
"Ken,”
Tok ... Tok ... Tok ...
“Ken., bangun.”
Vicky terus mengetuk pintu kamar itu, sudah pukul delapan pagi Kenan maih belum keluar dari kamarnya. Ia takut terjadi sesuatu dengan bosnya itu, pasalnya Kenan sudah memsauki kamar ini sejak pukul delapan malam.
“Hei, kau baik-baik saja?” tanya Vicky dengan mengeraskan suaranya.
Teriakan Vicky sontak membangunkan Kenan yang baru bisa terpejam sekitar pukul lima. Ia tidak bisa tidur nyenyak, beberapa menit terpejam tapi terjaga lagi. Di kepalanya hanya berpikir tentang Hanin. Bagaimana keadaannya? Tidur dimana? Dan, sedang apa?
“Ya,” sahut Kenan dengan suara yang juga keras.
Kenan menurunkan kakinya cepat dan membuka pintu itu.
Kreek.
“Bagaimana? Apa Hanin sudah ketemu?” tanya Kenan, setelah berhadapan dengan Vicky.
Asistennya itu menggeleng. “Tapi lu tenang aja, semua orang-orang suruhan kita sudah melacak dan mencarinya.”
“Sampai kapan, Vick?” terikan Kenan.
“Sabarlah, Ken. ini belum satu kali dua puluh empat jam kan?”
“Tapi gue ngga bisa sabar,” teriak Kenan lagi.
“Makanlah!” Vicky memberikan satu piring berisi nasi goreng. “Lu belum makan dari semalam. Kalau lu sakit, gimana kita akan cari Hanin. Huh?”
Kenan menerima piring itu dengan malas. Lalu hendak menutup kembali pintu kamarnya. Kebetulan hari ini, hari libur. Ia dan Vicky akan kembali mencari istrinya.
Vicky menahan pintu itu sebelum tertutup. “Gue tau perasaan lu. Gue tau lu khawatir banget sama Hanin. tapi gue yakin di sana, Hanin baik-baik saja. Dia wanita pintar dan mandiri. Lagipula ini bukan kali pertama dia pergi dari jangkauan lu ‘kan?”
Sontak Kenan pun terdiam dan membalikkan tubuhnya, berjalan ke dalam.
“Dia akan kembali, Ken. Mungkin saat ini dia hanya ingin sendiri,” ucap Vicky lagi.
Dret ... Dret ... Dret ...
Tiba-tiba ponsel Kenan berdering, saat ia ingin membalas ucapan Vicky. Kenan segera berlari mengambil ponselnya. Ia berharap panggilan itu datang dari sang istri. namun, ia langsung lesu ketika ternyata panggilan itu tertera nama ‘My Sisy’.
Kenan dengan lemas mengangkat panggilan itu.
“Halo.”
“Halo, Kak.”
“Ada apa?” tanya Kenan.
“Hanin dimana?” Kiara balik bertanya.
Kenan sengaja meloudspeaker panggilan itu sejak ia mengangkatnya.
“Kenapa?” Kenan kembali bertanya.
“Apa kalian sedang bertengkar?” tanya Kiara lagi. “Semalam, Dede dan Joko cerita padaku, mereka melihat Hanin datang ke sini kemarin pagi. Tapi dia tidak masuk dan malah menatap mobilmu yang berdampingan dengan mobil Misya.”
“Si*l,” umpat Kenan.
Ia tak mengira ternyata kejadian-kejadian itu yang membuat istrinya pergi.
“Kakak dan Hanin baik-baik saja ‘kan?”
“Tidak,” jawab Kenan. “Dia tidak pulang sejak semalam, Ra.”
__ADS_1
“Ya, ampun.”
“Ra, jangan bilang Mami! Aku tidak ingin Mami berpikir negatif terhadap Hanin. Aku tidak mau Mami mengira istriku tidak dewasa dan suka kabur-kaburan.”
Kiara terdiam sejenak.
“Kak, mungkin jika aku jadi Hanin akan berbuat yang sama.”
“Maksudmu?”
“Bagaimana tidak? Pernikahan kakak dan Hanin di awali dari kesalahan, walau akhirnya kalian saling mencintai. Tapi kalian belum mengenal satu sama lain sebelumnya.” Kiara menghela nafasnya.
“Hanin bukan tipe wanita frontal. Dia akan memendam masalahnya sendiri. Sejak Kakak dan Mami menekannya dengan mengharuskan dia mengandung anak pertama berjenis kelamin laki-laki, aku tahu dia sudah tertekan. Ditambah lagi, kedekatan kakak dengan Misya, walau kakak sudah menolaknya, tapi dia tidak tahu. Mungkin dia berpikir, kakak sering bertemu diam-diam di rumah ini dengan Misya sebelum berangkat ke kantor, apalagi Mami dekat dengan Misya. Itu akan menambah kecurigaannya, Kak.”
Tubuh Kenan semakin merosot. Sungguh, ia telah menyakiti hati istrinya tanpa disengaja, padahal ia sudah mencoba menghalau segala terjangan yang ada yang kemungkinan terjadi pada pernikahannya, tapi ternyata ada yang terlewatkan.
“Aku juga pernah merasakan apa yang Hanin rasakan, Kak. Ibu hamil itu sensitif,” ucap Kiara lagi.
“Ucapanmu membuatku semakin bersalah, Ra.”
“Tenanglah, Kak. Aku yakin, Hanin tidak ingin kabur dari kakak. Dia hanya butuh waktu untuk sendiri. Aku akan minta bantuan Mas Gun untuk mencari Hanin. Sabar ya, Kak.”
“Thanks, Ra,” jawab Kenan lirih.
“Kakak juga selalu membantuku dalam hal apapun. Kini giliranku. Oke!” Kiara mencoba menghibur sang kakak dengan suara yang pastinya diiringi senyuman.
Lalu, Kenan menutup telepon itu. Ia menoleh ke arah Vicky yang hanya dibalas dengan mata membulat. Vicky mendengar percakapan itu. Ia kesal dengan sahabatnya yang tidak bisa peka dengan lawan jenis, terlebih ini adalah istrinya.
****
“Han, bangun dong. Udah siang nih. Ayo makan! kasihan kan bayi lu belum sarapan,” ucap Lani sembari menggoyangkan tubuh Hanin.
“Hmm ... gue masih ngantuk, Lan. Semalem gue bener-bener ga bisa tidur.”
“Iya.” Hanin mencoba membuka matanya. Ia mencoba mengerjap kedua bulu matanya yang lentik, kemudian nyengir di hadapan Lani. “Lu udah rapih? Mau kemana?”
“Gue mau ke rumah nyokap. Lu mau ikut?”
Mata Hanin langsung berbinar. “Kita ke puncak?”
Lani mengangguk. Rumah kedua orang tua Lani memang berada di cisarua, Bogor. Dulu, sewaktu masih satu kantor dengan Lani. Hanin sering diajak ke tempat itu, biasanya mereka akan berjalan-jalan ke sekitar puncak setelahnya.
“Yee ... “ Hanin segera bangkit dan turun dari ranjang itu.
“Han,” panggil Lani, membuat Hanin langsung menoleh.
“Ya.”
“Lu ngga kasih tau Kenan kalau lagi di sini? Kasihan dia, Han. Dia pasti lagi nyariin lu,” ucap Lani.
Hanin selalu bercerita tentang suaminya yang begitu menjaga istrinya dengan super ketat. Jika menurut Hanin itu adalah sikap posesife suaminya, tapi menurut Lani, itu adalah salah satu bentuk sebuah cinta, walau memang bentuk yang Kenan berikan terlalu berlebihan, tapi setiap orang memang berbeda-beda dalam mengekspresikan rasa cintanya. Mungkin, sikap itu adalah ekspresi Kenan dalam mengungkapkan cintanya pada Hanin.
Hanin menghelakan nafasnya. “Iya, nanti sepulang dari rumah Abah, gue langsung balik ke apartemen.”
Lani tersenyum. “Ya, nanti gue langsung antar lu pulang.”
“Terus lu sendirian dong di sini?” tanya Hanin.
“Ya ampun, udah biasa kali. Lu ngga usah mikirin gue, yang penting elo lah sama bayi lu nih, kesian nih anak ga bisa tidur kalo belum dipeluk bapaknya.”
“Bukan anak gue yang ga bisa tidur, tapi gue, Lan. Gue ngga bisa tidur kalo ngga disentuh dulu sama Kenan.” Hanin nyengir, akhirnya ia mengakui itu.
“Dih najis. Mesum lu. Amit-amit dah.” Lani menggelengkan kepalanya. Ia heran dengan sahabatnya yang pemalu dan pendiam ini. ternyata setelah menikah, Hanin sangat berubah, otaknya semakin korslet.
Hanin ikut tertawa dan kembali melangkahkan kakinya ke kamar mandi.
__ADS_1
****
Pukul dua siang, Hanin dan Lani sampai di Cisarua. Ia bertemu dengan kedua oraang tua Lani. Sudah lama sekali Hanin tidak bersilaturahim ke rumah ini. Entah mengapa sebelumnya ia selalu ingin sekali ke tempat ini dan ternyata hari ini keinginannya terwujud.
“Wah, perutmu bulat sekali, Han,” ucap Ummi, ibu Lani. “Laki-laki ya.” Katanya lagi.
Hanin tersenyum dan menggeleng. “Di USG berkali-kali sih, katanya perempuan, ummi.”
“Ah, kalau tebakan ummi mah, ini laki-laki.”
“Masa, sih. Mi?” tanya Hanin.
“Iya, ini bentuknya bulat banget.”
“Ya sudah sih, mau perempuan atau laki-laki ngga apa-apa yang penting sehat,” sahut Lani sembari mengeluarkan makanan dari dapur.
“Iya, benar itu,” sahut suara abah yang mengikuti Lani dari belakang.
Hanin tersenyum dan mengangguk.
“Soalnya hasil usg itu tidak seratus persen benar, Han. Dulu aja ummi lagi hamil Lani, dibilang laki-laki terus. Eh yang keluar ternyata perempuan, makanya agak kelaki-lakian gini.”
Hanin tertawa. “Berarti kalau sama Tio, Tio nya ngalah mulu dong, Mi.”
“Bukan ngalah lagi, Han,. Tapi di smackdown kalo macem-macem,” sahut Abah.
Sontak semuanya tertawa.
Hanin sangat menikmati udara sejuk di daerah itu. ia menghirup dalam-dalam sembari membentangkan kedua tangannya di luar dengan hamparan tanah yang luas dan penuh dedaunan. Hanin memejamkan matanya, lagi-lagi wajah Kenan tercetak di matanya yang terpejam.
“By, apa kabar? Kamu lagi nyari aku apa ngga? Apa sedang asyik di rumah Mami sama Misya?” tanya Hanin dalam hati.
“Aku rindu kamu, By,” gumam hanin lagi, kini tidak dalam hati.
“Ciyee ... yang lagi rindu. Rindu itu berat loh,” ledek Lani yang mendengar gumaman itu sembari menghampiri sahabatnya di sana.
Hanin langsung menoleh ke sumber suara itu.
“Udahan teleponannya?” tanya Hanin pada Lani yang sejak tadi meninggalkannya cukup lama karena sedang menerima telepon dari Tio.
Hanin pun sempat berbincang dengan Tio sebentar, selanjutnya pria gemulai yang sudah terlihat gagah itu berbincang dengan istrinya lama. Hanin tercengang saat melihat Tio di panggilan telepon melalui video call itu. Tio tidak lagi terlihat gemulai. Tubuhnya sangat berisi dan proporsional, lalu suaranya pun tak lagi bernada lembut.
“Lu kasih apa si Tio sampe berubah seperti itu?” ledek Hanin.
Lani hanya tertawa. “Gue gitu loh.” Ia membusungkan dada, bangga dengan hasil permak karya anak abah.
Lalu, Hanin ikut tertawa.
Hari semakin sore, Kenan dan Vicky masih mencari Hanin di beberapa teman yang ada dalam daftar tangan Vicky. Nama Lani disebut oleh Gunawan, sebagai salah satu teman terdekat Hanin selain Irma dan Karmen. Info dari Gunawan, langsung disambangi oleh kedua orang ini, setelah Kenan mengunjungi beberapa teman Hanin lainnya, serta beberapa sepupu istrinya itu.
“Ini rumah orang terdekat Hanin yang terakhir. Tapi menurut info, mereka sudah hampir satu tahun tidak bertemu. Tepatnya setelah Hanin resign dari kejadian pelabrakan Kiara waktu itu,” ucap Vikcy.
Mereka berdiri tepat di depan gerbang rumah Lani. Kemudian, Kenan menekan bel beberapa kali. Suasana komplek rumah ini yang sepi, membuat Kenan tidak bisa bertanya keberadaan si pemilik rumah ini.
“Sepertinya kosong, Vick,” kata Kenan.
Vicky mengangguk. “Iya, sepertiya pemilik rumah ini tidak di rumah.”
Hampir setengah jam, Vicky dan Kenan sabar menunggu di depan sana dan terus menekan bel. Namun, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah itu. Rumah itu tampak sepi dan tak berpenghuni.
Kebetulan, Lani memang tidak memiliki orang untuk membantu membersihkan rumahnya. Ia dan Tio saling bekerjasama dalam mengurus rumah ini. walau keduanya bekerja.
“Ya udah, kita balik! Sepertinya Hanin tidak di sini.” ajak Kenan pada Vicky dengan langkah lesu.
Lalu, Vicky menepuk bahu Kenan untuk sabar.
__ADS_1