
Dengan jam yang sama saat di kota kembang, Kenan dan Hanin sedang sarapan bersama Vicky. Di kediaman Aditama keadaan masih sama, Rasti masih belum mengajak Kiara bicara. Pagi ini, Kiara pun akan mendatangi rumah Gunawan.
Wanita dengan perut yang terlihat sedikit membuncit itu, kini menaiki taksi online. Ia tidak ingin menggunakan mobil dan supir milik sang ibu, khawatir sang ibu pun memiliki urusan sendiri dan akan keluar juga.
Setelah empat puluh menit, Kiara sampai di depan rumah itu. Rumah yang pernah ia tinggali selama lebih dari empat tahun. Di halaman terparkir mobil Gunawan. Pria yang masih berstatus suaminya itu, masih berada di rumah. Gunawan memang jarang berangkat pagi, karena ia tak mau berada dalam kemacetan. Jika ingin berangkat pagi, maka ia angkat berangkat pagi-pagi sekali.
Perlahan, Kiara membuka pintu rumah itu.
“Eh, Non Kiara.” Si bibi terkejut melihat kehadiran mantan majikan perempuannya.
“Iya, Bi.” Kiara tersenyum.
“Non Kiara bagaimana keadaannya? Sehat? Ini dede bayinya juga sehat kan bu? Duh, udah terlihat besar.” Si Bibi bertanya dengan antusias.
“Alhamdulillah semua sehat. Ngomong-ngomong Pak Gun, ada di kamar, Bi?’ tanya Kiara.
“Oh, bapak lagi keluar kota, Bu. Udah dari kemarin.”
“Kemana?” tanya Kiara.
“Ke Solo, Bu. Katanya ada kerjaan di sana dan sekalian ke makam ibunya Bapak. Saya disuruh jaga rumah baik-baik karena kata Bapak, beliau akan lama.”
“Hmm ...” jawab Kiara singkat sembari membungkamkan mulutnya.
Di kota itu, ibu Gunawan berasal dan di sana masih banyak sanak saudara Gunawan dari sang ibu.
“Baiklah. Saya ke kamar dulu ya, Bi. Sepertinya ada barang-barang saya yang masih di sana.”
“Ibu tinggal di sini saja lagi. Kasihan Bapak, Bu. Lontang lantung seperti yang tak punya arah.”
“Masa sih?” tanya Kiara tak percaya dengan penuturan pelayannya. Pasalnya dulu ketika Kiara berada di rumah ini, rasanya kehadiran seperti ada dan tiada.
“Benar, Bu. Keadaan bapak semakin kacau setelah di tinggal ibu pergi.”
Kiara tersenyum dan menepuk bahu si Bibi, lalu meninggalkannya menuju lantai dua. Kaki Kiara terarah ke kamar mereka dulu. Kamar yang kini tak ada lagi foto pernikahan dan fito-foto yang menampilkan dirinya, karena sejak keadaan dimana skandal sang istri terungkap, Gunawan memecahkan semua figura dan membakar semua foto kebersamaannya dengan sang istri.
****
Di Bandung, Hanin memakai outer dan keluar dari apartemen. Kakinya berjalan cepat menuju lift dan melewati lobby. Seketika, seorang pria yang sedang duduk di lobby itu pun menangkap sosok yang ada dalam ponselnya. Sosok wanita yang nampak jelas, sama seperti yang diberikan pada bosnya. Pria itu pun mengikuti langkah Hanin.
Hanin memasuki toko kue. Tidak butuh waktu lama, ia pun selesai membeli makanan yang dibutuhkan. Hanya memakan waktu tiga puluh menit, Hanin keluar dari apartemen dan sampai di lobby apartemen itu kembali untuk menaiki lift. Hanin membawa belanjaan yang cukup banyak. Ia pun menjadi sulit untuk menekan tombol lift yang menuju ke atas.
“Sini, saya bantu,” ujar pria itu, pria berusia sekitar empat puluhan yang di suruh oleh James untuk mengintai Kenan.
“Oh, tidak. Terima kasih.” Hanin membungkukkan tubuhnya sedikit sembari tersenyum.
Tring
Lift terbuka dan pria itu masuk terlebih dahulu. Pria itu menekan tombol lama sehingga pintu lift itu pun terbuka ukup lama, agar Hanin bisa masuk dengan perlahan. Pria itu menekan lebih dulu angka 20.
“Anda ke lantai berapa?” tanya pria itu, berpura-pura menawarkan bantuan untuk menekan tombol di angka itu, karena kebetulan kedua tangan Hanin sulit menjangkau tombol itu.
“Delapan belas.”
“Oke.” Pria itu tersenyum.
“Saya bantu, Bu.” Pria itu masih menawarkan bantuan.
“Tidak terima kasih,” jawab Hanin.
“Kebetulan, teman saya ada di lantai delapan belas. Saya juga ingin mampir ke sana. Sekalian saya bawakan belanjaan ibu, saya kasihan melihat ibu membawa belanjaan sebanyak ini.”
“Tidak perlu repot-repot pak, terima kasih.” Hanin menjawab tanpa berpikir lain. Ia hanya mengira pria ini ramah karena mereka satu apartemen.
Tring
Pintu lift itu kembali terbuka karena sudah berada di lantai delapan belas. Hanin keluar dan pria itu pun keluar.
“Tuh, kan ternyata kamar teman saya berdekatan dengan kamar Ibu. Mari saya bantu!” pria itu kekeh dan langsung menyambar barang belanjaan Hanin untuk di bawa.
__ADS_1
“Eh,” suara Hanin tercekat karena aksi pria itu lebih cepat.
Hanin berjalan di belakang pria itu. “Pak, saya sudah sampai.”
Hanin teriak pelan, karena pria itu masih berjalan lurus.
“Oh, maaf. Saya jadi ketersan karena di sana kamar teman saya.” Pria itu menunjuk asal flat yang berjarak dua pintu dari flat Kenan.
“Oh, iya. Terima kasih, Pak.” Hanin kembali membungkukkan tubuhnya sedikit dan mengambil barang belanjaannya. Perlahan, ia menekan passcode itu dan masuk.
Pria tadi pura-pura berjalan pelan. Namun, setelah Hanin masuk ke dalam, pria itu langsung menelepon bosnya dan memfoto flat itu serta dikirim langsung ke bosnya sebagai bukti.
Di dalam apartemen, Kenan sama sekali tidak mengetahui bahwa sang istri sempat kelaur dari sini. Kenan dan Vicky sepertinya memang sangat serius dengan pekerjaannya.
Di dapur, Hanin merapihkan semua belanjaan yang ia beli. Kue-kue, Ia letakkan di dalam lemari es. Lalu, sebagian ia potong untuk di sajikan ke ruang kerja suaminya. tak lupa, ia pun membuat minuman sebagai teman camilan itu.
“Beres.” Hanin tersenyum, karena dapurnya sudah kembali rapih dan nampan pun sudah terisi.
Kemudian, kakinya melangkah menuju ruang kerja sang suami.
“Hai, Maaf aku mengganggu.” Hanin menongolkan kepalanya dari balik pintu. Lalu, masuk. “Aku membawakan ini, supaya kalian tidak tegang.”
Hanin meletakkan kue dan air hangat itu di meja tamu yang berada di dalam ruangan itu.
Kenan tersenyum. “Terima kaih, Sayang.” Ia pikir kue ini adalah kue hasil karya Hanin sendiri.
Hanin tersenyum dan menghampiri suaminya. “Sama-sama. Dimakan ya! Jangan kerja terus! Kamu baru sembuh. Oke.”
Kenan mengangguk dan memeluk pinggang sang istri yang berdiri dekat dengannya yang sedang duduk. Wajah Kenan mendekat pada wajah sang istri. ia hendak ingin mencium Hanin.
“Ken.” Hanin memperingatkan sang suami dengan arah mata menunjuk pada Vicky yang puura-pura memainkan handphone.
“Malu,” ucapnya berbisik.
“Biarin. Anggap aja dia nyamuk.” Kenan tetap mengecup bibir Hanin sekilas.
“Terusin aja, gue ngga liat kok,” ledek Vicky dengan arah mata tetap tertuju pada ponselnya.
****
Tidak terasa, Vicky berada di apartemen Kenan hampir setengah harian. Ia sudah sarapan, makan siang dan kembali koordinasi dengan bosnya di ruang kerja. Hari semakin sore. Kenan pun tampak lelah.
“Setelah ini, lu langsung balik ke Jakarta?” tanya Kenan. mereka masih berada di ruang kerja.
Vicky mengangguk. “Sepertinya begitu.”
“Lu, ngga capek?”
“Capek, sih. Tapi paling gue istirahat bentaran di hotel,” jawab Vicky.
“Asal ga sekalian sewa cewek hotel aja,” ucap Kenan ketus.
“Ya nggalah, ngapain?”
“Halah, biasanya juga gitu.”
“Gue begitu karena adik lu. Kalo Kiara nerima gue dari awal. Gue ngga bakal kek gini, Ken.”
“Iya, ya. Gue percaya,” jawab Kenan malas.
Lalu, ia berdiri dan hendak mengantarkan Vicky keluar. Di luar, Kenan dan Vicky bertemu Hanin yang sedang menonton di ruang televisi.
“Sudah selesai?” tanya Hanin, melihat kedua pria ini akhirnya keluar setelah berjam-jam berada di ruangan itu.
“Sudah. Vicky sekalian ingin pamit,’ jawab Kenan dan Vicky pu mengangguk.
Kenan merangkul bahu istrinya dan berjalan beriringan mengantar Vicky hingga pintu.
“By the way, makasih ya Han untuk sarapan dan makan siangnya. Masakan kamu enak. Pantes, Kenan betah,” ledek Vicky.
__ADS_1
Hanin tersenyum. “Terima kasih juga pujiannya. Padahal dia aja belum pernah bilang masakanku enak loh.” Arah mata Hanin melirik ke arah Kenan.
“Memang iya, aku ngga pernah bilang maakanmu enak?” tanya Kenan dengan mengeryitkan dahi.
Hanin menggeleng. “Belum.”
“Pernah.”
“Belum.”
Vicky tertawa dan menggelengkan kepalanya. “Udah-udah ngga usah berantem di sini, sekalian berantem di kamar terus guling-gulingan sana.”
“Ya udah, pulang lu.” Kenan mendorong Viccky untuk keluar dari pintu dan kembali menutup pintu itu.
“Dasar songon,” umpat Vicky sembari tersenyum melihat sahabatnya yang tengah berbahagia.
“Aku pernah bilang masakanmu enak,” ucap Kenan setelah pintu itu tertutup. Ia berjalan mengikuti langkah Hanin yang sudah berjalan lebih dulu ke ruang televisi.
“Belum. Satu-satunya kata enak yang keluar dari mulut kamu itu saat ....” Hanin tak melanjutkan perkataannya. Ia duduk di sofa.
“Saat?” tanya Kenan memicingkan mata.
“Saat kamu menyentuhku, kamu selalu bilang milikku enak.”
Sontak Kenan tertawa. Hanin begitu polos dan lucu. “Udah pinter ngeledek aku ya. Rasain ini!” Kenan mengelitiki pinggang Hanin, hingga sang istri kegelian dan tertawa.
“Ken. Jangan! Geli.” Hanin terus tertawa, hingga Kenan berhenti menggeliti ang istri karena deringan telepon yang berbunyi dari ruang kerja di dalam sana.
“Teleponmu bunyi,” ucap Hanin.
“Huh, ganggu aja.” Kenan melepas malas tubuh sang istri.
“Sana, angkat dulu. Ini masih jam kerja, siapa tahu dari Siska atau Vicky lagi.”
Kenan beranjak dari sofa itu dan meninggalkan sang istri. ia pun masuk lagi ke ruangan itu.
Ting .. Tong
Bel apartemen Kenan kembali berbunyi. Hanin pikir, itu adalah Vicky, yang kembali datang karena ada berkas yang tertinggal. Hanin pun bangun dari sofa dan melangkahkan kakinya untuk membuka pintu itu.
“Ada yang terting ...” ucapan Hanin terhenti, saat ia mendapati dua sosok wanita berdiri di depan pintu itu.
Mereka adalah Rasti dan Vanesa.
“Oh jadi ini istri Kenan.” Rasti menatap tajam ke arah Hanin dari ujung kaki hingga kepala.
“Mana Kenan?” tanya Rasti lagi.
“Ada di ...” perkataan Hanin terpotong karena Vanesa langsung mendorongnya, hingga tubuh Hanin tersentak ke dalam.
“Aw..” Hanin merintih kecil, saat bahunya terbentur pintu.
“Dasar wanita penggoda, berani-beraninya menggoda tunangan orang. dasar ******!” umpat Vanesa.
Di ruang kerja, Kenan tengah menerima telepon. Ia tak mendengar di luar sana sedang ada dua wanita yang mengintimidasi istrinya.
“Lu tau, Kenan itu tunangan gue. Kita udah mau nikah. Ngapain lu goda, Hah!” Vanesa memelintir pergelangan lengan Hanin.
“Aww ... Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu.”
“Kalau kau mengira akan mendapat hidup mewah karena telah menikahi putraku. Kau salah! Bukan kemewahan yang akan kau dapatkan, tapi penderitaan. Mengerti!” ucap Rasti kesal dengan menatap tajam ke arah Hanin seolah ingin menelannya hidup-hidup.
Rasti terhasut oleh provokasi Vanesa yang mendoktrin hal-hal buruk tentang Hanin. Tangan Rasti terangkat untuk menampar pipi Hanin. Namun, dengan cepat, Kenan berlari ke arah sang istri dan memeluknya.
Plak
Pukulan itu tepat mengenai punggung bidang Kenan, karena dengan cepat Kenan mellindungi tubuh Hanin yang mungil. Kepala Kenan menunduk agar semua tubuh Hanin terlindungi oleh tubuhnya. seketika, hal itu membuat jantung Hanin berdebar, ia terharu dengan sikap sang suami. Matanya tertuju pada mata Kenan yang terpejam karena menerima pukulan keras dari Rasti bertubi-tubi.
Author
__ADS_1
OMG .... tetiba, aku ikutan melting. Hmm ....