
“Saya nikahkan ananda Vicky Prayoga dengan Andrea Maleeka binti Rudi Rahardiawan dengan mas kawin emas seratus gram dan seperangkat alat sholat dibayar tunai,” ucap Sadewa tegas dan menghentakkan telapak tangan Vicky yang sedang ia genggam erat.
“Saya terima nikah dan kawinnya ananda Andrea Maleeka binti Rudi Rahardiawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai,” sambung Vicky dengan lantang.
Tidak ada kegugupan dari ucapan tersebut. Dengan sekali tarikan nafas, Vicky dapat menyelesaikan kalimat itu hingga tuntas.
Vicky benar-benar kebelet nikah, hingga tidak ada gemetar atau gugup seperti mempelai pria pada umumnya.
“Barokallahu lakuma wabaroka alaikuma wajam’a baynakuma fii khoir,” seru bapak penghulu si sertai ustad yang duduk lesehan di sebelahnya.
Pak penghulu itu pun mengucap beberapa doa yang langsung di aminkan oleh semua yang hadir, termasuk kenan dan keluarganya.
Akad nikah itu berjalan dengan khidmat, tanpa kehadiran Rea di samping Vicky. MUA yang ada di dalam kamar Vicky memang sudah diberi kode oleh Siska, agar mempelai wanita keluar setelah ijab qobul di ucapkan. Siska mendapatkan mandat dari bosnya untuk melakukan itu pad si MUA di dalam sana. Alhasil ketika Rea keluar dan protes pada Thia, ia sudah tak lagi bisa menolak.
“Maksudnya, apa ini?” tanya Rea pada Thia saat melihat semua orang berkumpul termasuk keluarganya di sana, setelah ia dan kedua adiknya keluar dari kamar.
“Kakak sudah menikah dengan om Vicky,” jawab Thia pelan.
“Apa?” Rea menggelengkan kepalanya. Lalu ia menarik tangan yang semula berada pada kedua tangan adiknya.
“Apa yang kalian lakukan? Thia, Nisa.” Rea menatap kedua adiknya bergantian. Sementara Thia dan Nisa menunduk.
“Maaf, Kak. Kami ingin kakak menikah dengan Om Vicky,” kata Nisa.
Thia mengangguk. “Ya, kami ingin kakak melupakan Kak Attar. Dia bukan pria baik.”
“Kalian itu masih kecil. Tahu apa kalian tentang pria baik seperti apa?” tanya Rea kesal.
Sementara di seberang sana, Vicky telah selali membubuhkan tanda tangan sesuai yang diminta penghulu pasca mengucap ijab qobul. Lalu, ia menoleh ke arah Rea, Thia, dan Nisa yang masih berdiri di sana dan tak kunjung menghampirinya, karena Rara harus duduk di samping Vicky dan ikut membubuhkan tanda tangan di kertas itu.
“Mempelai wanitanya masih di sana. Ayo jemput!” pinta bapak penghulu itu pada Vicky.
Vicky pun berdiri dan melangkah mendekati Rea.
Rea menatap tajam ke arah Vicky yang tengah berjalan mendekatinya, hingga pria itu benar-benar berdiri di hadapan Rea. “Apa yang kamu lakukan?” tanyanya.
“Seperti yang semalam kamu inginkan.”
Rea berdecih. “Aku?” tanyanya sembari menunjuk dirinya sendiri.
“Thia, Nisa, temani para tamu! Om mau bicara sama kakakmu.” Vicky menarik lengan Rea dan kembali masuk ke kamar itu. Ia pun mengunci kamar itu.
“Hei, mengapa di kunci?” tanya Rea panik sembari menahan gerakan tangan Vicky di handle pintu itu. Tapi sayang, Vicky sudah mengunci pintu itu.
“Agar orang tidak mendengar percakapan kita, atau masuk ke kamar ini sembarangan,” jawab Vicky dengan langkah semakin mendekati Rea yang berdiri di seberangnya, karena setelah mencoba menahan Vicky agar tidak mengunci pintu itu, ia pun menghindar dari jangkauan Vicky.
“Stop, Jangan mendekat!” Rea mengangkat telapak tangannya ke atas.
Vicky hanya tersenyum. “Sikap kamu tuh berubah-rubah, sayang. Untung saja aku cekatan dan langsung mengambil langkah ini.”
“Dasar licik,” sahut Rea dengan ketus.
“Loh, semalam siapa yang ingin menyerahkan tubuhnya padaku? Justru aku berbaik hati tidak ingin melakukan dosa itu. Aku sudah tobat, makanya aku nikahi kamu sebelum kita melakukan itu.” Vicky menautkan kedua jari telunjuknya dengan wajah mesum.
“Ish, menjijikkan.” Rea memalingkan wajahnya, membuat Vicky semakin gemas.
“Sekarang menurutmu itu hal yang menjijikkan, tapi nanti setelah merasakannya, kamu akan ketagihan.” Vicky tersenyum menyeringai
Rea masih memalingkan wajahnya dan memejamkan mata. Pikirannya terngiang kembali adegan panas yang dilakukan Attar dan Sila. Seketika, Rea pun melembut.
Vicky memanfaatkan itu dengan merangkul, lalu memeluk tubuh Rea seraya berbisik, “Aku akan membahagiakanmu, Re. Sungguh.”
Rea membuka matanya. Ia manatap kedua bola mata Vicky. Ya, memang tidak ada kebohongan di sana, sorot mata itu menggambarkan ketulusan.
“Ini terlalu cepat, Om.”
“Ya, aku tahu. Percayalah, aku akan menyembuhkan hatimu.” Suara Vicky begitu meyakinkan.
Vicky pernah berada di posisi Rea saat ini, ketika Kiara menyakiti hatinya dan memilih Gunawan untuk tepat meenruskan rumah tangga mereka. Sakit hati memang tidak enak. Sakit hati membuat tubuh ikut merasakan sakit, bahkan penyakit yang sebelumnya tidak bersarang pun menjadi ada karena hati yang sakit itu. Kini, ia ingin ada ketika Rea merasakan sakit hati. Ia ingin menjadi penawar untuk Rea sekaligus penjaga untuk Thia dan Nisa.
“Mengapa Om melakukan ini? Kiat belum lama kenal. Bahkan Om bisa mengambil hati Thia dan Nisa. Kedua anak itu paling sulit menerima orang baru.”
Vicky tersenyum dan mengelus pipi Rea. Gadis yang belum lulus kuliah ini begitu cantik dengan riasan natural di wajahnya.
__ADS_1
“Seperti pernah kuceritakan, aku pernah berada di posisimu. Jadi aku ingin melindungimu dan menjaga kedua adikmu.” Vicky menjeda perkataannya. “Aku juga menyukaimu sejak pertama kita jumpa.”
Rea menunduk dan malu. “Tapi aku belum bisa mencintaimu.”
“Tidak perlu khawatir. Semua akan berjalan dengan semestinya. Kita jalani saja pernikahan ini dengan sungguh-sungguh.”
Rea kembali memejamkan matanya dan menggigit bibirnya. Ia bingung. Ini sungguh mendadak.
“Re, please. Jangan kamu gigit bibirmu!”
Rea menengadahkan kepalanya dan menatap Vicky kembali. “Kenapa?” tanyanya bingung.
“Karena aku ngga tahan. Aku juga ingin menggigitnya.”
“Om.” Rea membulatkan matanya ke arah Vicky.
“Kak,” teriak Thia dan Nisa bergantian sembari mengetuk pintu kamar itu.
“Komprominya udahan belum?” tanya Thia.
“Iya, nih. Para tamu udah nungguin. Apa mereka langsung di suruh makan aja?” tanya Nisa.
Rea tersentak mendengar kedua adiknya bertutur kata.
“Ayo, kita temani para tamu di luar!” ajak Vicky dengan mengulurkan tangan kanannya pada Rea.
“Jadi kita?” tanya Rea sekali lagi untuk meyakinkan diri atas semua yang sudah terjadi.
Vicky mengangguk. “Ya, kamu sudah resmi menjadi istriku.”
“Kapan? Kok aku ngga denger ijab qobulnya.”
“Eum ...” Vicky melihat jam di tangan kanannya. “Mungkin sekitar dua puluh menit yang lalu. hanya butuh lima menit untuk menjadi halal, Rea.”
“Hoh.” Rea memegang jantungnya yang berdetak kencang. Sungguh ia terkejut, karena kini statusnya sudah berubah. Padahal semalam ia masih single.
Vicky langsung menahan tubuh Rea yang lemas. “Re, kamu ngga pingsan kan?”
“Pengennya gitu. Ini mimpi bukan sih?”
“Ini bukan mimpi, Re.”
“Sshh ... Ah, sakit. Om.” Desah Rea sembari mengelus lengannya yang dicubit Vicky.
“Ya ampun, Re. Mendengar suara sensualmu aja, aku udah ngga tahan,” gumam Vicky.
“Om ngomong apa?” tanya Rea yang hanya sekilas mendengar gumaman itu.
“Ah, ngga. Ya udah ayo keluar!” Vicky menarik lengan Rea untuk bergabung diluar bersama para tamu.
Dan, Rea pun mengikuti langkah pria yang kini menjadi imamnya. Entahlah, Rea bingung menerima takdir yang dadakan ini. Namun, kejadian ini tanpa Rea sadari membuat ia sedikit lupa sakit hati ini.
“Wah Rea, selamat ya. Om kaget loh pas orang-orang jemput Om buat jadi wali kamu,” ucap Sadewa, paman Rea yang mewakili almarhum sang ayah untuk menikahkan Rea.
Rea tersenyum. “Terima kasih, Om. Terima kasih tante Susan.”
“Tante kaget, kok kamu nikahnya sama pria ini. Setahu tante pacar kamu bukannya Attar.”
“Uhuk .. Uhuk .. Uhuk.. “ Nisa terbatuk mendengar tantenmya berbicara.
“Itulah jodoh, Tante. deket sama siapa, eh jadinya sama siapa,” ujar Hanin yang kebetulan ada di dekat mereka.
“Pengalaman ya, Bu.” Sahut Siska dan membuiat Kenan serta Vicky tertawa.
Sementara Om dan Tante Rea tidak mengerti dan tetap menyumbangkan tawanya.
“Benar sekali. Insya Allah apa yang telah Allah takdirkan tidak akan salah dan tertukar,” celetuk bapak ustadz yang ikut menikmati ramah tamah di siang hari ini.
“Lalu, kalau ada yang sampai bercerai. Itu bagaimana ustadz?” tanya Siska.
“Ya, berarti jodohnya hanya sampai di situ. Dan, mereka akan mendapatkan lagi seperti perangainya masing-masing.”
“Oh.” Siska membulatkan bibirnya.
__ADS_1
“Tuh denger, Sis. Udah sih mulai sekarang tobat. supaya dapet yang baik. Capek berkelana terus,” kata Kenan pada sekretarisnya.
“Iya, Pak. Siapa sih yang ngga mau hidup bener.” Siska cemberut.
“Kamu single?” tanya Vedy pada Siska.
Siska mengangguk.
“Kebetulan, temen aku ada yang minta cariin istri. Mau aku kenalin?” tanya Vedy dan Siska langsung menganggukkan kepalanya.
“Wah, kamu bakalan nikah sama militer, Sis.” Ledek Vicky.
“Cocoklah, jadinya sama-sama kuat,” sahut Kenan.
“Kuat apa, Ken?” tanya Vicky.
“Kuat di ran ...” Kenan hendak meledek sekretarianya.
Namun, Hanin langsung membekap mulut suaminya. Pasalnya di sini ada anak yang masih dibawah umur dan tidak boleh mendengar obrolan orang dewasa.
“Sayang, aku ngga bisa nafas loh,” ucap Kenan setelah Hanin membuka bekapan itu.
“Lagian ya, kamu ngomong gituan ngga liat tempat.”
Yang lain hanya tertawa. Mereka bercengkrama menikmati hidangan sembari mendengarkan wejangan yang dituturkan sang ustadz tentang bab menikah serta hukum dan cara rosulullah menjalankannya seperti yang ada dalam buku berjudul ‘bilik cinta muhammad’.
****
“Om, resletingnya susah banget sih,” kata Rea saat ingin melepas gaun yang ia kenakan itu.
Rea berada di kamar mandi di dalam kamar Vicky. Tiba-tiba ia ingin buang air kecil. Semula ia meminta pertolongan pada Thia, tetapi justru Thia meminta pertolongan pada Vicky, sehingga Vicky yang berdiri di luar pintu kamar mandi itu.
“Yank, udah belum. kita masih harus keluar. para tamu pasti mau pamit pulang dan bersalaamn sama kita,” teriak Vicky di depan pintu toilet yang tertutup.
“Aduh, aku belum p*p*s, Om. Ini gaunnya susah," jawab Rea berteriak dari dalam.
“Kalau gitu aku masuk ya!”
“Iya.”
Vicky pun membuka kamar mandi itu dan mendekati Rea yang masih kesulitan membuka resleting gaunnya.
“Kenapa harus dibuka?” tanya Vicky.
“Ribet, Om. Aku ngga betah. Mau ganti baju aja.”
Sret
Dengan mudah Vicky membuka gaun itu hingga gaun itu pun langsung jatuh ke lantai dan menampilkan sosok Rea yang hanya mengenakan pakaian d*l*m saja.
“Ah.” Sontal Rea menutup tubuhnya. “Udah om keluar!” pinta Rea.
Namun, Vicky tetap berdiri mematung memandang tubuh molek itu.
“Om, jangan mesum deh! Cepet keluar.”
Vicky tak menghiraukan. Dan malah mencium bibir Rea.
Di luar kamar itu, Kenan mencari Vicky, karena para tamu hendak mengucapkan selamat sekaligus pamit.
“Vick ...” Kenan mencari Vicky hingga memasuki kamar dengan pintu terbuka.
Melihat tak ada orang di sana, kemudian Kenan beralih ke kamar mandi dan melihat ciuman panas itu, karena pintu kaamr mandi terbuka cukup lebar.
“Ah, si*l. Masih banyak tamu aja ngga bisa nahan. Dasar k*mpret,” umpat Kenan tetapi mulutnya tersenyum. Sungguh ia bahagia karena melihat sahabatnya telah menemukan kebahagiaan.
“Ekhem ... Maaf untuk para tamu. Silahkan kita pulang.” Kenan bersuara di depan audiens di luar sana dengan suara keras, hingga Vicky yang berada di dalam kamar mandi pun mendengar dan melepaskan ciuman pada bibir Rea.
“Di dalam sana, pengantin sudah mulai melakukan aksinya, jadi acara ini dibubarkan," kata Kenan lagi dengan lantang dan dikeraskan. Ia sengaja melakukan itu agar Vicky mendengarnya.
“Kenan ...” teriak Vicky berlari keluar. Ia tak terima acaranya selesai begitu saja.
Bahkan, mereka belum berfoto untuk kenang-kenangan ketika kelak anak-anak Vicky dewasa dan menceritakan bagaimana hebohnya pernikahan dadakan ini.
__ADS_1
Hanin dan Siska yang mengenal sosok kedua pria itu pun tertawa. Memang mereka benar-benar gila. Bos dan Asisten yang klop.