Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Ibu dan anak kompak


__ADS_3

Satu bulan berlalu, Kenan dan Hanin masih tinggal bersama Rasti di rumah utama Aditama. Berkali-kali, Rasti menanyakan keadaan putrinya di sana. Namun, Kiara selalu memastikan pada keluarganya, bahwa dirinya baik-baik saja.


Ya, keadaan Kiara dan Gunawan jauh lebih baik dari sebelumnya. Walau Gunawan masih irit bicara dan minim perhatian, tapi pria itu tidak pernah absen menggunakan tubuh sang istri untuk melampiaskan hasratnya dan kini Gunawan pun sedikit lebih lembut ketika melakukan penyatuan. Kiara pun tak mempermasalahkan itu. Sekali lagi, ia bertahan hanya untuk bayi yang tengah ia kandung saat ini. jika tidak ada yang hidup di perut Kiara, mungkin saat ini, wanita itu sudah pergi jauh meninggalkan semua kerumitan yang disebabkan ulahnya sendiri.


Namun, beginilah takdir, terkadang berjalan tidak sesuai dengan keinginan. Kiara pun menyadari bahwa apa yang ditanam, itulah yang akan dituai. Dan kini, ia menjalani apa yang pernah ia tanam dulu.


“Mam, kita mau kemana?” tanya Hanin pada Rasti.


Hanin dan Rasti berada di dalam mobil. Mereka di temani Syamsudin, supir pribadi Rasti yang setia. Rasti mengajak menantunya untuk berjalan-jalan dan berbelanja. Rasti membawa Hanin ke toko tas dan sepatu langganannya.


“Kita akan jalan-jalan. Selama satu bulan, kamu di rumah saja. Apa tidak bosan?”


Hanin tersenyum dan menggeleng.


Rasti pun tersenyum.


Selama satu bulan bersama sang menantu, membuat Rasti semakin mengenal Hanin. Tidak heran jika putranya sangat mencintai menantunya ini. Hanin memang wanita yang tidak pernah menuntut. Ia setia menunggu suaminya pulang di rumah dan selalu menyambut Kenan dengan senyum yang manis.


Rasti melihat sang menantu, seperti bercermin pada dirinya sendiri. Walau Rasti pernah bekerja di bidang entertain dan pernah menjadi Nona Jakarta. Namun, jiwa hemat dan tidak berfoya-foya tetap melekat dalam dirinya, hingga akhirnya ia di pinang oleh Kean, anak seorang pengusaha kaya dan perlahan mengikuti gaya keluarga sang suami.


Mereka sampai di sebuah toko tas dan sepatu branded.


“Mami ingin beli tas?” tanya Hanin.


“Ya,” jawab Rasti tersenyum. Padahal ia memang ingin membelikan tas dan sepatu untuk Hanin, walau uangnya pun pastinya dari Kenan.


Langkah kaki Hanin bergerak mengikuti ibu mertuanya. Mereka masuk ke dalam toko itu. Rasti langsung di sambut hangat oleh pegawai dan pemilik toko itu, karena kebetulan pemilik toko itu pun sedang berada di sana.

__ADS_1


“Ini istri Pak Kenan?” tanya pemilik toko yang bernama Riana.


“Iya. Ini istri Kenan.” Rasti tersenyum pada Riana sambil menggandeng lengan Hanin.


Hanin pun menyapa Riana dan membalas jabatan tangan pemilik toko itu.


“Wah, cantiknya.”


Hanin lagi-lagi hanya bisa tersenyum, tatkala Riana membandingkan dirinya dengan Vanesa. Walaupun Riana membandingkan dengan hal yang positif, karena menurutnya Hanin jauh lebih cantik dan lebih ramah dibandingkan si model itu.


Hanin ikut melihat-lihat tas yang terpajang rapih di sana, sementara Rasti pun tengah berada di kasir. Ia memang sudah ingin membeli tas itu sejak lama, sehingga ia tak perlu lagi memilih-milih.


“Waw, harganya amazing,” gumam Hanin, saat melihat harga yang tercetak di label tas itu.


“Kamu ingin ini?” tanya Rasti.


Hanin menoleh ke arah ibu mertuanya dan tersenyum. Ia pun menggeleng. “Tidak, Mam. Hanya mellihat saja.”


Lagi-lagi Hanin menggeleng. “Tidak, Mam. Ini terlalu mahal.”


“Tidak apa, Han. Kamu harus tampil berbeda sekarang, karena sekarang kamu bukan lagi Hanin yang dulu, kamu adalah Hanin istri Kenan Aditama.” Rasti mengambil tas yang di pilih Hanin dan meminta pegawai toko itu untuk membungkusnya.


“Mami pernah sepertimu. Tapi, kita memang harus merubah penampilan. Bukan untuk terlihat sombong atau glamor. Tapi untuk prestise. Menunjukkan harga diri dan wibawa suami di depan orang banyak.”


Hanin mengangguk. Ia setuju. Sangat lucu bukan, jika istri pengusaha kaya tapi penampilannya biasa saja. Bisa-bisa Kenan di sebut suami yang tidak memperhatikan istri.


Akhirnya, Hanin memilih tas, sepatu dan satu buah sandal yang sesuai dengan keinginannya. Ini adalah tas, sepatu, dan sandal yang paling mahal yang pernah Hanin beli sepanjang hidupnya. Bahkan, harga tas, sepatu, dan sandal itu, jika di jumlah bisa untuk membeli satu mobil MPV dengan merk sejuta umat itu.

__ADS_1


“Mana kartu mu?” tanya Rasti pada Hanin sambil menengadahkan telapak tangannya.


“Kartu?”


“Ya, kartu platinum yang Kenan berikan.”


Hanin membuka tas dan dompetnya. Tas yang ia kenakan sekarang juga bukan tas sembarang. Kenan memberikannya beberapa minggu yang lalu, dengan imbalan Hanin harus menari erotis tanpa busana di hadapannya. Padahal Hanin tidak meminta tas itu. Dasar akal bulus Kenan, tak ada matinya.


“Ini.” Hanin menyerahkan kartu yang suaminya berikan sejak ia menjadi istrinya.


Rasti menerima kartu itu dan memberikan pada kasir.


“Pinnya, Bu?” tanya Kasir sembari menyodorkan mesin EDC itu pada Hanin.


Hanin bingung, pasalnya ia lupa nomor pin kartu itu, padahal Kenan pernah menyebutnya.


“Berapa ya, Mam? Hanin lupa, karena tidak pernah menggunakan kartu ini,” jawab Hanin polos, membuat Rasti pun tersenyum.


“Coba cek ponselmu. Siapa tahu sudah kamu simpan di sana.”


Hanin menggeleng. “Tidak, Mam. Hanin tidak pernah menyimpan nomor pin di ponsel.”


“Coba, cek dulu,” ucap Rasti lagi.


Mau tidak mau, Hanin pun mengambil ponsel dalam tasnya. Padahal ia yakin tak pernah mengetik nomor pin kartu ini di sana.


Tak lama kemudian, Hanin tersenyum. Sesaat setelah membuka ponselnya, ia melihat notifikasi pesan dari sang suami.

__ADS_1


“Nomor pin kartu itu, sesuai dengan tanggal lahirmu. Selamat bersenang-senang, Sayang. Nanti malam, gantian aku yang kamu buat senang. Oke!” Kenan menuliskan pesan itu dengan emoji hati dan kiss


Hanin terus mengulas senyum. Ternyata, ibu dan anak benar-benar kompak.


__ADS_2