Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
James murka


__ADS_3

Kenan duduk berhadapan dengan James.


“Bagaimana, Ken. Apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya James.


Tak lama kemudian, pintu terbuka dan terlihat Vanesa datang membawakan dua cangkir teh hangat untuk ayah dan kekasihnya.


Vanesa menaruh gelas itu untuk Kenan dan sang ayah.


“Terima kasih, Van.” Kenan tersenyum, saat cangkir itu di letakkan di hadapannya.


“Terima kasih, Sayang,” ucap James sembari mengelus rambut putri semata wayangnya itu.


“Baiklah, aku keluar lagi. Silahkan menikmati minumannya.” Vanesa mengedipkan satu matanya pada Kenan, sesaat sebelum ia pergi dari ruangan itu dan menutup kembali pintu itu setelah keluar. Sementara Kenan tak membalas sikap genit sang kekasih yang memang selalu seperti itu.


Saat ini, hanya tinggal James dan Kenan yang berada di dalam ruangan itu.


“Ekhem ... Begini, Dad. Hmm ..” Kenan menegakkan tubuhnya dan hendak memulai apa yang ia akan sampaikan.


Wajah James seketika menjadi serius, karena Kenan memasang wajah yang juga serius.


“Sepertinya, kau ingin membicarakan sesuatu yang serius. Apa itu tentang bisnis?”


Kenan menggeleng. “Bukan, Dad. Tapi ini tentang saya dan Vanesa.”


Kenan menatap wajah James yang semakin serius. James memajukan tubuhnya untuk lebih dekat dengan pria yang telah bertunangan dengan putrinya.


“Dad, sebelumnya saya mohon maaf. Saya mohon maaf jika apa yang akan saya sampaikan akan membuat Daddy kecewa. Walau saya berharap Daddy mengerti.”


James menatap kedua bola mata Kenan tajam. “Apa maksudmu?”


“Saya pun berat mengatakan ini, Dad. Sungguh. Namun, keputusan ini harus saya ambil, karena jika di teruskan kami pasti tidak bahagia.”


“Ken, sebenarnya apa yang ingin kau ucapkan? Perkataanmu membuat Daddy penasaran. Sebenarnya ada apa?”


Kenan menarik nafasnya. “I’m sorry. Dad. Sepertinya pertunanganku dengan Vanesa tidak bisa di lanjutkan.”


Jedar


James terkejut. Ia sangat terpukul dengan penuturan Kenan, karena ia sangat berharap putrinya berjodoh dengan putra Kean. James tahu Kenan adalah pria yang baik, bertanggung jawab, tampan, sukses, dan dari keluarga yang sudah sangat ia kenal.


“Kau tidak sedang bercanda kan?” tanya James.


Kenan menggeleng. “Maaf, Dad.”


“Kenapa? Apa kalian sedang bertengkar?”


Kenan kembali menggelengkan kepalanya.


“Saya tidak mencintai Vanesa, Dad. Saya mencintai wanita lain dan wanita itu sudah saya nikahi.”


Jedar

__ADS_1


James semakin terkejut dan murka. Ia langsung berdiri, lalu menggebrakan meja.


“Apa? Teganya kau.”


“Sorry, Dad.”


James menghampiri Kenan dan memukulnya.


Bugh


James memukul wajah Kenan yang sedang duduk. Pukulan itu cukup keras hingga Kenan terjatuh dari duduknya. Kenan pun sudah siap menerima konsekuensi ini. Ia tak membalas cacian dan pukulan yang James berikan.


“Ini balasanmu untuk keluarga kami, Hah!” teriak James.


“Sorry, Dad..”


“Jangan panggil aku, Daddy!” James memotong perkataan Kenan.


Mendengar suara riuh dari ruangan itu, Vanesa dan Alin langsung ke sana dan membuka pintu. Mereka melihat Kenan yang terjatuh duduk karena pukulan keras dari James tadi.


“Dad, apa-apaan ini?” tanya Vanesa berjongkok mensejajarkan dirinya pada Kenan.


“Tanya pada pria brengs*k ini.” Dada James naik turun karena menahan emosi.


“Ada apa, Ken?” tanya Vanesa bingung.


“Ada apa, Dad?” tanya Alin yang menahan dada suaminya.


“Dad, saya pikir, saya bisa bicara ini baik-baik dengan Daddy, karena saya merasa Daddy sudah seperti ayahku. Tapi ternyata saya salah.” Kenan berdiri sendiri sembari memegang sudut bibirnya yang berdarah.


Vanesa berusaha membantu Kenan berdiri. Namun, ia menepis tangan Vanesa dan berusaha berdiri sendiri.


“Almarhum papi selalu bilang kalau cinta tidak bisa di paksa, oleh karena itu ia menolak perjodohan saya dan Vanesa, sejak kami kecil. Saya baru menyadari sekarang bahwa saya memang tidak pernah mencintai Vanesa, rasa saya ke Vanesa sejak awal adalah sahabat dan itu tidak berubah hingga kami menjalin hubungan lebih dekat selama lima tahun.”


“Nan,” ucap Vanesa lirih. Ia tak menyangka Kenan akan mengatakan hal mengejutkan ini.


“Van, maaf. Sejak awal aku salah karena telah menyetujui permintaanmu yang mencoba hubungan ini.” Kenan menggenggam kedua tangan Vanesa. “Aku minta maaf. Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini.”


Seketika air mata Vanesa mengalir. Ia menangis kencang.


"Nan." Vanesa mengenggam erat tangan Kenan yang berusaha melepaskan genggaman tangan itu.


"Maaf Van, seharusnya kita tidak pernah mencoba hubungan yang lebih dari sahabat," ucap Kenan mencoba memberi pengertian pada Vanesa.


"Tapi kenapa baru sekarang?" tanya Vanesa.


"Karena aku baru berani, dulu aku terlalu pengecut karena khawatir hubungan keluarga kita hancur dan aku sangat menghargai Daddy." Arah mata Kenan tertuju pada James.


"Sekarang, kau pun tetap menghancurkannya," ucap James sinis.


“Daddy, kenapa bisa seperti ini?” tanya Alin bingung.

__ADS_1


James terdiam.


“Sekali lagi, saya minta maaf.” Kenan hendak pergi dari ruangan itu dan meletakkan cincin pertunangan mereka di atas meja kerja James.


Cincin pertunangan yang hanya Kenan pakai saat acara itu berlangsung. Seterusnya, Kenan tidak pernah memakainya lagi dengan berbagai macam alasan.


“Nan,” panggil Vanesa lirih dan berusaha mendekati Kenan yang berdiri jauh darinya. Namun, James menahan tubuh sang putri.


“Maaf, saya pamit. Terima kasih atas kebaikan Daddy selama ini.” Kenan membungkukkan tubuhnya dan berlalu dari ruangan itu.


“Ken, jangan tinggalkan aku!” Vanesa berusaha mengejar Kenan, tapi James menahan tubuh putrinya.


"Daddy, lepaskan aku. Aku ingin mengejarnya.” Vanesa menangis sesegukan.


“Tidak perlu, untuk apa kamu mengemis cinta. Kamu itu cantik, pintar, dan kaya,” ucap James.


“Benar, sayang. buat apa kamu mencintai orang yang tidak mencintaimu,” sahut Alin.


“Tapi Dad, Mom. Aku sangat emncintai Kenan,”


Alin merangkul putrinya dan memeluknya. “Kamu akan dapat yang lebih baik dari dia.”


“Tapi kata Mommy, Kenan pria terbaik.”


“Jika dia mencintaimu, Sayang. tapi dia tidak mencintaimu. Bahkan dia sudah menikah dengan wanita lain,” ucap James.


“Apa?’ teriak Alin dan Vanesa bersamaan.


“Daddy bohong!” teriak Vanesa, mengoyak dada sang ayah.


“Tidak, sayang. Daddy tidak bohong. Daddy tidak salah dengar. Kenan tadi berkata seperti itu. makanya Daddy langsung memukul wajahnya. Daddy merasa putri Daddy telah dipermainkan.”


Alin pun ikut marah. “Kurang ajar.” Ia tak menyangka keluarganya akan dipermalukan seperti ini oleh anak dari sahabat yang sudah ia anggap seperti saudara.


“Siapa wanita itu, Dad? Siapa wanita yang dinikahi Kenan?” tanya Vanesa semabri meraung.


“Daddy, juga tidak tahu. Sayang. Daddy tak sempat menanyakan itu, Daddy sudah terlanjur marah.”


“Sudahlah, Vanesa. Jangan menangis! Jangan seperti ini!” Alin tak tega melihat putrinya yang meraung dan menangis sesegukan.


Lalu, Vanesa berlari ke kamarnya.


“Dad, bagaimana ini?” tanya Alin cemas melihat keadaan sang putri.


James mengangkat bahunya. “Mau bagaimana lagi?”


“Cari cara agar Kenan kembali pada putri kita.”


James menggeleng. “Kembali bagaimana? Kenan sudah memiliki istri. Memang kamu mau putri kita menjadi istri kedua. Lagi pula aku sangat mengenal anak itu. jika dia bilang tidak, maka tidak akan terjadi.”


Alin kesal, ia tidak menyangka putrinya akan dipermainkan seperti ini oleh anak sahabatnya. Ia bertekad akan menemui Rasti dan akan memaki ibu Kenan itu, atas apa yang putranya lakukan pada putri kesayangannya.

__ADS_1


__ADS_2