Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Bagai rollercoaster


__ADS_3

Acara launching buku biografi Kenan Aditama selesai tiga puluh menit yang lalu. Kenan pun sudah pamit oleh panitia pelaksana acara tersebut, lalu berjalan keluar ditemani beberapa petugas keamaan. Di sana Kenan melihat Misya dan putranya yang masih berdiri seolah menunggu Kenan keluar.


Kenan mengahmpiri Misya. “Kalian masih di sini?”


“Putraku masih ingin melihatmu karena kamu belum pulang.”


Kenan mengusap kepala Marcel dan tersenyum. “Kau mengingatkanku pada diriku dulu.”


Kenan memang pernah meminta Kean untuk menunggu idolanya keluar hingga sang idola itu benar-benar pergi dan tidak terlihat olehnya lagi.


“Apa kita bisa makan siang bersama, Om?’ tanya Marcel penuh harap pada Kenan.


Kenan terkejut dan tampak bingung. Ia menggaruk alisnya yang tak gatal.


“Maaf, Ken. Putraku terlalu lancang. Dia sangat mengidolakanmu dan ingin sekali bisa lebih dekat denganmu.”


Kenan tersenyum ke arah Marcel dan sesekali melirik ke arah Misya.


“Hmm ...”


“Kalau tidak bisa, tidak apa, Ken. kamu pasti sibuk.”


Kenan memanggil Siska dan menanyakan jadwalnya.


“Tidak ada lagi pertemuan setelah ini, Pak,” jawab Siska.


“Baiklah, kamu membawa kendaraan?” tanya Kenan.


Misya Menggeleng. “Hingga saat ini, aku masih belum bisa menyetir, Ken.”


“Oh ya, aku lupa. Kau memang sangat takut mengendarai kendaraan.” Kenan tertawa kecil.


Misya pun ikut tertawa.


“Pak Endang, antar Siska ke kantor lebih dulu, lalu balik lagi ke sini menjemputku satu jam kemudian,” bisik Kenan pada supirnya.


Siska yang mendengar itu pun, langsung pamit dan pergi bersama Pak Endang. Sedangkan Kenan mengajak Marcel dan Misya ke sebuah restoran donat yang berada tak jauh dari pintu keluar toko buku itu.


Mereka pun berbincang di sana. Misya memang tak banyak bicara. Ia hanya tersenyum memperhatikan putranya yang sedang antusias berinteraksi dengan Kenan. Kenan pun menanggapi dengan ekspresi yang sama, karena Marcel cukup pintar dan mudah menangkap setiap perkataannya.


Di tempat lain, Hanin, Irma, Karmen dan putranya sudah berada di jalan. Setelah puas berbelanja, mereka hendak pergi ke sebuah spa langganan Karmen.


“Mami, aku mau donat,” ucap putra karmen yang berusia tiga tahun itu, saat berada di mobil dan dari kejauhan terlihat restoran donat yang cukup dikenal anak-anak.


“Sudahlah, Gio. Kamu sudah makan banyak tadi, apa masih belum kenyang?” tanya Karmen kesal sembari tetap fokus menyetir.


Hanin dan Irma berada di kursi penumpang belakang. Kebetulan, Irma pun tidak membawa putrinya yang baru berusia tiga bulan dan dititipkan pada orang tuanya.


“Kasihan, Men. Udah sih berhenti aja sebentar di sana,” ucap Hanin sembari mengelus kepala Gio dari belakang.


“Tau lu, Men, anak susah makan bingung. Eh sekarang doyan makan, malah diomelin. Aneh lu,” sahut Irma.


Karmen pun tertawa. “Bukan gitu, tapi ribet aja harus berhenti lagi, parkir lagi.”


“Ya elah, demi anak,” kata Irma.


“Tau, males amat jadi emak,” hanin menyahut.


“Iya deh, iya.”

__ADS_1


Akhirnya Karmen pasrah dan memarkirkan mobilnya saat melewati restoran yang di minta Gio. Sesaat ketika Karmen fokus memarkirkan mobil itu tepat di depan restoran yang biasa menjadi tempat nongrong anak muda itu. Irma menangkap sosok bosnya itu.


“Han, Han, itu bukannya Pak Kenan ya?” tanya Irma dengan mata lurus ke samping jendela di dekatnya, karena posisi mobil mereka yang terparkir menyamping, membuat posisi Irma yang berada dekat dengan jendela bening resto itu pun yang hanya dapat menangkap sosok kenan dari dalam sana.


“Mana?” tanya Hanin, kemudian memajukan tubuhnya ke arah jendela Irma yang berada di sebelah kanan.


Karmen pun langsung menoleh karena posisinya ada di depan tempat Irma duduk. “Eh iya, itu laki lu, Han.”


“Sama siapa dia?” tanya Hanin lirih. Ia menggigit-gigit kukunya sebagai pelampiasan dari rasa yang bergemuruh di dalam hati.


“Kok ada anak kecil sih?” tanya Karmen yang malah memperkeruh hati Hanin.


“Men.” Irma menendang kursi Karmen dari belakang.


“Sorry, Han. Sepertinya kita ga usah ke sana deh.” Karmen pun kembali mundur dan mengurungkan niatnya untuk membeli makanan yang diinginkan putranya.


“Loh, Mi. Kok ga jadi beli donat,” ucap Gio.


“Nanti aja di tempat yang lain,” jawab Karmen.


Hanin memalingkan wajahnya ke arah jendela. Ia masih memikirkan suaminya. Apa Kenan sering bertemu dengan wanita cantik di saat jam kerja? Ia tahu, memang sang suami memiliki banyak rekan bisnis atau teman. Hanin menggelengkan kepalanya. Ia tak boleh cemburu.


“Tidak boleh,” gumam Hanin.


“Han, lu baik-baik aja kan?” tanya Irma yang duduk di sampingnya.


“Iya, Han. Lu kok jadi diem gini sih?” Karmen pun bertanya lirih sembari melirik dari spion dalam ke arah Hanin.


“Maaf, Cuma kok gue ga pernah lihat cewek itu ya. Dia siapanya Kenan?” tanya Hanin.


“Berpikir positif aja, Han. Gue yakin cewek itu mungkin teman Pak Kenan atau rekan bisnisnya. Koneksi suami lu kan banyak, hubungan sama orang juga banyak,” ucap Kenan.


“Gay? Apaan? Gue aja tiap malem dimakan mulu sama dia, malah paginya masih minta makanan yang sama.”


Sontak Irma dan Karmen tertawa. Mereka tahu betul ‘makanan’ yang Hanin maksud.


“So, kita jadi ke spa xxx kan?” tanya Karmen.


“Jadi lah,” jwab Irma dan Hanin bersamaan sembari tertawa.


“Berarti lu udah ngga bete kan, Han?” tanya Karmen lagi.


Hanin pun menggeleng. “Ngga lah. Kalo dia macem-macem, ya gue tinggal aja.”


“Cucok, prinsip gue tuh,” sahut Karmen.


“Gue juga, makanya si Aa mah ngga berani macem-mcem karena itu udah kami tulis di perjanjian pra nikah.”


“Serius, Ir?” tanya Hanin dan Karmen bersamaan. Pasalnya Irma dahulu terkenal selalu manut dan tak pernah membangkang.


Irma mengangguk.


“Weh, gaya lu,” ucap Karmen dan Hanin pun menyumbang tawa.


“Mami ngomongin apa sih?” tanya Gio tak mengerti.


Krik ... Krik ... Krik ... Sontak ketiga wanita itu pun bingung menjawab pertanyaan Gio.


****

__ADS_1


Hanin mondar mandir berjalan di ruang televisi. Sesekali ia melihat lagi jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Namun, Kenan belum juga pulang. Tiga jam lalu, Kenan memberi kaabr akan pulang malam karena lembur. Tetapi hingga kini, malah ponselnya tak bisa dihubungi.


Bip .. suara pintu apartemen itu pun terbuka.


Kenan masuk ke dalam dan melihat Hanin yang sudah berdiri mematung di sana.


“Sayang, blum tidur?” tanya Kenan.


Tadi siang, Kenan cukup lama berada di restoran donat itu bersama Misya dan Marcel. Ia terus menanggapi marcel hingga waktu yang semula ia asumsikan satu jam, menjadi satu jam lebih lama. Alhasil, pekerjaannya pun makin menumpuk dan selesai lebih malam.


Hanin menggeleng. “Aku tidak bisa tidur tanpamu.”


Kenan memeluk istrinya dan mencium kening itu, lalu tersenyum. “Benarkah?”


Hanin mengangguk hingga rambut yang dikuncir kuda itu pun ikut bergoyang.


Kenan menangkup wajah Hanin dan mengadukan pada keningnya. “Gemes.”


Lalu, Kenan beralih dari hadapan Hanin dan berjalan menuju kamar.


“Gemes mana, aku dengan wanita yang makan siang bersamamu di restoran donat itu?” tanya Hanin.


Seketika Kenan pun menoleh ke belakang, karena Hanin mengekorinya. Ia pun menghentikan aktifitasnya yang sedang membuka kancing di pergelangan lengannya.


“Kamu lihat aku? Kenapa tidak menghampiriku?” tanya Kenan.


Hanin menggeleng. “Aku ga mau ganggu.” Ia membantu Kenan melepas jasnya, lalu melewati Kenan dan masuk ke dalam kamar untuk menyiapkan air hangat.


Kenan mengeryitkan dahi. Kenan mengikuti langkah Hanin yang masuk ke dalam kamar mandi. Ia membuka tautan kancing kemejanya.


“Dia teman kuliahku dulu. Anaknya datang di acara lauching buku yang aku terbitkan tadi siang.”


“Buku?” tanya Hanin.


“Iya. Buku biografy tentang perjalananku sejak kecil hingga sukses seperti sekarang ini,” jawab Kenan santai sembari membuka celana panjangnya.


“Kok ngga cerita?” tanya Hanin sembari berjalan mendekati Kenan.


“Surprise, karena ada namamu di beberapa lembaran terakhir buku itu. Nama wanita yang melengkapi perjalanan hidupku kini,” jawab Kenan lirih dengan senyum yang manis, membuat hati Hanin meleleh.


“Benarkah?” tanya Hanin.


Kenan meraih pinggang Hanin agar ia dapat merengkuh tubuh itu lebih dekat. Ia mengangguk. “Apa aku pernah berbohong?”


Hanin menggeleng dan terus tersenyum. Ia langsung melingkarkan kedua tangannya pada leher kokoh Kenan. Hanin sangat tersanjung dan gembira, hingga lupa bahwa misinya saat ini adalah ingin menanyakan tentang wanita yang duduk bersama suaminya siang itu lebih detail lagi.


Kenan pun mengeratkan lingkaran tangannya pada pinggang Hanin dan membalas senyum itu. lalu mata Kenan tertuju pada perut Hanin yang mulai buncit.


“Bagaimana keadaannya?”


Arah mata Hanin ikut tertuju seperti apa yang sedang Kenan lihat. Hanin menurunkan satu tangannya untuk mengelus perut itu.


“Dia baik dan sama sekali tidak rewel.”


“Pintar. Good Boy.”


Kenan ikut mengelus perut itu.


Namun, lagi-lagi Hanin terdiam karena ucapan terakhir Kenan tadi. Kenan sering memanggil janin yang masih di dalam perutnya itu dengan sebutan ‘boy’, padahal mereka belum melakukan pemeriksaan lebih lanjut, karena pemeriksaan terakhir, dokter belum bisa melihat jenis kelamin bayi di dalam perut Hanin.

__ADS_1


Hati Hanin bagai rollercoaster, baru saja ia di ajak terbang tinggi karena mendapatkan sanjungan dari sang suami dengan sikapnya yang manis dan romantis. Kemudian tersungkur jatuh, karena khawatir akan mengecewakan suaminya dengan tidak bisa memberikan apa yang ia harapkan.


__ADS_2