun tersenyum dan mengangguk.
Keduanya berhadapan tanpa jarak dalam posisi tidur menyamping di atas ranjang.
“Sayang,” panggil Vicky lembut.
“Hmm ...” jawab Rea sembari menatap wajah suaminya.
“Kamu sudah mulai mencintaiku?” tanya Vicky.
Rea terdiam. Ia hanya menatap wajah pria yang memang sudah tidak muda lagi. Namun, masih cukup tampan.
“Hmm ...” Rea bingung menjawab pertanyaan itu. Ia terdiam cukup lama.
“Sudahlah, tidak perlu dijawab,” ucap Vicky yang kemudian bangun dari tubuhnya yang semula berbaring miring.
Rea langsung menahan gerakan Vicky yang hendak bangkit dari ranjang itu, membuat Vicky menoleh lagi ke arah sang istri.
“Aku memang belum mencintaimu, tapi aku menyukaimu. Lagi pula menurutku tidak akan sulit menintai pria yang adik-adikku cintai,” kata Rea dengan senyum yang manis, semanis gula.
Vicky pun tersenyum lebar, hingga jejeran giginya terlihat. Ia kembali mendekatkan tubuhnya pada sang istri. Kali ini, Vicky menindih tubuh istrinya itu dengan senyum yang terus mengembang.
“I love you, Rea.” Vicky mengecup bibir ranum Rea hingga kecupan itu menjadi sebuah ciuman panas.
Rea yang semakin menyukai sentuhan suaminya itu pun terbwa suasana, hingga gairah keduanya terpancing dan kembali melakukan penyatuan. Bercinta dengan pasangan halal yang dicintai memang luar biasa. Keduanya mampu mengimbangi kenikmatan masing-masing.
Seperti Hanin dan Kenan, juga Gunawan dan Kiara. Malam ini, mereka bercinta di kamar dan tempat tinggal masing-masing.
__ADS_1