Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Bibitt, bebet, dan bobot


__ADS_3

“Ra, kamu pernah komunikasi dengan kakakmu?” tanya Rasti, saat ia dan putrinya tengah menikmati sarapan pagi.


Kiara menggeleng. “Sudah lama Kiara ngga teleponan sama kakak, Mam.”


“Biasanya, sesibuk apapun kakakmu, dia pasti akan telepon Mami.” Rasti mengambil lauk yang tersedia di meja makan itu. “Ini jangankan menelepon duluan, Mami telepon aja ngga di angkat-angkat.”


“Mungkin kakak memang benar-benar sedang sibuk, Mam. Sampai tidak bisa di ganggu.”


“Mami ingin sekali bertemu kakakmu. Mami penasaran dengan apa yang diucapkan ayah Vanesa. Menurutmu Kenan sudah menikah?” tanya Rasti pada sang putri.


Kiara terdiam. Ia pun tidak berani berasumsi. “Kiara ngga tahu, Mam. Vicky yang paling tahu kakak. Coba, Mami tanya sama dia.”


“Benar juga.” Mereka berbincang sambil menikmati makan pagi yang terhidang.


“Kamu temenin Mami ketemu Vicky ya!” Ajak Rasti pada putrinya.


“Mami sendiri aja deh, Kiara mau ke supermarket. Kebetulan susu hamil Kiara habis, terus si Bibi juga pesan beberapa kebutuhan rumah tangga yang habis.”


Kiara berusaha untuk tidak bertemu Vicky, karena akhir-akhir ini pria itu semakin intens mengajaknya berkomunikasi, walau hanya dari sebuah aplikasi pesan whatsapp. Vicky lebih sering menanyakan kabarnya di banding dengan suaminya sendiri. Pria itu masih tetap perhatian, di tambah saat ini Kiara sedang hamil, walau anak yang di kandung bukan lagi anaknya.


“Temenin Mami sebentar aja. Ya!” Rasti kembali meminta.


“Ya udah, nanti Kiara temenin, tapi setelah dari kantor kakak, Kiara ke supermarket, Mami pulang sama Mang Udin ya.”


Rasti menagngguk. “Iya.”


Rasti dan Kiara kembali terdiam. Kemudian, mereka memakan kembali makanan yang berada di piring masing-masing, hingga habis.


“Oiya, Ra. Bagaimana hubunganmu dengan Gunawan?”


Kiara terdiam. “Kami sedang ingin sendiri-sendiri dulu, Mam.”


Rasti menarik nafasnya kasar. “Ngga kamu, ngga kakakmu. Semua bikin kepala Mami mumet.”


Kiara tersenyum dan bangun dari duduknya. Ia menghampir ang ibu, lalu memeluknya. “Mam, Kiara dan Kak Kenan sudah besar. Kami tahu apa yang terbaik untuk kami. Mami tidak perlu khawatir.”


Rasti menggeleng. “Tidak bisa Kiara. Biar bagaimana pun, orang tua tetap mengkahwatirkan anaknya, hingga benar-benar melihat mereka bahagia.”


“Kalau begittu, biarkan kami mengejar kebahagiaan kami, Mam,” jawab Kiara lirih.


“Nah, itu. terkadang anak-anak tidak bisa melihat kebahagiaan dirinya kalau tidak di dampingi orang tua. Kalian belum pengalaman.”

__ADS_1


Kiara memutar bola matanya malas. Bukankah justru mereka sedang mendapatkan pengalaman agar hidup mereka menjadi lebih baik?


“Terserah, Mami.”


“Ra, dulu kamu dan Gunawan bahagia. Mengapa sekrang harus kamu rusak dengan meminta cerai?” tanya Rasti. “Dulu, kakakmu juga bahagia dengan Vanesa, Mami pun bahagia karena kakakmu bisa bersanding dengan keluarga Alin, sahabat Mami, yang sangat Mami tahu bibit, bebet, dan bobotnya.”


“Mam,” Kiara mencoba meluruskan cara pandang sang ibu.


“Tapi sekarang, dia malah memutuskan wanita baik seperti Vanesa dan memilih wanita lain yang tidak jelas. Walau Mami masih belum yakin kakakmu sudah menikah.”


“Mami, cinta tidak bisa di ukur dengan bibit, bebet, dan bobotnya,” ucap Kiara.


Ia kini sudah mengerti apa itu cinta? Dulu ia pun seperti sang ibu yang menilai pria dari segi kemapanan, ketampanan, dan latar belakang keluarga. Oleh karenanya, ia lebih memilih Gunawan ketimbang Vicky yang memang dari keluarga biasa, anak yatim piatu yang berwajah biasa. Padahal, cinta yang Vicky berikan untuk Kiara sangat tulus. Namun, Kiara baru menyadarinya sekarang. Walau, ia telah memilih Gunawan dan memanfaatkan Vicky, tapi pria itu tetap selalu ada jika ia butuhkan.


“Udah Mami malas berdebat denganmu. Ayo siap-siap! Setelah ini, kita berangkat ke kantor Kenan,” jawab Rasti yang tidak lagi sependapat dengan sang putri. Menurutnya, cara pandang Kiara kini berbeda. Anaknya itu pun sudah tidak suka lagi di ajak Rasti untuk berbelanja barang-barang branded.


Setealah satu jam kemudian, Rasti dan Kiara bergegas untuk menuju Gedung Aditama Group. Mereka dinatar oleh Udin, supir Rasti yang telah mengabdikan diri lebih dari 30 tahun, tepatnya ia adalah supir sang ayah dulu.


Rasti dan Kiara sampai di tempat tujuan, setelah menempuh empat puluh menit perjalanan. Mereka berdua berjalan menuju ruangan Kenan. Kedua wanita berbeda usia ini di sambut hangat oleh semua karyawan di sana. Semua orang di sana tahu betul siapa Rasti dan Kiara.


“Siska,” panggil Rasti pada sekretaris Kenan.


“Iya, Bu.” Siska berdiri dan menyalami ibu dari bosnya itu.


“Belum, Bu.”


“Kok lama sih. Tidak biasanya Kenan lama berada di Bandung. Kalau di laur negeri, saya bisa maklum. Tapi ini Cuma di Bandung aja sampe selama ini. Sudah hampir satu minggu loh, Sis. Katamu Kenan cuma tiga hari di sana.”


Siska dimarahi oleh ibu dari bosnya itu.


“Ya ampun, ngga anak, ngga emak. Hobby nya suka marah-marahin orang,” gumam Siska.


“Siska ..” teriak Rasti. “Di ajak bicara, malah bengong.”


Siska langsung tergugup. “Iya, bu. Eh, maaf bu, saya tidak tahu.”


“Kamu sekretarisnya, masa tidak tahu. Bagaimana sih?”


“Mam.” Kiara mengelus punggung sang ibu, agar tidak marah-marah.


“Pak Kenan juga tidak memberitahu saya, Bu. Saya hanya dapat info dari pak Vicky,” jawab Siska takut.

__ADS_1


“Ya udah, mana Vicky? Saya mau ketemu.”


Kemudian, Siska dengan sigap mengantar Rasti ke ruangan Vicky.


“Silahkan, Bu! Pak Vicky ada di ruangannya.”


Rasti mengangguk.


“Terima kasih, Sis,” ucap Kiara tersenyum.


“Sama-sama, Mba.” Siska membalas senyum adik dari bosnya itu, lalu berpamitan pada Rasti. “Saya pamit. Permisi, Bu.”


“Hmm ...” jawab Rasti.


Kemudian, tanpa mengetuk pintu, Rasti langsung membuka ppintu ruangan Vicky.


“Nah, itu dokumen kemarin yang di minta Mr. Liu dari Hongkong. Sayangnya, gue ngga bawa. Itu masih tertahan di bagian Validasi.” Kata Vicky melalui zoom, dari laptopnya.


Saat Rasti membuka pintu, Vicky sedang koordinasi dengan Kenan. Ia duduk di kursi kerjanya dan melihat kedatangan Rasti bersama Kiara. Ia pun tersenyum.


“Oke, nanti lanjut lagi, Ken. Gue urus dokumen yang lain,” ucap Vicky lagi di sambungan zoom itu.


“Eh, tunggu. Itu Kenan?’ tanya Rasti yang kebetulan memang sedang mencari putranya.


Vicky mengangguk. “Iya, Mam. Kami sedang koordinasi.”


“Tunggu, jangan dimatikan! Mami ingin ngomong sama Kenan.” Rasti berlari menghampiri kursi kerja Vicky dan Vicky pun berdiri untuk memberi duduk Rasti.


“Kenan,” panggil Rasti melalui laptop yang layarnya sedang menampilkan wajah sang putra.


“Mami, apa kabar? Mami sehat kan?” tanya Kenan biasa, seolah tidak terjadi apapun.


“Mami, sehat. Kenan, kapan kamu pulang? Ada hal penting yang ingin Mami tanyakan.”


“Kenan masih sibuk di sini, Mam. Mungkin masih lama ke jakarta. Memang apa yang ingin Mami tanyakan? Tanya saja sekarang,” jawab Kenan santai, sembari menyadarkan dirinya di kursi kerja dan memainkan ballpoin.


Sementara, di seberang sana, Vicky dan Kiara hanya saling melirik dan berbasa basi menanyakan kabar.


“Kata James, kamu sudah menikah. Apa itu benar? Itu tidak benar kan?” tanya Rasti bertubi-tubi.


Kenan terdiam sejenak. Ia menarik nafasnya.

__ADS_1


Sementara, Vicky hanya menunduk, mendengar Rasti bertanya hal ini, karena ia adalah orang yang menjadi bagian besar dalam pernikahan itu. Ia adalah orang yang memuluskan rencana Kenan untuk menikahi Hanin, wanita yang di kenal di dalam keluarga Kenan sebagai perusak rumah tangga sang adik. Ia pun menjadi saksi dalam pernikahan itu.


__ADS_2