
Kenan dan Hanin sudah siap untuk pulang. Di lobby hotel sudah menunggu Riza dan Hansel yang akan mengantar bos dan istrinya itu ke bandara. Di sana juga terlihat Vanesa ikut menunggu.
Tak lama Kemudian, terlihat Kenan menggandeng tangan istrinya dan berjalan mendekati orang-orang yang menunggu mereka. Dari kejauhan, Hansel terus menatap istri bosnya itu. entah mengapa Hansel sangat mengagumi kecantikan dari istri bosnya itu. Ia juga mengagumi sosok Kenan sebagai pimpinannya.
“Kalian sudah siap?” tanya Riza.
Kenan dan Hanin mengangguk. Lalu, Kenan melirik anak muda yang sering menatap istrinya itu. padahal Hansel memang mengagumi keduanya dan mengagumi keromantisan mereka.
Vanesa mendekati Hanin. “Hati-hati di jalan, Han. Sekali lagi aku minta maaf.”
Hanin menyentuh bahu Vanesa. “Iya, Mbak. Sudah aku maafkan.”
Hanin tersenyum, lalu mereka berpelukan.
“Kapan kalian menikah?” tanya Kenan pada Riza.
“Lusa,” jawab Riza.
Kenan mengangguk. “Maaf aku tidak bisa menghadiri.”
“Aku juga minta maaf, karena tidak bisa menghadiri resepsi pernikahan kalian nanti,” ujar Riza.
“Apa Daddy dan Mommy di undang?” tanya Vanesa pada Kenan.
“Sepertinya, iya. Mamiku tidak akan lupa dengan sahabatnya,” jawab Kenan.
“Semoga mereka datang,” ucap Vanesa.
“Oh iya, Ken. Aku mau tanya, dari mana kamu mendapatkan tanda tangan Om James?” tanya Riza.
Kenan tersenyum. “Itu bukan hal yang sulit.” Kenan melangkahkan kakinya lagi untuk keluar. “Ayo berangkat!”
__ADS_1
Riza tersenyum dan menggeleng. Memang mengambil tanda tangan James adalh hal yang kecil untuk Kenan, bahkan hal besar pun mampu ia tangani, tentunya dengan orang-orang yang ia percaya.
Kenan dan Hanin kini berada di dalam mobil dan duduk di kursi penumpang belakang, sedangkan di depan sudah ada Hansel sebagai supir dan Riza yang menemaninya di samping. Sementara, Vanesa pulang menggunakan taksi dan tidak mengantar ke bandara.
Kenan sengaja duduk di belakang kursi Hansel agar pria muda itu tidak melirik ke arah Hanin dari kaca spion dalam seperti apa yang dia lakukan sebelumnya. Sesekali Hansel melirik ke arah kaca spion dalam itu dan mendapati Kenan tengah memelototinya. Hal itu terlihat oleh Hanin dan membuat Hanin tertawa tanpa suara.
Tidak sampai satu jam, mereka pun tiba di bandara.
“Ken, sekali lagi terima kasih.” Riza mengajak Kenan bersalaman.
Kenan pun menyammbut tangan Riza dan memeluknya. “semoga di tanganmu, Vanesa menjadi wanita lebih baik.”
Riza mengangguk dan tersenyum. “Ya, akan aku didik dia.”
Kenan, Riza, dan Hanin pun tertawa.
“Be carefull, Sir.” Hansel mengulurkan tangannya pada Kenan dan Kenan pun menerima uluran tangan itu.
Namun, tangan itu langsung di tepis Kenan. “Don’t touch my wife.”
Kenan menarik lengan istrinya dan berjalan meninggalkan kedua pria itu. “Bye.”
Riza tertawa dan menepuk bahu Hansel untuk mengisyaratkan agar jangan macam-macam pada wanita yang bersama bosnya.
Hansel nyengir dan menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
“Bye, Ken. hati-hati.” Teriak Riza.
Kenan dan Hanin menaiki jet pribadi milik Kenan. Mereka berangkat tepat pukul tujuh malam. Di dalam jet itu sudah ada dua pramugari dan satu pilot beserta co pilot.
“Sayang, kamu sudah baik-baik saja kan?” tanya Kenan pada istrinya, karena sejak pulang dari rumah sakit beberapa hari lalu, ia tak pernah melihat sang istri mengeluh.
__ADS_1
“Ya, aku sehat,” jawab Hanin.
“Syukurlah. Semoga dia selalu baik-baik saja dan sehat.” Kenan mengelus perut rata Hanin.
Mereka duduk di kursi penumpang berdampingan. Sementara pesawat sudah take off dan perlahan naik menuju awan. Kenan terus memeluk tubuh sang istri dari samping dengan erat, karena Hanin memang takut ketika take off dan landing.
Setelah, pesawat itu sudah berada di ketinggian yang stabil, Kenan dan Hanin beralih menuju kamar. Hanin meminta satu pramugari untuk membuatkan makanan.
Tok .. Tok
Beberapa menit kemudian, makanan tersaji dan pramugari itu pun mengetuk kamar itu untuk menyerahkan makanan pada Hanin.
Hanin membuka pintu dan menerima makanan itu.
“Sayang, kamu belum makan. Ayo aku suapi!” ucap Hanin duduk di tepi ranjang mendekati Kenan yang duduk di atas ranjang itu sembari memangku laptopnya.
Kenan pun menutup separuh layar laptop itu dan meletakkannya di samping. Ia siap menerima makanan dari tangan sang istri, karena hanya dengan seperti itu ia bisa makan tanpa memuntahkannya kembali. Seperti siang ini, Kenan sengaja pulang ke hotel hanya untuk makan siang dan disuapi oleh Hanin. Padahal yang tengah hamil itu Hanin, tapi yang sangat manja malah suaminya. Kenan terlihat lemah seperti ibu hamil yang tengah mengalami morning sickness.
Kenan tidak menyadari bahwa ia mengalami ini karena bawaan dari sang istri yang sedang mengandung. Sementara, Hanin tidak sama sekali terlihat mual-mual atau pusing.
Kenan melihat menu makanan yang ada di tangan Hanin. “Ini nasi goreng asap kan?”
“Iya, sesuai permintaanmu, sayang.” Hanin mengaduk ujung nasi itu dan mulai menyuapkan ke mulut suaminya.
Kenan tersenyum kegirangan. Sedari pagi ia memang menginginkan makanan ini dan terus menerus mengucap makanan ini kepada Hanin.
“Yang hamil siapa, yang ngidam siapa,” ucap Hanin tertawa sembari menutup mulutnya. Ia sungguh lucu melihat keadaan sang suami.
Kenan yang gagah dan arogan, seketika menjadi lemah dan manja.
“Aku juga tidak mau seperti ini,” sahut Kenan cemberut dan Hanin pun kembali tertawa.
__ADS_1