
Kenan menarik kursi yang ada di sana dan duduk di samping sang istri yang tengah berbaring. Tangan kanan Kenan mengelus perut Hanin, sedang tangan kirinya mengelus wajah itu.
“Aku benar hamil?” tanya Hanin.
Ia meminta sang suami untuk membantunya duduk. Kenan pun berdiri, mengangkat tubuh Hanin dan membereskan bantal itu agar dapat di sandarkan dengan nyaman oleh sang istri.
“Terima kasih.” Hanin tersenyum. Kenan pun membalas senyum itu lalu kembali duduk di depannya.
“Aku juga terkejut mendengar berita ini, karena sebelumnya tidak ada tanda-tanda bahwa kamu sedang mengandung.” Kenan mengeser kursi yang ia duduki agar lebih dekat dengan tubuh sang istri.
“Iya, aku tidak merasakan apapun. Hanya terakhir, memang masa periodeku sangat sedikit.”
“Please, jangan bertindak sendiri. Ok. Untung saja, bayi kita masih selamat. Kalau sampai terjadi apa-apa denganmu dan calon bayi kita. Aku akan murka pada Vanesa.”
Hanin menggeleng. “Tidak, Ken. bukan salahnya. Ini salahku. Aku yang menemuinya.”
“Tapi untuk apa? Hah. Kamu tahu Vanesa orang yang frontal,” ucap Kenan kesal.
“Ya, aku pikir, dia tidak seperti itu.”
“Tidak semua wanita sepertimu, Sayang.” Kenan menempelkan keningnya pada kening Hanin.
“Maaf, Sayang,” ucap Hanin lirih.
“Mulai sekarang, kemana pun kamu pergi, harus bersamaku. Harus aku yang menemani.”
Hanin menggeserkan kepalanya dan menatap lekat wajah sang suami. “Serius? Kamu kan sibuk.”
“Tidak ada kata sibuk untuk ibu dari anak-anakku.”
“Hmm ... so sweet,” kata Hanin genit, membuat Kenan semakin gemas.
“Jangan memancingku!”
“Memancing apa?” tanya Hanin pura-pura tidak tahu, padahl ia memang sedang menggida suaminya.
“Dokter bilang, kamu harus bedrest dan kita tidak boleh berhubungan selama satu minggu ke depan.”
“Hanya satu minggu? Masa sih? Biasanya kalau bedrest itu, memang tidak boleh kontak fisik selama satu bulan bukan?” Hanin meledek suaminya yang memang tidak pernah kuat untuk tidak menyentuh dirinya walau hanya satu hari.
Kenan memajukan tubuhnya dan mengungkung tubuh sang istri yang tengah tersenyum menyeringai.
“Itu sama saja kamu menyiksaku.”
Hanin tertawa. “Latihan. Jadi nanti pas puasa dua bulan setelah aku melahirkan, kamu ga kaget.”
__ADS_1
****
Riza mengendarai mobilnya sendiri, sedangkan Hansel mengantar Vina pulang, karena hari semakin gelap.
Riza mengendarai mobil menuju alamt yang ia lihat dari ponsel Hansel. Ia segera mendatangi rumah paman Vanesa, karena sejujurnya ia pun sangat merindukan wanita itu.
Beberapa menit kemudian, Riza sampai di depan rumah itu. Ia melangkahkan kaki perlahan mendekati pintu rumah itu dan menekan bel.
Ting Tong
Riza hanya menekan bel itu satu kali, walau sedari tadi si tuan rumah itu tak kunjung membukakan pintu.
Tak lama kemudian, pintu itu pun terbuka.
“Vanesa,” panggil Riza.
“Riza,” Vanesa pun terkejut dengan sosok pria yang satu bulan kemarin telah menghilangkan sedikit rasa sedihnya karena dicampakkan Kenan.
“Kamu di sini?” tanya Riza.
Vanesa mengangguk.
“Dimana paman dan bibimu?” Riza mengedarkan pandangan ke dalam rumah itu.
“Mereka sedang ada urusan di Ney York beberapa hari ini.”
Mereka berdiri berhadapan dan bersikap canggung.
“Kamu tidak menyuruhku masuk?” tanya Riza.
“Oh, ya, sorry.” Vanesa membuka lebar pintu itu dan menyuruh Riza untuk masuk.
Kemudian Riza duduk di kursi tamu dan Vanesa pun duduk di depannya.
“Kamu tahu, aku memegang perusahaan Kenan di sini,” kata Riza memulai percakapan.
“Jadi kamu juga tinggal di kota ini?” tanya Vanesa tak percaya.
Riza mengangguk. “Persisnya setelah kamu pergi dari apartemenku waktu itu.”
Vanesa tertunduk malu. Ia malu karena telah memilih ikut bersama kedua orang tuanya dan tidak memilih Riza karena ia belum siap untuk hidup sederhana.
“Aku mencoba meniti karirku di sini. Aku ingin sukses, agar kamu bisa memandangku.”
Vanesa menenggakkan wajahnya ke arah Riza. “Maaf, Za.”
__ADS_1
“Dan, sekarang kamu membuat kesalahn pada wanita yang dicintai Kenan.”
Vanesa membelalakkan matanya. Ia kembali teringat dengan darah yang mengalir di paha Hanin. “Bagaimana keadaannya? Apa dia baik-baik saja? Bayinya, apa Hanin sedang mengandung?”
Vanesa panik dan takut.
Riza mengangguk. “Ya, Hanin tengah mengandung dan untung saja bayi itu selamat. Tapi sepertinya, Kenan tetap akan memberimu perhitungan.”
“Riza, aku tidak sengaja. Aku masih emosi melihat wanita itu. Ayah membuangku karena dia. Kenan mencampakkanku karena dia,” teriak Vanesa. “Sekarang semua popularitas dan kemewahanku hilang. Aku harus tinggal di rumah sederhana ini.”
Vanesa menangis.
“Diam, Nes. Bisa tidak kamu tidak menyalahkan orang lain. Hanin datang ke sini dengan niat baik. Dia ingin minta maaf padamu. Dia juga ingin menyatukan kita karena dia tahu kamu sedang mengandung anakku.”
Vanesa mengangkat wajahnya dan menatap Riza. Ia terdiam, mulutnya seolah bisu dan tak mampu berkata-kata.
“Lalu, apa yang akan Kenan lakukan padaku?” tanya Vanesa lirih, sungguh ia takut pada Kenan.
“Hanin tidak akan membiarkanmu masuk penjara. Dia pasti akan membujuk Kenan untuk tidak memperkarakan ini.”
Vanesa tertunduk lesu. Ia pun menyesali tindakannya yag sangat brutal tadi. Memang ia tidak bisa mengendalikan emosi, atas dasar itu pula Kenan tidak pernah mencintainya.
Vanesa menangis dan Riza pun mendekati wanita itu, wanita yang tengah mengandung anaknya. Riza memeluk wanita itu.
“Aku takut, Za. Aku takut Kenan melaporkanku ke polisi,” ujar Vanesa menangis di dada Riza.
“Tenanglah. Berdoa saja, semoga itu semua tidak terjadi, karena aku akan melindungimu. Aku juga tidak akan membiarkanmu menderita, apalagi ada anakku di sini.” Riza mengelus perut Vanesa.
“Terima kasih, Za. Maaf, maafkan aku,” rintih Vanesa yang menyesali perbuatannya.
Riza pun semakin mengeratkan pelukan itu. “Aku akan ada untukmu, Nes.”
Vanesa menerima pelukan hangat itu. Pelukan yang selalu hangat dibandingkan Pelukan Kenan. Ia baru menyadari betapa besarnya cinta Riza dan baru menyadari bahwa kasih sayang Kenan memang hanya kasih sayang sebagai teman dekat atau kerabat dekat, tidak lebih.
Di rumah sakit, Kenan mengurus sang istri dengan telaten. Ia menyuapi Hanin dan membantunya membersihkan diri, hingga malam semakin larut.
“Kamu tidur dimana?” tanya Hanin yang melihat Kenan hendak merebahkan diri di soga yang tersedia di depannya.
“Di sini.” Kenan menunjuk sofa kecil itu.
Sofa yang tak mungkin menampung kakinya yang panjang, jika Kenan merebahkan tubuhnya di sana.
“Tidak muat, Ken. sofa itu kecil. Lebih baik kamu tidur di sampingku. Sini!” Hanin menepuk kasur empuk yang ia tempati.
Kenan tersenyum senang. Ia pun mendekati sang istri. Hanin mulai menggeser tubuhnya agar ranjang pasien itu muat diisi berdua. Kenan menaiki ranjang itu dan merebahkan tubuhnya.
__ADS_1
“Seharusnya kita tidur di hotel dan menikmati honeymoon yang tertunda,” ucap Kenan lirih.
Hanin nyengir. “Hmm... maaf, sayang.”