
Kenan meninggalkan Jane begitu saja tanpa kata. Pria itu dengan menahan marah berjalan menghampiri istrinya di seberang sana.
"Sorry, May I have to go. Thank you. Thank you, Jane." Vicky berpamitan pada Jane, May dan kedua temannya. Ia ikut berlari mengikuti Kenan yang sudah berjalan jauh lebih dulu.
"Excuse me," suara Kenan menginterupsi, membuat keempat orang yang sedang duduk di meja itu lun menoleh dan terdiam, terutama Hanin dan Rea.
"Sorry, I borrow my wife." Kenan langsung menarik tangan Hanin.
Tak lama kemudian, Vicky pun melakukan hal yang sama. "Sorry, I borrow my wife."
Kedua bule itu pun hanya menganga dan melihat dua wanita cantik yang baru saja mereka kenal, dibawa oleb suaminya masing-masing. Dua bule asal Irlandia itu tidak tahu bahwa dua wanita yanv sedang bercengkrama dengan mereka sudah menikah.
"By, lepas! Tangan aku sakit," rengek Hanin pada suaminya yang tengah menarik tangannya dan memaksa Hanin melangkah cepat mengikuti langkah Kenan.
Kenan menghiraukan rengekan itu. Ia tetap berjalan cepat menuju lift dan kembali menarik tangan Hanin ketika lift terbuka.
"By, kamu mau ngapain?" tanya Hanin sambil memukul tangan Kenan yang tengah menariknya.
Kepala Hanin menengok ke kanan dan kiri. Kini, ia dibawa Kenan ke sebuah lorong dan melewati beberapa pintu kamar hotel, hingga Kenan menempelkan kartu pada salah satu pintu dan menarik Hanin untuk masuk.
"By, lepas." Hanin masih merengej karena tangab Kenan tak kunjung terlepas dari tanganya.
"Ah."
Tiba-tiba Kenan menghempaskan Hanin ke ranjang. Kenan memang sengaja memesan satu kamar untuk ia beristirahat dengab istrinya di sini sambil menunggu acara di luar selesai dan kembali ke kapal untuk pulang.
Kenan menindih tubuh Hanin, kedua Kakinya mengapit kedua kaki Hanin. Lalu, ia membuka jas nya dan menggulung kemejanya sampai siku.
"By, kamu mau apa?" tanya Hanin panik, pasalnya saat ini raut wajah Kenan seperti pertama ia kenal pria ini. Sangar dan dingin, seolah dirinya adalah mangsa yang siap untuk dilahap.
"Kamu tahu, kamu membuatku marah, Sayang," ucap Kenan dengan suara berat.
Wajah mereka dekat, sangat dekat dan tak berjarak hingga Hanin merasakan aroma mint dari mulut suaminya itu.
Hanin menahan dada Kenan yang hendak mencium bibirnya. "Memangnya hanya kamu yang boleh marah. Aku juga marah."
Hanin mengerahkan tenaganya untuk melepaskan diri dari kungkungan itu. Ia mendorong kuat tubuh Kenan hingga Kenan berguling ke samping. Kemudian, Hanin langsung bangkit dan seger berlari ke arah pintu. Tapi dengan cepat Kenan menarik pinggang Hanin dan mengangkatnya, lalu kembali menghempaskan tubuh itu ke ranjang.
"Kamu egois. Ish, menyebalkan." Hanin memukul dada Kenan, tapi pria itu malah tersenyum menyeringai.
"Kenapa hanya kamu yang boleh tertawa dengan wanita lain, sementara aku tidak." Sontak air mata itu pun mengalir di pelupuk mata Hanin.
Posisi Kenan kini kembali menindih tubuh istrinya. "Hei, kenapa menangis?"
Hanin memalingkan wajahnya, menutupi air mata yang tiba-tiba mengalir.
"Hei, kenapa?" tanya Kenan yang tidak tahu bahwa Hanin sedang cemburu.
Cemburu karena kedekatan suaminya dengan Jane. Padahal bagi Kenan, Jane tidak lebih dari sekedar teman bisnis.
Kenan menarik dagu Hanin agar wajah itu menatap wajahnya.
Kedua mata mereka bertemu. Wajah Hanin terlibat sedih dan Kenan paling tidak bisa melihat istrinya menangis.
"Tau ah, kamu nyebelin." Hanin kembali memalingkan wajahnya.
"Hei, kamu kenapa? Kenapa sikap kamu aneh. Terus pake nangi lagi." Kenan menghapus jejak air mata di pipi mulus istrinya.
Namun, Hanin masih cemberut.
"Kamu tahu, aku ga bisa melihat kamu menangis. Aku juga ga bisa lihat kamu tertawa dan senyum pada pria lain." Kenan masih mengusap pipi itu lembut.
__ADS_1
Hanin menatap wajah suaminya. "Aku juga ga bisa lihat kamu tertawa dengan wanita lain."
Sontak Kenan tertawa. Ia baru menyadari bahw istrinya cemburu.
"Kamu cemburu sama Jane?"
"Tau ah," Hanin memalingkan lagi wajahnya ke arah lain.
Dan, Kenan dengab cepat menarik wajah Hanin lagi untuk menatapnya. "Hei, Jangan buat aku gemas dan ingin memakanmu sekarang."
"Ken ... Ken ... Jelek. Sebel." Hanin memukul dada suaminya dengan brutal.
Ia memang sangat kesal dengan pria ini. Sangat kesal.
Kenan tertawa. Ia senang melihat wajah kesal istrinya. Apalagi saat ini Hanin benar-benar kesal, membuat Kenan semakin gemas.
"Dengar!" Kenan memaksa Hanin untuk menatapnya. Ia masih berada di atas tubuh Hanin dan bertumpu pada kedua lengannya.
"Aku dan Jane sudah berbisnis hampir sepuluh tahun. Tidak ada hubungan yang lebih antara kami selain bisnis. That's it." Kenan menatap.lekat kedua bola mata istrinya. "Lagi pula, aku tipe pria yang tidak suka punyaku dinikmati banyak orang. Jadi aku tidak mungkin ada hubungan dengan wanita seperti Jane. Ngerti."
Hanin diam. Ia tahu Kenan tidak berbohong. Kenan memang tipe pria yang tidak mudah dekat dengan wanita apalagi cinta. Ia juga bukan pemain dan cenderung pemilih.
"Lepas! aku mau keluar," rengek Hanin sambil.memegang kedua lengan kokoh Kenan yanv sedang bertumpu.
Kenan menggelenggkan kepalanya. "No."
"Ken, Jangan rese deh! Aku tinggin Kevin di pantai."
"Biarin. Kevin ada yang jagain. Sekarang, kamu harus tanggamung jawab."
"Tanggung jawab apa?" tanya Hanin menantang.
Cup
"Mmpphh ..."
Hanin tidak siap, serangan Kenan terlalu tiba-tiba dan tergesa-gesa.
Kenan melahap bibir itu lagi dan lagi, meluapkan kekesalan atas apa yang tadi ia lihat.
"Ah, Ken."
Tangan Kenan yang terlatih pun sudah membuka semua kain yang membungkus tubuh indah Hanin. Tanpa Hanin sadari Kenan telah memperdaya dengan ciuman yang seketika mengosongkan otaknya. Wanita itu hanya fokus pada gairahnya sendiri.
"Ken, Eum ..." Hanin semakin melenguh saat bibir dan tangan Kenan mempermainan semua sisi area sensitifnya.
"Ken, oh. Aku ngga kuat."
Kenan menyeringai. Ia senang karena telah membuat wanita di bawah kungkungannya itu di dera nikmat.
"Ken, cepetan."
"Cepat apa?" tanya Kenan yang sengaja menyiksa istrinya.
"Ken, hmm ..." rengek Hanin karena Kenan terus mempermainkan tubuhnya membuat ia menggelinjang hebat.
"Cepet, Ken. Aku ga tahan. Kamu jahat."
Kenan tertawa. "Jangan pernah tertawa seperti itu lagi di depan pria lain."
"Iya, iya. cepet ah."
__ADS_1
"Sabar, Sayang. Nakal banget sih," bisik Kenan sensual di telinga Hanin dan menggigit daun telinga itu sambil menyatukan miliknya.
"Ah." Hanin kembali mend*s*h. Akhirnya ia tak tersiksa dan berganti dengan kenikmatan yang luar biasa.
Hanin menerima hukuman yang diberi Kenan. Entah sampai kapan hukuman ini akan berakhir. Sejenak ia melupakan Kevin. Untung saja ia telah menetok banyak ASI untuk anak yang di asuh oleh pengasuhnya. Terkadang Rasti pun turun tangan mengurus Kevin atas kemauannya sendiri.
Di tempat lain, tak jauh berbeda. Vicky pun sedari tadi berdebat dengan Rea. Namun bedanya, mereka tidak berada di dalam kamar seperti Kenan dan Hanin.
Vicky masih mencoba membujuk Rea yang tengah merajuk.
"Sayang, udah dong. Jangan begini terus! Sampai kapan kamu mau marah sama aku?"
Rea masih kesal. Ia sengaja tak memperdulikan Vicky dan lebih asyik bersama Thia dan Nisa di pantai.
Setelah Vicky menarik istrinya tadi ketika berbicang dengan dua bule itu, Rea langsunv menghentakkan tangan Vicky dan berlari ke arah pantai, lalu bergabung dengan kedua adiknya.
"Dek, kalian main dulu berdua ya. Om Vicky mau ngobrol sama Kakak."
"Oke," jawab Thia yang juga diangguki Nisa.
Kemudian, Thia mengajak Nisa ke tempat yang lain.
"Re." Vicky menarik lengan Rea ahar wanita itu menghadap ke arahnya.
Namun, Rea memalingkan wajah. Ia malas melihat wajah suaminya.
"Jangan tanya dia pernah tidur sama aku apa ngga! karena jawabannya pasti malah bikin kamu sakit hati. Aku memang pria br*ngs*k, Re. Dan, kamu tahu itu. Tapi sekarang tidak. Kamu wanitaku satu-satunya sekarang dan nanti."
"Bulsh*t. Dasar gombal!" Rea masih memalingkan wajahnya sambil melipat kedua tangannya di dada dengan pandangan ke depan.
Vicky menatap istrinya dari samping tanpa kedip. Rea pun menyadari itu, walau mereka sedang tak lagi berbincang. Beberapa menit keadaan masih sama dan Vicky pun masih menatap istrinya.
"Apa?" tanya Rea ketus.
Vicky menampilkan wajahnya yang sedih. Entah bagaimana meyakinkan Rea bahwa saat ini tidak ada wanita yang penting selain dirinya.
"Kamu marah, aku juga marah, Re. Karena kamu tettawa di depan pria itu. Padahal denganku kamu tidak pernah seperti itu," ujar Vicky yang kini merakuk dan mengalihkan pandangannya ke depan.
Rea kehilangan pandangan itu, padahal sedari tadi ia senang karena pandangan Vicky hanya tertuju padanya.
"Jadi, sekarang kamu juga marah?" tanya Rea dengab menoleh ke arah Vicky.
Vicky mengangguk tanpa menoleh ke arah Rea.
"Sini!" Rea menarik lengan Vicky menuju hotel tu kembali.
Vicky mengernyitkan dahinya. Namun, ia diam dan tetap memgikuti langkah Rea tanpa bertanya.
Vicky hanya memperhatikan Rea yang tengah berbicara dengan resepsionis hotel dan mmRea menariknya ke sebuah lorong dan masuk ke dalam salah satu kamar di sana.
Bruk
Rea mendoronh tubuh Vicky hingga pria itu terjatuh di ranjang.
"Akan aku buktikan bahwa aku lebih bisa memanjakanmu dibanding wanita-wanita yang pernah memanjakanmu sebelumnya," kata Rea sambil melepaskan pakaiannya sendiri satu persatu.
Vicky tersenyum lebar, istrinya memang benar-benar liar. Ia memang tak salah pilih.
Lalu, Rea menindih tubuh Vicky. "Dan aku pastikan kamu tidak akan pernah ingat wanita-wanita masa lalumu itu, karena sekarang dan nanti yang kamu ingat dan selalu kamu inginkan adalah aku."
Vicky kembali tersenyum lebar. "Oke. Siapa takut."
__ADS_1
Di kamar 209 Rea melampiaskan kekesalannya terhadap Vicky dan Vicky pun melupakan kekesalannya tadi pada Rea, karena istrinya begitu hot. Pelayanan yang diberikan Rea benar-benar memabukkan dan sepertinya ucapan Rea benar. Vicky memang tidak pernah bisa berpaling dari wanita itu. Di tambah semakin hari Rea semakin mahir dalam urusan ranjang.