
Setelah makan malam, Rasti sengaja mengajak anak-anaknya berkumpul di ruang keluarga. Gunawan terlihat sedikit terganggu dengan Kenan yang selalu menempel pada Hanin dan mengumbar kemesraan. Ia semakin tidak betah berlama-lama berada di keluarga ini. Kiara pun menyadari itu.
“Jadi persiapan pernikahan kakak sudah beres semua?” tanya Kiara.
“Sudah, semua di urus Mami,” jawab Kenan.
Rasti tersenyum.
“Terima kasih ya, Mam.” Hanin mengusap punggung tangan Rasti yang duduk persisi di sampingnya.
“Terus, Kiara bantu apa dong?”
“Bantu doa aja, supaya Hanin cepat hamil sepertimu,” jawab Kenan sembari meraih pundak Hanin dan memeluknya dari samping.
Kiara tersenyum. “Itu pasti.”
“Makanya jangan di jos terus, jadi malah ga jadi-jadi,” ledek Rasti, membuat Hanin dan Kenan tertawa.
“Wah, kakak nih, diem-diem nakal ya,” sambung Kiara meledek sang kakak.
“Maaf, saya permisi dulu.” Tiba-tiba Gunawan interupsi.
“Loh, mau kemana, Gun?” tanya Rasti.
Gunawan masih belum bisa menganggap skandal itu selesai. Ia masih belum bisa memaafkan Kiara yang telah menjebaknya dan Kenan yang telah mengambil Hanin darinya. Padahal Hanin terlepas karena kesalahannya sendiri yang tidak jujur sejak awal. Hanin pergi karena dari awal Gunawan tidak cepat menyelesaikan statusnya dan mengikat gadis yang ia cintai. Sementara, waktu terus berjalan dan apapun bisa terjadi, kecuali jika pada saat itu Gunawan langsung menikahi Hanin, mungkin wanita itu tidak akan bisa lepas atau tidak ada yang bisa mengambilnya.
“Saya mau ke minimarket, beli rokok, Mam,” jawab Gunawan.
“Kurangi, Gun. Rokok tidak baik untuk kesehatan,” ucap Rasti.
__ADS_1
Gunawan tersenyum. “Belum bisa, Mam.” Lalu, ia pergi meninggal orang-orang yang tengah bercengkrama ria di sana.
Kiara tahu, bahwa suaminya menghindari kebersamaan ini. Ia sadar bahwa Hanin masih menempati hati itu. Ia pun tidak mempermasalahkan, yang penting ia ingin hubungan dengan sang kakak tetap baik-baik saja, karena Kiara sangat menyayangi Kenan dan hanya sang kakak yang selalu ada untuknya di saat apapun.
“Ra, hamil itu rasanya gimana sih?” tanya Hanin.
“Gimana ya, Han. Rasanya seneng. Ada yang hidup, karena dia suka nendang-nendang gitu,” jawab Kiara senang.
Rasti pergi ke kamarnya, meninggalkan Kenan, Hanin, dan Kiara di sana. Ia masih berkoordinasi dengan wedding organizer yang menangani persiapan pernikahan Kenan.
“Sekarang lagi nendang-nendang, Ra?” tanya Kenan antusias.
“Tadi sih iya, tapi sekarang belum. Kakak tempelin aja tangan kakak di sini, nanti dia nendang deh,” jawab Kiara.
Kenan bangun dan mendekati sang adik. “Emang gitu?”
Hanin tersenyum dan ikut duduk di samping Kiara.
“Eh, sayang. beneran loh, dia nendang.” Kenan semakin antusias. “Hai, boy or girl. Ini uncle Ken.”
Kenan tersenyum sembari menyapa keponakannya di perut besar Kiara yang sudah memasuki usia 24 minggu.
“Hai, uncle.” Kiara menjawab dengan suara anak kecil.
“Aku juga mau pegang,” rengek Hanin.
“Jangan mau di pegang aunty Hanin, dia belum mandi, nanti kamu ketularan bau,” ledek Kenan dengan mengajak bicara perut Kiara yang bulat.
“Eum ...” Hanin merengek dan memukul lengan Kenan, membuat Kenan tertawa diiringi tawa Kiara.
__ADS_1
“Assalamualaikum, wah ramai sekali. Lagi pada kumpul nih.” Tiba-tiba suara Vicky muncul.
Ketiga orang yang sedang duduk itu pun langsung menoleh ke arah Vicky.
“Hai, Vick. Cepet juga lu, udah sampe sini aja.” Kenan berdiri mengambil berkas yang Vicky bawa.
Vicky sengaja mampir ke rumah ini dari kantor untuk mengantarkan berkas yang akan Kenan bawa ke Amerika.
“Ya iyalah, nanti macan tutul ngamuk, kalo gue kerjanya lelet.”
Hanin tertawa.
“Siapa macan tutul?” tanya Kiara.
“Siapa lagi kalau bukan kakak kamu tercinta, Ra,” jawab Hanin dengan menunjuk Kenan.
Kiara mngeryitkan dahinya. “Siapa yang memberi julukan itu?”
“Siapa lagi kalau bukan Siska,” jawab Kenan. “Emang sekretaris kurang ajar.”
Kenan merengut. Sementara, Hanin, Kiara, dan Vicky malah tertawa.
Mereka berempat kembali berbincang hangat. Hanin menyiapkan minuman hangat untuk Vicky. Rasti pun ikut bergabung, setelah urusan dengan Wedding Organizer itu selesai melalui telepon.
Rasti, Kenan, Kiara, Hanin, dan Vicky bercengkrama dengan penuh canda tawa, karena Vicky memang sedikit konyol, sehingga suasana itu pun terasa riang. Mereka berkumpul dan bersenda gurau, seperti tidak ada yang pernah terjadi sebelumnya, karena Vicky bukan tipe pendendam, ia tidak pernah mempermasalahkan sesuatu yang pernah terjadi, berbeda dengan Gunawan. Padahal, saat itu Vicky pun merasa sakit hati, ketika Kiara mengakui anaknya sebagai anak Gunawan dan meminta tanggung jawab dari pria itu, sementara saat itu Vicky sudah siap untuk bertanggung jawab dan hatinya berbunga karena akan menikahi gadis pujaannya.
Gunawan baru saja kembali ke rumah Rasti, setelah membeli rokok di minimarket yang tak jauh dari kediaman itu. Ia melihat betapa riangnya keluarga ini. Ia pun melihat perhatian Vicky pada istrinya. Vicky tengah mengupas jeruk, hingga di dalamnya bersih dan tidak berserat, lalu Kiara memakan jeruk yang sudah bersih itu dari tangan Vicky.
Hal itu adalah hal yang biasa bagi Rasti dan Kenan, karena sejak dulu Kenan dan Vicky memang selalu memperlakukan Kiara seperti princess. Dan, lagi-lagi hati Gunawan terasa tercubit, rasa cubitan itu melebihi dari ketika Kenan mencium atau bermesraan dengan Hanin.
__ADS_1