Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kebaikan Kenan


__ADS_3

Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel kenan berdering, membangunka dirinya yang masih memeluk tubuh sang istri. Mereka tidur di satu ranjang pasien, membuat suster yang sempat datang untuk memeriksa keadaan Hanin pun tersenyum.


Kenan terbangun dan mengambil ponselnya. Di sana tertera nama Vicky dengan panggilan Video call.


“Ya, Vick.” Kenan duduk di sofa menampilkan wajah kusut dengan sesekali menguap.


“Udah jam delapan. Masih ngantuk aja. Inget di rumah sakit, tahan dulu n*fsu lu.”


“Emang gue lagi puasa, Dol. Secara doi di suruh bedrest dan ga boleh melakukan itu satu minggu.”


Vicky tertawa. “Kasihan, kasiha, kasihan,” Vicky menirukan suara upin ipin.


“Rese lu,” ucap Kenan tersenyum.


“Ada apa?” tanya Kenan.


“Banyak yang mau gue laporin. Pertama, Dave udah ke kantor Gun dan sepakat berinvestor di perusahaannya. Kedua, Gue kena msalah dengan pejabat itu, Ken. Dia tahu kalau gue buntutin gerak geriknya.”


“Kok bisa? Biasanya lu paling hati-hati.”


“Ya, gue ceroboh.”


‘Tapi pembicaraan kita, aman kan?” tanya Kenan.


Vicky mengangguk. “Aman.”


Nama Kenan sempat tersandung dalam kasus suap pada sebidang tanah yang cukup luas di kota XX. Kenan memang ingin membangun apartemen di kota yang sedang berkembang itu. Namun, ternyata ia di jegal oleh rivalnya yang mempunya koneksi seorang pejabat pemerintah. Dan, riival Kenan itu menuduh Kenan memberi suap pada pemerintah setempat, padahal rivalnya itu lah yang melakukan itu. dan, Vicky sudah banyak menemukan bukti.


Tidak satu pun keluarga yang mengetahui permasalahan ini, termasuk Hanin. Kenan memang selalu menutupi masalah-masalahnya pada keluarga, karena ia yakin akan bisa menghadapi masalah-masalah itu tanpa membuat beban orang-orang yang ia sayangi.


“Vick. Hati-hati ya! Gue malah takut lu kenapa-napa karena mereka tahu kalau lu adalah orang kepercayaan gue.”


“Santai, Bro. Gue ga bakal kenapa-napa.” Vicky tersenyum seperti biasa dengan gaya selengeyan itu.


Kenan tersenyum dan menarik nafasnya kasar. “Kalau gue tahu dari dulu, lu cinta sama Kiara. Gue bakal buat lu bersatu sama adik gue, Vick. Sayangnya, lu malah takut gue marah.”


Di sana, Vicky pun menghela nafasnya. “Yah, nasi sudah jadi bubur, Ken. gue ikhlas Kiara sama Gun, asal si Gun bener-bener mencintai Kiara.”


Kenan menngangguk. “Thank you, Bro.”


Vicky pun mengangguk. “Oke. Oh iya satu lagi. Tanda tangan Om james, udah ada dan udah gue fax ke kantor sana.”


Kenan kembali menyungging senyum dan menampilkan ibu jarinya ke atas. “lu emang the best.”


“Gue belajar dari lu,” kata Vicky.


Mereka pun tertawa.


“Pulang tepat waktu ya, Ken. Resepsi pernikahan lu, satu minggu lagi.”


“Iya, gue balik lusa,” ucap Kenan.


“Oke, salam buat Hanin. cepet sembuh dan selamat, Bro. Bentar lagi jadi ayah.”


“Oke, thanks Vick.”


Kemudian percakapan melalui video call itu pun berakhir. Kenan menutup teleponnya dan tersenyum. Akhirnya satu persatu permasalahnnya terselesaikan, walau belum semuanya selesai.


“Siapa, Ken?” panggil Hanin yang sudah terduduk di atas ranjang pasien itu.


Arah matanya tertuju pada sang suami yang duduk di sofa.

__ADS_1


“Vicky ngasih laporan,” jawab Kenan. Ia berdiri dan menghampiri istrinya.


“Tadi aku dengar ada suap suap gitu. Siapa yang kena suap, Ken?” tanya Hanin khawatir. Naluri Hanin sebagai istri langsung menangkap sinyal dari raut wajah suaminya.


“Tidak ada. Itu kasus orang lain,” jawab Kenan bohong sembari mengusap wajah Hanin.


“Hei, kok cemberut?” tanya Kenan melihat Hanin yang tidak ceria.


“Tidak ada yang kamu tutupi kan?” Hanin masih merasa ada sesuatu.


Kenan menggeleng. “Ngga, Sayang.”


“Bisnismu baik-baik saja kan?”


Kenan mengangguk. “Everything’s fine. Don’t worry. Ok!”


Hanin terdiam dan masih merengutkan bibirnya.


“Jangan cemberut begini.” Kenan mengecup bibir Hanin. “Nanti aku jadi mau,” ledeknya.


“Ish, Jelek.”


Kenan tertawa.


Tak lama kemudian, Hansel datang dan hendak mengetuk pintu ruang perawatan Hanin. Namun, langkahnya terhenti sejenak. Ia tersenyum melihat keromantisan pasangan itu lagi, membuatnya iri dan ingin memiliki kekasih.


“Hai, Sir.” Hansel bersuara di iringi ketukan pintu.


Kenan dan Hanin menoleh.


“Sorry, Sir. I just came, to bring you this.” Hansel menyerahkan beebrapa dokumen pada Kenan.


“Oke.” Kenan menerima dokumen itu dan membukanya.


Hansel berdiri di depan Kenan dan melirik ke arah Hanin. Hanin pun canggung. Ia hanya menunduk.


“Nothing, Sir.”


“So, please go!” Kenan meminta Hansel untuk pergi.


Hansel pun membungkukkan tubuhnya untuk pamit. Namun, ia kembali membalikkan badan.


“Sir, your wife is beautyfull,” ucap Hansel.


Ia langsung keluar dari ruangan itu, sebelum sempat Kenan berdiri dan memukul kepala anak lelaki itu karena sudah berani menggoda istrinya.


Kenan mengeryitkan dahi dan beralih menatap Hanin. “Kamu dengar?”


Hanin tertawa.


“Anak bocah saja menggodamu,” kesal Kenan.


Hanin kembali tertawa dan mengelus bahu sang suami. “Dia bukan menggodaku, tapi menggodamu, karena dia tahu kamu cepat marah.”


“Tapi tidak begitu caranya. Kurang ajar sekali dia. Sudah bosan bekerja sepertinya.”


“Mungkin memang dia tidak bekerja karena butuh uang,” ucap Hanin dengan mengangkat bahunya.


Ya, Hansel memang bukan lahir dari keluarga biasa atau miskin. Ia hanya bekerja freelance untuk mengisi waktu luang saja.


Kenan menggelengkan kepala. Lalu kembali meneliti berkas-berkas yang di bawa Hansel.


Beberapa menit kemudian, pintu ruangan itu kembali di ketuk.

__ADS_1


“Hai, Ken.”


Kenan dan Hanin kembali menoleh ke arah pintu. Kali ini yang datang adalah Riza.


“Hai,” Jawab Kenan dan Hanin tersenyum.


“Bagaimana keadaanmu, Han?” tanya Riza, berjalan perlahan memasuki ruangan itu.


Lalu, Riza memberi isyarat pada orang yang berada di luar ruangan.


“Kau mengajak siapa, Za?” tanya Kenan.


Kemudian, Vanesa muncul dan berdiri di ambang pintu.


“Aku membawa Vanesa. Dia ingin meminta maaf pada kalian, terutama padamu, Han,” jawab Riza yang langsung menggandeng tangan Vanesa untuk masuk ke dalam.


Vanesa terus menunduk. Lalu, perlahan mengangkat kepalanya di depan Hanin dan Kenan.


“Nan, maafin aku,” ucap Vanesa lirih.


Kenan menatap wajam wanita itu. “Minta maaf pada Hanin. Dia yang merasakan sakit akibat sikap bar bar mu itu.”


Vanesa berlari mendekati Hanin dan memeluknya. “Han, maafin aku. Aku tidak tahu bahwa kamu datang untuk beritikad baik paadaku. Maaf, karena aku menyalahkanmu atas semua yang terjadi padaku.”


Hanin menerima pelukan itu. Ia mengelus punggung vanesa. “Ya, mbak. Saya sudah memaafkan jauh sebelum mbak minta.”


Pelukan itu pun mengendur. “Kamu memang baik.”


Hanin tersenyum.


“Bayimu juga tidak apa-apa kan?” tanya Vanesa.


“Untungnya tidak, kalau saja aku kehilangan bayiku. Kamu tidak akan hidup tenang, Van,” jawab Kenan lebih dulu, sebelum Hanin menjawabnya.


“Maaf.”


“Ya, aku maafkan. Tapi dengan satu syarat,” kata Kenan.


Riza pun lega mendengar Kenan memaafkan wanita yang sedang mengandung anaknya itu. Ia tahu, Kenan tidak seburuk yang orang bilang.


“Apa?” tanya Vanesa.


“Menikahlah dengan Riza. Kasihan bayimu.”


Vanesa melirik ke arah Riza.


“Ini surat pernyataan ketidakhadiran Daddy untuk menjadi wali Vanesa. Kamu bisa menikah di KBRI setempat,” ucap Kenan sembari menyerahkan dokumen yang diperlukan untuk menikah di tempat ini kepada Riza.


Senyum Riza langsung mengembang lebar. Ia tak menyangka akan mendapat surprise pagi-pagi begini.


“Serius?” tanya Riza lagi tak percaya, karena ini seperti mimpi.


“Serius lah. Kapan gue pernah bohong,” ucap Kenan.


Hanin tersenyum. Ia sangat senang, terlebih ia senang dengan Kenan, pria paling baik yang menjadi suaminya.


Riza langsung menyambar tubuh Kenan dan memeluknya erat. “Terima kasih Ken. Terima kasih. Aku bisa seperti ini karena kebaikanmu. Aku tidak akan melupakan itu.”


Kenan melonggarkan pelukannya. “Jangan seneng dulu, lu. Tanya Vanesa, mau ga jadi istri lu?”


Kenan dan Riza menatap ke arah Vanesa. Begitu pun Hanin.


Vanesa merasa menjadi terdakwa. “Masa iya, aku ga mau.”

__ADS_1


“Syah lah,” ledek Kenan.


Riza mengurut dadanya. “Syukurlah.”


__ADS_2