
Setelah selesai menemani ibu mertua ke toko tas dan sepatu branded itu. Rasti kembali mengajak Hanin ke sebuah butik.
“Han, sebelum ke butik, kita mampir ke tempat makan dulu yuk. Mami lagi kepingin coto makasar.”
Hanin tersenyum dan mengangguk. “Iya, Mam.”
Mereka pun sampai di tempat makan yang diinginkan Rasti. Rasti mengajak Hanin duduk dan memesan makanan.
Rasti memesan makanan dan minuman yang ia inginkan pada pelayan berseragam garis-garis itu.
“Han, kamu pesan apa?” tanya Rasti dengan tangan yang masih memegang buku menu tempat makan itu.
Hanin menggeleng. “Hanin tidak makan, Mam. Minum saja.”
“Loh, kenapa?”
“Kata Mas Kenan.” Hanin tersenyum saat mengucapkan kata ‘Mas’ sebelum menyebut nama suaminya. Rasanya asing, tapi Rasti selalu protes jika Hanin memanggil nama Kenan tanpa embel-embel di depannya. Padahal, Kenan tak pernah memperdulikan itu, justru Kenan lebih suka sang istri memanggilnya dengan panggilan ‘Ken Ken’.
“Mas Kenan mau ajak Hanin makan di luar nanti malam.” Hanin melanjutkan perkataannya.
“Iya, tapi itu kan nanti malam, sekarang masih sore. Han,” jawab Rasti.
“Nanti, Hanin takut keburu kenyang, Mam. Jadi nanti makannya ngga banyak. Lagian bareng Mas Kenan lebih enak makannya.”
Rasti tersenyum. “Ya ... Ya ... Kali ini Mami terima alasanmu.”
Setelah memesan makanan, Rasti terlihat terdiam.
“Mami kenapa?” tanya Hanin.
“Mami masih kepikiran Kiara, Han. Walau dia selalu bilang dirinya baik-baik saja, tapi Mami tetap memikirkannya,” jawab Rasti sedih.
Hanin memeluk ibunya dari samping. “Hanin mengerti perasaan Mami.”
Rasti pun memeluk pinggang menantunya. “Untung ada kamu, Sayang.”
Mereka pun berpelukan.
Kamudian, Hanin dan Rasti sampai di butik, setelah satu jam berada di antara tempat makan dan perjalanan. Hanin diperkenalkan oleh desainer langganan keluarga Aditama.
“Oh, ini istrinya Tuan Kenan. Wah cantiknya, kemarin saya hanya melihat di televisi. Ternyata aslinya jauh lebih cantik,” puji sang desainer yang berjenis kelamin laki-laki itu kepada Hanin.
Tangan Hanin di genggam erat oleh desainer itu, saat Hanin membalas jabatan tangannya.
“Udah lepasin tangan menantuku, kalau Kenan lihat, bisa habis kamu,” ledek Rasti.
Desainer yang cukup terkenal itu langsung melepaskan genggaman tangannya pada Hanin dan tertawa.
“Untung tante ngingetin, kalau orangnya dateng terus liat aku masih pegang tangan istrinya. Beuh, bisa biru ini pipi.” Wendi tertawa, di iringi tawa Rasti dan Hanin.
“Pada ngomongin aku ya,” ucap Kenan, yang muncul tiba-tiba.
“Tuh, kan yang punyanya dateng,” Wendi, si desainer yang sedikit melambai itu kembali tertawa.
“Tenang, Wen. Kalo sama lu, gue ga bakal bikin muka lu biru.” Kenan merangkul pundak Wendi.
“Tapi sepertinya, gue bakal normal kalo dapet istri kaya istri lu, Ken,” ucap Wendi.
Kenan langsung melepas rangkulan yang bertengger di atas bahu Wendi. “Wah, nyari mati lu.”
“Uh, takut.” Wendi pun langsung menghindari Kenan.
Rasti dan Hanin tertawa geli melihat dua pria yang jauh berbeda karakter ini.
Dahulu, ibu Wendi yang merupakan desainer keluarga Aditama. Namun, setelah sng ibu pensiun, kemudian sang anak mengantikannya.
“Han, ayo di coba gaunnya!” Rasti memberikan gaun yang sebelumnya terpajang.
“Ini ... untuk apa, Mam?” tanya Hanin bingung.
“Mami ingin mengadakan pesta?” tanya Hanin lagi.
“Duh, ini itu pesta buat kamu, Sayang,” sahut Wendi yang langsung kena pelototan dari Kenan, pasalnya Wendi memanggil sang istri dengan sebutan ‘sayang’.
Namun, Wendi hanya tertawa meledek ke arah Kenan.
“Pesta?” tanya Hanin bingung ke arah Rasti dan Kenan bergantian.
“Ya, pesta untukmu dan Kenan. Kalian akan menggelar resepsi pernikahan dua minggu lagi,” jawab Rasti.
“Apa?” tanya Hanin terkejut, pasalnya Kenan tidak pernah mengatakan apapun tentang hal ini.
“Ken, kamu ga pernah cerita,” rengek Hanin pada suaminya.
Kenan hanya tersenyum. “Surprise, Sayang.”
Kenan mendekati sang istri dan memeluknya.
“Jahat, ini hal yang penting. Tapi malah ga cerita.” Hanin memukul pelan dada suaminya.
“Ini permintaan Mami. Mami ingin kita menggelar resepsi.”
Hanin menatap ibu mertuanya dengan berkaca-kaca. “Mami, terima kasih.”
Hanin melepaskan pelukannya pada Kenan dan memeluk Rasti.
“Sama-sama. Kamu berhak mendapatkan ini.” Rasti membalas pelukan itu dan mengelus punggung Hanin.
“Ya sudah. Ayo di coba gaunnya! Eyke udah ga sabar mau lihat, pasti cucok.” Gaya bicara khas Wendi akhirnya keluar juga. padahal awalnya ia ingin terlihat macho dihadapan Hanin.
Kenan langsung menarik tangan sang istri ke ruang fitting bersama.
__ADS_1
“Ih, kamu fittingnya di sana.” Hanin menunjuk ruang ganti laki-laki.
“Sama aja.” Kenan tetap menarik tangan istrinya.
“Ken, aku di sini, kamu di sana.” Hanin menghentikan langkahnya dan tetap meminta Kenan berada di ruang ganti laki-laki, sesuai dengan gambar gender yang tertempel di pintu.
“Udah, jangan banyak bicara!” Kenan menarik Hanin dan masuk ke dalam ruang ganti yang sebenarnya di peruntukkan bagi wanita.
Kenan memasukkan Hanin paksa dan menutup pintu. Lalu, ia langsung membuka seluruh pakaiannya.
“Ken, kamu mau apa? Aku ga mau begituan di tempat umum,” ujar Hanin yang langsung menutup matanya dengan satu telapak tangan.
Kenan tertawa. “Emang menurutmu aku mau ngapain?”
Hanin sedikit membuka matanya.
“Kita kan mau fitting baju ini. Ya, pastinya kita buka baju dulu kan?” Kenan menunjukkan jas untuk ia pakai nanti sebagai mempelai pria pada resepsi pernikahannya.
Hanin menghela nafasnya. Kemudian, Kenan menarik pinggang Hanin dan menubrukkan pada dada bidang miliknya.
“Kamu ingin melakukannya di sini?” tanya Kenan dengan seringai licik.
“Ngga.” Hanin langsung mendorong dada Kenan, membuat suaminya kembali tertawa.
“Hanin, Hanin.” Kenan menggelengkan kepalanya. “Otak kamu sepertinya sudah mulai mesum.”
Hanin mengerucutkan bibirnya. “Dasar nyebelin.”
Kenan tertawa, sembari memakaikan pakaian pengantin pria itu di tubuhnya.
Tak berapa lama kemudian, mereka pun memakaikan pakaian masing-masing. Hanin berada di depan cermin, sementara Kenan berdiri di belakang istrinya. Kenan menempelkan tubuhnya pada tubuh Hanin yang berdiri di depannya. Ia mengecup punggung Hanin yang sedikit terbuka.
“Cantik.”
Hanin tersenyum di balik cermin dan menatap sang suami. “Kamu juga tampan.”
Kemudian, Kenan memeluk erat tubuh Hanin dari belakang dengan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang ramping itu.
****
Hari ini, Hanin melewati beberapa tempat. Setelah menemani Rasti ke toko branded, ia beralih ke restoran, lalu ke butik. Dan sekarang, Kenan membawanya ke sebuah cafe yang cukup mewah.
Selesai bertransaksi dengan Wendi, Rasti pulang bersama Syamsudin dan Kenan pulang bersama istrinya menuju sebuah tempat romantis.
“Ini cafe milik temanku. Kami bertemu di Inggris, saat aku kuliah di sana,” ucap Kenan, ketika keduanya hendak memasuki tempat itu.
“Dia bukan anak pengusaha, tapi dia sangat gigih.” Kenan kembali menceritakan pemilik cafe itu.
“Hai, Ken.” sapa si pemilik cafe, saat bertemu dengan Kenan.
“Hai.” Ken menyambut tangan si pemilik cafe yang juga merupakan teman seperjuangannya saat berada di negara orang.
“Ini pasti Hanin,” ucap teman Kenan.
"Lu ga bawa Aira dan Kisya?” tanya Kenan menyebut anak dan istri temannya itu.
“Ngga, gue malah mau jemput mereka dan ngajak mereka jalan. Kalau ke sini, mereka udah bosen.”
Kenan mengangguk dan tertawa. “Iya, ya.”
“Sorry gue ga bisa nemenin lu nih, Bro,” kata teman Kenan lagi.
"It’s oke.” Kenan mengangkat ibu jarinya ke atas.
“Kalo gitu gue duluan. Han, duluan ya! Ati-ati sama kenan, dia nakal.”
“Kalo itu sih, udah tau,” sahut Hanin spontan, membuat Kenan dan temannya tertawa.
“Lucu juga bini lu, Ken.”
Kenan tertawa pada temannya. “Paket komplit pokoknya.”
“Dasar, lu,” ledek teman Kenan sembari berlalu pergi meninggalkan sepasang dua insan ini.
Kenan mengajak Hanin untuk duduk di tempat biasa yang selalu ia duduki, karena tempat ini tempat yang paling tenang dan nyaman. Dari tempat duduk ini, juga dapat terlihat suasana kota Jakarta, karena cafe ini terdapat di lantai yang cukup tinggi.
Kenan memesan makanan dan minuman.
“Kamu belum makan ‘kan?” tanya Kenan.
Hanin menggeleng. “Belum.”
“Tadi, bukannya nemenin Mami makan, kok ga makan sekalian?” tanya Kenan lagi. Kenan tahu semua aktifitas sang istri dari ibunya.
Hanin kembali menggeleng. “Ngga ah, nunggu kamu aja.”
Kenan tersenyum dan tangannya terangkat untuk mengelus pipi Hanin. “Bikin orang makin cinta aja sih.”
Hanin tersenyum menunduk. Ia tersipu malu. Mereka seperti sepasang muda mudi yang sedang berpacaran dan baru saling mengutarakan perasaan.
Kenan dan Hanin melihat ke arah panggung, saat si penyanyi cafe mengetuk-ngetukkan microphone-nya.
“Oya, ada yang mau nyumbang lagu?” tanya penyanyi cafe itu tiba-tiba, setelah beberapa menit ia selesai menyanyikan lagu untuk semua pengunjung yang tengah menikmati tempat itu dan menikmati menu makanan yang ditawarkan.
Kenan langsung mengacungkan tangannya ke atas.
“Istriku mau nyanyi,” ucap Kenan ke arah Hanin.
Hanin langsung menggeleng. “Apaan sih, aku ga bisa nyanyi, Ken.”
“Ayolah, Sayang. Aku sering mendengarkan suaramu di kamar mandi.”
__ADS_1
“Ih, itu kan di kamar mandi, ga di tempat umum seperti ini,” jawab Hanin berbisik.
“Ayolah!” Kenan membujuk istrinya dengab senyum.
Si penyanyi cafe itu pun sudah menghampiri tempat duduk Kenan dan Hanin. “Ayo!”
Penyanyi cafe itu menyodorkan mic kepada Hanin dan Hanin langsung menggeleng.
“Ken, aku ga bisa. Ngga mau, suaraku jelek,” rengek Hanin.
Kenan tersenyum ke arah istrinya. “Baiklah, kalau begitu aku yang nyanyi.”
Kenan meraih microphone itu dan ikut ke panggung bersama si penyanyi cafe tadi. Di atas panggung Kenan meminta gitar. Ia mulai duduk di sana dan memainkan gitar itu.
“Uuuuhhh...” riuh tepukan tangan semua orang yang akan melihat pertunjukkan suara dan petikan gitar Kenan.
Ternyata, ini bukanlah kali pertama Kenan menyumbangkan lagu. Jika sedang mood, Kenan akan bernyanyi di cafe temannya ini, sembari menyalurkan hobbynya bermain gitar.
Hanin pun ikut bertepuk tangan dan tersenyum.
“Lagu ini, untuk wanitaku yang duduk di sana.” Kenan mengarahkan tangannya pada tempat yang di duduki Hanin, hingga semua orang melihat ke arah wanita itu, karena suara Kenan menggema ke seluruh ruangan.
Hanin hanya tersenyum malu.
Kemudian, Kenan memetik senar dan mulai mengalunkan musik dari benda itu. Kenan menyanyikan lagu milik Nata Reza yang berjudul Kekasih impian.
Aku 'tak pernah meminta
Sosok pendamping sempurna
Cukup dia yang selalu
Sabar menemani dalam kekuranganku
Namun Tuhan menghadirkan
Kamu wanita terhebat
Kuat 'tak pernah mengeluh
Bahagiaku selalu bersamamu
Andai ada keajaiban
Ingin 'ku ukirkan
Namamu diatas bintang-bintang angkasa
Agar semua tau
Kau berarti untukku
S'lama-lamanya kamu milikku
Kini telah 'ku buktikan
Kamu pendamping setia
Kuat 'tak pernah mengeluh
Bahagiaku s'lalu bersamamu
Andai ada keajaiban
Ingin 'ku ukirkan
Namamu diatas bintang-bintang angkasa
Agar semua tau
Kau berarti untukku
S'lama-lamanya kamu milikku
Hanin mendengarkan dengan seksama setiap bait yang dinyanyikan suaminya. semua kata-kata dari bait lagu itu sungguh membuat Hanin tersentuh, karena Kenan menyanyikannya dengan penuh penghayatan.
Namun 'ku sadari diriku
Takkan mampu selalu
Bahagiakan kamu
Tapi akan 'ku perjuangkan
Untukmu yang terhebat
Kekasih impian
Andai ada keajaiban (Andai ada keajaiban)
Ingin 'ku ukirkan
Namamu diatas bintang-bintang angkasa
Agar Semua tau
Kau berarti untukku
S'lama-lamanya
S'lama-lamanya kamu milikku
__ADS_1
Hanin semakin terharu dan tiba-tiba ia pun menangis. Bukan menangis sedih, tapi tangisan bahagia. Ia membalas tatapan Kenan yang tertuju ke arahnya dengan penuh cinta.