
Setelah makan malam dan berbicang sebentar dengan Rasti, Kenan beralih ke ruang kerja, sementara Hanin ke kamar Kenan. Kamar yang menceritakan banyak hal tentang sang suami, karena di sana banyak foto-foto Kenan sejak kecil hingga remaja. Di sana juga berjejer piala dan penghargaan yang Kenan terima sejak duduk di taman kanan-kanak hingga saat ini, karena baru satu tahun yang lalu, Kenan mendapat piagam penghargaan sebagai pengusaha muda sukses versi majalah bisnis ternama.
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel Kenan berdering, di sana tertera nama sang asisten. Kenan yang sedang duduk di kursi kerjanya itu pun langsung menyambar ponsel yang tergeletak tepat di samping laptopnya.
“Ya, Vick.” Kenan menampilkan wajahnya di layar itu, karena mereka melakukan panggilan melalui video call.
“Ternyata prediksi lu bener, Ken. Om James menyebarkan skandal gue dan Kiara ke publik,” ujar Vicky yang mendapatkan info dari seorang kenalannya di sebuah program televisi yang akan menyiarkan berita itu besok pagi.
“Dia tidak punya senjata lain selain itu, Vick.”
Vicky menggangguk. “So?”
“Mereka dah langsung lu bungkam ''kan?” tanya Kenan.
“Tenang, gue langsung gerak cepet. Tidak akan ada berita apapun besok,” jawab Vicky menyeringai.
“Good.” Kenan tersenyum.
“Terus, besok lu ke kantor Om James?” tanya Vicky.
“Iyalah, Pasti. Dia harus tahu apa yang anaknya lakukan. Dia pikir hanya orang lain yang memiliki skandal.”
Kenan tersenyum di sambut dengan senyum Vicky. Kemudian, Kenan memutuskan panggilan telepon itu. Lalu, ia juga mematikan laptopnya, sudah hampir satu jam ia meninggalkan sang istri di kamar itu sendiri.
D kamar, Hanin duduk di meja rias. Ia sudah tampak segar dengan balutan pakaian tidur berbahan satin yang tipis dan menerawang. Pakaian tidur yang hanya bertali satu di bagian bahu di lengkapi dengan jubah tipis yang panjangnya satu jengkal dari pinggul. Hanin memoles wajahnya dengan krim malam dan memberi lip gloss strawberry pada bibir yang sudah terlihat merah muda walau tidak menggunakan lisptik yang berwarna terang.
Lalu, Hanin berdiri dan melihat sekeliling kamar itu. Ia tersenyum saat melihat foto Kenan yang berusia lima tahun, tepatnya saat pria itu memakai seragam taman kanak-kanak. Kenan tampak lucu dan menggemaskan. Hanin sampai tersenyum sendiri sembari mengelus perutnya. Ia membayangkan memiliki anak dengan wajah seperti foto yang tengah ia lihat ini. Pasti sangat lucu.
Tiba-tiba kedua tangan kekar itu melingkar pada perut Hanin.
“Kenapa senyum-senyum sendiri? Apa yang lucu?” tanya Kenan dengan menaruh dagunya di pundak kanan Hanin.
Hanin menoleh ke arah suaminya. “Kamu lucu, ganteng.”
“Oh, iya dong,” jawab Kenan dengan jumawa.
“Kecilnya lucu tapi kenapa udah gedenya nyebelin ya,” ledek Hanin.
“Aww.” Hanin meringis, karena tiba-tiba Kenan menggigit lehernya.
“Ish, kamu kebiasaaan.” Hanin membalikkan tubuhnya.
Kenan tertawa dengan Tangan yang masih setia melingkar di pinggang sang istri.
__ADS_1
“Kan, nyebelin ‘kan!”
“Biarin,” ucap Kenan yang semakin mendekatkan wajahnya pada wajah sang istri.
Kenan mengangkat tangannya menyentuh wajah itu. Kenan mengusap pipi dan menyelipkan anak rambut Hanin ke belakang telinga. Lalu, turun untuk mengusap bibir ranum Hanin.
“Sejak pagi, aku belum memakan ini.” Ibu jari Kenan terus mengelus bibir itu, sembari tersenyum.
“Bukannya udah ya?” tanya Hanin meledek suaminya.
“Ngga jadi, karena ada Mami.”
Hanin tertawa. Melihat Hanin tertawa, sontak Kenan pun tersenyum lebar. Senang rasanya setiap waktu, ia bisa melihat wajah ini dan menikmatinya sebanyak yang ia mau.
Hanin mengalungkan kedua tangannya di leher Kenan. Bibir keduanya sudah saling membelit dan berpaut. Kenan memangut bibir itu lagi dan lagi, hanya menyisakan sebentar untuk Hanin menghirup udara, lalu diulang kembali.
Dengan masih memangut bibir, kedua tangan Kenan bergerilya menelusuri setiap lekuk tubuh itu, hingga berakhir pada kedua b*k*ng Hanin yang bulat. Kenan mengangkat tubuh itu seperti koala dan Hanin langsung melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Kenan. Mereka berjalan menuju ranjang tanpa melepas pangutan panas yang kian memanas.
Malam yang semakin larut diirngi rintikan hujan yang cukup deras di luar, membuat kedua insan ini semakin menggebu dalam gelora hasrat. Mereka bergulat dalam berbagai macam gaya untuk meraih kenikmatan yang tiada tara. Udara luar yang dingin disertai dengan udara air conditioner yang juga dingin di dalam kamar ini, tetap tidak membuat peluh yang keluar dari pori-pori keduanya surut. Mereka terus bergerak bebas, menikmati aktifitas yang mengeluarkan banyak energi itu.
“Eum ....” Hanin melenguh saat Kenan bergerak aktif tanpa henti, hingga sesuatu dalam tubuhnya itu ingin meledak.
“Bersama, Sayang. Tunggu aku,” ucap Kenan dengan terus bergerak semakin cepat.
Akhirnya, keduanya teriak saat aktifitas itu berakhir. Mereka pun mencapai titik kenikmatan dalam aktftitas itu. Namun, kali ini mereka sadar dan memelankan teriakannya, karena kamar Kenan bukanlah kamar yang kedap suara.
Pagi ini, Kenan berangkat lebih pagi. Ia akan mampir ke rumah James, sepertinya ia tidak mengunjungi kantor James melainkan langsung ke rumah orang tua Vanesa yang sudah ia anggap seperti orang tuanya sendiri.
“Pagi, Pak.” Petugas kemanan keluarga James menyapa, Kenan yang akan memasuki rumah itu.
“Pagi. Daddy ada di dalam?” tanya Kenan.
Petugas keamanan yang bersergam safari hitam itu pun membukakan pintu gerbang dan mempersilahkan Kenan masuk, karena tidak ada perintah dari bosnya kalau Kenan tidak di perbolehkan masuk rumah ini.
“Terima kasih,” ucap Kenan setelah, memasuki rumah itu.
Lalu, ia keluar dari mobil dan malangkahkan kakinya untuk memasuki kediaman mewah itu. Di halam rumah, Alin dan James sedang duduk untuk menikmati udara pagi sambil menyesap teh hangat dan camilan yang tersaji di meja itu.
“Mau apa anak itu?” tanya Alin yang sedang menuangkan teh untuk suaminya.
Kenan melihat Alin dan James yang sedang duduk di sana. Ia pun menghampiri kedua orang yang ia hormati itu. Namun, sayang kedua orang yang sudah memasuki usia lebih dari setengah abad itu, masih saja merasa terhina, padahal Kenan selalu menghormati mereka. Jika, Kenan tidak menghormati James, untuk apa ia bersusah payah datang ke rumah beberapa waktu lalu, untuk meminta maaf dan menerima pukulan James.
James dan Alin menatap tajam ke arah Kenan yang sedang berjalan menghampiri mereka.
“Mau apa kau ke sini?” tanya James, menutup majalah bisnis yang sedang ia baca.
__ADS_1
Kenan menggeser kursi itu dan duduk, walau belum di persilahkan oleh pemiliknya.
“Dad. Aku datang bukan untuk mencari musuh. Aku menghargai Daddy dan Mommy. Aku tidak ingin hubungan yang tadinya harmonis berubah menjadi musuh,” uap Kenan.
“Itu karena dirimu, Ken. Kau yang telah memulai genderang perang,” jawab Alin.
“Aku?” tanya Kenan dengan menunjuk dirinya sendiri. “Aku sudah meminta maaf pada waktu itu, hingga aku pun menerima pukulan Daddy, karena aku tahu keputusanku memang menyakitkan. Namun, cinta tidak bisa dipaksa, bukan? Aku dan Vanesa tidak akan pernah menjadi sepasang suami istri karena kami adalah teman. Aku tidak bisa memberi cinta yang lebih dari sahabat pada Vanesa. Bukankah kejujuran ini lebih baik diketahui sekarang, dibanding nanti setelah kami menikah. Justru itu akan lebih menyakitkan untuk Vanesa.”
James dan Alin terdiam.
“Aku juga tahu, apa yang kalian lakukan pada keluargaku. Asal Daddy dan Mommy tahu, aku sudah membungkam infotainment itu semalam. Pagi ini, Mereka tidak akan menyiarkan informasi yang Mommy Alin berikan itu.”
“Kurang ajar kamu, Ken.” Alin mengangkat tangannya untuk memukul Kenan. Namun, James menahannya.
“Mommy dan Daddy tahu, Vanesa tidak sedang bersedih. Sejak dua hari kemarin, dia bersama mantan kekasihnya.”
Kenan meletakkan amplop besar di meja itu.
“Pria itu yang telah mengambil kehormatan Vanesa sejak SMA.”
“Berani-beraninya kau malah menuduh putriku yang memiliki skandal.” Geram Alin.
Namun, James dengan duduk tenang mengambil amplop itu dan membukanya. Di sana, terlihat foto-foto kebersamaan Vanesa dengan Riza. Foto pada saat mereka keluar dari club kelas atas itu dan foto saat keduanya berada di apartemen.
Seketika, rahang James mengeras.
“Jika, Mommy dan Daddy tidak percaya, kalian bisa datang ke Bandung dan ke apartemen yang tertera di sana. Kebetulan pria itu adalah karyawanku.”
James terdiam dan tak bisa bicara sepatah kata pun. Alin pun sama. Wanita paruh baya itu tak bicara lagi setelah melihat foto-foto putrinya bersama seorang pria.
Kenan berdiri dan hendak pamit meninggalkan kedua orang ini.
“Oh iya, mobil Vanesa yang tertinggal di club, malam itu, masih ada di kantorku. Aku akan menyuruh orang untuk mengantarkannya ke sini.
Kenan hendak kembali membalikkan tubuhnya. Namun, tidak jadi. Ia kembali berkata, "Aku tidak akan memberitahu hal ini pada siapapun. Rahasia Vanesa selalu aman ditanganku. Oleh karena itu, aku mohon Dad, jangn pernah menganggu keluargaku lagi Permisi.”
Kenan membalikkan tubuhnya dan pergi meninggalkan kedua orang tua yang semakin kesal, karena mereka tidak berhasil membuat nama baik keluarga Aditama tercoreng.
Ya, saat Vanesa mabuk. Ia diantar oleh Riza dan membawanya ke apartemen pria itu. Riza pun melupakan mobil Vanesa yang masih terparkir di club malam. Mobil sedan mewah berwarna merah itu adalah mobil pemberian Kenan dua tahun yang lalu. Mobil itu dilengkapi dengan GPS yang terhubung ke ponsel milik Kenan. Kenan terpaksa memberikan mobil itu, sebagai hadiah pertunangan untuk sang kekasih, atas desakan Rasti. Namun, ia semakin tidak menyesal memberikan mobil itu, karena dengan mobil itu, ia dapat menelusuri semua yang tidak ia ketahui sebelumnya. Bahkan, informasi ini mampu membuat musuh mereka tak lagi berkutik.
Setelah Vicky berhasil mengambil mobil itu, ia pun melihat rekaman cctv bahwa Vanesa di bawa oleh seorang pria yang cukup Vicky kenal. Kemudian, Vicky mencari tahu tentang Riza dan tempat tinggalnya. Hingga terbukalah, siapa Riza sebenarnya. Sewaktu SMA, Kenan tidak pernah kenal pacar Vanesa. Ia hanya mendengar pria itu dari curhata-curhatan Vanesa yang kala itu menjadi teman baiknya.
“Si*l,” geram James sambil melempar foto-foto yang semula ia pegang.
“Dasar anak tidak thu di untung. Minta di bela, tapi yang di bela malah sedang asyik-asyikan.”
__ADS_1
Alin terdiam dan merengutkan bibirnya. “Ayo, kita ke Bandung, Dad.”
Di perjalanan, Kenan tersenyum. Mereka pikir akan semudah itu menghancurkannya. Kenan akan memasang badan untuk melindungi orang-orng yang ia cintai, apalagi skandal ini pastinya akan menyeret nama Hanin sebagai pelakor, yang semula mencoba merebut suami Kiar, kini merebut tunangan Vanesa. Padahal, semua yang terjadi murni kehendak Kenan sendiri, karena dari awal Kenan yang telah memaksa wanita berhati lembut dan berparas cantik itu, menjadi miliknya.