
Sore ini, Hanin menyiapkan ikan yang akan di bumbui. Sejak kemarin, Kenan terus merengek meminta ikan bakar.
Paket sambal terasi dari ibunya Lani pun sudah datang. N*fsu makan Kenan berkali lipat, saat ada sambal terasi dan petai. Hanin pun heran dengan kesukaan suaminya kini, padahal dulu ia sangat mencela makanan yang menimbulkan bau menyengat itu. Bahkan ia pun mencibir orang-orang yang menyukai makanan itu dan sekarang justru ia yang menjadi bagian dari orang yang pernah dicibirnya.
Hanin mencoba membuat sambal terasi seperti buatan tangan ibunya Lani. Namun, memang setiap tangan memiliki khas tersendiri dalam rasa dan dalam hal itu memang ibunya Lani juara. Ia tak bisa membuat rasa yang sama seperti itu, tetapi sang suami tetap menyukainya.
Namun malam ini, mereka ingin mengenang kenikmatan malam itu. Malam nanti, Kenan ingin membakar ikan dan menikmatinya bersama sang istri. Hanin pun berinisiatif memesan sambal terasi itu langsung dari sang juara agar rasanya sama seperti malam itu.
Hanin berdiri di depan kitchen set sembari tangannya sibuk meracik bumbu yang akan ia taburkan di atas ikan mentah itu. Sebelumnya, Bi Lastri sudah mencuci bersih ikan itu dan membuang kotoran di dalamnya. Kini, Hanin hanya tinggal memberi bumbu saja.
Tanpa Hanin sadari, sang suami sudah berdiri di tempat yang sedikit jauh dari tempatnya berdiri. Senyum Kenan terulas lebar, tatkala mengetahui kenakalan sang istri yang memasak hanya menggunakan pakaian d*l*m saja. Semua tonjolan di bagian favorit Kenan yang ada di tubuh itu tercetak sempurna karena bentuknya yang semakin membulat.
Kenan menyilangkan kedua tangan, menatap keindahan tubuh sang istri tanpa kedip sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding. Bibirnya pun tak henti tersenyum.
Sepersekian detik, Hanin menyadari kehadiran sang suami. Ia menoleh ke samping dan mendapati
pria itu tengah tersenyum menatapnya.
“By, kamu bikin kaget aja.” Hanin mengelus dadanya, pasalnya ia tengah berada sendiri di apartemen ini. Ia takut ada orang lain masuk apartemen ini karena dirinya sedang dalam keadaan setengah b*gil
“Masuk itu ucap salam. By. Aku kira ada orang lain masuk. Ya ampun aku deg-deg-an,” sambung Hanin.
Lalu, Kenan berjalan mendekati istrinya. “Tidak ada yang tahu passcode apartemen ini kecuali kamu memberitahunya pada orang lain.”
Kepala Hanin langsung menggeleng.
Kenan mengeratkan tubuhnya pada sang istri. “Lagian ngapain masak tidak pakai baju. Mau menggodaku, huh?”
Kepala Hanin menggeleng lagi. “Ngga. aku cuma kegerahan.”
“Masa?” tanya Kenan pura-pura tak percaya sembari tersenyum menyeringai.
Kenan menyentuh gunung kembar Hanin dan meremasnya. Ia pun memainkan bibir sang istri. “Bibi kemana?”
“Ssshh ...” Hanin mendesis saat sang suami masih memainkan dua benda kenyal itu. “Hmm ... keluar. aku suruh Bi Lastri membeli sayuran di supermarket, sekalian beli belanjaan yang lain.”
“Ke ... n,” panggil Hanin dengan suara sensual akibat ulah tangan Kenan. “Ah ... pekerjaanku belum se ... le sai.”
“Biarin. Lagian siapa suruh menggodaku. Hmm ...” Tangan Kenan terus menjalar ke bagian-bagian favorit tubuh itu.
“By.”
“Hmm ...”
“Jangan ganggu dulu! Pekerjaanku hampir selesai. Kalau kamu masih ganggu, maka acara membakar ikan nanti malam tidak akan terjadi.”
Kenan pun langsung melepaskan tangannya pada bagian yang membuat istrinya terganggu, karena sang istri pun tidak pernah bisa menahan sentuhannya. Ia tersenyum dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Hannin yang lebar.
“Baiklah, aku tidak menganggu.” Kenan menyembunyikan kepalanya pada bahu Hanin dan cerug lehernya.
Ia menciumi aroma khas tubuh sang istri. Aroma favorit yang mampu melepaskan kepenatan Kenan setelah seharian berkutat dengan pekerjaan dan segala kerumitan di sana.
“Sudah?” tanya Kenan pada sang istri yang beralih ke wastafel untuk mencuci tangan.
Kenan terus menempel di belakang tubuh sang istri. ia pun mengikuti Hanin yang beralih ke wastafel dan mencuci tangannya bersamaan dengan gerakan tangan Hanin.
“Makin hari makin manja aja sih, By,” kata Hanin.
“Biarin, karena kalau bayi kita lahir, pasti kamu lebih memanjakannya dibanding aku.”
Hanin membalikkan tubuhnya dan menangup sajah sang suami. “Masa’ sama anak sendiri semburu sih.” Ia tersenyum. “Aku tidak akan pernah lupa akan kewajibanku sebagai istri, By.”
“Aku akan mempekerjakan dua baby sitter nanti, supaya kamu tidak kelelahan dan tetap maksimal mengurusku.”
Hanin tertawa melihat keposesifan sang suami. Namun, saat ini ia sudah terbiasa dengan keposesifan itu dan tidak lagi menganggap bahwa sang suami tengah mengekangnya.
“Ih, kok ketawa? Aku serius.”
Lalu, Hanin memelankan tawanya. “Ia tau kamu serius.” Tawanya pun selesai. “Paling nanti kalau sudah ada dedek bayi, kamu malah yang akan nyuekin aku. Kalau lagi gendong Kayla aja, kamu lupa sama aku.”
“Masa’ sih?” tanya Kenan sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal, karena memang apa yang dikatakan Hanin benar.
__ADS_1
Ketika bermain bersama kayla di rumah sang ibu, ia terkadang lupa dengan sang istri karena terlalu asyik bersama keponakannya yang cantik dan lucu itu.
Tanpa berbasi-basi dan bercengkrama lagi, Kenan langsung membawa sang istri ke kamar mereka. Ia mulai melakukan aksinya dan menyerang sang istri.
“Eumpphh ...” Hanin menahan dada sang suami yang sudah mengungkungnya di atas peraduan itu. “Masih sore, By.”
“Salah sendiri kamu membuatnya bangun,” jawab Kenan.
“Sejak kapan?”
“Sejak melihatmu masak. Dasar wanita penggoda!” Kenan mencubit ujung hidung Hanin.
“Aku bukan wanita penggoda,” sanggah Hanin tak terima.
“Iya, emang.” Kenan kembali menegaskan perkataannya.
“Ngga.”
“Iya.”
“Enggak.”
Ting Tong
Perdebatan mereka pun terhenti karena suara bel.
“Itu pasti Bi Lastri,” ucap Hanin.
Kenan langsung menghela nafasnya lemas. Baru saja ia ingin mengerjai sang istri, ternyata datang sebuah penghalang.
Hanin tertawa mlihat ekspresi sang suami. “Cepat buka pintunya, kasihan Bi Lastri menunggu diluar, pasti bawaan belanjanya banyak.” Ia menyuruh sang suami yang membuka pintu itu karena Kenan masih berpakaian lengkap, sedangkan dirinya sudah tidak memakai apapun.
Dengan malas, akhirnya Kenan bangkit dari tubuh itu dan berjalan menuju pintu untuk keluar. Semantara, Hanin hanya tersenyum menang. Walau nantinya hal itu tetap akan terjadi, tapi setidaknya ia berhasil mengerjai sang suami yang sedang menginginkannya.
****
Hanin terbangun dari tidurnya. Ia mellihat jam di dinding menunjukkan pukul dua pagi.
Namun beberapa saat terdiam sakit itu hilang. Dua puluh menit kemudian, ia terbangun lagi karena sakit itu kembali muncul. Hanin teringat pesan dokter saat terakhir kali melakukan pemeriksakan kehamilan.
Hanin melihat ke sisi Kenan yang sedang tidur pulas. Ia tak ingin membangunkan sang suami yang terlihat lelah.
Hanin pun bangun dari tempat tidur dan beranjak ke kamar mandi. Ia ingin memastikan apa sudah ada tanda-tanda akan melahirkan?
“By,” teriak Hanin dari dalam kamar mandi.
Ternyata di kain yang menutupi bagian sensitifnya itu sudah ada bercak darah sebagai tanda pembukaan untuk melahirkan.
Kenan langsung terbangun saat mendengar teriakan itu. Walau matanya masih sulit untuk terjaga, tetapi suara itu memaksanya untuk terjaga. Kenan berlari ke sumber suara itu dan mendapati sang istri yang memperlihatkan darah di kain itu.
“Kenapa, Sayang?” tanya Kenan panik.
“Sepertinya aku akan melahirkan.”
“Apa? Melahirkan?” tanya Kenan bingung. Ia malah berlari keluar dan meninggalkan istrinya di dalam kamar mandi.
“Kamu mau kemana, By?”
“Aku telepon Vicky,” jawab Kenan panik.
“Mengapa harus menelepon Vicky? Memang suami aku Vicky,” kata Hanin ketus.
“Lalu, aku harus bagaiman?”
“Bawa aku ke rumah sakit, By,” teriak Hanin.
Kenan berlarian kesana kemari, seperti orang kebingungan. Kenan mengambil pakaian asal. ia mengenakan kaos oblong berwarna pink dan celana training abu-abu.
“Kunci mobil, dimana kunci mobil?” gumam Kenan mondar mandir mencari kunci mobil yang ia letakkan asal kemarin.
“By, cepet.”
__ADS_1
“Tunggu, sayang. aku lupa menaruh kunci mobil.” Kenan berlarian kesana kemari.
Hanin ikut mengerlingkan pandangannya mencari benda yang suaminya cari. “Ya ampun, By. Itu yang kamu pegang apa?”
Kenan menatapa jari kelingkingnya yang sudah terkait dengan gandulan kunci.
“Hah.” Kenan menghela nafasnya. Entah mengapa ia menjadi bodoh.
Padahal kunci itu sudah diraihnya tadi setelah ia memakai pakaian. Dan, satu lagi kebodohannya, ia juga lupa kalau Vicky memegang kunci cadangan mobilnya.
“Ayo!” Kenan langsung mengajak sang istri keluar.
Kegaduhan Kenan sebelumnya, langsung membuat Bi Lastri terjaga. Ia pun dengan sigap mengantar majikannya menuju lobby.
Di lobby, Vicky pun langsung sigap mengeluarkan mobil Kenan dari basement dan menunggu di sana.
“Sayang kamu kuat jalan?” tanya Kenan yang tak tega dengan keadaan sang yang sebentar-sebantar meringis kesakitan.
Hanin mengangguk. “Kuat. Ayo!”
“Aku gendong.”
Hanin langsung menggeleng. “Ngga usah. Berat, By.”
“Jangan remehkan kekuatanku, sayang.”
Ting
Pintu lift terbuka. Bi Lastri menjaga kedua pintu lift itu agar kedua majikannya dapat keluar dengan leluasa.
“By, berat.” Tubuh Hanin langsung melayang ke udara karena sang suami tiba-tiba menggendongnya.
“Udah diam.”
Hanin mengerucutkan bibirnya dan pasrah. Bi Lastri hanya tersenyum melihat pasangan ini. Di depan sana, Vicky sudah membuka pintu mobil penumpang untuk memudahkan Kenan masuk.
“Cepat, Vick. Hanin mau melahirkan.”
“Iya, Ken.” Vicky mengangguk dan melajukan mobilnya cepat. Untung saja ini dini hari, sehingga hanya ada segelintir mobil yang berkeliaran di jalan dan membuat mereka tak mendapatkan hambatan untuk tiba di rumah sakit.
Kenan berlari sambil menggendong istrinya ke dalam rumah sakit. “Tolong! Tolong istri saya mau melahirkan!” teriaknya.
Sontak petugas rumah sakit itu pun berlarian menolong Kenan.
“Sayang, apa masih sakit?” tanya Kenan.
Hanin mengangguk. “Sakit.”
“Dok, tolong istri saya. Dia kesakitan,” ucap Kenan pada wanita paruh baya yang memang biasa menangani Hanin.
Wanita paruh baya itu langsung di telepon Kenan saat masih di apartemen dan langsung menuju rumah sakit untuk memberi pertolongan pada Hanin.
“Tenang, Pak Kenan. memang melahirkan seperti ini.”
“Tapi, saya tidak bisa melihat istri saya kesakitan, Dok,” kata Kenan, membuat si dokter tersenyum sembari memeriksa kontraksi otot rahim Hanin yang diikuti pembukaan leher rahim.
“Ini baru pembukaan tiga.” Dokter itu menatap jam dipergelangan tangannya. “Sekarang baru pukul tiga, kemungkinan ibu Hanin melahirkan pukul sepuluh pagi.”
“What?” Kenan langsung berteriak. “Tujuh jam istri saya akan merasakan sakit.”
Dokter itu mengangguk.
“Tidak, tidak. Kalau begitu langsung operasi saja, saya tidak ingin melihat istri saya kesakitan selama tujuh jam.”
“By,” Hanin mengelus lengan suaminya sembari berbaring di tempat tidur pasien. Ia sungguh terharu melihat sang suami yang tidak ingin melihatnya kesakitan. “Tidak apa, By. Memang prosesnya seperti ini,” ucap Hanin yang merasakan sakit hilang timbul.
“Tidak, Sayang. operasi saja.”
Hanin menghelakan nafasnya. Ia sudah memberi arahan dan alasan untuk bersikukuh melahirkan secara normal jauh-jauh hari sebelum tiba saat melahirkan. Kenan menyetujui itu, tetapi arahan dan alasan itu kini tidak berarti, lagi-lagi karena keposesifan sang suami. Walau ia tahu keposesifan itu semata-mata karena sang suami yang begitu mencintainya.
“Ya sudah, terserah kamu.” Hanin pun menyetujui keputusan sang suami.
__ADS_1