
“Sayang, malam ini aku akan pulang telat,” ucap Kenan.
Hanin mengangguk dengan arah mata yang masih serius di bagian dada Kenan. Hanin tengah memakaikan suaminya dasi.
“Ibunya Marcel masih di luar kota?” tanya Hanin.
Nanti malam, Kenan memang akan menghadiri acara business expo dan akan membawa Marcel ke sana seperti janjinya pada Misya tempo hari.
Kenan mengangguk. “Masih, makanya dia meminta aku menemani putranya.”
“Kok ada sih anak seusia itu menyukai bisnis? biasanya anak seusia itu lagi senang-senangnya main sama anak-anak seusianya, nongkrong, kongkow-kongkow gitu. Ini malah senengnya main sama bapak-bapak,” kata Hanin bingung, pasalnya orang yang menyukai bisnis itu memang biasanya pria dewasa bahkan sudah mendekati tua.
Kenan tertawa. “Ada lah, Sayang. Dulu aku juga seperti Marcel. Aku suka bermain dengan teman-teman Papi, olahraga dan berbincang dengan teman-teman papi yang sudah bapak-bapak."
“Berarti kamu tua sebelum waktunya,” ledek Hanin.
Kemudian, tangan Hanin menepuk dada sang suami, menandakan bahwa dasi itu telah terpasang sempurna.
Kenan melingkarkan kedua tangannya di pinggang Hanin dan menempelkan tubuh sang istri padanya. “Makanya daddy James ingin sekali menantu sepertiku. Aku itu menantu idaman setiap orang tua.”
“Ish, banggain diri sendiri,” ledek Hanin lagi, sembari melepaskan pelukan itu dan hendak keluar dari kamar itu menuju dapur untuk menyiapkan sarapan.
Kenan mengikuti langkah istrinya di belakang. “Harusnya kamu juga bangga dong. Lagian, jika orang tuamu masih hidup, mereka juga pasti akan menyukaiku.”
Hanin tersenyum dan menoleh ke belakang. “Iya aja deh.”
Kenan kesal dan berjalan cepat, lalu dengan sigap membopong Hanin.
“Ah.” Hanin terkejut karena dirinya sudah melayang ke udara, sembari tertawa. “By, aku mau di bawa kemana?”
“Ke kamar, abis nyebelin banget sih.”
Hanin tertawa melihat kekesalan sang suami yang sudah membanggakan diri dihadapannya, tetapi reaksinya malah biasa saja dan terkesan meledek.
“Ih, kamu nanti kesiangan.”
“Biarin.”
Alih-alih membawa Hanin ke kamar, tapi Kenan justu mendudukkannya di sofa ruang televisi. Kenan berjonkok di sana sembari melingkarkan kedua tangannya di perut sang istri. Mereka berhadapan tanpa jarak.
Lalu, Kenan mendekatkan bibirnya pada bibir ranum Hanin dan hendak ******* bibir itu.
“By, ada Bi Lastri.” Hanin menahan dada Kenan. ia melirik ke arah Lastri yang sesekali melirik ke arah mereka yang masih ingin bercumbu.
Kenan menarik nafasnya. Ia kesal karena apartemen ini tidak senyaman ketika mereka tinggal berdua dulu. Padahal sebelum Lastri tinggal di sini, ia dengan leluasa melakukan apapun pada istrinya termasuk menyuruh Hanin memasak dengan hanya menggunakan bikini saja. Namun apalah daya, saat ini ia membutuhkan Bi Lastri untuk menjaga istri kesayangannya ini.
“Sudah, sana berangkat!” Hanin menepuk lagi dada suaminya.
“Baiklah.”
Kemudian, Kenan berdiri. Hanin pun ikut berdiri. Ia melirik ke arah Lastri yang sudah tidak lagi berada di jangkauan mereka. Lalu, dengan cepat Hanin mengecup sekilas bibir Kenan. ia tersenyum dan berjalan cepat ke dapur.
“Tuh kan! Emang kamunya minta aku makan terus.”
__ADS_1
Hanin menengok ke belakang dengan menjulurkan lidahnya. Saat ini, justru malah ia yang senang mengerjai Kenan, padahal sebelumnya Kenan yang selalu mengerjainya.
Kini, Kenan dan Hanin duduk berhadapan, menikmati sarapan pagi.
“Awas ya, nanti malam aku balas. Jangan tidur sebelum aku pulang!”
Hanin tersenyum sembari menyunyah makanan di mulutnya. “Kalau kamu pulangnya malam dan aku ngantuk. Aku terpaksa tidur duluan.”
“Ck, nyebelin,. Tunggu pembalasanku nanti malam,” ucap Kenan dengan senyum menyeringai sembari menatap gemas ke arah istrinya.
“Siapa takut?”
****
Hari mulai gelap, Kenan sengaja mengajak Vicky ke acara itu. Mereka pun menjemput Marcel.
“Di sana bener ga ada Misya, kan?” tanya Vicky sambil menyetir.
Kenan duduk di samping Vicky. “Ngga. kalau dia ada, gue ga bakal mau jemput anaknya lah.”
Vicky mengangguk. “Gue kirain. Jangan coba-coba main api, Ken! nanti lu kebakar.”
Kenan menoleh ke arah sahabatnya. Kini mereka berbincang sebagai sahabat bukan asisten dan bos.
“Buat apa juga gue main api,” jawab Kenan.
“Ya dulu lu kan pernah suka Misya.”
“Oh, ya? Mami bilang gitu ke Misya. Apa tuh anak ga ke ge-er an?” tanya Vicky tak percaya.
Kenan mengangkat bahunya. “Ngga tahu, lebih tepatnya gue ga peduli.”
“Tapi kalo ternyata si Misya ke ge-er an dan ngedeketin lu, Gimana? Apa nanti Hanin ga cemburu dan kabur lagi?”
Kenan menoleh ke arah Vicky dengan raut wajah dingin. Ia tak ingin seseorang mengatakan Hanin akan kabur darinya, karena membayangkannya saja ia tak bisa.
“Terserah itu haknya dia mau deketin gue, yang penting gue nya ga mau,” jawab Kenan dingin. “Lagian kalaupun sekarang gue nemenin Marcel, itu udah atas persetujuan Hanin.”
“Baguslah kalau begitu. Gue cuma khawatir, karena yang gue lihat, lu tuh bucin banget sama Hanin. Gue ga bisa bayangin kalo istri lu cemburu terus kabur lagi.” Vicky tertawa.
“Rese lu!”
Vicky kembali tertawa.
Kemudian, mereka pun sampai di rumah Misya dan Marcel sudah menunggu kedatangan mereka. anak lelaki itu berdiri di gerbang rumahnya. Lalu, memasuki mobil Kenan dan pergi bersama.
Di tempat itu, mereka asyik bebrincang dan bercengkrama. Kenan akui bahwa Marcel memang pintar, banyak hal yang anak itu ketahui. Hal itu cukup membuat Kenan dan Vicky bisa nyambung berbincang dengan anak tanggung itu.
Hampir satu jam, mereka berada di area aara itu.
“Cel, kamu lapar?” tanya Kenan.
Marcel megangguk. “Iya, Om.”
__ADS_1
“Baiklah, kita makan di sana ya.” Kenan menunjuk tempat makan yang ada di area itu.
Tak lama mereka duduk di tempat makan itu, Kenan langsung mengeluarkan ponselnya. Ia ingin menelepon Hanin dengan panggila video call.
Dret ... Dret ... Dret ...
Di sana, Hanin tengah duduk di sofa sembari menonton televisi, ditemani Lastri. Ia melihat ponselnya yang berdering dengan nama “Hubby.”
“Hai, sayang. lagi apa?” Kenan langsung bertanya, setelah layar ponsel itu memperlihatkan wajah sang istri.
“Aku lagi nonton sama Bibi. Nih!” Hanin mengarahkan ponselnya pada Lastri dan ruang televisi.
“Sayang, tunggu aku ya. Jangan tidur dulu loh!”
Hanin tertawa. “Iya.”
“By the way, kamu lagi apa? Bagaimana acaranya, seru?” tanya Hanin.
“Ngga seru karena ga ada kamu.”
“Gombal.”
Kenan tertawa. dan di sebelahnya Vicky seperti ingin muntah mellihat sahabatnya seperti ini.
“Aku lagi makan sama Vciky dan Marcel.” Kenan memperlihatkan wajah Vicky dan Marcel di sana.
“Hai, Han.” Sapa Vicky pada kamera yang mengarah pada dirinya.
“Hai, tante.” Marcel juga menyapa Hanin dan tersenyum.
“Hai juga.” Hanin membalas sapaan Vicky dan Marcel.
Lalu kemera ponsel itu kembali pada Kenan. “Kamu udah makan, Sayang?”
“Udah.” Hanin mengangguk. “Ya udah, nanti hati-hati pulangnya. Aku tunggu hukuman kamu.”
Kenan tersenyum. “Dasar nakal.”
“Ups, ada anak di bawah umur nih,” ucap Vicky melirik ke arah Marcel yang tengah asyik makan, karena ia mendengar video call itu menjadi ajang kemesuman pasutri ini.
Lalu, Kenan mengakhiri sambungan telepon itu dengan kecupan.
“Dasar bucin,” ucap Vicky yang kesal melihat Kenan dan Hanin seperti abege yang sedang berpacaran.
“Ngiri lu,” ledek Kenan.
“Bukan ngiri, tapi malu ada bocil.” Vicky kembali menunjuk Marcel yang duduk di sebelahnya.
“Ngga apa kok, Om. Aku sudah terbiasa, karena waktu Papa masih ada juga seperti itu ke mama,” sahut Marcel.
Seketika Vicky terdiam dan mengerutkan dahi. Bisa-bisanya sekarang Misya seperti kegatelan mengejar Kenan, padahal almarhum Excel dulu sangat memujanya.
Sedangkan, ekspresi Kenan berbanding terbalik dengan Vicky. Ia justru terlihat biasa saja dan tidak peduli, karena yang ada dipikiran Kenan hanya ingin cepat pulang dan memberi hukuman pada istrinya yang semakin nakal.
__ADS_1