Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Hatiku pun mulai merasakan sesuatu yang berbeda


__ADS_3

Di sebuah apartemen yang jauh dari keriuhan orang-orang yang tengah membicarakan pasangan ini, justru pasangan ini tengah memulai getaran dada yang sedang bergejolak.


Hanin masih berada di dalam kamar mandi, kamar mandi yang lagi-lagi tidak memiliki kunci. Hampir semua apartemen yang Kenan miliki seperti ini, Hanin pun menggelengkan kepalanya saat melihat ke arah pintu. Ia khawatir tiba-tiba Kenan masuk ke dalam ruangan ini. Jantungnya terus berdebar mengingat tatapan Kenan yang seolah ingin memakannya.


Sedangkan, di luar kamar mandi, Kenan sudah menunggu lama, menunggu istrinya keluar dari sana dan memulai kembali aktifitas yang tertunda sebelumnya.


Sudah tiga puluh menit, Hanin berada di kamar mandi itu dan tak kunjung keluar. Lalu, Kenan berinisiatif untuk mendekati pintu kamar mandi itu. Ia mendekatkan telinganya pada pintu. Tak ada suara yang menandakan sebuah aktifitas di dalam sana. Ia pun khawatir, jika Hanin mengalami kejadian yang dulu pernah wanita itu alami saat berada di Kuala Lumpur.


“Ah, ****. Jangan-jangan wanita itu pingsan lagi di kamar mandi!” gumamnya kesal dan langsung membuka pintu itu.


“Aaaa...” Hanin langsung berteriak, karena Kenan membuka pintu kamar mandi tepat di saat ia sudah tak mengenakan satu helai benangpun yang melekat di tubuhnya.


Hanin langsung menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi kedua asset di bagian dada dan kakinya pun sengaja berdiri menyilang, agar menutupi asset bagian intinya.


“Sorry, aku kira kamu pingsan di dalam,” ucap Kenan dengan mata yang tak berkedip menatap sang istri yang membuat gairahnya kembali naik.


Perlahan, Kenan melangkahkan kakinya mendekati Hanin. Ia pun sudah menutup kembali pintu yang tadi di buka.


“Keluar, Ken. Aku malu.”


“Aku sudah melihat beberapa kali pemdangan ini. jadi tidak perlu malu.” Kenan tersenyum dan menggoda sang istri. Tangannya meraih tangan Hanin yang menyilang agar terlepas dari apa yang sedang ia tutupi.


“Ck, Ken. Aku mau mandi. Kamu keluar dulu!” Hanin berusaha mempertahankan posisinya.


Kenan semakin menggoda. “Aku juga mau mandi.”


“Ken, mengapa kamu menyebalkan sekali?” tanya Hanin kesal.


“Karena kamu sudah menggodaku.” Kenan masih mencoba meraih tangan Hanin yang menutupi gunung kembarnya, agar terbuka.

__ADS_1


“Aku tidak pernah menggodamu.” Hanin menggeleng dan melangkah mundur untuk menghindari Kenan.


“Masa? Tapi kamu berhasil menggodaku,” Kenan masij meraih tangan Hanin yang masih melindungi kedua dadanya.


Hanin langsung menepis tangan Kenan, sembari tetap melangkah mundur. “Ken, Jangan macam-macam!”


Langkah Hanin yang terus mundur, kini terbentur dinding. Ia tak lagi bisa melangkah untuk menghindari pria itu.


“Aku tidak akan macam-macam, hanya meminta hakku saja. Apa itu berlebihan?”


Jantung Hanin semakin berdegup kencang. Ia takut, terlebih melihat kedua bola mata Kenan yang berwarna coklat itu tengah menatap tajam dengan tatapan yang sulit di artikan. Tatapan yang sulit di artikan oleh gadis polos seperti Hanin. Gadis polos yang baru patah hati karena telah mencintai pria yang salah. Kemudian, terjebak oleh pria arogan seperti Kenan. Padahal kedua bola mata Kenan, tengah mengisyaratkan cinta yang di balut gairah.


Kenan semakin menghimpit tubuh Hanin dan mencium lagi bibir yang sudah terlihat menebal itu. Kenan ******* habis bibir itu dengan lembut, lalu berubah menjadi ganas. Tangannya pun bergerilya menelusuri lekuk tubuh Hanin yang indah dan sesekali meremas kedua bongkahan bagian belakang Hanin yang padat.


Hanin berusaha mengimbangi pangutan panas itu. Kini, ia sudah bisa mengambil oksigen tanpa meminta Kenan untuk melepaskan pangutan itu terlebih dahulu.


Kelihaian Kenan dalam berciuman, membuat Hanin lupa akan pertahanannya. Kedua tangannya tak lagi menutupi aset di bagian dadanya lagi. Justu kedua tangan Hanin kini berada di pundak Kenan. Sesekali, ia meremas pundak putih Kenan, saat sang suami dengan ganas menggigit dan memberi tanda merah lagi di bagian lehernya.


“Ken,” panggil Hanin pelan, menahan sensasi aneh yang Kenan ciptakan, karena pria itu tengah memainkan kedua dada Hanin yang padat dengan mulutnya secara bergantian.


Sontak kedua tangan Hanin meremas kepala Kenan. Apalagi ketika Kenan memainkan bagian sesnitifnya di bawah sana. Hanin semakin bergejolak, hingga ada sesuatu yang ingin meledak dari dalam tubuh itu.


“Ken .... Eummm ...”


Kenan membiarkan Hanin melepaskan sesuatu yang meledak itu untuk pertama kali. Ia pun kembali berdiri dan mensejajarkan tubuhnya pada Hanin.


“Aku mulai.” Kedua bola mata mereka bertemu dan saling bertatapan.


Hanin terdiam, ia tak mampu berkata-kata. Walau ia ingin berkata tidak, tapi tubuhnya menerima semua sentuhan itu.

__ADS_1


Kenan melepaskan boxer yang masih ia kenakan, hongga keduanya tak lagi mengenakan apapun. Perlahan, Kenan mendekatkan miliknya pada milik sang istri. Ia berusaha menerobos bagian itu, mecoba untuk melakukan penyatuan pada wanita satu-satunya yang ia inginkan untuk melakukan ini.


“Ken, sakit.” Hanin menahan dada Kenan sebagai isyarat untuk menyudahi aktifitas ini.


Kenan tidak percaya, karena sedari tadi miliknya tak juga berhasil menerobos dinding itu.


“Kamu belum pernah melakukannya?”


Hanin menggeleng, sembari memejamkan kedua matanya menahan sakit, karena Kenan terus berusaha agar menembus pertahanan dinding itu.


Seketika bibir Kenan menyunging senyum, tangannya terangkat untuk mengelus wajah Hanin yang terguyur air.


Lalu, ia menekan kembali tombol shower itu untuk menghentikan air yang mengguyur tubuh mereka. Ia pun menyudahi aksinya, bukan untuk menyerah dan tak melanjutkan keinginannya, tapi untuk membawa Hanin ke tempat yang layak dalam melakukan sebuah malam pertama yang tertunda.


Kenan mengambil handuk dan menyelimuti tubuh Hanin, lalu mengangkat dan membawanya ke luar dari sana. Perlahan, ia meletakkan tubuh Hanin di atas tempat tidur, karena ini adalah yang pertama untuk Hanin dan Kenan ingin memberikan kesan yang tak terlupakan untuk sang istri.


“Ini sedikit sakit, kamu bisa mencakar bahuku atau menggigitnya untuk menghilangkan rasa sakit itu,” ucap Kenan yang sudah menindih tubuh sang istri dan melanjutkan kembali aksinya.


“Ah, Keeeee .... n.” Teriak Hanin saat Kenan berhasil menerobos dinding itu dengan paksa.


Kedua tangan Hanin mencengkram kuat bahu Kenan dan air mata itu pun tanpa di sadari keluar dari sudut mata Hanin.


“Maaf,” lirih Kenan, sembari menghapus air mata yang mengalir dari sudut mata Hanin.


Kenan juga bisa merasakan ada sesuatu yang mengalir bersamaan dengan miliknya yang berhasil menerobos dan menyatu pada milik sang istri.


Kenan tersenyum. “Kamu memang berbeda dan sepertinya hatiku pun mulai merasakan sesuatu yang berbeda.”


Keduanya kembali bertatapan tanpa jarak sesenti pun. Mereka mencoba mencari jawaban pada masing-masing kedua bola mata yang mengisyaratkan sesuatu, di iringi oleh gerakan lembut yang dilakukan Kenan saat penyatuan.

__ADS_1


Setelah puas bertatapan mesra, Kenan mencium lagi bibir itu dan mencoba mencari jawaban dari bibir mereka yang menyatu, karena kali ini Hanin pun menerima semua sentuhan Kenan tanpa paksaan. Kedua insan ini hanyut dalam penyatuan yang semakin lama semakin melenakan. Malam ini, mungkin akan menjadi malam panjang penuh gelora, sensasi aneh, dan pastinya membuat kedua insan ini kelelahan.


Mereka belum menyadari, setelah ini akan ada banyak badai yang menghalangi hubungan mereka, karena Rasti sudah menunggu kedatangan sang putra dan akan berusaha untuk membujuk putranya untuk kembali pada putri sahabatnya itu. Dan, James yang juga tidak tinggal diam, karena ia terus mencari tahu siapa wanita yang berhasil membuat pria seeprti Kenan jatuh cinta.


__ADS_2