Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
keluar kandang singa, masuk kandang macan


__ADS_3

Di Bandung, Kedua insan itu masih meluapkan rindu dengan beradu bibir. Ruang rapat itu menjadi saksi ciuman panas yang dilakukan dua orang yang berlawanan jenis.


“Mmpph ...” Hanin menahan dada Kenan, sebagai kode agar pria itu melepaskan pangutan itu. Pangutan yang sudah dilakukan Kenan untuk kesekian kalinya.


Kenanpun akhirnya melepas pangutan itu.


“Huh ...” Dada Hanin naik turun. Nafasnya tesengal. “Kamu jahat, aku kehabisan nafas, Ken.”


Hanin memukul dada Kenan. Namun, pria itu malah tersenyum dan menatap wajah istrinya lembut. Kenan manrik kursi yang ada di sana dan duduk dekat di hadapan Hanin.


“Itu baru hukuman kecil, untuk wanita pembangkang sepertimu,” ucap Kenan sembari mengangkat tangannya untuk mengusap sisa saliva yang menempel di bibir bawah Hanin yang berwarna merah muda.


“Bibirmu bengkak.” Kenan tersenyum, ia sungguh ganas mencium bibir itu hingga saat ini bibir Hanin seperti tersengat lebah.


Hanin dengan cepat memegang bibirnya.


“Hmm ... kamu menyebalkan, Ken.’ Rengek Hanin. “Setelah ini, aku pasti kena marah lagi.”


“Siapa yang memarahimu?” tanya Kenan.


“Bos-bos aku tadi.” Hanin tertunduk lesu. “Aku melakukan kesalahan dalam bekerja, Ken. Perusahaan ini mengalami kerugian besar karana aku. Lalu, kamu tiba-tiba datang memperkeruh keadaan.”


“Memperkeruh keadaan?” Kenan mengeryitkan dahinya. Entah apa yang ada dalam pikiran sang istri, ssekarang.


Hanin mengangguk. “Aku tahu kamu punya banyak koneksi dan mudah menemukanku. Tapi ini masih jam kerja, kamu pasti memaksa untuk masuk ke ruangan ini. Hmm ... aku pasti akan semakin dimarahi setelah ini.”


Kenan semakin mengeryitkan dahi. “Apa wanita ini benar-benar tidak mengetahui bahwa perusahaan ini milikku?” gumannya.


“Tidak akan ada yang memarahimu kecuali aku.”


Hanin memanjukan bibirnya. “Maksudmu?”


“Perusahaan ini milikku.”


Hanin terkejut dan berusaha untuk tidak percaya. Ia menggelengkan kepalanya. “Tidak mungkin. Kamu pasti berbohong.”


“Terserah, tapi memang itu kenyataannya.”


“Perusahaanmu bergerak di bidang properti, sedangkan ini, ekport import.” Hanin mencoba mengelak, lalu ia kembali melihat lambang yang terpampang besar di dinding ruang rapat.


“Ah, si*l.” Hanin menutup wajahnya. Ia benar-benar ceroboh, mengapa bisa tidak sedetail itu untuk mengingat bahwa lambang perusahaan ini sama seperti lambang perusahaan Kenan yang besar dan terkenal di bidang properti.


“Hei, kau tidak perlu menyesal.” Kedua tangan Kenan menggengam kedua pergelangan tangan Hanin dan membuka tangan yang menutupi wajah cantik Hanin. “Kita memang berjodoh, karena kemanapun kamu pergi, yang kamu pijak adalah tempatku.”


Hanin merengutkan bibirnya. “Jadi aku keluar kandang singa, masuk kandang macan. Ah, sama saja.”

__ADS_1


Kenan tertawa. Tubuhnya bergoyang di iringi tawanya yang geli. Sungguh, sang istri benar-benar lucu dan mengemaskan. Ia hingga lupa bahwa perusahaannya ini sedang mengalami kerugian akibat ulah wanita yang sedang duduk dihadapannya.


“Lalu, bagaimana pengiriman barang itu?” tanya Hanin yang masih merasa bersalah karena telah mengakibatkan perusahaan kenan rugi.


Kenan tersenyum dan kembali mengelus rambut Hanin. “Sudah di urus asistenku dan tim yang lain.”


“Oh, syukurlah.” Hanin mengurut dadanya.


“Eits. Jangan senang dulu! Kamu tetap punya hutang padaku. Karena ulahmu, aku harus membayar pajak yang seharusnya menjadi tanggung jawab pembeli.”


“Kenapa begitu?”


“Ya, sebagai kompensasi. Aku menawarkan itu agar klienku tidak kabur. Dan, sebagai gantinya, aku meminta padamu.”


“Kenan, jahat sekali kamu. Aku tidak punya uang untuk mengganti pembayaran pajak itu. Dan, lagi pasti jumlahnya besar.”


Kenan tersenyum licik. “Tidak perlu di bayar dengan uang.”


Hanin mengangkat kepalanya untuk manatap wajah Kenan. “Maksudmu?”


“Cukup dengan melayaniku.”


Hanin semakin menajamkan tatapannya. Ia tahu arti kata melayani yang pria itu maksud.


“Brengs”k” Hanin mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Kenan.


“Tapi kamu menikmati ciuman panas pria brengs*k ini, tadi.” Ledek Kenan dengan suaran sensual persis di telinga Hanin.


“Ken .. Ken .. Jelek, menyebalkan.” Teriak Hanin. ia sungguh kesal.


Kenan tertawa, lalu berdiri dan hendak meninggalkan Hanin yang masih duduk mematung di sana. Namun, Ia kembali membungkuk dan berkata persis di telinga Hanin. “Wajahmu merah, aku tidak sabar membuat wajahmu merah di atas ranjang dan memberi merah pada bagian tubuhmu yang lain.”


Hanin bergidik ngeri.


Kemudian, Kenan berjalan menuju pintu dan keluar dari ruangan itu. Ia kembali tersenyum, saat akan menutup pintu itu. Sedangkan Hanin terus menatap pria itu tajam. Ia pun mengambil pulpen di meja dan mencoba melemparkannya ke arah Kenan. Tapi, dengan cepat Kenan menutup pintu, sehingga pulpen itu memantul ke pintu.


“Arrgggg....” Hanin mengacak-acak rambutnya. Ia sungguh frustrasi. Ia tak tahu bagaimana hidupnya nanti bersama Kenan, pria paling mengerikan yang pernah ia temui.


Di luar, Kenan menemui Vicky untuk menyelesaikan masalah yang sudah sang istri perbuat. Sedangkan, Hanin masih berada di ruang rapat. Ia malu untuk keluar dari ruangan itu. Ia malu bertemu teman-temannya ddi luar sana.


Beberapa jam kemudian. Masalah itu pun selesai. Mr. Anderson menerima maaf Kenan dan dengan senang menerima penawaran Kenan yang meguntungkan untuknya.


Untunglah semua masalah perusahaan dapat teratasi. Lalu, Kenan memanggil Pak juan dan kedua pria paruh baya yang telah memarahi istrinya tadi.


Sementara, Riza berusaha menemui Hanin di ruang rapat. “Han.”

__ADS_1


“Kak.”


“Kamu tidak apa-apa?” Riza langsung duduk di kursi yang di duduki kenan tadi. Ia berhadapan dekat dengan Hanin.


Hanin menggeleng. “Aku tidak apa-apa.”


“Ini sudah sangat siang, bahkan hampir sore. Pasti kamu belum makan. Aku membawakan makan siang. Ini makanlah dulu.” Riza membuka kemasan makanan berwarna putih. Ia membeli mie ayam, karena dari kemarin Hanin ingin memakan makanan ini.


“Ngga usah repot-repot, Kak.”


“Tidak, tidak repot. Dari kemarin energimu terkuras. Di marahi juga memakan energi yang besar loh.”


Hanin tertawa kecil. “Bukannya orang yang marah yang energinya ke kuras.”


Riza ikut tertawa. “Ya, menerima omelan juga menguras energi. Butuh hati yang lapang untuk menerima kalau kita sedang dimarahi dan membuat kelapangan hati itu butuh energi.”


“Pengalaman ya, Kak? Jangan-jangan sering di omelin Pak Juan juga,” ucap Hanin tersenyum sembari menyuapkan makanan itu.


“Engga sih,” jawab Riza. “Tapi enggak salah lagi,”


Mereka berdua pun tertawa.


“Ekhem.” Tiba-tiba terengar suara deheman dari Kenan.


Hatinya kesal melihat Hanin yang sedang bercengkrama ria dengan Riza, apalagi Hanin semapat-sempatnya tersenyum dan tertawa kecil di hadapan pria itu.


“Eh, Pak Kenan. Maaf Pak, saya hanya memberi makan siang untuk Hanin, kasihan dari kemarin dia dimarahi Pak juan.”


Rahang Kenan mengeras. Raut wajahnya dingin. Ia menatap tajam ke arah Hanin. Hanin menutup kembali makanan yang Riza berikan, padahal ia sangat ingin memakan makanan itu. Namun, ia tahu bahwa Kenan sedang marah.


“Ikut aku!” Kenan menarik lengan Hanin dan membawanya keluar kantor.


Riza tidak dapat menahan atau membantu Hanin, karena ia pikir Kenan masih marah atas kesalahan Hanin dalam bekerja.


Semua karyawan melihat ke arah Hanin dan Kenan yang melintas. Kenan terlihat posesive menggenggam tangan Hanin, tak peduli dengan banyaknya tatapan orang yang melihat aksinya. Sementara Hanin hanya mengikuti langkah Kenan sembari menunduk


"Ih mau dong di pegang tangannya gitu sama Pak Kenan," ucap salah satu karyawan yang di lintasi Kenan dan Hanin.


"Apa aku buat kesalahan juga ya, supaya di tarik gitu sama Pak Kenan," ucap salah satu karyawan wanita yang lain.


Sesampainya di lobby, Kenan mengirim pesan pada Vicky.


“Vick, tolong urus semuanya. Gue balik ke apartemen xxx. Lu nanti balik sendiri ke Jakarta. Gue akan lama di sini."


Setelah mobilnya tiba di depan lobby, ia langsung memasukkan Hanin ke dalam mobil dan membawa wanita itu ke apartemen pribadi yang ia miliki di kota ini. Apartemen yang tidak di ketahui oleh siapapun, kecuali Vicky. Bahkan, Vanesa pun tidak mengetahui salah satu asset yang Kenan miliki ini. Ia akan mengurung sang istri di tempat ini, sembari mengamankan Hanin dari semua orang yang mungkin akan mencari dan menyakitinya, hingga ia memastikan Hanin dapat di terima oleh sang ibu dan memastikan bahwa keluarga Vanesa juga menerima keputusannya.

__ADS_1


__ADS_2