Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Memberi efek jera


__ADS_3

Kenan berjalan cepat menelusuri lorong untuk menemui istri tercinta yang sedang terbaring lemah di sana. Riza pun membuntuti langkah pria pemilik perusahaan tempatnya bekerja.


Kenan melihat Vina dan Hansel yang tengah berdiri di depan ruangan itu. Vina dan Hansel pun langsung berdiri tegap melihat bosnya yang menghampiri dengan wajah menyeramkan.


“Bagaimana keadaan istriku?” tanya Kenan pada Vina. “Apa yang terjadi degan istriku? Mengapa dia bisa berada di sini?”


Vina tampak pucat. “Maaf, Sir. Saya sudah berusaha tapi perempuan itu sangat liar.”


“Perempuan?” tanya Kenan bingung. “Memang kalian kemana?”


Kenan menatap tajam ke arah Vina dan Hansel bergantian.


Ceklek


Pintu ruangan itu pun terbuka dan berdiri seorang wanita paruh baya menggunakan jas putih. Kenan pun langsung menghampiri wanita itu.


“Bagaimana keadaan istri saya?” tanya Kenan dalam bahasa inggris.


“Hampir saja tidak tertolong, tapi sekarang semua baik-baik saja,” jawab wanita paruh baya itu dengan bahasa inggris juga.


Kenan semakin tidak mengerti. apa maksud perkataan dokter itu? siapa yang hampir saja tidak tertolong? Istrinya mengalami kecelakaan kah?


“Kalian mengalami kecelakaan?” tanya Kenan pada Vina.


Vina langsung menggeleng, begitu pun Hansel. Pria itu ketakutan melihat wajah Kenan yang menyeramkan. Dan, dia mengikuti setiap gerakan Vina karena ia tak mengerti jika Kenan dan Vina sedang menggunakan bahasa yang bukan bahasanya.


“The baby,” jawab dokter itu.


“Baby? My wife is pregnant?” tanya Kenan tak percaya.


Dokter itu pun mengangguk dengan senyum. "Yes, that's right."


Ekspresi Kenan yang semula menyeramkam menjadi innocent. Kenan melihat ke arah Riza dan dokter itu bergantian. Bibirnya tersenyum lebar dengan jejeran gigi yang rata.


"Istriku hamil," ucap Kenan tak percaya. "Za, istri gue hamil?"


“Congratulation, Ken. Akhirnya kamu akan menjadi seorang ayah.” Riza menepuk Kenan bahu Kenan dari samping.


Dokter itu pun mengangguk. “Usia kehamilannya baru empat minggu.”


Terpancar rona bahagia di wajah pria yang dulunya begitu dingin dan kaku. Pria yang sulit sekali untuk tersenyum. Namun kehadiran Hanin membuat senyum itu selalu hadir.


Kemudian dokter menjelaskan kondisi Hanin yang lemah karena benturan di perutnya. Untung saja, Hanin segera mendapatkan perawatan, jika terlambat maka bayi itu pun tidak selamat.


“You can meet her,” kata dokter itu lagi, membolehkan Kenan melihat istrinya. “Congratulation.”

__ADS_1


Dokter itu menepuk pundak Kenan dan pergi.


Kenan memasuki ruangan itu, diikuti oleh Riza, Vina, dan Hansel. Kenan perlahan mendekati istrinya, hingga tepat berada di depan wajah Hanin. Ia melihat wajah Hanin yang tampak tertidur pulas. Wanita itu masih belum sadarkan diri.


“Aku akan menjadi seorang ayah, Sayang.” Tangan Kenan terangkat untuk mengelus wajah itu. bibirnya tak henti mengulas senyum.


Namun, sesaat ia teringat perkataan dokter tadi tentang benturan di perut Hanin. Ia pun menoleh ke arah Vina dan Hansel.


“Ceritakan apa yang terjadi, Vin?” tanya Kenan kepada dua orang yang sudah Kenan amanahkan untuk menjadi istri tercinta.


“Saya hanya mengantarkan istri anda ke alamat ini," kata Hansel dengan bahasa inggris sembari mengulurkan ponselnya pada Kenan.


Ketika perjalanan mencari rumah paman Vanesa, ia memang menggunakan gmap.


Kenan menerima ponsel itu dan melihatnya. Alamat rumah itu memang alamat yang ia kenal. Sewaktu masih bersama Vanesa dan mengunjungi kota ini, ia memang selalu mengunjungi rumah itu.


“Uncle Wilson,” gumam Kenan.


“Siapa uncle Wilson? Saudaramu?” tanya Riza.


Kenan menggeleng. “Itu paman Vanesa.”


“Vanesa.” Kini Riza yang terkejut. Ia tidak tahu bahwa kerabat dekat Vanesa tinggal di kota yang sama.


“I’m sorry, I didn’t hear,” jawab Hansel takut. “Because I using earpiece.”


Hansel memberi alasan mengapa ia tak membantu Hanin dan Vina saat mereka tengah berseteru di dalam sana.


Kenan kesal, lagi-lagi Vanesa membuat ulah pada Hanin. Dan, ia pun kesal karena Hanin tidak meminta izin padanya untuk menemui mantan tunangannya itu.


“Vanesa? Vanesa ada di sini, Ken? dia tinggal di kota ini?” tanya Riza, membuat Kenan semakin pusing.


“Ya.” Kenan mengangguk dan kembali menatap Hanin.


“Untung saja, bayiku masih selamat. Jika tidak, Vanesa juga tidak akan selamat. Dan, bayimu mungkin akan lahir di penjara,” ucap Kenan sinis.


“Bayiku?” tanya Riza bingung.


“Ya, bayimu. Vanesa hamil dan di buang oleh ayahnya ke sini untuk tinggal bersama pamannya hingga dia melahirkan. Dan, Hanin ingin menyatukan kalian. Tapi Vanesa tidak melihat itikad baik istriku.” Kenan menjelaskan panjang lebar pada Riza.


Mata Riza berkaca-kaca. Ia tak menyangka, akhirnya benih yang ia tanam berhasil. Ia pun tersenyum. Kenan melirik ke arah Riza.


“Sekarang kau bisa tersenyum, karena istri dan calon anakku selamat,”


“Maaf, Ken. aku tahu Vanesa memang seperti itu.” Riza mendekati Kenan.

__ADS_1


“Tapi aku tetap akan membuat efek jera pada wanitamu.”


Riza hanya pasrah, ia menarik nafasnya kasar. Walau ia tak tega jika Vanesa di bui. Namun, ia pun tidak bisa menahan emosi Kenan, karena sikap Vanesa terhadap Hanin memang sangat keterlaluan.


Perlahan mata Hanin terbuka. “Ken.”


Kenan yang sedang berinteraksi dengan Riza, Vina, juga Hansel, menoleh ke arah istrinya.


“Sayang. Akhirnya kamu bangun.” ia berjalan cepat menghampiri Hanin yang sudah siuman.


Kenan mengunci tubuh Hanin yang sedang berbaring dengan kedua tangannya. “Dasar keras kepala.” Ia mengecup kening, pipi, hidung, dan bibir Hanin.


“Aku kenapa, Ken? Kenapa tiba-tiba ada di sini?” tanya Hanin bingung. Pasalnya semula ia berada di dalam mobil, tapi tiba-tiba semakin lama pandangannya semakin gelap, setelah melihat darah yang terus mengalir di kakinya.


“Hanin, Maaf atas perlakuan Vanesa,” ucap Riza.


Hanin meminta Kenan untuk tidak mengungkungnya. Ia melihat ke arah Riza.


“Aku tahu perasaannya, karena aku juga perempuan,” jawab Hanin dengan arah mata menuju Riza. Lalu ia menoleh ke arah Kenan. “Ken, jangan kamu marahi Vina dan Hansel! Aku yang meminta mereka ke alamat itu.”


“Kalau mereka tidak aku hukum. Berarti kamu yang akan menanggungnya?” tanya Kenan dengan senyum menyeringai.


Hanin tersenyum dan mengangguk. “Tidak apa. Aku akan menerima hukuman darimu.”


Kenan pun tersenyum dan ******* bibir ranum sang istri, membuat semua yang ada di ruangan itu pun mengalihkan pandangan.


“Baiklah, kami pulang.” Riza mendekati Kenan dan Hanin,


Hanin pun mendorong dada Kenan untuk menghentikan pangutan itu.


“Oke.” Kenan menoleh ke arah Reza, sedangkan Hanin menundukkan wajahnya yang malu, karena mereka berciuman di hadapan banyak orang.


“Sir, sekali lagi saya minta maaf,” ucap Vina sebelum pamit pergi.


“Oke.”


“Saya juga minta maaf, Sir,” sambung Hansel dengan wajah imut.


Hansel adalah satu-satunya orang yang tak memalingkan wajah saat Kenan mencium bibir Hanin dengan lembut. Ia justru malah menikmati keromantisan bos dan istrinya yang tidak lahir dari negara asalnya.


“Ok. Next time, jangan sumpal telingamu dengan benda terus menerus!” umpat Kenan pada Hansel sembari menyentuh earphone yang bergelatung di leher Hansel.


Hansel pun hanya tertawa. Ia memang selalu menyumpal telinganya dengan earphone. Tiada hari tanpa earphone. Mungkin hidupnya akan mati jika tidak mendengarkan musik.


Riza keluar dari ruangan itu diiringi Vina dan Hansel. Perasaan Riza masih diselimuti rasa takut. Ia khawatir Vanesa akan dijebloskan ke penjara oleh Kenan, karena telah mencelakai istri dan calon bayinya. Kemudian, ia kembali gembira, karena ternyata Vanesa sedang mengandung anaknya dan tinggal di kota ini. Ia akan berusaha membujuk Kenan untuk memaafkan Vanesa, jika bisa dan semoga itu bisa.

__ADS_1


__ADS_2