Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vicky dan Rea 17


__ADS_3

Setelah makan malam selesai, Vicky dan Rea hendak pamit pulang. Namun, ketiga pria itu masih asyik berbincang.


“Sampe rumah cuci kaki terus tidur. Kasihan Rea digempur terus,” ledek Kenan pada Vicky.


“Emang dikira bocah, sampe rumah cuci kaki terus tidur,” ucap Vicky yang membuat ketiga pria itu tertawa.


“Padahal yang ngomong aja, ngga bakalan cuci kaki terus tidur,” ledek Gun pada Kenan sambil melirik ke arah pria itu.


“Yoi, apalagi Kevin bakal tidur sama Mami.” Kini Vicky yang meledek bosnya.


Kenan tertawa. Ia dan sang istri memang akan menginap di rumah ini karena Rasti merindukan tidur bersama Kevin.


“Ya udah sana pulang,” ujar Kenan pada Vicky. “Nanti begadang, terus bangun kesiangan. Awas aja sampe telat masuk kantor bseok. Kena SP satu lu.”


“Sadis,” sahut Vicky membuat Gunawan tertawa.


“Untung Cuma dikasih SP satu, kalo lu jadi karyawan gue, Vick. Langsung gue kasih SP tiga,” ujar Gunawan tertawa.


“Nah kan? Ada yang lebih sadis dari gue ternyata,” kata Kenan tertawa.


Vicky yang di bully pun ikut tertawa. sejak SMA ia memang seperti itu ketika di bully, membuat orang senang membully-nya karena Vicky tidak mudah marah.


Akhirnya Vicky dan Rea berpamitan. Rea menyalami semua anggota keluarga Adhitama. Ia juga menempelkan pipi kanan dan kirinya saat bersalaman dengan Rasti, Hanin, dan Kiara.


Lalu, bergantian dengan Vicky yang juga menyalami keluarga Adhitama. Terakhir, ia menyalami Kiara dan mencium pipi kanan dan kiri Kiara. Hal itu kembali membuat Rea cemburu.


Rea pun heran mengapa suami Kiara tidak cemburu akan hal itu. Ia heran dengan cara pertemanan mereka.


Kemudian, Vicky dan Rea pun pulang. Keluarga Adhitama berdiri di teras dan melambaikan tangan ke arah Vicky hingga mobil itu pergi dari halaman rumah mereka.


“Hah, Mami senang sekali hari ini,” ucap Rasti.


“Ini semua karena Mami, terima kasih,” ucap Kenan dengan menggandeng bahu ibunya.


“Ya, ini semua berkat doa Mami,” sambung Kiara.


Lalu, Rasti mencium kening putra dan putrinya. Ia pun meminta Hanin dan Gunawan mendekat. Ia pun mencium kedua menantunya. “Jagalah kasih sayang di antara kalian. Doa Mami selalu menyertai kalian. Semoga kalian bersama hingga tua dan memiliki cucu.”


“Aamiin ...” ucap Kenan, Gunawan, Kiara, dan Hanin bersamaan.


Lalu, mereka berpelukan bersama. Keluarga Adhitama meenmukan kebahagian yang hakiki, karena sejatinya keluargalah yang selalu ada dalam suka dan duka.


Dibalik senyum yang merekah di rumah keluarga Adhitama, berbeda dengan Vicky dan Rea yang sedang dalam perjalanan.


Sudah hampir separuh perjalanan, tetapi tak ada satu kata yang terucap dari bibir Rea selama mereka duduk bersama di dalam mobil.


Vicky yang sedang menyetir sesekali menatap ke arah Rea yang tidak menatapnya. Pandangan Rea lurus ke depan atau sesekali melengos ke arah jendela yang dekat dengan tempat duduknya.


“Sayang, kamu kenapa? Dari tadi diam aja.” tanya Vicky yang tidak tahu akan kesalahannya selama makan malam di rumah Rasti tadi.


Rea masih terdiam.


“Re,” panggil Vicky lagi.


Rea masih tidak menjawab, kepala Rea membelakangi Vicky karena ia fokus dengan menatap ke arah jendela.


“Rea.” Kini Vicky memanggil istrinya dengan suara yang sedikit keras.


Lalu, Rea menoleh ke arah Vicky. “Hmm ...”


“Kamu kenapa diam aja?” tanya Vicky lembut.


Rea menggeleng. “Tidak apa, hanya kepikiran Thia dan Nisa. Kasihan dia ditinggal di apartemen itu berdua.”


“Bukannya biasa juga seperti itu?”


“Iya, sih. Tapi ini sudah malam.”


Vicky pun menganggukkan kepalanya. “Baiklah, aku akan mengemudi lebih cepat.”


Sesampainya di apartemen. Rea msih saja diam. Ia menjadi irit bicara.

__ADS_1


Klik


Pintu apartemen itu berbunyi dan Vicky membukanya.


“Sepertinya Thia dan Nisa sudah tidur,” ucap Vicky yang melihat tidak keberadaan adik Rea di berbagai ruangan terbuka di tempat ini.


Rea pun mengangguk. Untungnya, Rea sudah membekali kedua adiknya makanan saat mereka akan berangkat. Sehingga Rea tidak khawatir ketika ia pulang larut malam.


Rea berjalan menuju kamar adiknya.


“Kamu mau kemana, Sayang?” tanya Vicky yang melihat Rea berjalan tidak searah dengannya.


“Aku ingin melihat Thia dan Nisa dulu, Mas.”


“Oh, Oke.” Vicky mengangguk. Ia tidak curiga dengan sikap dingin Rea saat ini. “Kalau gitu, aku mandi duluan ya.”


Rea mengangguk dan kembali melangkahkan kakinya ke kamar Thia dan Nisa. Rea mandi di kamar itu, lalu menggunakan piyama milik Thia. Ia pun merebahkan dirinya di pinggir ranjang kedua adiknya itu. Ia memeluk Nisa yang kebetulan ada di sampingnya.


Kalau bukan karena kedua adiknya itu mungkin ia masih sendiri dan hanya betiga di rumah kecil mereka itu. Tetapi karena kedua sang adik yang begitu menyukai Vicky, akhirnya ia mengalah dan berusaha menerima statusnya kini. Namun, di saat ia sudah menyukai om mesum itu, justru Vicky mematahkan hatinya dengan memperlihatkan kemesraannya bersama Kiara, wanita yang fotonya pernah Rea temukan di dompet Vicky. Kiara, wanita yang pernah diakui suaminya bahwa dia adalah wanita yang dulu suaminya sukai.


Kini Rea tak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Vicky? Apakah ia cemburu? Apa itu artinya ia sudah mencintai suaminya? Ah, rasanya itu terlalu cepat.


Rea adalah tipe orang yang akan marah dalam diam, tak bersuara dan sebisa mungkin hanya ingin menghindari orang yang membuatnya terluka dan sekarang ia melakukannya. Rea tidur di kamar Thia dan Nisa, mengabaikan Vicky yang menunggunya di kamar mereka.


Sudah sepuluh menit, Vicky keluar dari kamar mandi. Ia belum melihat tanda-tanda pintu kamarnya terbuka dan menampilkan sosok sang istri yang memasuki kamar ini.


Vicky masih mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil itu. Lalu, ia mengambil pakaian tidurnya sendiri, karena ternyata Rea belum menyiapkan pakaian itu. Padahal di malam-malam sebelumnya, Rea selalu menyiapkan itu.


“Sayang,” panggil Vicky setelah keluar dari kamarnya.


Ia tak melihat keberadaan Rea di ruang televisi, dapur atau tempat yang lain. Lalu, ia beralih ke kamar Thia dan Nisa. Ia membuka perlahan pintu kamar yang tak terkunci itu. ia melihat sang istri terlelap di ranjang itu sembari memeluk Nisa.


Vicky mendekati Rea dan mengelus rambutnya. “Kenapa tidur di sini, Sayang,” ucapnya lembut. Namun tak ada jawaban dari Rea karena Rea sudah terlelap.


Vicky tersenyum melihat wajah yang sedang terlelap itu. lalu, ia mengambil tubuh Rea dan mengangkatnya ala bridal. Kemudian, memindahkan Rea ke kamar mereka.


Vicky merebahkan tubuh Rea perlahan di atas ranjang mereka. Sebenarnya Rea belum terlelap. Ia hanya memejamkan matanya saja untuk menghindari interaksi dengan suaminya.


Rea tetap memejamkan matanya hingga beberapa menit berlalu dan terdengar dengkuran halus dari suara Vicky.


Vicky tertidur dengan melingkarkan tangannya pada perut Rea yang tidur terlentang.


Perlahan, Rea membuka matanya. Malam ini ia tidak bisa tidur, apalagi disamping Vicky. Bayang-bayang kemesraan Vicky dan Kiara tadi masih lekat dalam ingatan. Lalu, Rea memindahkan tangan Vicky dari perutnya. Ia pun bangkit dari ranjang itu dan kembali keluar. Kemudian, ia menyalakan televisi.


Setengah jam kemudian, Vicky terbangun karena ia tak merasakan tubuh sang istri di sampingnya. Vicky langsung keluar kamar karena mendengar suara televisi menyala. Ia pun melihat Rea tengah duduk di sana dengan arah mata menuju layar televisi yang cukup besar.


“Kenapa bangun, Sayang?” tanya Vicky dengan duduk di samping Rea.


Rea melirik sekilas ke arah Vicky dengan tatapan dingin dan kembali pada layr televisi.


Vicky mendekatkan tubuhnya pada Rea. “Apa aku ada salah?”


Rea masih diam dengan pandangan yang tetap tertuju pada layar televisi yang menyuguhkan film kartun yang Vicky pun tak tahu apa itu.


“Rea,” panggil Vicky, tapi Rea tak bergeming, hingga Vicky memasang wajahnya tepat di depan wajah Rea agar fokusnya berada padanya.


“Apaan sih, kamu ganggu orang nonton.” Rea mencoba menghindari wajah Vicky dengan menggeserkan tubuhnya ke kanan dan vicky ikut bergeser ke kanan.


Lalu, Rea bergeser ke kiri, Vicky pun tetap memasang wajahnya tepat di depan wajah rea dengan menggeserkan tubuhnya ke kiri dan ...


Blep


Vicky mematikan layar televisi itu.


“Apan sih? Aku lagi nonton.” Rea berusaha meraih remote yang Vicky pegang, tapi Vicky menyembunyikan benda itu hingga Rea tidak bisa meraihnya walau pun ia mencoba mengejar benda itu.


“Ngomong dulu, kamu kenapa?”


“Ngga apa-apa,” jawab Rea.


“Bohong. Kalau ngga ada apa-apa kamu tidak akan bersikap seperti ini.”

__ADS_1


“Memang aku kenapa? Bukannya aku memang seperti ini?” tanya Rea.


“Ya, itu dulu. Tapi beberapa hari terakhir kamu sudah tidak seperti ini.”


“Harusnya, aku tetap seperti ini,” ucap Rea.


“Kenapa? Kalau aku salah bilang Rea. Aku tidak tahu kalau kamu diam,” sahit Vicky.


Kini, Rea menatap wajah Vicky. “Kalau seandainya aku dan Attar bertema baik. Boleh?” tanyanya.


“Tentu saja,” jawab Vicky.


"Oke." Rea mengangguk. “Terus kalau seandainya pipiku di cium Attar, Boleh?”


Vicky langsung menggeleng dan akhirnya ia ingat sesuatu. “Apa ini tentang Kiara?” tanyanya.


Rea terdiam.


“Oh, ya ampun.” Vicky tertawa. “Kamu cemburu?” tanyanya lagi.


Rea diam. Wajahnya terlihat dingin dan datar.


Kemudian, Vicky memeluk Rea. “Terima kasih, Sayang.”


Rea bingung dan mngernyitkan dahinya. “Apanya yang terima kasih?”


“Terima kasih karena kamu sudah cemburu.”


Rea menggelengkan kepalanya. “Stres.”


Vicky kembali tertawa. “Iya sepertinya aku sudah gila, karena tahu kalau kamu cinta sama aku.”


Rea mengangkat tangannya lalu menempelkan telapak tangannya pada kening Vicky, karena pria itu terus tertawa senang. “Om sehat?”


Vicky kembali tertawa. “Sangat sehat. Bahkan bisa untuk beberapa ronde.”


“Gila,” kata Rea ketus.


Vicky berlutut di hadapan Rea. “Ya, aku bener-bener gila karena kamu.”


Cup


Vicky menciumi seluruh wajah Rea, padahal Rea terus menghidari kecupan itu.


“Mas, awas ngga!” Rea menahan tubuh sang suami agar tak menciuminya lagi.


“Aku bahagia, Sayang.” Vicky hendak mengangkat tubuh Rea.


“Mau apa?” tanya Rea.


“Pindahin kamu ke kamar.”


“Aku masih marah,” ucap Rea.


Vicky tersenyum menyeringai. “Aku suka melihatmu marah.”


Vicky tetap membopong tubuh sang istri seperti karung beras, hingga Rea berteriak. “Mas, lepasin!”


“Mas,” teriak Rea lagi.


Namun Vicky tetap melakukan aksinya dan lagi-lagi Rea tak bisa berkutik ketika bibir dan tangan Vicky menyentuh setiap jengkal tubuhnya, apalagi saat bibir itu menjelajahi miliknya yang semakin lembab oleh perbuatan Vicky sebelumnya.


“Ah, Mas. Aku masih marah sama kamu. Ah,’ rintih Rea ketika ingin menolak tetapi tubuhnya tak menolak.


Vicky menghiraukan rintihan itu. Ia tetap melanjutkan aksinya hingga pelepasan Rea pun datang.


“Mas, kamu jahat!” kata Rea dengan suara lemah. Tubuhnya lemas seperti tak bertulang.


Vicky mensejajarkan tubuhnya pada sang istri dan menempelkan kening mereka. Rea bisa merasakan hembusan nafas sang suami yang juga tengah memburu.


“Aku cinta kamu, Sayang. Kiara adalah masa lalu dan sekarang sudah aku anggap sebagai adik. Sedangkan kamu adalah masa kiniku, juga masa depanku. Ibu dari anak-anakku yang kelak mendampingiku hingga aku menutup mata,” ucap Vicky lembut hingga kedua mata mereka bertemu dan saling bertatapn tanpa jarak.

__ADS_1


Rea dapat merasakan ketulusan itu. Kata-kata itu membuat Rea luluh seketika. Ia memeluk kepala Vicky dan Vicky kembali melanjutkan aktifitasnya hingga keduanya merengkuh nikmat yang tidak bisa digambarkan oleh apapun.


__ADS_2