Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Ekstra part 4


__ADS_3

“By, nanti kita mampir ke rumah mami ya! Sudah lama kita tidak ke sana,” ucap Hanin sembari menoleh ke arah suaminya yang sedang fokus menyetir.


Kenan menoleh ke arah sang istri dengan senyum dan mengangguk. “Iya, aku juga kangen sama Mami.


“Aku juga kangen Baby Kay,” sahut Hanin riang.


“Sama bapaknya Kay juga kangen?” tanya Kenan dan menyipitkan matanya.


Hanin tersenyum dan meledek. “Kangen juga lah.”


Kenan langsung membulatkan matanya ke arah sang istri. “Awas ya, kalo nakal hukuman semakin bertambah.”


“Mau dong di hukum,” sahut Hanin dengan suara sensual.


Kenan tertawa dan menoleh lagi ke arah sang istri sembari mengacak-acak rambutnya. “Nakal banget sih sekarang.”


Hanin ikut tertawa. “Kan diajarin kamu.”


Kenan pun tertawa.


Mereka masih berada di dalam mobil. Setelah melewati berbagai pemeriksaan kandungan, Kenan membawa istrinya ke sebuah restoran yang menyuguhkan makanan khas Itali, karena Hanin sedang ingin memakan pizza.


“Sudah sampai,” ucap Kenan sembari memberhentikan mobilnya tepat di parkiran restoran itu.


“Yeay ... makan pizza.”


Kenan menggelengkan kepalanya melihat ekspresi sang istri yang begitu antusias. Ia pun langsung membuka pintu mobil dan segera berlari untuk ke pintu sang istri untuk membuka pintu itu, tetapi Hanin sudah membukanya terlebih dahulu.


“Tunggu aku yang bukain pintunya, sayang,” kata Kenan.


“Ih, alay banget By. Masa’ buka pintu mobil aja mesti dibukain.”


“Ck, dimanjain malah ngga mau. Semua wanita malah senang pasangannya melakukan itu. Kamu malah ngga mau.”


Hanin nyengir dan langsung mengeratkan tangannya pada lengan Kenan. “Kamu tuh romantis banget sih, By.”


Kenan melirik sekilas ke arah Hanin dan tersenyum dengan menaikkan alisnya, menampilkan wajahnya mesum yang sering ia tampilkan tatkala menagih jatahnya.


“Ish, amit-amit.” Hanin memukul lengan itu dan tertawa, membuat Kenan pun ikut tertawa.


Sesampainya di meja yang sudah Kenan pesan, Kenan menarik kursi untuk Hanin dan membantu sang istri duduk di sana. ketelatenan Kenan dalam mengurus ibu hamil, sontak membuat para wanita di sana melirik ke arahnya.


“By, banyak cewek yang liatin kamu tuh,” bisik Hanin sembari memegang menu makanan yang diberikan wanita mudah berseragam pelayan restoran ini.


Kenan hanya tersenyum miring sembari mata yang tetap tertuju pada buku menu yang ia pegang sendiri.


“Ish, sok cool banget sih. Nyebelin.” Hanin kesal dengan gaya suaminya yang sok ganteng, walau memang Kenan sangat tampan.


“Mba, saya pesan ini, ini dan ini.” Kenan menunjuk satu makanan, satu desert, dan satu minuman untuknya. “Kamu pesan apa, sayang?”


Hanin pun kembali fokus pada buku menu itu. Ia memesan dua pizza dengan ukuran yang besar dan satu pasta.


“Kamu yakin akan makan sebanyak ini?” tanya Kenan.

__ADS_1


Hanin mengangguk. “Aku lagi pengen.”


“Aku juga lagi pengen.” Ucap Kenan tersenyum dan menyerahkan buku menu itu.


“By,” rengek Hanin yang tahu kata ‘pengen’ menurut Kenan.


Kenan kembali tetawa. Memang hanya wanita ini yang mampu membuatnya tertawa, khawatir, menangis, panik, dan emosi. Ia pun tak mengerti mengapa seperti ini, tapi satu yang pasti bahwa ia sangat bahagia.


Kenan dan Hanin saling berbincang di iringi canda tawa. Hanin menoleh ke arah kanan dan kiri, ternyata masih saja wanita yang duduk di sisi kiri mereka tengah menatap Kenan. kebetulan, di bagian itu di isi oleh para wanita yang sedang berkumpul.


“By, mereka masih liatin kamu tuh,” ucap Hanin menatap wajah sang suami dan sesekali mellirik ke arah para wanita itu.


“Ya udah, biarin aja sih. Aku mah udah biasa jadi pusat perhatian wanita.”


“Ish, pede banget jadi orang,” ketus Hanin, membuat Kenan kembali tertawa.


“Sepertinya, mereka ngomongin aku ya?” tanya Hanin.


“Perasaan kamu aja,” jawab Kenan santai. Lalu kembali bekata, saat makanan datang dan tengah disajikan di mejanya. “Terima kasih.”


“Aku ngga pantes disamping kamu ya? Aku jelek, By. Gendut, perutnya buncit. Sementara, kamu tinggi tegap gitu,” ucap Hanin lesu.


“Apaan sih. Siapa bilang kamu jelek? Siapa bilang gendut? Orang sexy gini kok.”


“By,” rengek Hanin.


“Kalau kamu jelek, gendut. Aku ga akan minta terus setiap hari,” jawab Kenan, lalu meletakkan dua pizza potongan pizza di piring Hanin. Kemudian, ia menuangkan saos sambal di piring itu. “Segini cukup?” tanya Kenan melihat ke arah saos di piring Hanin.


Hanin tersenyum. Perhatian sang suami, memang tiada duanya. Ia mengangguk. “Cukup.”


Hanin hanya menjawab dengan anggukan, karena ia sudah memasukkan potonga pizza itu langsung ke dalam mulutnya, membuat kedua pipi Hanin langsung menggelembung.


Kenan tertawa melihat sang istri yang seperti kelaparan memakan makanan itu, di tambah saos sambal yang belepotan di area bibir Hanin.


Kenan mengambil tisu dan mengelapkan saos yang berada di ujung bibir istrinya. “Makan tuh sedikit-sedikit aja. Ngga ada yang minta kok.”


Hanin nyengir, membuat Kenan tersenyum lebar.


“Gemesin.” Kenan mencubit pelan pipi yang menggelembung itu.


****


Setelah menikmati makan siang di restoran itu. kenan dan Hanin beralih ke kediaman utama keluarga Aditama.


Kebetulan, sore ini semua anggota keluarga di sana tengah berkumpul. Kiara dan Gunawan tengah berada di taman belakang bersama putrinya. Sedangkan Rasti sedang berada di dapur mengangkat kue yang telah matang.


“Mami,” panggil Hanin pada ibu mertuanya.


Rasti menoleh ke sumber suara itu dan tersenyum. “Hai, Han.”


Hanin langsung menghampiri Rasti dan mencium pipinya. Begitu pun dengan Kenan.


“Kalian abis periksa?” tanya Rasti.

__ADS_1


“Iya, Mam,” jawab Hanin.


“Ini udah mateng, Mam? Kenan cobain ya.” Kenan mengambil satu kue nastar buatan sang ibu yang rasanya berbeda dari yang lain. Nastar buatan sang ibu memang tidak ada yang menandingi dan biasanya Rasti membuat ini jika moodnya sedang ingin saja.


Rasti langsung menepak tangan Kenan. “Cuci tangan dulu!”


Kenan nyengir dan langsung berjalan ke wastafel.


“Bagaimana keadaan bayi kalian? Sehat kan?” tanya Rasti lagi.


Rasti memang baik. Sejak awal, ia selalu baik pada Hanin. Hanya saja, ketika Hanin mengandung bayi perempuan, sikap Rasti sedikit berubah, ditambah kedekatannya dengan Misya yang memang menyukai Kenan. Namun, kejadian demi kejadian menyadarkannya bahwa sang putra hanya mencintai istrinya dan ia sadar bahwa Hanin adalah kebahagiaan Kenan, putra mahkota keluarga Aditama.


“Alhamdulillah, sehat Mam,” jawab Hanin.


Rasti tersenyum dan mengangguk. Ia mendekati Hanin dan memegang perut menantunya. “Perutmu bulat sekali, Han. Sama seperti waktu Mami mengandung Kenan.”


Rasti tidak bertanya lagi jenis kelamin bayi ini, karena baru saja ia mengungkapkan perkataan itu, Kenan langsung menatap wajah ibunya.


“Oh ya, memang ada bedanya ya, Mam? Mengandung anak laki-laki dan perempuan?” tanya Hanin.


“Tentu saja,” jawab Rasti.


“Sudah, bayi laki-laki atau perempuan sama saja,” celetuk Kenan sembari mengambil kue yang berada di tengah antara Rasti dan Hanin.


“Ih, tapi aku juga mau tau pengalaman Mami, By. Karena Mami kan sudah mengandung bayi laki-laki dan perempuan,” kata Hanin.


“Ya ada bedanya, saat menyusui juga beda. Kalau anak laki-laki lebih kuat meny*su. Waktu meny*sui Kenan, Mami sangat kuwalahan, karena dia ngga ada kenyangnya.” Rasti begitu antusias menceritakan sang putra dulu.


Hanin tertawa.


“Kenapa kamu tertawa?” tanya Kenan.


“Sepertinya kebiasaan Kenan waktu bayi dulu, ngga berubah sampe sekarang deh Mam,” kata Hanin.


“Kenapa?” tanya Rasti bingung.


“Sekarang, Hanin yang kuwalahan, Mam. Dia tuh ny*sunya kuat banget dan benar, ngga ada kenyangnya,” ucap Hanin melirik ke arah sang suami yang memang tidak pernah puas bila bercinta dengan sang istri.


Kenan langsung membulatkan mata. Ia tidak menyangka sang istri akan bergurau sevulgar ini, apalagi di depan Rasti.


“Sayaang, awas ya!”


Hanin tertawa dan langsung pergi menjauh dari Kenan. sementara, Kenan mengejarnya. Hanin berjalan cepat menuju ke taman belakang untuk bertemu Kiara dan Kayla. Hanin tertawa diiringi Kenan yang merajuk.


Rasti hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan itu. Ia pun senang melihat anak-anaknya bahagia.


“Bu, di luar ada tamu,” kata si Bibi pada Rasti.


“Siapa?” tanya Rasti.


“Bu Misya dan putranya,” jawab si Bibi.


Rasti membersihkan tangannya, lalu memerintahkan si Bibi untuk melanjutkan meletakkan kue itu ke dalam toples yang sudah tersedia di sana. Kemudian, Rasti menemui Misya yang memang sudah memberitahu sejak kemarin bahwa ia akan datang ke rumah ini untuk berpamitan.

__ADS_1


Misya dan putranya akan kembali menetap ke Jerman, negara yang menjadi saksi jatuh bangun dirinya mendampingi sang suami untuk memulai bisnis. Lalu menetap dan tinggal di sana. Kemudian, saat sang suami meninggal, ia rindu untuk tinggal lagi di tanah kelahirannya. Namun, penolakan Kenan membuatnya ingin kembali ke negara itu.


__ADS_2