
“Remnya blong, Ra,” ucap Vicky panik.
“Yang benar, Vick. Jangan bercanda!” Kiara menanggapi dengan santai, karena ia fikir Vicky bergurau. Pasalnya pria itu memang sering bergurau.
“Ngga, Ra. Aku ga bercanda. Ini tidak bisa.” Vicky kembali menginjak rem itu dengan sangat dalam. Namun, tetap saja mobilnya tak berhenti.
Tut ... Tut ...
Hanin menelepon Vicky dari ponsel Kenan. Ia sudah berada di dalam mobil bersama sang suami dan hendak mengikuti jejak GPS dari ponsel sang adik. Kenan sudah menelepon Gunawan untuk meminta bantuan.
“Siapa saja yang lebih dulu sampai. Tolong mereka, ya Tuhan,” ucap Hanin berdoa.
Mulut Hanin terus berkomat kamit memanjatkan doa agar kedua orang yang ada di mobil itu selamat.
“Halo,”
Hanin mendengar suara perempuan. Kiara mengangkat ponsel Vicky dan meloudspeaker, karena pria itu fokus menyetir. Hanin mengarahkan ponsel yang ia pegang pada mulut Kenan.
“Ra, jangan panik! Akan ada orangku yang sampai lebih dulu ke TKP. Jalan kalian juga akan di kawal oleh beberapa polisi.” Suara Kenan terdengar panik, walau ia menyuruh sang adik untuk tidak panik.
“Vick, kurangi kecepatan. Tapi jangan di bawah empat puluh karena mobil itu juga di pasang bom, jika lu turunin kecepatan di atas itu.” ucap Kenan lagi.
“Serius lu?” tanya Vicky yang semakin panik, karena tidak mengetahui hal itu.
“Ya,” terika Kenan. “Cool down! Fokus, Vick.”
Vicky mengangguk. Sementara Kiara sudah tidak lagi bisa di gambarkan bagaimana jantungnya berdetak hebat.
Vicky menyentuh tangan Kiara, agar wanita itu tenang. Kiara menoleh dan kembali dengan pandangan lurus ke depan. Ia tetap duduk tenang, walau hatinya tengah bergemuruh. Ia hanya pasrah dengan bibir yang terus memanjatkan doa.
“Mereka ada di tol Jagorawi?” tanya Hanin pelan, sedikt menyela percakapan Kenan dan Vicky.
Kenan mengangguk.
"Vick, keluar sentul. Gue akan arahin polisi ke sana supaya mereka menutup jalan-jalan yang akan kalian lewati," kata Kenan pada Vicky.
“Ya.” Vicky menurut. Ia gugup setengah mati.
“Aaa ...” teriak Kiara tiba-tiba.
“Kenapa, Vick?” tanya Kenan dan Hanin di alat komunikasi itu.
“Kami baru saja menabrak pintu tol pembayaran,” teriak Vicky.
“Ya ampun.” Kenan langsung mempercepat kecepatan.
__ADS_1
Hanin pun mematikan ponsel itu dan kembali fokus menjadi navigator untuk sang suami, agar mereka melalui jalan-jalan yang tidak bertanda merah di aplikasi penunjuk jalan.
Kiara pun melakukan hal yang sama. Ia menjadi navigator Vicky, agar tidak melalui jalan yang agak ramai, karena walau jalan yang mereka lalui adalah jalan bebas hambatan. Namun, terkadang jalan itu pun ada saja yang terlihat merah karena macet.
Wiu .. Wiu ... Wiu ...
Terdengar suara sirine dari belakang mobil yang tengah dikendarai Vicky dan Kiara.
Kiara menoleh ke belakang. “Vick, bantuan datang.”
“Syukurlah,” Wajah Vicky sedikit lebih tenang, walau ia masih panik.
Bukan dirinya yang ia fikirkan, melainkan Kiara karena wanita yang sedang ia bawa bukan hanya satu nyawa, tetapi dua nyawa.
“Kiara ...” teriak seseorang sembari menekan klakson mobilnya dari samping mobil Vicky.
Kiara pun menoleh. Lalu, Pria itu memberi isyarat agar Kiara membuka kaca jendelanya. Kiara pun melalukan apa yang di perintahkan oleh pria itu.
“Mas, Gun,” teriak Kiara.
“Jangan panik, Sayang. semua akan baik-baik saja,” ucap Gunawan yang tidak menyadari bahwa dirinya memanggil Kiara dengan sebutan itu.
Kiara terdiam sejenak. Namun, Vicky yang masih fokus mengikuti mobil polisi di depannya itu tidak mendengar sebutan itu.
“Gun, bawa Kiara keluar dari mobil ini,” teriak Vicky dengan sedikit melirik ke arah Gunawan lalu memfokuskan pandangannya lagi ke depan.
“Posisikan mobil lu sama mobil belakang gue, Vick. Orang di belakang gue akan mengambil Kiara,” teriak Gun.
Vicky mengangguk. “Oke.”
Kemudian dengan hati-hati Vicky mendekatkan pintu tempat Kiara duduki dengan pintu belakang mobil Gunawan yang sedang terbuka. Gunawan sengaja membawa mobil dengan pintu belakang yang terbuka dengan cara digeserkan.
Kedua mobil itu berjalan beriringan dengan kecepatan sedang. Vicky tetap melajukan mobilnya dengan kecepatan lima puluh kilometer per jam.
“Ayo, Bu!" Pria bertubuh kekar itu mengulurkan tangannya pada Kiara.
Kiara menatap ke arah pria itu bergantian dengan aspal jalan yang terus berjalan.
“Ra, ayo!” ucap Vicky.
“Ayo, Ra! Dia akan memegangmu,” teriak Gunawan.
Kiara menoleh ke arah Vicky. “Bagaimana denganmu?”
“Aku akan baik-baik saja, Ra. Yang penting kamu terselamatkan lebih dulu, karena ada nyawa di dalam tubuh kamu,” jawab Vicky sembari melirik ke arah Kiara dan kembali ke jalan.
__ADS_1
Kiara menggeleng. “Kita harus selamat bersama, Vick.” Ia masih khawatir dengan keadaan pria yang selalu membantunya ini.
Bukan, bukan karena Kiara mencintai pria yang masih berada satu mobil dengannya. Melainkan, ia sedih karena pengorbanan yang dilakukan pria itu sudah terlampau banyak untuknya.
“Jangan fikirkan aku. Fikirkan bayimu,” ucap Vicky lagi.
Di mobil sebelah, Gunawan hanya mendengar interaksi antara kedua orang itu. Hatinya teriris melihat kepedulian Kiara pada Vicky, membuatnya semakin yakin bahwa kebahagiaan Kiara saat ini adalah pria yang tengah berada di sana. Ya, Gunawan akui cinta Vicky pada istrinya itu sangat besar, hingga mampu merelakan nyawanya untuk Kiara.
“Ayo, Ra. Waktu kita tidak banyak,” teriak Gun.
Kemudian, Kiara pun bergerak dan mengeserkan tubuhnya, perlahan tapi pasti pria yang sudah siap berdiri di natar mobil Vicky dan mobil yang dikendarai Gun itu dapat mengambil Kiara dan memindahkannya ke dalam mobil yang dikendarai Gunawan.
“Hah.” Kiara menghempaskan dirinya duduk di belakang Gunawan.
Setelah melihat Kiara sudah duduk di belakangnya lewat kaca spion dalam. Gun meminta pria di sampingnya untuk mengambil alih setir mobil yang semula ia kendarai. Lalu, ia dengan cepat masuk ke dalam tempat duduk yang semula Kiara duduki di mobil Vicky.
Kejadian itu sangat cepat, membuat Vicky terheran. Begitu pun Kiara yang sudah berada di mobil berbeda.
“Apa yang lu lakukan, Gun?” tanya Vicky terkejut dengan tindakan sahabatnya ini.
“Ayo, Vick. Pindah kebelakang dan gue ambil alih mobil ini.”
Vicky menggeleng. “Tidak, lu harus sama Kiara. Dia membutuhkan lu.”
Gunawan menggeleng. “Tidak, dia lebih mencintai lu dari pada gue.”
“Bodoh,” umpat Vicky.
Lalu dengan cepat Gunawan menyuruh Vicky untuk pindah. Walau Vicky mempertahankan posisinya. Namun, akhirnya ia menyerah dan pindah ke belakang.
Vicky pun langsung di sambut oleh pria yang akan membawanya pindah.
“Bagaimana dengan lu, Gun.”
“Udah cepet, Gue akan bawa mobil ini ke tempat yang lebih aman untuk di lepas.”
“Tapi.” Vicky masih tidak rela melihat pengorbanan sahabatnya yang sudah lama tidak lagi menjadi sahabat.
“Ayo, cepat keluar!” pinta Gun.
Kemudian, Vicky pun menurut.
“Vick,” panggil Gun saat Vicky hendak pindah ke mobil yang semula dikendarai Gun.
Vicky menoleh ke arah Gun.
__ADS_1
“Bahagiakan Kiara,” ucap Gun menatap Vicky sekilas lalu memfokuskan lagi pada jalan di depannya.