Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Mengutarakan rasa


__ADS_3

Matahari mulai menyinari jendela kamar apartemen Kenan yang masih tertutup gorden. Kenan mengerjapkan mata dan mulai membukanya. Ia melihat sosok wanita dengan tubuh yang polos tengah tertidur pulas menghadapnya. Sosok wanita dengan wajah yang cantik dan lembut. Seketika bibir Kenan menyungging senyum. Ia ingat betapa ganas dirinya semalam. Wanita yang tengah kelelahan ini di paksa untuk melayani gairah Kenan yang memuncak. Entah dari mana gairah itu datang? Yang pasti jika berdekatan dengan sang istri, Kenan seakan lupa diri dan ingin terus menerkamnya.


Ini adalah hari ketiga mereka berada di apartemen ini bersama. Dan hampir setiap malam, Kenan meminta jatahnya kepada sang istri. Di sini, Hanin tidak melakukan apapun. Ia hanya melayani sang suami untuk urusan perut dan di bawah perut, karena Kenan tidak memperbolehkan Hanin keluar dari apartemen ini, walau hanya sekedar ke supermarket yang terletak di lantai bawah. Kenan tahu, bahwa james tengah mengintai dirinya. Ia ingin mencari tahu, siapa wanita yang telah ia nikahi.


Kenan memiringkan tubuhnya dan menatap lekat wanita yang masih terlelap itu. Ia menyanggakan kepalanya dengan satu tangan dan satu tangannya lagi terangkat untuk menyentuh hidung serta bibir Hanin, sembari menyungging senyum. Jari telunjuk Kenan terus menelusuri tubuh indah yang terpampang di hadapannya.


“Sepertinya aku benar-benar sudah jatuh cinta padamu, Hanin Aqila.”


Hanin mengerjapkan kedua matanya, karena gerakan jari Kenan yang sedang menelusuri bahunya.


“Hmm ....”


Kini, kedua mata Hanin terbuka, ia melihat Kenan dengan senyum yang manis, hingga ia pun ikut tersenyum.


“Kamu tadi bilang apa?” tanya Hanin dengan suara khas bangun tidur.


“Hmm ...” Kenan hanya tersenyum sembari menyesapi suara Hanin yang berat dan terkesan sexy.


“Tadi kamu mengucapkan sesuatu.”


“Apa?” Kenan malah balik bertanya.


“Ish, justru tadi aku yang tanya. Susah bicara sama kamu.” Hanin berusaha bangkit sambil tetap menahan selimut tebal itu di dadanya.


Sontak, Kenan menarik pinggang Hanin agar, sang istri tetap berbaring di sampingnya.


“Ken, aku mau ke kamar mandi.” Hanin kembali bangkit. Namun, Kenan tetap menarik pinggang itu lagi.


“Kamu mau tau tadi aku bilang apa,” ucap Kenan.


“Apa?” tanya Hanin dengan menatap lekat ke wajah Kenan.


“Hmm ....” Kenan menggaruk keningnya yang tak gatal.


“Ck.. kelamaan.” Hanin bangkit lagi.


“Hei, tunggu.” Satu tangan Kenan melingkar di pinggang Hanin dan memeluknya.


“Aku jatuh cinta padamu, Hanin Aqila.” Bisik Kenan tepat di belakang telinga Hanin.


Seketika, tubuh Hanin membeku. Ia bingung, karena ini terlalu cepat untuknya. Walau mereka sudah hidup bersama selama tiga hari di sini dan Hanin sudah bisa menerima Kenan sebagai suaminya . Namun untuk cinta, ia masih belum bisa meyakinkan hatinya, karena ia terlanjur membentengi hati itu, sejak mendapatkan kebohongan dari Gunawan, pria yang saat itu adalah satu-satunya pria yang ia berikan cinta sepenuh hati.


Hanin masih mengalami krisis kepercayaan pada pasangan. Di tambah yang ia tahu, dahulu Kenan menikahinya hanya karena ia takut dirinya akan merusak rumah tangga sang adik kesayangan. Walau selama tiga hari ini, Kenan telah menunjukkan keseriusannya sebagai pasangan atau suaminya. Namun, Hanin masih takut terluka.

__ADS_1


“Kenapa diam?” tanya Kenan.


“Apa keluargamu tahu tentang pernikahan kita?”


Kenan menggeleng. “Belum saatnya mereka tahu.” Kenan melepas pelukan itu dan Hanin menoleh ke belakang untuk menatap suaminya.


“Hanya Gunawan yang tahu pernikahan ini.”


Hanin menanggapi santai dan tidak terkejut.


“Kamu masih menicntainya?” tanya Kenan.


Hanin menggeleng. “Sejak aku tahu dia sudah beristri. Aku sudah membuang jauh rasa itu.”


Hanin turun dari tempat tidur da berusaha untuk berdiri menuju kamar mandi. Sedangkan, Kenan menatap pergerakan sang istri. Ia cukup tertegun dengan jawaban Hanin tadi. Entah mengapa, ia pun percaya dengan pernyataan itu. Ada rasa bahagia di hatinya yang mengetahui bahwa saat ini Hanin sudah tidak lagi mencintai Gunawan.


“Aww .. Ssshhh ...” keluh Hanin saat ia merasakan nyeri di bagian sensitifnya. Semalam, Kenan benar-benar ganas.


Kenan langsung menghampiri sang istri dan menggendongnya ala bridal tanpa meminta izin dari yang memiliki tubuh itu. Lalu, Kenan mendudukkan Hanin di atas marmer berwarna krem persis di samping wastafel. Kenan mengisi air hangat di dalam bathup yang kosong itu dan memberi taburan aroma teraphy di sana.


Mereka masih terdiam. Walau Kenan merasa ia telah jatuh cinta pada istrinya. Namun, keadaan memaksa agar pernikahan ini di sembunyikan. Terlalu beresiko ketika ia memperkenalkan ke publik bahwa Hanin adalah istrinya, karena yang publik tahu bahwa Kenan adalah tunangan Vanesa yang merupakan model cukup terkenal. Ia khawatir justru sang istri akan banyak mendapat tekanan dari pihak-pihak yang tak menginginkan pernikahan ini, atau bisa jadi sang istri menjadi sasaran kriminal dari orang-orang itu. Ia tak ingin kehilangan Hanin, karena jika itu terjadi, ia tak akan memaafkan dirinya sendiri.


Setelah, bathup itu terisi penuh, Kenan kembali menghampiri Hanin dan hendak menggendongnya lagi, lalu menurunkan ke dalam bathup yang sudah ia siapkan.


“Untuk apa?”


“Aku bosan di sini.”


Kenan menggeleng. “Tidak ada penolakan. Kamu tidak akan kemana-mana.”


“Sudah tiga hari, Ken. Aku bosan. bahkan ponsel yang kamu berikan hanya ada nomormu saja. Aku tidak bisa nelepon Kak Nida, Irma, atau teman-temanku yang lain untuk menghilangkan bosan saat kamu ke kantor.”


Kenan memang membatasi pergerakan sang istri, karena ia tahu bahwa saat ini Hanin tengah terancam keberadaannya. Sejak awal, Kenan menyita ponsel Hanin. Lalu, memberikannya ponsel baru yang hanya berisi nomor kontaknya saja. Kenan hanya berjaga-jaga, ia khawatir ponsel Hanin yang dulu mudah di identifikasi oleh orang lain. Sedangkan, ponsel Hanin sekarang sudah dengan sistem yang aman dan menggunakan gps yang hanya terhubung pada ponselnya, agar sang suami tahu di mana saja sang istri berada.


“Aku kan selalu meneleponmu setiap hari, bahkan lima kali sehari. Apa masih membuatmu bosan?” tanya Kenan.


Hanin merengutkan bibirnya dengan wajah lesu. “Aku bukan istri simpanan.”


Tubuh Kenan menempel pada marmer dengan kedua paha Hanin yang mengapitnya. Kenan mengelus rambut Hanin dengan lembut.


“Aku tidak pernah menjadikanmu seperti itu. Hanya saja saat ini, bukan waktu yang tepat untuk menunjukkan siapa dirimu sekarang.” Kenan menatap lekat kedua bola mata Hanin, begitu juga dengan Hanin. “Beri aku waktu untuk membereskan keluargaku dan keluarga tunanganku dulu yang masih belum terima dengan keputusanku ini.”


Hanin terdiam.

__ADS_1


“Percayalah, setelah mereka mengerti dan mau menerima pernikahan kita. Aku tidak akan mengekangmu,” ungkap Kenan serius.


“Janji.” Hanin menampilkan jari kelingkingnya ke atas.


Kenan tersenyum dan menempelkan jari kelingkingnya pada Hanin. “Janji.”


“Tapi janji juga, walau badai apapun yang akan terjadi setelah ini, kamu akan selalu di sisiku.”


“Janji.” Hanin mengeratkan lagi jari kelingkingnya, sembari tersenyum.


Sikap manis Kenan, sepertinya lama-kelamaan akan membuat Hanin jatuh cinta juga.


Kemudian, Kenan menggendong tubuh Hanin dan membawanya ke dalam bathup.


“Mau aku mandikan?” tanya Kenan dengan nada menggoda.


Hanin menggelengkan kepala. "Hmm ... masih sakit, semalam kamu ganas sekali.”


Kenan tertawa. Hanin semakin mengenal suaminya, karena dimandikan Kenan sama saja memberinya jatah lagi.


“Baiklah, aku tinggalkan kamu sendiri di sini.” Kenan tersenyum dan mencubit pelan ujung hidung Hanin. “Aku akan ke dapur dan membuatkanmu makanan yang lezat sebagai penebus rasa bersalahku karena telah membuatmu menjadi seperti ini.”


Hanin tersenyum di iringi tatapan seperti anak kecil yang kegirangan. “Asyik.”


Memang tidak di pungkiri, makanan yang dibuat dari tangan Kenan, semuanya lezat. Hanin benar-benar diperlakukan bak ratu oleh pria yang semula menyebalkan itu.


Lalu, Kenan membalikkan tubuhnya dan hendak berjalan meninggalkan Hanin.


“Ken.” Panggil Hanin.


“Hmm ....” Sontak Kenan membalikkan tubuhnya kembali.


“Aku sayang kamu.” Hanin menunjukkan ibu jari dan jari telunjuknya dengan bentuk love.


Kenan tersenyum. “Aku juga mencintaimu.”


Kenan menutup pintu kamar mandi itu dengan kembali tersenyum sebelumnya. Hanin tersenyum sendiri. Hatinya seperti ada bunga yang bermekaran. Ia senang dan bahagia, hingga ia meniupkan busa-busa di bathup itu sembari tersenyum lebar.


Akhirnya, mereka mengutarakan perasaan masing-masing. Walau Hanin masih belum bisa mengungkapkan rasa cinta, tapi ia sudah merasakan sayang untuk Kenan.


Sementara di Jakarta, James memarahi orang suruhannya yang belum juga mendapatkan informasi tentang wanita yang di nikahi Kenan. Rasti pun selalu bolak balik menelepon putranya yang tak kunjung pulang dengan alasan masih banyak yang harus di urus sang putra di kota kembang itu. Hanya satu kali, Kenan menerima telepon sang ibu dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Ia juga memohon maaf karena sangat sibuk, sehingga tidak bisa di hubungi.


Pasangan suami istri ini, masih ingin menikmati masa-masa kebersamaan mereka dan mencoba menyelami karakter masing-masing, hingga ketika ada badai yang akan memisahkan mereka, mereka akan kuat menghadapinya.

__ADS_1


__ADS_2