
Hari ini semua orang bersuka cita, terutama keluarga Adhitama dan yang lebih khusus adalah Kenan beserta keluarga kecilnya. Kenan sengaja membuat acara ini dari jauh hari untuk memperingati satu tahun pernikahan bersama Hanin, sekaligus rasa syukur dengan kado terindah yang Tuhan berikan berupa kehadiran Kevin.
Kenan sengaja mengajak seluruh karyawannya untuk merasakan kebahagiaan yang ia rasakan sekarang. Walau pun akhirnya acara ini tidak bertepatan dengan tanggal anniversary mereka.
Kenan memiliki dua buah kapal pesiar dan enam buah jet pribadi sebagai asset berupa alat transportasi mewah. Ia juga membuka jasa penyewaan pada alat transportasi yang ia miliki itu.
Pagi ini, semua berkumpul untuk menaiki kapal pesiar yang Kenan sediakan. Keluarga Adhitama ditemani oleh keluarga dari orang-orang kepercayaa mereka yang sudah bekerja puluhan tahun, bahkan sejak kakek Kenan masih hidup. Orang-orang kepercayaan Adhitama, kini menjadi orang-orang kepercayaan Kenan. Mereka juga lah yang ikut membangun nama besar keluarga Adhitama yang hampir terpuruk waktu itu. Namun berkat kegigihan dan kecerdasan Kenan, semua kembali ia pegang bahkan lebih. Kenan menganggap mereka seperti keluarga sendiri.
“Ini kapal pesiar yang baru lu beli, Ken?” tanya Gunawan.
Kenan mengangguk. “Ya, tidak besar seperti yang pertama gue beli. Tapi cukup mewah.”
Gunawan mengangguk. “Ya, cukup juga buat nampung karyawan lu.”
Kenan dan Gunawan melihat-lihat isi di dalam kapal itu. Rasti sangat bangga dengan putranya. Apalagi Hanin, sebagai istri yang mendampinginya. Ia pun bangga memiliki suami seperti Kenan.
“Lihat, ada cowok bucin,” ujar Kiara menunjuk ke arah Vicky yang tengah membawa istri dan kedua adik istrinya.
Kini, Kenan berdiri bersama Hanin, Kiara dan Gunawan. Sedangkan Rasti bercengkrama dengan salah satu keluarga dari orang kepercayaan Kenan yang sudah mengabdi dengan keluarga Adhitama selama empat puluh tahun. Rasti membawa Kevin dan Kayla, ditemani oleh msaing-masing pengasuh dua cucunya itu.
Kenan, Hanin, Kiara, dan Gunawan tertawa. Vicky seperti om-om yang tengah menggiring sugar baby-nya.
Vicky bersama istri dan kedua adik istrinya berjalan menghampiri Kenan di sana.
“Hai, sorry telat,” ucap Vicky menyalami Kenan, Hanin, Kiara, dan Gunawan bergantian.
“Selir lu banyak banget, Vick,” celetuk Gunawan.
“Si’l, lu.” Vicky menendang kaki Gunawan.
“Aww .... Galak banget lu sekarang,” rintih Gunawan.
“Aduh, Sayang. kamu ngga apa-apa kan?” tanya Kiara panik.
“Aww ... Aww ... sepertinya kakiku berdarah,” jawab Gunawan bohong sembari pura-pura merintih.
“Ish, jijik banget sih kalian. Lebay,” kesal Vicky.
Gunawan tertawa. “Iri tanda tak mampu.”
Kenan dan Hanin hanya tertawa melihat kedua sahabat itu bertengkar. Sedangkan Rea juga hanya tersenyum kecut.
“Ya udah Re, ayo kita ke kamar!” ajak Vicky sembari menggandeng lengan istrinya. “Thia, Nisa. Om tunjukin kamar buat kalian.”
“Ya elah, Vick. Sini dulu napa. Udah mau ngamar aja, masih siang kali,” celetuk Gun.
“Udah biarin, ngeledek penganten baru aja lu, Gun,” sahut Kenan sembari mengibaskan tangannya ke arah Vicky.
Gunawan pun tertawa.
Lalu, Vicky beserta istri dan kedua adik istrinya itu menemui Rasti, bersalaman dengan ibu suri, berbincang sejenak kemudian beralih menuju kamar yang tersedia.
Thia dan Nisa sangat senang ketika mendapati kamar mereka yang cukup luas.
“Om, ini kamar kita?” tanya Nisa.
Vicky mengangguk. “Iya, suka ngga?”
“Suka lah, masa engga,” jawab Thia dan Nisa bersamaan, lalu mereka berlari memasuki kamar itu.
Rea tertawa melihat tingkah laku kedua adiknya yang norak.
“Maaf, ya. Mas. Mereka malu-maluin,” ujar Rea pada suaminya.
“Ngga apa, aku seneng kok nyenening mereka. soalnya pasti nanti aku juga disenengin sama kakaknya,” sahut Vicky yang membuat dahi Rea berkerut. “Maksudnya?”
__ADS_1
“Ya, sebagai imbalan. Nanti malam kamu senengin aku dengan ...” Vicky menautkan kedua jari telunjuknya.
“Ish ... Dasar mesuuum.” Rea mencubit ujung hidung Vicky cukup lama, membuat ujung hidung itu terlihat sedikit merah.
“Aww ... sakit, Sayang.” Vicky memegang hidungnya yang benar-benar sakit sembari tetap tertawa.
Lalu, Rea meninggalkan Vicky yang masih berdiri di depan pintu kamar Thia dan Nisa. Rea berjalan dengan menghentakkan kakinya menuju kamar di sebelah Thia dan Nisa dan langsung membuka kamar itu.
“Sayang, Ja ...” baru saja Vicky hendak memperingatkan istrinya untuk tidak membuka pintu kamar itu, tapi terlambat.
Suara teriakan dari dalam kamar itu pun sudah terdengar.
“Aaa ...” orang yang ada di kamar itu pun berteriak karena pintu kamarnya dibuka kencang oleh Rea.
“Ups, maaf.” Rea nyengir karena ternyata kamar itu sudah diisi oleh pasangan muda yang tengah bercumbu. Mereka adalah pasangan suami istri, yang suaminya adalah karyawan HRD di perusahaan Kenan.
Kemudian, Vicky langsung menghampiri istrinya.
“Sorry, Gung. Istri gue salah kamar,” ucap Vicky pada bawahannya itu.
“Oh, iya pak, tidak apa,” jawab pria yang ada di dalam kamar itu.
Lalu, Vicky menutup pintu kaamr itu kembali dan sebelumnya kembali berkata pada karyawan Kenan itu. “Pintu jangan lupa dikunci! Nanti ada yang buka lagi.”
Pria itu pun tersenyum mengangguk sembari menggaruk kepalanya yang tak gatal. “Iya, Pak.”
“Baru aku mau bilang, kamar kita bukan di sini,’ kata Vicky pada istrinya setelah pintu itu tertutup sempurna.
“Telat.” Rea kembali meninggalkan suaminya dan berjalan medahului.
“So toy, bukan ke sana juga. Sini!” Vicky langsung merangkul leher Rea dan mengajak istrinya ke arah yang sesuai dengan letak kamar mereka.
Di area Kenan dan Hanin berada, terlihat dua orang yang sangat mereka kenal, juga Gunawan kenal.
“Siapa Dave?” tanya Kiara.
Untung saja, Gunawan menyebut nama suami Velly, bukan Velly nya adik Vicky, mantan kekasih Gunawan dulu. Wanita yang rela memberikan mahkota berharganya cuma-cuma demi cinta menggebu saat remaja, tetapi tanpa logika.
“Oh, iya. Gue undang Dave ke sini. Dia kolega dekat gue, Gun. Mitra lu juga kan?”
Gun mangangguk.
“Oh, jadi dia yang inves besar ke perusahaan kamu itu?” tanya Kiara.
Gun kembali mengangguk. Kiara tidak begitu jelas melihat sosok Dave dan istrinya karena mereka masih berada di kejauhan dari tempatnya berdiri. Kemudian, Kiara menoleh ke arah Rasti yang memanggilnya untuk mendekat karena putrinya menangis.
Semakin lama, langkah Dave dan Velly semakin dekat. Velly terlihat sangat cantik dan anggun sekarang. Jauh berbeda ketika menjadi kekasih Gunawan saat mereka masih sekolah itu.
Dave menggandeng mesra istrinya dan berjalan dengan senyum lebar menuju ke arah Kenan. Kenan dan Hanin pun menyambut mereka.
“Kebetulan Dave lagi ada urusan di Jakarta beberapa hari lalu, terus Velly juga mau ketemu kakaknya sekalian mau kenal sama istri kakaknya. So, gue undang mereka mumpung momennya pas,” kata Kenan lagi.
Gunawan tersenyum kecut. Ia pikir setelah pertemuannya dengan Velly waktu itu. Hal itu menjadi pertemuannya yang terakhir, tapi kini ia bertemu lagi. Tidak ada satu pun orang yang tahu mengenai hubungannya dengan adik Vicky dulu. Bahkan Gunawan pernah hampir memiliki anak dari adik Vicky itu. Antara Vellicia dan Gunawan sepakat untuk menutup masa lalu mereka dan membuka lembaran baru, karena keduanya memang telah melupakan kisah mereka dan bahagia dengan pasangannya sekarang.
“Hai, Bro. Apa kabar? Long time no see.” Dave langsung memeluk Kenan dan Kenan pun menerima pelukan itu.
“Hai, Vel,” sapa Hanin pada Velly.
“Hai, Han. Makin cantik aja,” kata Velly.
“Kamu juga makin cantik, Vel. Iya, kan, By?” Hanin mengajak suaminya untuk menyetujui pendapatnya tentang adik Vicky itu.
Kenan melihat ke arah Velly. “Hmm ... iya sih. Tapi buat aku, Hanin tetap paling cantik.”
“Ya iyalah, kan dia istri kamu,” jawab Velly tertawa.
__ADS_1
“Yes, wanita yang paling cantik memang istri kita,” sahut Dave membuat mereka berempat tertawa.
Gunawan mengalihkan dengan memainkan ponselnya. Sementara, Kiara masih bersama sang ibu.
“Hai, Gun,” sapa Dave.
Gunawan menoleh ke arah Dave. “Hai, apa kabar mister Dave?”
Gunawan dan Dave berjabat tangan dan saling berpelukan.
“Ini istri anda?” tanya Gunawan pura-pura tidak tahu.
“Ya, namanya Velly. Atau lengkapnya Velicia.” Dave memperkenalkan istrinya pada Guanwan.
“Bukannya lu udah kenal ya, Gun? Velly itu adiknya Vicky, kembarannya Vedy," kata Kenan.
Gunawan menggeleng. Ia pura pura tidak tahu. Semoga Kenan juga tidak tahu tentang dirinya dan Velly dulu, karena jika iya, ia kembali khawatir dengan hubungannya bersama Kiara. Pasalnya Kenan teramat posesive dengan sang adik.
“Itu loh, waktu di pesta nikahan gue. Dave kan dateng sama Velly,” ucap Kenan lagi.
Gunawan terdiam sejenak.
“Oh ya. Gue lupa. Sorry,” jawab Gun. “Sorry, Dave.” Gun menepuk bahu mitranya itu.
“It’s oke.” Dave tersenyum begitu pun dengan Velly.
Gunawan melirik ke arah Velly. Ya, wanita itu terlihat sangat cantik sekarang. Sepertinya Velly bahagia menjadi istri Dave.
“Hai,” sapa Kiara yang kembali menghampiri suami, kakak, dan kakak iparnya.
Kemudian, Kiara dan velly saling berpandangan.
“Eh tunggu. Ini Kiara?” tanya Velly.
“Eh, ini Velly.” Kiara menunjuk ke arah Velly. “Vellicia kan?”
Velly pun mengangguk.
“Aaaa ...” keduanya berteriak dan berpelukan.
“Long time no see,” ucap Velly.
“Bukan long lagi tapi loooong banget,” sahut Kiara.
“Loh kalian baru kenal?” tanya Hanin.
“Iya sih, kan velly juga dateng dinikahan aku, Ra,” ujar Kenan.
“Lupa, kak. Aku tuh waktu itu ngga perhatiin tamu kakak,” jawab Kiara.
“Iya, Han. Velly itu teman SMA aku. Aku sempet SMA di Solo waktu itu, walau cuma sampe kelas naik-naikan kelas sebelas doang, terus pindah lagi ke jakarta,” kata Kiara menjawab pertanyaan Hanin.
“Oh ya? Aku baru tahu,” ucap Hanin.
“Ya, saat itu, kami masih terpuruk dengan kepergian Papi dan ingin suasana baru dengan tinggal bersama adik Mami. Lalu, sekolah di sana,” sambung Kenan.
“Ya, dan Kiara yang selalu membantuku di saat-saat sulitku waktu itu,” celetuk Velly membuat Gun terkejut.
"Ya, dan kamu wanita terkuat yang aku kenal Vel," sahut Kiara.
Deg
Gunawan kembali terkejut.
“Ternyata, Kiara yang membantu Velly saat keguguran waktu itu? Kiara juga yang mengubur bayi mereka?” Gumam Gun dalam hati. “Oh, My God.” Gun memejamkan matanya kasar.
__ADS_1