
“Hai ...” sapa Kiara riang setelah membuka pintu ruang perawatan Hanin.
Namun, langkah kaki Kiara sontak terhenti saat melihat sang kakak berdiri di sana dengan menggunakan kaos pink dan celana training berwarna abu-abu tua. Kenan tak tampak seperti putra mahkota dan tak terlihat seorang yang menakutkan seperti predikat yang melekat sebelumnya.
Kiara tertawa cekikikan, walau Gunawan sudah memperingatkan sang istri dengan memberi kode melalui mata, tetapi Kiara terus tertawa karena ini adalah momen yang sangat langka.
Vicky dan Rasti yang sedari malam melihat penampilan Kenan seperti ini saja, tidak berani tertawa, walau Vicky sudah menahan tawanya sejak melihat bos nya itu panik saat menggengdong istrinya dan berlari keluar lobby.
Hanin ikut tertawa, tetapi ia menahan tawa itu karena sayatan bekas operasi yang masih sangat terasa.
“Kak, ini beneran kamu,” Kiara menghampiri Kenan dan membolak balikkan tubuh sang kakak.
“Udah deh, jangan ngetawain terus. Semalem tuh aku panik, jadi pake baju asal-asalan daripada aku kesini Cuma pakai boxer doang coba. Bisa gempar nanti seisi rumah sakit ini,” ucap Kenan, membuat yang lain tertawa.
“Ganti kek, Kak,” kata Kiara lagi.
“Iya, nanti,” jawab Kenan yang memang sedang senang-senangnya berada di ruangan itu.
“Di luar udah ada wartawan loh. Nanti kalau liat kakak seperti ini, ngga tau deh.” Kiara tertawa lagi.
“Vick, kata lu semua udah beres,” ucap Kenan yang sudah menyuruh Vicky untuk menahan para media karena ia memang akan meluangkan waktu untuk konferensi pers dan mengumumkan kelahiran putranya sekalian mengumumkan tanggal aqiqah sebagai wujud rasa syukurnya.
“Udah kok, mungkin ini yang bandel,” jawab Vicky sambil memakan makanan yang dibawa Kiara.
“Sana temuin mereka dulu dan bilang kalo gue bakalan konferensi pers,” kata Kenan pada Vicky.
“Ntar kek, tanggung nih.” Vicky masih menyuapkan makanan itu ke mulutnya. “nasi goreng sosis buatan Kiara emang the best.”
Kiara memang sengaja membuat makanan itu untuk orang-orang yang menunggu Hanin melahirkan dari semalam.
Kiara menyapa Hanin dan memeluknya, lalu ia beralih pada putra Kenan yang sedang terlelap tidur di box itu. Rasti baru saja menaruh bayi lelaki itu di tempatnya.
“Mami makan dulu gih!” ucap Kiara menunjuk pada paper bag yang ia bawa.
Rasti mengangguk.
“Iya, Mam. Setelah itu Mami pulang saja ke rumah dan istirahat,” sahut Kenan.
“Tidak apa, mami tidak ngantuk kok,” jawab Rasti yang memang tampak segar terlebih karena ia bahagia telah mendapatkan cucu laki-laki. Wanita paruh baya ini pun selalu ingin menggendong cucunya.
Gunawan meletakkan stroller yang berisikan Kayla persis di samping box bayi Kenan. Kedua bayi itu tampak masih terlelap. Lalu, Gunawan menghampiri Kenan.
__ADS_1
“Selamat ya, Ken. Anak pertama lu akhirnya laki-laki.” Gunawan dan Kenan saling berpelukan.
“Thanks, Bro.” Bibir Kenan selalu terulas lebar sejak matahari terbit, tepatnya sejak bayi itu lahir ke dunia.
Kemudian, Gunawan menghampiri Hanin. Sementara di sofa, Kiara membuka semua makanan yang ia bawa dan menemani sang ibu makan. Kiara duduk persis di samping Vicky.
“Kak, ayo makan sekalian,” ucap Kiara dan Kenan pun langsung menuruti.
Kenan duduk di sofa itu dengan arah mata yang tertuju pada Gunawan dan Hanin di sana.
“Selamat ya, Han,” kata Gunawan tersenyum dan duduk di temat tidur itu, persis di samping tubuh Hanin yang berbaring.
Gunawan memang sudah menganggap Hanin sebagai adiknya, karena Gun memang tidak memiliki adik.
“Terima kasih, Mas.”
Posisi duduk Gun memblakangi Kenan yang duduk di sofa. Ia tidak sadar bahwa di sana, Kenan masih juga cemburu padanya. Padahal Kiara tidak demikian. Kiara tampak asyik menemani Rasti dan Vicky makan. Bahkan Vicky menyuapkan bagian makanan yang dirasa tidak berbumbu pada Kiara. Dan hal itu biasa saja, bagi Kiara dan Gunawan sudah tidak ada lagi cemburu untuk Vicky atau Hanin, karena mereka memang tidak bisa dihilangkan tapi ditempatkan pada porsinya.
“Ini pasti sakit?” tanya Gunawan dengan arah mata meuju pada bagian operasi itu.
“Iya, lumayan. Mas.”
Gunawan tertawa, ketika mengingat status mereka dulu.
“Iya, Mas. Alhamdulillah. Mungkin ini karena keikhlasan Kenan.”
Gunawan mengangguk.
Di sana, Kenan gelisah. Ia duduk tetapi tubuhnya terus bergerak.
“Kak, ngga bisa diem banget sih,” kata Kiara. Lalu, Kiara melihat tatapan sang kakak pada suaminya. “Ya ampun kakak masih cemburu?”
“Yah, Ra. Kamu kaya ngga tau Kenan aja,” celetuk Vicky. “Bahkan dia bisa cemburu sama kamu, kalau mensabotase istrinya.”
Kiara tertawa. “Serius?” Lalu, Kiara berteriak pada Gunawan. "Mas, udahan ngobrolnya. Ada yang panas nih.”
Arah mata Kiara menatap Gunawan yang menoleh lalu menunnuk ke arah Kenan yang tengah asyik menyuapkan makanan ke mulutnya seolah itu tidak benar. Padahal sedari tadi ia memang sudah panas melihat Hanin berbincang dengan Gunawan.
Gunawan pun berdiri dan menghampiri keluarga yang tengah duduk di sofa. “Tenang, Bray. Gue cuma ngobrol kok.”
“Kelamaan lu ngobrolnya.” Kenan bangkit dan menggantikan posisi duduk Gun di samping Hanin tadi.
__ADS_1
Hanin hanya tersenyum dan menggelengkan kepala melihat kelakuan sang suami. Posesif tingkat dewa. Walau sudah diperingatkan untuk tidak cemburu pada Gunawan, tetapi Kenan masih saja tetap cemburu. Entahlah, mungkin benar kata Vicky, Kenan akan cemburu pada siapapun yang dekat dengan istrinya, bahkan mungkin ia akan cemburu dengan putranya nanti.
“Sayang, ayo makan! Aaa ...” Kenan ingin menyuapi Hanin, karena memang sang istri belum makan sejak semalam. Perut Hanin hanya terisi air putih setelah dua jam pasca operasi.
“Aku belum boleh setengah duduk?” tanya Hanin.
Kenan menggeleng. “Belum, Sayang. nanti setelah delapan jam ya.”
Hanin mengangguk dan perlahan membuka mulutnya. Perutnya memang sudah lapar. Kenan benar-benar siaga, ia mengurus sang istri dengan telaten, sementara bayi laki-laki yang baru dilahirkan itu diurus oleh sang ibu, karena Rasti selalu berada di samping cucunya itu.
“By, lukanya akan cepat kering ‘kan?” tanya Hanin takut, karena ini adalah kali pertama ia melakukan operasi besar.
Kenan tersenyum. “Tidak ada jahitan di perutmu, Sayang. Aku meminta dokter untuk menggunakan metode lem dan sebisa mungkin membuatmu tidak sakit setelahnya.”
Hanin tersenyum, memang uang bisa membeli segalanya. Semua bisa mudah dengan uang. Namun, satu yang tidak bisa dibeli dengan uang, yaitu ketulusan dan akhlak mulia. Itulah mengapa Kenan terpikat dengan wanita yang tengah terbaring ini, karena ia melihat sifat baik pada diri Hanin dan ketulusan.
Kenan memajukan wajahnya dan mencium bibir sang istri, ******* makanan yang menempel di bibir itu.
“By,” Hanin menepuk pelan dada sang suami yang menciumnya tiba-tiba, setelah pangutan itu terlepas.
“Kamu harus kuat, puasa kamu akan lama,” ucap Hanin lagi dengan wajah tak berjarak pada sang suami.
“Hmm ... kuat ngga ya? Kalau sekarang sih kuat, tapi ngga tau besok-besok.”
“By,” teriak Hanin manja dan cukup terdengar oleh orang-orang yang duduk di sofa.
“Ck, dunia serasa milik lu berdua dah, yang lain ngontrak,” celetuk Vicky sembari berdiri dan hendak keluar dari ruangan itu, karena perutnya pun sudah kenyang.
“Iri tanda tak mampu,” ledek Kenan pada sahabatnya.
“Belagu,” ucap Vicky kesal dan menutup pintu itu. Ia gerah melihat kedua sahabatnya yang tengah bermesraan dengan istrinya masing-masing
Sontak mereka yang ada di dalam sana tertawa.
Kiara menarik nafasnya pelan, setelah tertawa. Sejujurnya ia tak tega melihat Vicky yang masih sendiri, karena bagaimana pun juga pria itu banyak berjasa untuknya, pria itu dengan ketulusannya selalu menolong Kiara di saat-saat sulit.
“Semoga kamu segera mendapatkan wanita yang tulus mencintaimu, Vick.” Doa Kiara dalam hati untuk pria yang sudah keluar dari ruangan ini.
Dan, tanpa di sadari doa Kiara langsung terkabul, karena sesaat setelah Vicky keluar dari ruangan Hanin menuju lobby. Ia menangkap sosok wanita yang tengah diincar. Wanita itu berdiri memperhatikan sepasang pria dan wanita di sana. Lalu, Vicky mendekati wanita yang diincarnya itu.
**********
__ADS_1
Cerita Vicky dan Rea diselipkan disini aja kali ya. Soalnya yang mau saya rilis cerita baru dengan judul baru.