Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kapal pesiar - tujuh


__ADS_3

Kapal pesiar yang membawa keluarga Adhitama dan rekan-rekannya itu berlabuh di terminal Singapore Cruise Centre yang terletak di wilayah Harbourfront. Kapal ini berhenti persis setelah semuanya menikmati sarapan pagi.


Akhirnya, mereka sampai di satu titik tujuan pertama yaitu Singapura, sebelum nantinya akan beralhi ke dua negara lagi. Semua peserta yang ada di dalam kapal pesiar itu mengikuti trip yang sudah di atur oleh panitia yang sudah kenan tugaskan. Dua belas bus dengan kapasitas satu bus enam puluh orang itu sudah berjejer untuk mengangkut orang-orang yang ada di dalam kapal pesiar milik Kenan. Mereka akan diantar ke daerah-daerah wisata terkenal di negara ini.


“Sayang, Kak Nida lagi ada di Singapura kan?” tanya Kenan yang langsung diangguki Hanin. Kebetulan kakak Hanin itu memang sedang mengantar suaminya dinas ke tempat ini.


Kenan menggendong Kevin dan berjalan beriringan bersama sang istri untuk menaiki bus itu. Bus yang Kenan naiki khusus bus keluarga Adhitama. Satu tangan Kenan menggandeng pinggang hanin dan satu tangannyanya lagi menggendong Kevin. Kenan memang selalu seperti ini jika berjalan bersama Hanin. Sebagai seorang pria, Ia tidak ingin menyusahkan sang istri dengan menggendong Kevin yang saat ini semakin bertambah berat badannya.


“Dari semalam aku udah chat sama Kak Nida. Kita ketemuan di Orchard Road,” jawab Hanin.


Kenan mengangguk. “Oke, bagus kalau begitu.”


Hanin tersenyum dan mearih lengan kekar suaminya.


Pagi ini, Bus itu mulai bergerak ke beberapa destinasi yang sudah dijadwalkan panitia. Kedua belas bus itu berjalan beriringan menuju destinasi pertama yaitu Masjid Sultan. Masjid Sultan adalah bangunan ebrsejarah yang terletak di Kampung Glam, Singapura. Masjid Sultan adalah Masjid pertama di Singapura. Dulunya, Masjid Singapura adalah tempat tinggal warga Indonesia yang berdagang di Singapura.


Di sana, tampak Kenan, Gunawan, Vicky, dan Dave berjalan dengan pasangannya masing-masing. Thia dan Nisa juga mendapat beberapa teman sebaya, anak dari salah satu orang tua yang mengabdi pada Kenan. Thia dan Nisa tampak senang bertemu teman baru yang mengasyikkan. Gunawan dan Kiara pun tampak bahagia bersama Kayla, tidak ada wajah sedih seperti yang ia tampilkan kemarin malam. Bahkan Vely dan Dave tidak tahu bahwa Gunawan sudah menceritakan masa lalu mereka pada Kiara, karena Kiara tidak ingin membahas hal ini lagi. Masa lalu sudah lewat, Kiara dan Gunawan sepakat hanya akan berjalan ke depan tanpa menoleh lagi ke belakang.


Setelah itu, bus rombongan perusahaan Kenan beralih menuju Merlion Park dan Unoversal studios. Di sana, Riza dan Vanesa sudah menunggu. Riza menggendong Sean dan melambaikan tangannya ke arah Kenan, begitu pun Vanesa.


Sedangkan Vicky menemani keluarganya. Pria itu tidak tampak bersama keluarga Adhitama. Sepertinya, Vicky asyik dengan Vely, Dave, istri dan kedua adik istrinya.


“Ken, itu Vanesa?” tanya Rasti ketika melihat anak sahabatnya sekaligus mantan tunangan putrnya dulu.


Kenan tersenyum dan menoleh ke arah Rasti yang saat ini berada di sisi kiri Kenan, sementara Hanin berada di sisi kanan Kenan. “Iya, Mam.”


Rasti menatap gaya Vanesa saat ini. wanita itu tampil sederhana dengan balutan dres berwarna hitam polos dengan garis putih di bagian bawah dadanya.


“Vanesa beda banget sekarang ya, Ken," ujar Rasti.


“Makin cantik ya, Mam,” ucap Hanin.


“Tetap kamu paling cantik, Sayang.” Kenan mengecup pipi Hanin sekilas dan Hanin pun tersenyum sambil mengusap pipi suaminya. “Bisa aja kamu.” Kenan pun ikut tersenyum.


“Hai, Bos.” Riza bersalaman dengan Kenan dan memeluknya ala pria sejati ketika mereka saling menghampiri.


“Mami apa kabar? Long time no see.” Vanesa lebih dulu memeluk Rasti.


“Mami baik. Ya, lama sekali kita tidak jumpa.”


“Iya, Mam.” Vanesa tersenyum dan melirik ke arah Hanin. “Hai, bu Bos. Apa kabar?”

__ADS_1


Hanin menerima pelukan Vanesa. “Baik. Ini Sean?” tanyanya sambil menoel pipi bulat Sean yang kini dalam gendongan Vanesa.


Hanin melirik ke arah suaminya, terlihat Kenan langsung bebincang serius dengan Riza.


“Huft, mereka kalau udah ketemu pasti ngga jauh ngomongin seputar pekerjaan, Han,” ucap Vanesa.


Hanin pun mengangguk.


“Sean seusia Kevin ya?” tanya Rasti yang hendak meraih anak Vanesa dan ingin menggendongnya.


Vanesa memberikan putranya pada Rasti. “Ya, sepertinya hanya beda dua bulan. Bukan begitu, Han?”


Hanin mengangguk. “Iya benar, Sean bulan Oktober, Kevin Desember.”


“Wah, berarti kevin punya teman nih,” ucap Rasti sambil menggendong Sean. “Oh, ya. Bagaimana keadaan orang tuamu?”


“Daddy dan Mommy sehat. Mereka juga menitipkan salam untuk Mami,” jawab Vanesa.


“Ah, sudah lama sekali Mami tidak bertemu Alin,” sambung Rasti. “Mengapa tidak kamu ajak mereka ke sini untuk bertemu Mami.”


“Kalau Mami mau, ayo Nesa antar Mami ke rumah sekarang! Mumpung masih siang. Rencananya kapal baru jalan lagi nanti malam kan?” tanya Vanesa melirik ke arah Rasti dan Hanin bergantian.


“Nah, kan. Ayo, Mam! Kebetulan Daddy dan Mommy ada di rumah,” jawab Vanesa antusias dan langsung memanggil suaminya.


“Sayang.” Riza menoleh ke arah suara sang istri. “Ah, aku sampai lupa belum bersalaman dengan Mami dan istrimu,” ucap Riza.


Kemudian, Riza menghampiri Rasti dan Hanin, lalu menyalaminya. Kenan pun mengikuti langakah kaki Riza.


“Mami pengen ketemu Daddy dan Mommy. Kita antar Mami Rasti dulu yuk ke rumah,” ucap Vanesa.


“Mommy benar ingin ke rumah Daddy James?” tanya Kenan.


Rasti mengangguk. “Iya, kapal kita masih lama kan berangkatnya?”


“Ya, masih banyak waktu,” jawab Kenan.


Riza pun ikut mengangguk. “Wah, pasti Daddy dan Mommy senang kedatangan tamu. Soalnya kami bilang Mami Rasti tidak bisa mampir, makanya saya janjian dengan Pak Kenan di sini.”


“Kamu mau ikut Mami, Ken?” tanya Rasti pada putranya.


Kenan menggeleng. “Ngga Mam, soalnya Kenan dan Hanin udah janjian sama Kak Nida di Orchard.”

__ADS_1


“Oh, iya. Baiklah, kalau begitu Mami ke sana ya.”


“Mam, mau kemana?” teriak Kiara.


“Kak Nesa ...”


“Kiara ...”


Kiara berlari ke arah Vanesa yang diikuti oleh Gunawan yang sedang menggendong Kayla.


“Aah, long time no see. Apa kabarmu, Kak?”


“Baik, Ra.” Kiara dan Vanesa berpelukan. “Mami mau ketemu orang tuaku.”


“Wah aku ikut dong,” ucap Kiara antusias sambil mengajak suaminya.


“Ayo!”


Akhirnya, Kiara, Gun, dan Rasti ikut bersama Riza dan Vanesa untuk menemui keluarga Vanesa yang sudah seperti saudara mereka. Walau hubungan kedua keluarga ini terputus karena keputusan Kenan yang lebih memilih Hanin, tapi kini Rasti ingin memulai hubungan itu kembali. Toh, kedua anak mereka sudah bahagia dengan pilihannya masing-masing. Dan, Kiara sengaja ikut untuk menjaga Rasti.


“Kok kamu ngga ikut, By?” tanya Hanin pada suaminya setelah melambaikan tangan ke arah keluarganya di dalam mobil itu. “Ketemu mantan calon mertua loh.” Hanin menggerakkan alisnya sambil tersenyum. Ia sengaja menggoda suaminya.


Kenan tertawa. “Mending ketemu kakak kamu, yang dulu percaya sama kebohongan aku.”


Hanin mengerucutkan bibir. Ya, ia ingat betul bagaimana Kenan menjebaknya untuk menikah dengan ancaman video vulgar mereka, walau mereka tidak melakukan hal yang lebih waktu itu.


“Kamu emang jahat.” Hanin tertawa sambil memukul pelan lengan suaminya.


Kenan pun kembali tertawa dan memeluk tubuh istrinya dari samping. “Tapi sekarang ngga nyesel kan?”


Hanin tersenyum dan menggeleng seperti anak kecil. “Ngga dong. Mana mungkin nyesel ketemu singkok premium.”


Kenan kembali tergelak. Istrinya memang lucu, hal itu yang membuat Kenan selalu ceria sekarang, karena sejak bertemu dengan wanita ini, Kenan selalu dibuat tertawa hingga hidupnya menjadi berwarna dan ceria, tidak seperti sebelumnya yang seperti kanebo kering, kaku dan garing.


Kenan dan Hanin menikmati tempat itu bersama Kevin. Mereka memisahkan diri dari orang-orang di sana. Kenan membawa Hanin ke tempat yang indah di sana sambil bercerita. Mereka pun saling bercerita, tertawa, dan sesekali Kenan mengecup bibir istrinya sekilas.


“I always love you,” ucap Kenan yang langsung dibalas Hanin.


“Me too.” Hanin menyelipkan kepalanya di dada Kenan.


Mereka kembali berpelukan di depan patung kepala singa yang menjadi maskot negara itu.

__ADS_1


__ADS_2