Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Andai waktu bisa diputar


__ADS_3

Pagi ini, Kiara malas sekali untuk bangun. Tubuhnya remuk dan terasa lelah, selain ia harus melayani ***** sang suami, ia pun harus melayani segala keperluannya. Kiara seperti robot yang Gunawan beli untuk memenuhi semua kebutuhannya, baik kebutuhan biologis dan keperluan yang dibutuhkan diluar dari itu.


Dret ... Dret ... Dret ...


Ponsel Kiara berdering. Ia mendengar ponsel yang berdering itu di atas nakas. Perlahan, ia mulai bangkit dengan sedikit meringis dan kesusahan.


Entah mengapa ***** Gunawan saat ini berkali lipat. Setiap malam, sang suami menggunakan tubuhnya lebih dari satu kali, terkadang pagi pun, ia memintanya lagi. Padahal dulu, pria tu alergi menyentuh tubuh sang istri. Ia malah lebih suka bermain dengan wanita bayaran di luar sana. Namun kini, itu tidak lagi. Gunawan tidak pernah sekali pun ke club malam, karena ia lebih suka bermain dengan tubuh istrinya. Ia pun tak mengerti mengapa seperti itu?


Kiara meraih ponselnya dan meilhat nama ‘My Mom’ tertera di layar itu. Kemudian, ia pun mengangkatnya.


“Iya Mam.” Suara Kiara masih terdengar lemas.


“Ra, kamu baik-baik saja?” tanya Rasti.


“Baik, Mam.”


“Tapi kenapa suaramu seperti itu? kamu sakit?” tanya Rasti panik.


“Tidak, Mam. Kiara baru bangun tidur, jadi suaranya masih berat begini.”


“Ya ampun, Ra. Ini sudah siang. Pasti kamu tidak membuatkan sarapan untuk suamimu?”


“Iya, lupa. Mas Gun juga ngga bangunin Kiara tadi.”


“Kebiasaan. Dasar manja! Untung suamimu pengertian,” ucap Rasti.


Kiara hanya tersenyum kecut.


Ya, baru kali ini, ia bangun kesiangan sejak ia tinggal lagi di rumah ini. dan, tumben sekali, Gunawan pun tak membangunkannya, padahal biasanya selelah apapun istirnya, ia akan membangunkan Kiara untuk membuatkan sarapan untuknya, karena Gunawan memang menyukai masakan Kiara.


“Oh iya, Mami sampai lupa. Mami ingin mengajakmu dan suamimu datang ke sini besok malam,” kata Rasti lagi.


“Ada apa, Mam?”


“Tidak ada apa-apa. Hanya ingin makan malam bersama. Mami rindu kumpul dengan anak-anak Mami. Sekalian, Mami ingin membicarakan tentang pesta pernikahan kakakmu.”


“Oh.” Kiara mengangguk.


Ia tak terkjut karena sebelumnya Rasti memang sudah menceritakan hal ini padanya melalui telepon.


“Kamu dan suamimu bisa kan?” tanya Rasti.


“Nanti, Kiara tanyakan Mas Gun.”


“Makan malam di rumah Mami, besok ya, Ra. Pokoknya kamu dan Gunawan harus datang.”


“Iya, Mami.” Kiara menyerah.


“Ya sudah, baik-baik di sana ya, Nak. Mami yakin kelembutan seorang istri dapat melunakkan hati suami. Lambat laun Gunawan akan memaafkanmu dan kalian bisa hidup bahagia.”


“Hmm ...” Kiara hanya tersenyum kecut dan hanya membalas perkataan sang ibu sekedarnya.


Lalu, Rasti pun menutup panggilan telepon itu, setelah memberi sedikit wejangan untuk putrinya. Kiara pun meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Perlahan, ia turun dari tempat tidur dan membersihkan diri.


Sebelum itu, ia melihat kalender, ia melewati jadwal pemeriksaan kandungan rutin.


“Ya ampun, kenapa lupa sih?” gumam Kiara, lalu ia pun membuka laci lemari meja riasnya.


Ia melihat banyak tumpukan obat di sana yang belum ia minum satu pun. Obat itu padahal obat untuk kesehatan janin yang tengah berkembang di perutnya. Perut Kiara juga nampak membulat kecil, padahal usia kandungan itu sudah memasuki lima bulan lebih.


Kiara bergegas ke kamar mandi dan segera ke rumah sakit untuk memeriksakan kandungannya.


****


“Non, mau kemana?” tanya pelayan di rumah Gunawan.


Wanita paruh baya itu, melihat majikan perempuannya sudah terlihat rapih dan cantik.

__ADS_1


“Eh, Bibi. Ini, Kiara mau ke rumah sakit, mau periksa dia.” Kiara menunjuk perutnya.


“Oh, ga ditemai Bapak, Non?” tanya si Bibi lagi.


Kiara menggeleng. “Bapak lagi sibuk. Ga apa-apa sendiri juga.”


Kiara berlalu dari hadapan si Bibi dan hendak berdiri di teras dan menunggu taksi online yang ia pesan tiba.


“Apa mau saya temani, Non?” tanya si Bibi yang tidak tega melihat majikannya periksa kandungan sendirian.


Si Bibi adalah saksi ketulusan cinta Kiara terhadap Gunawan. Sejak menikah dan menempati rumah itu, si Bibi adalah pelayan yang tidak pernah berganti dengan orang lain. wanita paruh baya ini, menyaksikan bagaimana Gunawan memperlakukan istrinya dan walau Gunawan tidak pernah membawa wanita ke rumah itu. Namun, dulu Gunawan jarang pulang dan sering meninggalkan sang istri sendirian di rumah.


Kiara kembali tersenyum. “Ga usah. Udah Bibi nunggu rumah aja.” Kiara menepuk bahu si Bibi.


Tak lama kemudian, taksi online yang Kiara pesan pun tiba. Si Bibi menemani Kiara di teras hingga Kiara menaiki mobil, bahkan si Bibi yang membukakan pintu mobil itu.


****


“Ken, gue izin keluar ya,” ucap Vicky pada Kenan, ketika ia menongolkan kepalanya ke dalam ruangan Kenan.


“Mau kemana lu?” tanya Kenan.


“Gue mau jenguk keponakan.”


“Istrinya Vedy udah lahiran?” tanya Kenan lagi.


Vicky mengangguk. “Iya, udah dari kemarin. Makanya gue mau jenguk.”


Kenan menyandarkan tubuhnya pada punggung kursi. “Kalau gue ga sibuk, gue juga pengen jenguk anaknya Vedy.”


Vedy adalah adik lelaki Vicky yang membaktikan dirinya pada negara, ia tergabung dalam kesatuan militer. Sebelumnya, Vicky menetap di Surabaya dan baru empat bulan terakhir ia kembali ditugaskan di Jakarta. Vedy sudah menikah tiga tahun yang lalu. Namun, baru kali ini dia berkesempatan untuk menjadi seorang ayah.


“Ya udah, ga usah sekarang, Ken. Kapan waktu lu sempet aja,” jawab Vicky.


“Oke, saam buat Vedy.”


Di perjalanan, Vicky membeli semua keperluan yang adiknya minta untuk istrinya, karena Vedy memang tidak sempat keluar rumah sakit untuk terus mendampingi istrinya yang selalu melahirkan dengan melalui operasi caesar.


Setelah satu jam, Vicky pun sampai di rumah sakit itu. Ia langsung menuju lift dan manaiki lantai tempat adik iparnya diberi perawatan.


“Hai,” sapa Vicky pada adik dan istrinya yang sedang menyusui anak yang baru dilahirkan.


“Eh, bang.” Vedy menghampiri sang kakak, sementara istri Vedy hanya memberi senyuman.


“Wah, lu bawain semua pesenan gue,” ucap Vedy senang.


“Ya iyalah, lu kan tadi minta itu. ya gue beliin semua.”


“Lu emang kakak the best lah.” Puji Vedy dengan merangkul erat sang kakak.


Istri Vedy selesai menyusui dan memberikan putranya pada Vicky.


“Wah, anak lu ganteng, Ved,” kata Vicky setelah menerima bayi itu dan menggendongnya.


“Ati-ati gendongnya, Bang. Begini!” Vedy mengajari sang kakak cara menggendong bayi yang benar.


“Kak Vicky kapan nyusul? Udah cocok gendong anak tuh,” ledek istri Vedy.


Vicky tersenyum, ia kembali mengingat saat Kiara mengandung anaknya. Mungkin, jika janin itu tidak keguguran, saat ini ia sudah memiliki anak yang berusia empat tahun.


“Tau lu, jangan main-main mulu napa! udah tua Bang. Nikah, nikah. Jangan kawin mulu,” sahut Vedy yang memang mengetahui kebiasaan sang kakak. Namun, tidak mengetahui skandal yang pernah ia perbuat terhadap adik Kenan.


Vedy dan istrinya tertawa. Vicky hanya tersenyum sembari terus memandang bayi mungil yang tampan itu.


Setelah menjenguk keponakannya, Vicky pun pamit dan hendak kembali ke kantor.


“Bang, boleh minta tolong lagi, ngga?” tanya Vedy, sebelum Vicky benar-benar pamit.

__ADS_1


“Apa?” tanya Vicky lagi, karena sang adik memang senang merepotkannya.


“Tolong ambilin, obat di bagian farmasi dulu dong. Nih, tadi di telepon bagian itu kalau obat Raisa udah ada.” Vedy menyebut nama istrinya.


“Iya.” Vicky mengangguk, karena ia pun melihat sang adik tengah repot mengantarkan istrinya yang ingin buang air besar.


“Cuma tinggal ambil doang, Bang. Udah gue bayar,” ucap vedy lagi yang kembali diangguki Vicky.


Vicky beralih ke ruang farmasi. Arah matanya berkeliling ruangan yang cukup luas itu. di sana, ia menangkap sosok wanita yang sedang duduk sendiri sambil memainkan handphone.


Ya, wanita itu adalah Kiara.


Vicky tersenyum dan menghampirinya. “Ra.”


Kiara mendongak dan melihat senyum pria yang selalu ia tolak ini. Vicky sedikti menunduk untuk lebih mendekatkan kepalanya pada Kiara yang sedang duduk.


“Eh, kamu. Lagi apa?” tanya Kiara.


“Nemenin istri orang yang lagi periksa kandungan,” ledek Vicky.


Kiara tertawa. Tawa yang tak pernah lagi ia keluarkan sejak kembali ke rumah Gunawan. Biasanya, Kiara hanya tersenyum.


“Kok sendirian? Gunawan ga nemenin?” tanya Vicky.


“Masih sibuk. Lagian masih ga terlalu urgen kok. Aku bisa sendiri.”


Vicky duduk di samping Kiara. “Oh, aku kira si Gun masih memeprlakukanmu dengan tidak baik.”


Kiara menggeleng. “Tidak, Kami sudah baik-baik saja. Malah sangat baik sekarang.”


Vicky mengangguk. “Baguslah.”


“Kamu sudah selesai?” tanya Vicky.


Kiara mengangguk. “Iya, ini sudah tinggal menunggu obat saja.”


“Kamu sudah makan?” tanya Vicky lagi.


Kiara menggeleng, ia lupa belum mengisi perutnya sejak pagi tadi.


“Ya ampun, Ra. Kok belum makan. Ini udah jam dua belas lewat loh, wanita hamil ga boleh telat makan, kasihan nutrisi buat bayi kamu jadi terhambat,” ucap Vicky panik, membuat Kiara tersenyum.


Vicky langsung berdiri. “Kalau begitu tunggu di sini. aku akan beliin kamu makanan di kantin.”


Pria itu segera berlari menuju kantin dan meninggalkan Kiara yang terduduk tersenyum. Sungguh, ia menyesal. Andai saja, dulu ia tidak dibutakan dengan obsesinya terhadap Gunawan. Mungkin, saat ini, ia sudah bahagia bersama suami yang mencintai dan perhatian padanya, juga anak itu mungkin tidak gugur karena ia tidak mengalami tekanan.


Tak lama kemudian, Vicky datang menghampiri Kiara dengan berlari. Ia pun langsung duduk di samping Kiara dan menyerahkan satu box makanan lengkap dengan daging dan sayuran di dalamnya.


“Ayo makan dulu! Nanti kalau namamu di panggil, aku yang ke sana,” ucap Vicky.


Kiara menerima makanan itu dan membukanya. Vicky masih hafal, makanan kesukaannya. Ia pun tersenyum dan mulai menyuapi makan itu ke mulutnya sendiri.


Nama Kiara pun di panggil dengan pengeras suara untuk mengambil obat, sedangkan Kiara masih menikmati makanan itu.


Vicky langsung berdiri dan menghampiri meja bagian farmasi itu, lalu mengambil obat Kiara.


“Ra, ini obatmu, jangan lupa diminum! Yang ini tiga kali sehari dan yang ini juga. tapi yang ini vitamin, hanya diminum satu kali sehari.” Vicky menjelaskan dengan detail pada kiara seperti yang di jelaskan petugas farmasi tadi padanya, sembari menunjuk obat –obat itu.


Kiara mengelap mulutnya, selesai memakan habis makanan itu, lalu mendengarkan penjelasan Vicky. Ia pun kembali tersenyum. “Terima kasih.”


“Sama-sama, Ra.”


Mereka pun terdiam beberapa menit. Lalu Kiara kembali bicara, “Vick, maafin aku ya. Aku sering menyakitimu. Aku malu, karena kamu masih saja baik padaku.”


Vicky tersenyum. “Itu karena cinta, Ra. Aku juga tidak tahu, mengapa aku tidak pernah bisa membencimu.” Vicky menarik nafasnya.


“Andai aku dilahirkan kembali, aku pasti akan memilihmu,” ucap Kiara dengan pandangan lurus ke depan dan mata yang berkaca-kaca.

__ADS_1


Entah mengapa, ia ingin sekali waktu bisa kembali diputar dan ia tidak akan melakukan kebodohan dengan menyebut nama Gunawan sebagai pria yang telah mengahamilinya di hadapan Rasti dan Kenan.


__ADS_2