Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Mimpi mesum


__ADS_3

Di Bandung, pagi-pagi sekali Hanin sudah bersiap untuk berangkat ke kantor, karena semalam Irma menginformasikan bahwa Hanin sudah mulai masuk kerja hari ini untuk masa percobaan.


“Wuih, udah makin seger aja kamu, Han,” kata Irma.


“Iya nih, harus semangat untuk memulai hidup baru di kota kembang.” Hanin tertawa.


“Seneng lihat kamu ketawa lagi, ngga manyun terus seperti saat pertama tiba di sini.” Irma merangkul Hanin dari samping.


“Makasih ya, Ir.” Hanin memeluk tubuh sahabatnya.


“Sama-sama, Han.”


“Oh, iya, Ir. Aku sekalian pamit ya. Kemarin pas abis interview, aku keliling belakang gedung dan dapet kosan khusus wanita. Aku sreg tempatnya karena rapih dan bersih,” ucap Hanin riang. Saat mereka berada di meja makan.


Rizky pun ikut bergabung dan duduk di samping Irma. “Jadi kamu udah mulai ngekos?”


Hanin mengangguk. “Iya, A. Makasih ya tumpangannya.”


“Sama-sama.” Rizky tersenyum dan mengangguk.


“Ya udah, nanti pas makan siang. Lu ajak gue ke belakang, gue mau lihat kosannya seperti apa?”


“Siap, bu bos,” jawab Hanin ceria.


****


Di apartemen, Kenan bangun lebih dulu. Ia melihat Vanesa yang masih terlelap. Hingga Kenan keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian kerja, Vanesa masih belum menggerakkan tubuhnya.


“Mmm ...” Vanesa menggeliat. “Kamu sudah rapih, Nan?”


Kenan mengangguk sembari merapihkan dasinya sendiri. “Aku berangkat, Van. Aku sudah memesan sarapan untukmu. Mungkin sebentar lagi drivernya sampai.”


“Terima kasih.” Vanesa duduk di atas ranjang itu dan tersenyum manis ke arah Kenan. Ia merasa hubungannya hanya sebatas teman dan bukan tunangan.


Vanesa menatap Kenan tanpa beralih sedikitpun ke arah pria yang tengah membenahi dirinya sendiri.


“Nan.”


“Hmm ...” Kenan menoleh ke arah Vanesa.


“I love you,” ucap Vanesa lembut.


Kenan hanya tersenyum dan kembali menunduk untuk memasangkan jam tangan pada pergelangan tangan kanannya.


“Aku pergi ya, Van.” Kenan meraih jasnya dan hendak meninggalkan Vanesa yang masih duduk di atas tempat tidur.


“Nan, kamu belum cium aku.” Rengek Vanesa.

__ADS_1


Kenan menghentikan langkahnya, lalu menghampiri Vanesa. Ia melihat bibir Vanesa, jika wanita di hadapannya adalah Hanin, ia pasti akan ******* habis bibir itu dengan durasi yang lama, karena ia sudah amat sangat merindukan bibir ranum Hanin. Namun, ia sadar bahwa yang berada di hadapannya ini bukanlah sang istri. Ia pun memajukan wajahnya dan mencium kening Vanesa dan meninggalkannya.


Vanesa terdiam. Ia semakin merasakan aura dingin Kenan.


Sesampainya di kantor, Kenan masih belum menemukan Vicky, ketika keluar apartemen pun, ia tak melihat sosok asistennya itu. Biasanya, di jam itu mereka akan berpapasan di lift. Ternyata, Vicky sudah berangkat lebih pagi dengan menggunakan motor gede miliknya.


Kenan yang sudah tak sabar bertemu Vicky pun, akhirnya menemui asistennya itu di ruangannya.


“Vick.” Kenan langsung membuka pintu ruangan Vicky dan berdiri di depannya.


“Eh, udah dateng, Bos.”


“Bas, Bos, Bas, Bos. Mana laporan tentang Hanin?” tanya Kenan kesal.


“Belum, Ken. Ini gue baru lacak cctv bandara. Kemaren baru dapet.” Vicky memperlihatkan laptopnya pada Kenan.


Kenan langsung mendekati Vicky dan melihat apa yang asistennya itu tunjukkan.


“Dia ke Bandung?” tanya Kenan.


Vicky mengangguk. “Ke rumah sahabatnya di Bandung.”


“Lu tau alamatnya?”


“Tau, tapi ternyata dia sudah pindah dan gue belum tau pindahnya kemana.”


“Ah, lelet banget sih lu. Vick. Heran gue.” Kenan mengusap rambutnya sendiri sembari bertolak pinggang.


“Bukan gue yang lelet, tapi lu nya yang ngga sabar. Lagian lu tuh udah kaya orang gila tau ngga.” Vicky tertawa kecil dan berdiri menghampiri Kenan yang tengah berdiri di depan jendela ruangan itu.


“Lu bener, Vick. Gue udah jatuh cinta sama wanita itu,” ucap Kenan lirih dengan mata yang tertuju pada pemandangan kota dari luar jendela itu.


“Siapa?” tanya Vicky pura-pura tidak tahu.


“Ya, wanita penggoda itu.”


“Iya, siapa?” tanya Vicky lagi menegaskan agar Kenan mengucapkan apa yang ia rasakan.


“Hanin, istri gue," jawab Kenan sembari menatap wajah sahabatnya.


Vicky tertawa terbahak-bahak. “Akhirnya lu ngakuin juga, Bro.” Vicky bertepuk tangan.


“Apaan sih, ngga jelas lu.” Kesal Kenan.


“Gue seneng, Bro. Akhirnya lu merasakan jatuh cinta juga. Gue tau sama Vanesa, lu ngga pernah jatuh cinta tapi hanya karena kebiasaan bersama aja.”


“Sok tahu, lu aja belum pernah ngerasain jatuh cinta.” Kenan hendak keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Pokoknya gue ngga mau tau, besok bini gue harus udah ketemu keberadaanya," ucap Kenan lagi, sembari berdiri di depan pintu ruangan itu dan memegang handel pintu


"Iya. Gue tahu, rindu itu berat, Bro." Ledek Vicky dan masih tertawa.


Kenan keluar dan menutup kembali pintu itu.


Seketika tawa Vicky terhenti. “Gue juga udah ngerasain jatuh cinta, Ken. Sama adik lu,” ucap Vicky lirih sembari mengulas cenyum, mengingat kenangan panasnya bersama Kiara dulu dan hingga saat ini tidak ada wanita yang bisa membuatnya se bergairah itu.


Kenan pun kembali melangkah menuju ruangannya dan ia berpapasan dengan sang sekretaris yang baru saja datang.


“Eh jam berapa nih? Baru datang. Harusnya kamu dulu yang datang, baru gue,” ucap Kenan pada Siska.


“Maaf, Pak.” Siska menunduk. Masih pagi, Siska sudah kena semprot.


Siska melihat jam di tangannya, ketika Kenan akan masuk ke ruangan.


“Ngga telat kok. Ini pas jam delapan,” Gerutu Siska, lalu matanya mengarah ke pintu ruangan Kenan. Ternyata Kenan masih berdiri di sana dan belum masuk.


“Apa?” Kenan membulatkan matanya ke arah Siska.


Siska menggeleng. “Ngga, Pak.”


Kenan kembali melangkahkan kakinya ke arah Siska.


“Kamu di jalan pakai baju seperti ini? ngga malu?” tanya Kenan dengan menatap Siska dari ujung kaki hingga kepala.


Siska terdiam.


“Pakai pakaian yang sopan. Ini kantor, bukan club malam. Ngerti!” teriak Kenan di depan wajah Siska.


Siska mengangguk dengan cepat, ingin rasanya ia menangis. Lalu, Kenan masuk ke ruangannya dan membanting pintu. Ia duduk di kursi kebesarannya dengan kasar sembari melonggarkan dasinya.


“Ngga tau apa tadi malem gue mimpi basah.” Kenan berdecak kesal, pasalnya semalam ia memimpikan Hanin dan bermimpi tengah bergelut bersamanya.


Padahal malam itu Kenan tengah di peluk dari belakang oleh Vanesa, tapi yang ada di mimpinya adalah Hanin.


“Hanin. aku rindu.” gumam Kenan lirih sembari menyandarkan tubuhnya di kursi itu dan menengadahkan kepalanya ke atas. Ia mulai menyadari perasaannya pada Hanin.


Di kota kembang, Hanin tengah duduk di kursi yang telah di sediakan Irma. Satu kursi kosong yang berada di pojok dekat jendela, kursi dan meja yang sama berjejer di ruangan ini. Hanin menghelakan nafasnya, walau ia senang sudah bisa menjauh dari pria arogan yang sempat merawatnya ketika sakit itu, tapi hati Hanin masih gelisah.


“Kenapa gue mimpiin dia semalem. Mana, mimpinya mesum banget lagi,” gumam Hanin sembari menangkup wajahnya.


Semalam Hanin pun bermimpi yang sama dengan Kenan. Mereka melakukan adegan panas dalam mimpi. Entah mimpi itu hanya sebuah bunga tidur, atau keduanya memang sama-sama merindu dan ingin mengulang adegan panas mereka di hotel pada waktu itu.


Hanin mengerdikkan bahunya dan tersenyum geli, mengingat mimpi itu. Kemudian, ia kembali menarik nafas dan menaruh kedua tangannya di atas keyboard untuk memulai pekerjaan yang baru. Ia sadar sebagai seorang istri, ia telah salah karena meninggalkan suaminya.


“Maaf, Kenan,” ucap Hanin lirih.

__ADS_1


__ADS_2