Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Like father like son


__ADS_3

Hanin membantingkan tubuhnya di atas sofa, hingga Kenan yang sedang duduk di sampingnya itu pun merasakan gerakan yang mengguncang tubuhnya. Hanin menarik nafasnya kasar. Ia duduk di samping sang suami, setelah cukup lama berbincang dengan Rasti di dalam kamar. Rasti menanyakan banyak hal pada Hanin seputar keluarganya. Semula ia seperti orang yang sedang ada di ruang interogasi, karena Rasti menanyakan tentangnya dengan wajah serius. Namun, lambat laun perbincangan mereka semakin hangat dan Kenan membiarkan istri berserta sang ibu saling mengenal.


“Kenapa?” tanya Kenan, sembari menatap ke arah sang istri sejak wanita itu duduk di sampingnya.


“Hmm ....” Hanin pun menoleh ke arah sang suami dengan senyum.


“Kamu Kenapa? Sampai tarik nafas gitu.” Kenan mengulang pertanyaannya.


Hanin kembali menarik nafasnya dengan senyum. “Hari ini, hari yang luar biasa. Dalam satu hari, aku merasakan banyak hal.”


Kenan menggeser tubuhnya agar berdekatan dengan sang istri dan memeluknya.


“Ehem.” Kenan mengangguk. Ia pun menyetujui pernyataan sang istri. Hari yang dilalui ini memang penuh dengan drama.


“Pagi, Vicky datang. Menjelang siang, aku keluar dari apartemen ini dan ternyata sudah ada orang yang memata-mataiku, hingga datanglah Mami dan tunanganmu.”


“Bukan tunanganku lagi,” sanggah Kenan.


Hanin pun mengusap pipi Kenan dari samping dan tersenyum. “Sudah bukan ya? Kalau begitu mantan tunanganmu.”


“Ck, udah berani ngeeldek ya. Mau aku balas!” Kenan menyeringai dengan menunjukkan jarinya.


“Ih, apa sih, dasar Ken Ken Jelek.” Hanin cemberut, membuat Kenan tertawa.


“Ken, maaf ya. Siang itu, aku keluar rumah tanpa izin darimu, sehingga semua ini terjadi,” ucap hanin lirih.


Kenan memelankan tawanya dan semakin berhenti. “Tidak apa, ini memang harus terjadi dan aku bersyukur karena akhirnya dengan jalan ini, Mami merestui kita.”


Hanin mengangguk. “Lalu, bagaimana dengan mantan tunanganmu? Pasti dia sakit hati. Aku juga perempuan, Ken. Kalian sudah lama pacaran tapi malah aku yang kamu nikahi.”


Kenan menggeser tubuh Hanin agar berhadapan dengannya. Ia menyelipkan anak rambut di belakang telinga sang istri dan tersenyum.


“Kamu memikirkan perasaannya, padahal dia sama sekali tidak memikirkan perasaanmu. Hatimu sangat lembut, Sayang. Itu yang membuatku jatuh cinta padamu.”


Hanin tertunduk malu. Ia tersenyum dan menunduk untuk menutupi rona merah di wajahnya. Sementara Kenan semakin tersenyum menatap ekspresi menggemaskan itu. Lalu, Kenan menceritakan hubungannya dengan Vanesa dari mereka kecil hingga besar dan memutuskan untuk berpacaran.


“Aku tidak pernah dekat dengan wanita manapun kecuali Vanesa. Oleh karena itu, aku menerima permintaannya untuk menjadi kekasihku pada waktu itu, karena aku pikir, aku memang tidak bisa dekat lagi dengan wanita selain dia. Namun, semakin kami dekat, aku tidak pernah menemukan cinta, getaran hebat di dada dan rindu yang mendalam. Berbeda ketika bertemu dengamu, jantungku selalu berdegup kencang dan ketika ditinggalkan olehmu, aku merasakan rindu yang mendalam.” Kenan kembali berucap dengan tetap menatap kedua mata sang istri.

__ADS_1


Sungguh, malam ini sangat romantis. Pipi Hanin tak henti dibuat merah oleh Kenan karena pria itu terus memujinya.


“Benarkah, seperti itu?”


Kenan mengangguk. “Benar.”


“Lalu, mengapa dulu kamu sering melecehkanku?” tanya Hanin lagi.


“Karena aku memang ingin menyentuhmu. Kamu tahu? Milikku selalu seperti ini jika berdekatan denganmu, padahal ketika dengan Vanesa dia tidak seperti ini.” Kenan menarik tangan Hanin untuk menyentuh miliknya.


“Ish, Ken. Mami belum tidur,” bisik Hanin. Ia terkejut dan kembali menarik tangannya. Telapak tangan Hanin dapat merasakan singkong premium itu.


Kenan tertawa. “Walau Mami belum tidur, Mami tidak akan keluar kamar.”


Kenan menindih tubuh sang istri.


“Ken, ini masih belum terlalu malam.” Hanin manahan dada suaminya.


“Tapi aku sudah tidak bisa menunggu terlalu malam. Atau tengah malam, aku akan mengganggumu lagi.” Kenan tersenyum licik.


“Ken,” panggil Hanin dengan nada manja. Ia tahu apa yang dipikirkan suaminya. pasti kenan akan melakukannya lebih dari sampai tiga kali, walau mereka tidak sedang berada di kamar tidurnya.


“Eum ....” Hanin melenguh, saat sang suami bergerak aktif.


“Ken. Ah,” Wajah Hanin yang diiringi kabut gairah, sungguh terlihat sexy dan Kenan sangat menyukai itu.


“Sebut namaku, Sayang. Aku menyukai suaramu yang selalu menyebut namaku,” ucap kenan dengan suara berat.


“Ken, a..ku menyukai sentu....hanmu, Ah.” Balas Hanin dengan suara sensual, membuat Kenan semakin berhassrat ingin memakan tubuh itu lebih lama.


Keduanya, terus mencari kenikmatan tanpa menyadari bahwa saat ini di tempat ini, mereka tidak hanya sedang berdua. Ada Rasti yang matanya masih belum terpejam. Rasti menelepon keadaan putrinya yang jauh dari kota ini.


Walau kesalnya orang tua terhadap anak, tapi sebagai ibu, Rasti tetap mengkhawatirkan putrinya.


“Iya, Mam,” Jawab Kiara pada panggilan video call yang Rasti lakukan.


Rasti hanya ingin memastikan dimana sang putri saat ini berada.

__ADS_1


“Kamu masih di rumah Gunawan?” tanya Rasti.


Kiara mengangguk. “Iya, Mam. Aku menunggu Mas Gun pulang dan ingin meminta maaf padanya.”


“Memang Gunawan kemana?”


“Ke Solo, Mam.”


Rasti mengangguk, karena ia pun tahu tempat kelahiran menantu lelakinya itu.


“Ra,” panggil Rasti lirih. “Jika hubunganmu dan Gunawan masih bisa diperbaiki. Perbaikilah! Mami tetap memegang teguh adat keluarga kita yang selalu memegang teguh janji suci.”


“Tapi apa yang Kiara lakukan terhadap Mas Gun salah Mam. Kiara tidak ingin mengekang Mas Gun lagi. Jika dia kecewa pada Kiara dan ingin berpisah, Kiara tidak bisa berbuat apa-apa.”


Rasti tertunduk lesu, hingga terdengar suara teriakan pria dan wanita.


“Mam, suara apa itu?” tanya Kiara.


Sontak, Rasti pun keluar dari kamarnya. Ia menoleh sedikit keluar ruang televisi dan melihat dua orang berbeda jenis tengah bergumul.


“Ya ampun, Ken,” ucap Rasti lirih, sembari menggelengkan kepalanya. Putranya benar-benar gila.


“Ada apa, Mam?” tanya Kiara dari alat komukasi yang masih Rasti pegang. Ia yang melihat ekspresi tak biasa dari sang ibu.


“Tidak apa-apa.” Rasti kembali memasuki kamar.


“Mami di apartemen siapa?” tanya Kiara.


“Kakakmu dan istrinya.”


“Mami di sana? Mami merestui mereka?” tanya Kiara lagi dengan ekspresi tak percaya.


Rasti mengangguk. “Mau bagaimana lagi, Kakakmu sangat mencintai wanita itu.”


Kiara tersenyum. “Jangan bilang suara itu adalah suara mereka yang sedang bercinta.”


“Menurutmu?” Rasti menaikkan sebelah alisnya.

__ADS_1


Kiara tertawa. “Kakak memang benar-benar gila.”


“Segila papimu dulu. Like father like son,” balas Rasti juga dengan menyungging senyum di bibirnya.


__ADS_2