Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Mencoba melepaskan


__ADS_3

Di pesta yang meriah itu, Gunawan dikejutkan dengan kenyataan bahwa pria yang menanamkan sejumlah uang yang cukup besar itu adalah pria yang sebentar lagi akan menjadi suami Vely. Wanita yang ia sakiti dulu. Sungguh ironi. Selama ini, ia merasa orang yang paling tersakiti. Namun, ternyata di balik itu semua justru dirinyalah orang yang paling br*ngs*k, karena sudah merusak gadis baik-baik seperti Vely, juga telah menyia-nyiakan wanita cantik seperti Kiara. Dan, lepas dari itu semua, mereka memiliki andil untuk membantunya ketika perusahaannya terpuruk. Ia sungguh menyesal karena telah menyimpan dendam, padahal ia pun tidak jauh lebih baik dari mereka yang telah menyakiti dirinya.


Gunawan mengerlingkan pandangan dari tempat ia berdiri di panggung bersama kedua mempelai dan persis di samping Rasti. Entah mengapa Rasti bersikeras meminta dirinya untuk menjadi pendamping di acara ini. dari sana, Gunawan melihat kebersamaan antara Vicky, Vely, Dave, dan Kiara. Terlihat wajah riang Kiara saat bersama Vicky. Sempat terbesit di hatinya untuk melepaskan sang istri, jika Kiara lebih bahagia bersama Vicky. Kiara tampak lebih ceria bersama Vicky dibanding jika bersamanya.


Sepertinya setelah acara ini selesai, Gun akan mengajak Kiara untuk bicara serius. Jika melepaskan adalah hal yang terbaik untuk Kiara, ia akan mencoba melepaskan, walau rasanya sulit karena sudah dipastikan kini nama yang terukir di hati Gun adalah Kiara.


Masih di pesta pernikahan Kenan dan Hanin. pesta meriah yang di adakan tahun ini.


Kenan, Hanin, dan Rasti cukup terkejut oleh kehadiran James dan Alin. Ya, kedua orang tua Vanesa itu tengah berjalan menuju panggung. Ternyata, mereka hadir. Sesuatu yang tidak di sangka-sangka oleh Rasti, karena Rasti pikir mereka tidak akan datang.


“Selamat, Rasti,” ucap James dengan datar, di iringi Alin.


Rasti tersenyum sumringah. “Terima kasih, Mas. Terima kasih Alin. Aku pikir kalian tidak akan datang.”


“Aku pasti datang,” jawab James yang kemudian berdiri di hadapan Kenan.


Kenan dan Hanin tersenyum ke arah James dengan senyum agak terpaksa, karena wajah James pun masih tidak bersahabat.


“Selamat, Ken.” James mengulurkan tangannya dan langsung di sambut oleh Kenan.


“Terima kasih, Dad.” Kenan tersenyum.


“Tak disangka, ternyata kau bisa mengambil tanda tanganku,” bisik James saat mereka berpelukan ala pria.


“Maaf, Dad. Tapi saya harus lakukan itu.”


“Itu tidak buruk, walau aku masih belum bisa menerima pernikahan mereka,” ucap james setelah pelukan itu terlepas.


“Daddy pasti akan menerima pernikahan mereka. Apalagi setelah cucu Daddy lahir nanti.”


“Kau memang pria sejati, Ken. aku pikir putriku yang akan beruntung memiliki pendamping sepertimu.” James menepuk bahu Kenan. lalu, ia melirik ke araha Hanin.


Hanin hanya bisa menunduk takut.

__ADS_1


“Vanesa juga beruntung, karena Riza adalah pria yang bisa di andalkan,” jawab Kenan.


Kemudian, James beralih untuk menyalami Hanin, begitu pun dengan Alin yang hanya mengikuti langkah suaminya. istri James itu hanya bisa memberi ucapan selamat pada Rasti dan kedua mempelai tanpa berkata apapun lagi. James pun datang hanya untuk memberitahu Kenan bahwa tindakannya yang menyatukan putrinya dengan pria yang tidak ia sukai itu, telah ia ketahui.


Tak lama kemudian, Vicky tergesa-gesa menghampiri Kenan yang masih berdiri di samping Hanin dan masih menyalami para tamu yang datang.


Vicky membisikkan sesuatu di telinga Kenan. Lalu, Kenan pun menangkap sosok rivalnya yang datang di pesta ini. Padahal ia sama sekali tak mengundang orang itu. Rival dan pejabat yang membantunya itu hadir dengan posisi berdiri yang berbeda.


“Gue ga ngundang mereka, Ken,” bisik Vicky.


“Perketat penjagaan, Vick.”


Vicky langsung mengangguk dan mengerti perintah Kenan. ia juga kahwatir kedatangan musuh Kenan dalam bisnis itu malah berniat buruk atau bisa jadi memperkeruh pesta yang sudah berjalan lancar.


“Ada apa, Sayang?” tanya Hanin yang melihat raut wajah suaminya berubah.


"Tidak apa. Vicky hanya memberitahu rivalku datang ke pesta ini, padahal aku tidak mengundang mereka.”


“Rival? Oknum yang akan menjebloskanmu ke penjara karena mengira kamu melakukan suap?” tanya Hanin berbisik.


“Aku mendengar percakapan kalian saat di rumah sakit. Walau kamu ga cerita, tapi aku coba cari tahu lebih detail dari Vicky.”


“Sayang, aku tidak ingin kamu khawatir.” Kenan masih terkekeh kalau dirinya baik-baik saja.


Hanin menangkup rahang Kenan yang keras. “Justru jika aku tidak tahu. Aku akan semakin khawatir. Berbagilah semua masalahmu padaku. Oke. Karena kamu ga sendirian.”


Kenan ttersenyum dan langsung mengecup kening Hanin. Momen ini pun diabadikan oleh fotografer yang berada di bawah mereka. Banyak foto candid yang diambil si fotografer pada kedua mempelai yang memang sangat romantis ini.


Kenan sudah dua kali di panggil pihak berwajib karena kasus suap ini, persis sebelum ia berangkat ke Amerika. Namun, tidak ada bukti yang mengarah bahwa Kenan bersalah, bahkan bukti yang diberikan rivalnya pun tidak cukup kuat untuk memenjarakan Kenan. Dan, kini kondisi itu berbalik. Vicky sudah banyak menemukan bukti bahwa rivalnya itulah yang melakukan suap dengan beberapa pejabat tinggi yang terlibat di belakangnya. Mereka saat ini tengah mengintai Vicky dan ingin menghabisi assisten Kenan itu untuk menghapus jejak bukti yang ada di tangannya. Namun, mereka tidak tahu bahwa bukti itu sudah ia berikan pada pihak berwajib untuk di proses.


****


Hari semakin larut. Walau pesta sudah selesai, tetapi para sahabat masih berbincang di area terbuka yang menyuguhkan pemandangan kolam renang dan taman yang indah di sana. Setelah lama berbincang dan bersenda gurau. Akhirnya, mereka pun pulang.

__ADS_1


Kini, yang tersisa hanya tingga rasa lelah. Rasti sengaja menyewa banyak kamar untuk keluarganya menginap dan beristirahat. Di saat Gunawan hendak menuju kamar. ia melihat Kiara dan Vicky berbincang berdua di sudut kursi teras. Mereka terlihat akrab, membuat Gunawan semakin yakin akan keputusannya.


Kenan dan Hanin tengah berada di dalam kamar hotel itu. Mereka sudah lebih segar, setelah membersihkan diri dan berganti pakaian dengan pakaian santai. Rasti malah sudah terlelap di kamar itu. Ia sangat kelelahan, karena seharian ia mempersiapkan acara ini.


Kiara juga sudah berada di kamarnya bersama sang suami.


Vicky pun menginap di kamar yang lain, karena ia juga cukup lelah jika harus menyetir mobil sendiri dan pulang. Lagi pula tidak ada orang yang menantinya untuk pulang. Sedangkan, Vely kembali ke hotel tempat ia menginap bersama tunangannya di tempat yang berbeda.


Gunawan duduk di atas tempat tidur sembari menyandarkan tubuhnya pada dinding ranjang itu. Ia menatap pergerakan Kiara yang sedang mengeringkan rambut setelah selesai membersihkan diri. Gun bernajak dari ranjang dan menghampiri sang istri. Ia memeluk Kiara dari belakang.


“Kamu wangi.” Gun mengendus leher dan bahu Kiara.


Kiara pun hanya menuruti yang suaminya lakukan. Ia menengadahkan kepala untuk memebri akses pada sang suami untuk menyentuhnya. Kiara teringat ajakan Vicky tadi saat mereka berbincang di teras. Lagi-lagi Vicky meyakinkan wanita itu untuk kembali padanya, setelah ia melahirkan. Ajakan Vicky memang sangat menggiyurkan untuk wanita yang sedang labil seperti Kiara.


“Aku menginginkanmu,” ucap Gunawan dengan suara serak. Ia memang sudah lama tidak menyentuh istrinya dan itu sangat membuatnya rindu.


Rindu yang mungkin nantinya hanya akan menjadi sebuah kerinduan dan tidak tersalurkan, karena setelah sang istri melahirkan, ia akan melepaskannya dan membiarkan Kiara bahagia dengan kebahagiaannya sendiri.


Gunawan membalikkan tubuh Kiara dan mendekatkan wajahnya pada wajah wanita yang ia inginkan ini. Ia mencium lembut bibir Kiara. Seketika ia terkejut, karena Kiara pun membalas ciuman itu. padahal biiasanya wanita itu tidak merespon ciumannya.


Mereka berciuman semakin dalam, *******, menyesap dan saling membelit lidah. Kiara pun ingin membuktikan pada dirinya sendiri apa cinta untuk pria ini sudah benar-benar hilang?


Dengan masih dalam pangutan, Gunawan menuntun sang istri hingga ke ranjang. Pria itu pun melakukannya dengan sangat lembut dan untuk pertama kali, Kiara menemukan lagi pria yang ia cintai. Tubuh Kiara menerima semua sentuhan itu, bahkan kini ia sangat menikmati penyatuan ini.


Gunawan tersenyum melihat ekspresi wajah sang istri yang juga menikmati. Ia mengelus wajah Kiara dengan lembut dan menyingkirkan anak rambut yang menutupi sedikit wajahnya.


“Maaf, aku selalu menyakitimu dulu.”


Kiara menatap wajah Gunawan.


“Tapi mulai saat ini, aku ingin kamu bahagia. Aku akan melepasmu, jika itu membuatmu bahagia,” ucap Gunawan di tengah penyatuan.


Kiara hanya menatap wajah Gunawan lekat. Mungkin, ini memang jalan yang terbaik untuk keduanya. Di saat Vicky mengajaknya untuk kembali, ternyata Gunawan pun sudah menyerah.

__ADS_1


Malam ini, Kiara melayani suaminya dengan baik, walau mungkin ini untuk yang terakhir kali. Gunawan pun berfikir yang sama, ia ingin menjadikan malam ini seolah malam pertama yang tak pernah mereka rasakan, karena setelah ini ia akan menjauh dari kehidupan Kiara dan meresmikan perpisahannya usai melahirkan.


__ADS_2