Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kiara melahirkan


__ADS_3

Satu minggu kemudian.


Vicky terpaksa meminta cuti yang cukup lama pada Kenan untuk menghadiri pernikahan adik kembarnya yang bernama Vely. Kebetulan di sana kehadiran Vicky sangat penting, karena ia harus menjadi wali dari adiknya yang seorang perempuan.


Kenan pun membiarkan Vicky pergi, malah justru ia meminta maaf karena tidak bisa menghadiri pernikahan itu, mengingat keluarganya pun sedang mengalami musibah. Saat ini, Kiara juga masih dalam perawatan.


“Sorry ya, Ken. gue ga bisa bantu lu selama satu minggu ini,” ucap Vicky saat mereka berada di kantor.


“It’s oke. Gue adalah orang yang mementingkan keluarga. jadi gue tahu keberadaan lu sangat dibutuhkan di sana.”


“Thank you, Bro.” Vicky mengangkat ke atas tangannya yang mengepal untuk dibenturkan sejajar pada tangan Kenan yang juga mengepal.


“Your’e welcome.” Kenan tersenyum.


Lalu, Vicky hendak keluar meninggalkan Kenan yang masih duduk di kursinya.


“Salam ya buat Vely dan Dave. Gue pasti akan ke sana kalau urusan di sini udah kelar,” ucap Kenan, saat Vicky sudah berdiri.


“Santai aja, Ken.” Vicky tersenyum. “Oh iya, salam juga buat Hanin, Mami, dan Kiara. Sorry malam ini aku ga ke rumah sakit karena aku terbang malem.”


“Ya.”


Kemudian, Vicky membuka pintu ruangan Kenan untuk keluar.


“Vick,” panggil Kenan, membuat Vicky langsung menoleh.


“Hati-hati dan terima kasih.” Kenan menatap sahabatnya dengan senyum yang tulus.


Ia baru menyadari bahwa ia memiliki sahabat yang hebat-hebat. Rasanya, pertemanan yang mereka jalin sejak duduk di bangku SMA itu, kini bukan lagi pertemanan biasa melainkan persaudaraan.


“Oke.” Vicky menunjukkan ibu jarinya ke atas dengan senyum.


“Hape lu harus on terus,” ucap Kenan lagi sembari berteriak. Ia tidak ingin saat membutuhkan asisstennya dalam pekerjaan, Vicky malah sulit di hubungi.


“Iya,” jawab Vicky sambil menutup kembali pintu itu.


****


Satu bulan kemudian.


Keadaan Kiara semakin membaik. Ia tak lagi terus menerus menangis. Justru ia sering berada di samping sang suami, menemani Gunawan yang masih terbaring dan belum sadarkan diri. Kini Kiara lebih religi dan mendekatkan diri pada Tuhan. Ia selalu memanjatkan doa, agar Gunawan diberi kesempatan untuk sembuh dan sadarkan diri. Ia ingin membina rumah tangganya menjadi lebih baik.


Hampir setiap hari Kiara mengunjungi suaminya dari siang hingga sore, hingga menunggu waktunya Gunawan dibersihkan, karena Kiara memang tidak memperbolehkan satu perawat pun menyentuh tubuh sang suami. Ia lebih senang jika dirinya langsung yang membersihkan tubuh Gunawan, sembari berinteraksi dengannya.


Terkadang, Hanin menemani Kiara untuk menjenguk Gun. Namun, terkadang Kiara datang sendiri dan tetap di temani oleh Syamsudin serta satu pengawal yang Kenan suruh untuk mengawal keluarganya yang kelaur dari rumah.


“Mas, apa kabar?” tanya Kiara pada suaminya yang masih terbaring lemah.


Kiara yakin, walau Gunawan belum sadarkan diri, tapi ia bisa mendengar setiap kata yang ia ucapkan.


“Kapan kamu bangun, Mas? Sebentar lagi anakmu lahir.”


Kiara duduk di samping suaminya dengan mengelus rambut Gun.


“Mas. Kemarin aku periksa si dede. Alhamdulillah kata dokter, dia sehat. Dokter juga bilang, kemungkinan aku akan melahirkan beberapa hari lagi.” Kiara mengelus pipi Gunawan. “Janjinya ya Mas, kamu harus bangun pas aku lahiran nanti.”


Ia kembali meneteskan air mata, padahal sebelumnya ia sudah berjanji pada Kenan dan Rasti akan tidak menangis lagi demi kesehatan bayi yang ada di dalam perutnya.


“Maaf selama ini aku bersikap dingin padamu. Itu karena aku kesal, ketika aku melihatmu bersama seorang wanita di cafe. Aku tuh masih mencintaimu, Mas. Dan, selalu mencintaimu.”


Seketika, Alis Gunawan bergerak dan sedikit naik ke atas. Seolah ia mendengar apa yang di ucapkan istrinya. Dan, Kiara pun melihat itu.


“Mas, Mas kamu sadar?” tanya Kiara riang.


Ia pun berteriak memanggil perawat, sembari menekan bel di atas kepala Gunawan. Seketika, dua perawat itu pun datang dan memeriksa keadaan Gunawan.


Salah satu oerawat itu menggeleng. “Belum ada kemajuan, Bu.”


“Ada, Sus. Tadi saya lihat suami saya mengangkat alisnya sedikit dan jari telunjuknya.”


“Tapi dari yang kami periksa, semua masih dalam keadaan sama, Bu,” jawab perawat yang satunya.


“Panggil dokter yang menangani suamiku. Aku ingin dia memeriksa suamiku lagi.” Kiara kekeh dengan apa yang ia lihat. Namun, kedua perawat ini mengira Kiara tengah berhalusinasi.


“Baiklah, Bu. Nanti sore dokter Hans akan datang untuk memeriksa suami ibu.


Kiara pun mengangguk dan kedua perawat itu pun pergi.


****


Satu hari, dua hari, tiiga hari berikutnya, keadaan Gunawan masih sama.


“Ra, kamu mau ke rumah sakit?” tanya Rasti saat Kiara akan berangkat menjenguk sang suami.


“Iya, Mam.”


“Mami ikut,” ucap Rasti.


“Tunggu, Hanin juga mau ikut, Mam. Ra.” Hanin beranjak dari duduknya dan menghampiri Kiara.


“Ayo!” Rasti sudah mengambil tasnya dan siap untuk keluar dari rumah.

__ADS_1


Ketiga wanita ini memang sangat kompak. Hanin sudah seperti anak sendiri bagi Rasti. Wanita paruh baya yang sangat Kenan sayangi dan hormati ini tidak pernah membedakan Hanin dan Kiara. Ia selalu ada waktu untuk kedua putrinya.


Sesampainya di rumah sakit. Mereka langsung ke ruang perawatan Gun. Hanin dan Rasti menyiapkan makanan untuk Kiara yang sedang membersihkan tubuh suaminya.


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel Hanin berdering dan menunjukkan nama “Ken Ken Jelek” di layar itu.


Rasti yang sedang berada di sebelah Hanin pun melihat nama yang tertera di sana. “Ya ampun, kamu masih saja menamai putraku dengan sebutan itu.”


Hanin menoleh ke arah Rasti dan nyengir. “Maaf, Mam.”


Rasti pun ikut tertawa.


Lalu, Hanin mengangkat telepon itu.


“Ya, Sayang.”


Kenan mendengar suara istrinya yang lembut.


“Kamu di rumah sakit?” tanya Kenan.


Ia sudah menelepon Hanin hari ini sebanyak tiga kali. Kenan memang selalu menelepon istrinya sebanyak itu setiap hari. Seperti minum obat.


“Iya. Sama Mami.”


“Oke, se pulang dari kantor, aku akan ke sana untuk menjemputmu.”


“Yeay .. Oke, Sayang.”


“Oke, Bye,” kata Kenan di suara yang ada dari alat komunikasi itu.


“Bye,” jawab Hanin dan menutup sambungan telepon.


Prank


Kiara menjatuhkan wadah kecil yang terbuat dari stainles berisi air hangat untuk memnbersihkan wajah suaminya.


Rasti dan Kiara pun terkejut, lalu menghampiri Kiara.


“Mam, ah.” Tiba-tiba Kiara merintih.


“Kenapa, Ra?” tanya Hanin panik sembari memegang lengan Kiara. Ia pun mengambil wadah kecil yang terjatuh tadi.


“Kenapa, Ra?” Rasti pun bertanya pada putrinya.


“Han, perutku sakit.”


“Entahlah, Mam. Tapi rasanya sakit sekali,” jawab Kiara dengan tubuh membungkuk menahan rasa sakit yang luar biasa di perutnya.


“Coba kamu cek di kamar mandi itu, apaada bercak merah di kain dalammu?” tanya Rasti yang mengerti proses persalinan.


Hanin dan Rasti menuntun Kiara ke kamar mandi yang tersedia di dalam ruangan itu. Hanin dan Rasti hearap-harap cemas, menunggu Kiara di depan pintu kamar mandi.


Kiara pun keluar dari sana dan mengangguk. “Iya, Mam. Ada bercak darah di sana.”


“Itu tandanya kamu mau melahirkan, Ra.”


Hanin langsung pergi menemui perawat yang berjaga di luar. Ia meminta kursi roda untuk Kiara dan segera di bawa ke ruang bersalin yang berada di lantai lima.


“Ah, Mam. Sakit.” Kiara mengaduh, karena merasakan sakit di perutnya semakin menjadi.


“Memang seperti ini, Ra. Kamu harus tahan,” ucap Rasti sembari mengelus pucuk kepala putrinya saat di bawwa ke ruang pemeriksaan sebelum menuju ruang bersalin.


Dokter dan perawat di sana siap menangani Kiara. Sedangkan Hanin, menelepon Kenan untuk segera ke rumah sakit.


“Masih pembukaan tiga, Bu. Ini masih cukup lama untuk melahirkan,” kata dokter wanita itu.


“Tapi, Dok. Ini sudah sakit sekali,” ucap Kiara.


“Memang seperti ini. Jika sudah pembukaan sembilan atau sepuluh, ibu baru kami bawa ke ruang bersalin.”


Kiara langsung lemas, mendengar hal itu. ia pun kembali berdoa agar persalinannya di permudah. Ia menahan rasa sakit itu hingga beberapa menit kemudian.


Lalu, rasa sakit yang hebat itu muncul kembali.


“Mas Gun,” teriak Kiara.


Tiba-tiba satu jari Gunawan bergerak.


Di ruang bersalin, Hanin dan Rasti memanggil perawat dan dokter, agar Kiara di periksa kembali.


“Sudah pembukaan sembilan. Ayo segera bawa Ibu Kiara ke ruang bersalin!” pinta dokter pada kedua perawat yang bertugas.


“Mas Gun,” teriak Kiara histeris, ketika dirinya sudah berbaring di tempat tidur pasien dan tengah di dorong oleh ke empat perawat yang membantu mendorongnya hingga ke ruang persalinan.


Tangan Gun kembali bergerak. Kini kedua tangannya ikut bergerak.


“Mas, Gun.” Kiara kembali berteriak memanggil suaminya.


Sontak kedua bola mata Gun pun terbuka, seolah teriakan Kiara sangatlah dekat dari telinganya. Padahal ruangan anatar dirinya dan sang istri yang hendak melahirkan berbeda tiga lantai.

__ADS_1


Detak jantung Gunawan langsung berdebar kencang, membuat alat monitor yang berada di dadanya itu pun berbunyi cukup nyaring.


Para perawat yang mendengar monitor itu pun langsung ke ruangan itu. pasalnya lorong tempat perawatan Gunawan sangat sepi dan sunyi, hingga ada suara sedikit pun dari dalam ruangan akan terdengar keluar.


“Bapak sudah sadar,” ucap perawat yang tengah melihat Gun yang sudah terbangun duduk.


Gunawan memegang kepalanya. “Tapi kepala saya masih sakit.”


“Tunggu, saya akan telepon dokter Hans.”


Gunawan mencekal lengan perawat itu.


“Tidak perlu, antarkan saya saja ke ruang bersalin. Istri saya sedang melahirkan,” ucap Gun.


Perawat itu melirik ke salah satu teman perawatnya. Ia heran mengapa pria ini bisa tahu bahwa istrinya tadi sedang kontraksi, padahal ia dalam keadaan tidak sadarkan diri.


“Iya, Pak. Akan saya antar. Istri anda memang sedang berada di sana.”


Suster itu dengan sigap mengambil kursi roda dan mendorong Gunawan ke lantai lima. Di sana, Kiara belum di beri aba-aba untuk mengejan.


“Sakit, Dokter,” ucap Kiara lirih.


“Iya, Bu. Tenang ya. Saya akan pecahkan ini, agar bayi bisa menemukan jalan untuk keluar.” dokter itu pun mulai melakukan tugasnya.


Sementara Hanin dan Rasti hanya bisa menunggu di luar.


“Ayo, Bu. Mulai mengejan,” ucap dokter itu.


“Aaaa ....” jerit Kiara sembari mengeluarkan tenaga agar bayi itu keluar.


Di ruang tunggu, Hanin dan Rasti berdiri tercengang melihat Gunawan tengah di dorong oleh suster ke arah mereka.


“Gun,” panggil rasti dengan senang.


“Iya, Mam. Gun sudah sadar. Gun ingin menemani Kiara melahirkan.”


Rasti mengangguk. Ia sungguh terharu dengan keajaiban ini. Begitupun dengan Hanin.


“Belum, Bu lebih kuat lagi,” kata dokter itu memberi semangat pada Kiara.


“Lebih kuat lagi, Sayang,” ucap Gun tiba-tiba berada di samping istrinya.


Kiara langsung menoleh ke suara itu. “Mas.”


“Ayo, sayang! Mas di sini menemanimu.” Gunawan tersenyum ke arah sang istri. Ia mengambil tangan Kiara, mengecup dan menggenggam tangan itu untuk memberi support.


“Ayo, Bu sekali lagi. Tarik nafas dan keluarkan yang kuat.”


Kiara mengikuti aba-aba dokter itu.


“Aaaaaaaa ....”


Kiara berteriak panjang dengan segenap tenaga yang ada, hingga suara itu pun terdengar nyaring.


“Oek ... Oek ... Oek ...”


Gunawan berdiri dari kursi roda itu dan melangkah perlahan melihat putrinya yang baru saja keluar dari rahim sang ibu.


“Kayla Anastasia, kamu cantik. Sama seperti ibumu,” ucap Gun, yang ingin segera menggendong putrinya, tapi tidak bisa karena bayi itu masih berlumuran darah.


Lalu, Gunawan menghampiri istrinya lagi. “Kamu hebat, Sayang.”


Kiara tersenyum dan menangis. “Mas.”


“Aku mencintaimu, Kiara.”


Tangan Gun terangkat untuk menghapus air mata yang mengalir di ujung mata Kiara dan mengecup pucuk kepalanya.


Hati Kiara sungguh senang, seperti rasa senangnya karena dapat melahirkan anak dari pria yang ia cintai.


“Aku juga akan selalu mencintaimu, Mas. Tidak akan pernah berubah.”


“Terima kasih, Sayang.” Gunawan kembali memeluk istrinya dengan perasaan gembira.


“Ah,” Kiara terdiam dan merasakan sakit karena bagian sensitifnya tengahdi lakukan tindakan oleh sang dokter.


Dokter menjahit beberapa bagian di tempat itu.


“Lanjutkan obrolannya, Pak. Supaya ibu tidak merasakan sakit. Tinggal sedikit lagi selesai kok,” sahut dokter yang berada di bawah kaki Kiara yang sedang terbuka.


“Wanita di cafe itu bukan siapa-siapa,” ucap Gun, sembari mengelus rambut Kiara lembut.


“Kamu.”


“Iya, aku mendengar semua yang kamu ucapkan saat aku koma.” Gunawan kembali tersenyum tepat di wajah Kiara. “Wanita itu memang masa laluku dulu. Tapi kini kami sudah memiliki kehidupan kami sendiri. Dan, kami sudah menyepakati itu, karena aku sangat mencintaimu. Aku tidak ingin kehilanganmu dan aku ingin dua anak lagi darimu.”


Kiara memukul dada suaminya.


“Aww.” Gunawan yang masih lemah pun meringis karena pukulan itu.


“Maaf, Mas. Abis kamu nakal. Aku baru saja melahirkan, masa di suruh lahirin dua anak lagi.”

__ADS_1


Gunawan pun tertawa, di iringi tawa dokter dan suster yang ada di ruangan itu.


__ADS_2