Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Sampai menjadi kesebelasan


__ADS_3

“Ya udah, Ken. Kalau satu kali dua puluh empat jam, Hanin ngga nelepon lu, Kita lapor polisi,” kata Vicky.


Mereka sudah mengitari rumah ini, tetapi hasilnya masih sama. Hanin belum di temukan.


Kenan menarik nafasnya panjang. “Apa dia kabur ke Malaysia lagi, Vick?”


“Gue rasa ngga,” jawab Vicky.


Kemudian, mereka pun menyerah.


"Kamu ngga pulang, Mis?" tanya Kiara.


Misya hanya diam. Ia memang ingin berlama-lama di sini.


"Iya Mis, sana pulang! Kasihan Marcel pasti sudah lelah," ucap Rasti.


"Mami tidak apa, kalau saya tinggal? karena sepertinya Mami butuh teman," sahut Misya.


Rasti menggeleng. "Justru Mami sedang ingin sendiri dan istirahat."


"Oh," Misya membulatkan bibirnya.


"Ayo, Mam. Kita pulang." Marcel menarik gaun ibunya. "Om Kenan nanti kita ketemu lagi ya."


Kenan tersenyum tipis, tapi ia tak mengangguk.


"Mis, biar kamu di antar Vicky aja," ucap Gunawan.


Vicky langsung membulatkan matanya.


"Dendam sama gue, lu?" tanya Vicky pada Gunawan. Ia tahu maksud Gunawan untuk mendekatkan Misya padanya.


Gunawan tertawa. "Sama-sama single kan?"


"Ngga, aku bawa mobil sendiri kok." Misya langsung berpamitan pada Rasti, Kiara, dan Kenan. Lalu, ia dan putranya segera keluar dari rumah ini.


"Ck, gue tahu maksud lu, Gun," ucap Vicky saat Misya sudah tak lagi bersama mereka.


"Daripada dia godain Kenan terus, mending lu pepet deh tuh jendes." Gunawan tersenyum.


"Ish ogah, perawan depan mata aja ada," jawab Vicky bangga. Ia memang sedang dekat dengan seorang gadis.


"Dasar!" Kiara dan Gun mengumpat Vicky bersamaan, hingga mereka tertawa bersama.


"Sssttt ..." Rasti menoleh ke arah Kenan, sehingga mereka pun ikut menoleh ke arah Kenan yang masih kusut.


"Ngga bisa prihatin dikit sama gue, gitu?" tanya Kenan kesal yang melihat orang-orang itu tertawa disaat keadaannya yang masih kalut.


"Hanin ga akan pergi jauh, Kak. Aku yakin deh," ucap Kiara.


"Iya, Ken. Gue juga sepemikiran sama Kiara. Hanin ga akan pergi jauh dari lu," sahut Gunawan sembari menepuk pundak kakak iparnya.


"Ah," teriak Vicky, mengagetkan semua orang. "GPS, Ken. Ponsel lu kan udah terhubung GPSnya ke ponsel istri lu."


"Ah, iya." Kenan langsung sumringah dan antusias. "Kenapa gue b*go dan ga kepikiran ya."


"Karena kamu terlalu bucin, Ken. Otak kamu jadi stuck," kesal Rasti.


"Mami," panggil Kiara pada Rasti karena dengan tega mengatakan hal itu pada kakak tercinta.


Kenan kembali lemas, setelah ia fokus pada gawainya.


"Dia mematikan lokasinya." Kenan menunjukkan ponselnya pada Vicky.


"Internet ga aktif? Apa sengaja ga di aktifin?" tanya Vicky.


Kenan menggeleng lemah.


Hari mulai gelap, kini matahari mulai tenggelam berganti dengan malam.


"Ya sudah, lebih baik kita semua istirahat dulu. Berpikir jernih dan tenang, setelah itu kita cari Hanin lagi."


"Ya," ucap kiara dan Gun bersamaan.


Vicky pun mengangguk. Ia menghampiri Kenan dan menepuk bahunya.


"Udah lu istirahat dulu, Ken. Lu tuh capek banget."


"Gue masih ga bisa tenang, sebelum Hanin ketemu, Vick." Ekspresi Kenan sangat menyedihkan, membuat mereka yang di sana ikut sedih melihatnya.


Lalu, Kenan melangkahkan kakinya ke arah tangga dengan gontai dan meninggalkan orang-orang yang masih berada di sana.


"Kasihan kakak, Mam," ucap Kiara.


Rasti melihat putranya yang sedang menaiki anak tangga, hingga sang putra berada di lantai dua.

__ADS_1


"Mami jangan pernah nuntut Hanin lagi ya! kasihan kakak, Mam. Kebahagian kakak adalah Hanin," kata Kiara lagi, ia berkata persis di telinga sang ibu.


Rasti terdiam.


Kemudian, Vicky pamit pulang. Sementara Rasti, Kiara, dan Gunawan berlalu ke kamar mereka masing-masing untuk beristirahat.


Sudah hampir empat jam, Hanin tertidur di sana.


Kenan pun merasa sangat lelah. Ia hendak istirahat di kamarnya. Namun, saat ia ingin membuka pintu kamarnya, arah mata Kenan kembali pada ruang baca. Entah mengapa ketika melewati ruangan itu, Kenan seakan ingin kembali masuk ke dalam. Namun, ia tetap tak melihat Hanin di sana.


Kemudian, Kenan melangkahkan kakinya menuju ruang baca. Ia membuka perlahan pintu itu dan menutupnya. Ia ingat kembali saat Hanin baru pertama kali menginjakkan kakinya ke ruangan ini. Hanin tampak sumringah melihat jejeran buku yang banyak di sini.


“Ken, banyak sekali buku di sini.”


“Kamu suka?’


“Sangat, sangat suka. Aku suka baca, Ken.”


“Ini semua milikmu.”


“Benarkah?”


“Really.”


Kemudian, Hanin berlari memeluk Kenan.


“Love you, Ken.”


“Love you too, sayang.”


Kenan menitikan air mata, mengingat kejadian itu. ia menangis, menyandarkan tubuhnya pada lemari besar itu. lemari besar yang berada di sisi kanan pintu masuk, sedangkan hanin berada di lemari besar yang terletak di sisi kiri, sisi yang cukup jauh dari pintu.


“Sayang, kamu bilang kamu mencintaiku, tapi kenapa pergi?” tanya Kenan pada dirinya sendiri.


Kenan menangis. Tubuhnya lemas, hingga ia pun ikut terduduk di lantai.


“Haniiin,” teriak Kenan, hingga menggema ruangan itu.


Hanin yang sudah tertidur cukup lama itu pun, mendengar teriakan sang suami. Ia pun terjaga. Hanin mengerjapkan mata dan menggerakkan tubuhnya.


“Aww.. Ssshh ..” ia merintih saat hendak menggeserkan tubuhnya untuk bangun. Pinggang Hanin terasa pegal, karena ia tertidur dalam keadaan duduk yang cukup lama.


Sontak, Kenan pun mendengar suara rintihan itu. Suara rintihan itu terdengar aneh, karena ia merasa berada di ruangan ini sendirian.


“Aww ... Ssshh ... pinggangku,” gumam Hanin dengan suara yang cukup terdengar.


Hanin masih duduk di lantai, ia menggeliat, meregangkan otot-ototnya yang kaku karena tidur dalam posisi yang tidak biasa.


Perlahan, Kenan mendekati tempat persembunyian Hanin. Hatinya dag dig dug berdebar kencang, sama seperti saat ia pertama kali akan menemukan Hanin yang menghilang waktu itu dan bertemu di ruang rapat kantornya sendiri.


“Ya ampun, Sayang.” Mata Kenan akhirnya menangkap sosok wanita yang sudah menjadi pelengkap jiwanya itu.


Hanin yang tidak tahu apa-apa itu pun menonggak cepat ke arah sang suami dengan tatapan tak bersalah.


Kenan langsung berjongkok dan memeluk Hanin dengan erat, hingga tubuh Hanin pun terhuyung ke belakang dan mentok ke dinding.


Hanin melingkarkan kedua tangannya untuk menerima pelukan itu.


Kenan menangis di bahu Hanin. “Mengapa kamu bisa setega ini? Huh. Kamu senang membuatku menderita, senang membuatku panik, membuatku marah-marah, membuatku hilang kendali, hingga seperti orang gila seperti ini? Huh!”


Hanin mengelus punggung suaminya. Walau ia pun masih bingung apa yang terjadi, tetapi ia tetap memberi ketenangan pada sang suami, hingga akhirnya kenan mengendurkan pelukan itu. Kenan menangkup wajah Hanin dan menatapnya.


Hanin bisa melihat airmata yang membasahi pipi suaminya.


“Kamu mau kabur dariku, Huh?”


Hanin menggeleng dan melongo menatap suaminya. “Tidak, aku tidak kabur.”


Kenan kembali memeluk tubuh Hanin. “Empat jam, aku mencarimu kesana kemari, seperti orang gila.”


Kemudian, Kenan merengganngkan pelukan itu lagi dan menangkup wajah itu kembali. Ia menciumi seluruh wajah Hanin.


Hanin tersenyum mendapatkan perlakuan itu. Ia membalas kecupan Kenan saat kecupan itu sampai di bibirnya.


“Apa acaranya sudah selesai?” tanya Hanin polos. “Sepertinya aku tertidur terlalu lama di sini.”


Kedua wajah itu tampak dekat dan tak berjarak. Kenan menempelkan keningnya pada kening Hanin.


Pertanyaan Hanin langsung membuat Kenan tertawa. ia baru menyadari bahwa selama ini, sang istri tertidur di ruangan ini.


“Shit.” Kenan merutuki kebodohannya yang hanya menelusuri ruangan ini dengan pandangannya saja, tanpa berjalan menuju sudut ruangan ini. Sudut ruangan yang Hanin pakai untuk duduk dan tertidur.


“Kenapa, By? Apa aku berbuat salah?” tanya Hanin polos.


Kenan kembali tertawa. “Salah, kamu berbuat kesalahan besar dan harus mendapatkan hukuman yang besar juga.”

__ADS_1


“Aku salah apa, By? Aku hanya tertidur sebentar di sini.”


Lalu, kenan membawa tubuh Hanin dan menggendongnya ala bridal. Kenan berjalan keluar ruangan itu, menuju kamarnya.


“By, aku lapar,” rengek Hanin.


Kenan menggeleng. “Kamu harus di hukum.”


“Tadi pagi kan udah,” rengek Hanin yang tahu seperti apa hukuman itu.


Kenan tetap membawa Hanin menuju kamarnya.


“Hubby,” panggil Hanin lirih.


Namun, Kenan menghiraukan panggilan itu. Ia kesal dengan sang istri yang sudah membuatnya kalang kabut dan malah enak-enakan tertidur di sana.


“Ken,” panggil Hanin kesal, karena Kenan tidak menjawab rengekannya dan terus berjalan.


“Ken Ken jelek,” teriak Hanin.


Kenan menoleh ke arah Hanin dan tersenyum. Ia tetap akan melakukan aksinya. Ia ingin Hanin terus berteriak di bawah kungkungannya.


Di atas ranjang itu, berkali-kali Kenan melakukan aksinya. Ia tampak tak pernah puas memainkan tubuh yang membuatnya kalang kabut setengah mati.


“Kenan udah,” teriak Hanin yang kesal, karena sang suami tak kunjung menyelesaikan aktifitas panas ini.


Hanin sudah berkali-kali mendapatkan pelepasan. Namun, Kenan terus membuatnya berteriak, hingga ia tak lagi memanggil sang suami dengan sebutan ‘hubby’.


“Ken, udah." lirih Hanin, merasakan tubuhnya terus digunakan.


"Belum. Aku masih kesal." Kenan masih mereguk nikmat. Ia kesal dengan kelakuan sang istri hari ini. Walau sebenarnya Hanin tak berniat membuat sang suami kelimpungan seperti itu.


"Ken, aku lapar.”


“Biarin."


“Kamu tega.”


“Kamu juga tega, buat aku seperti orang gila,” sahut Kenan di tengah penyatuan itu.


“Maaf, Ken. aku kan ga sengaja tertidur di sana. lagian kamu asyik mengobrol sama temanmu itu dan mengabaikanku.”


Kenan yang sedang memainkan kedua gunung kembar kenyal itu pun mendongak dan mensejajarkan wajahnya pada sang istri.


“Siapa yang mengabaikanmu?”


“Kamu.”


“Mengapa tidak ikut ngobrol saja bersama?” tanya Kenan.


“Ogah. Aku ga mau satu meja dengan wanita genit.”


Kenan pun tertawa. “Dia genit. Tapi kamu penggoda.”


“Enak aja.” Hanin memoyongkan bibirnya. Ia masih tak terima jika Kenan meledeknya dengan sebutan wanita penggoda.


“Ya, karena kamu satu-satunya wanita yang selalu berhasil menggodaku,” ucap Kenan sembari mencubit put*ng kanan Hanin yang masih tegak karena ulah Kenan.


“Aww.. Kenan ..." rengek Hanin manja. "Nyebelin.”


Hanin merajuk, membuat Kenan kembali tertawa.


Kemudian, Kenan memelankan tawanya dan mengelus wajah itu.


“Maafkan aku, Sayang.” Tangan Kenan meraba dan mengelus perut bulat Hanin yang tak terhalang apapun. “Maafkan Papa, girl.”


Hanin tersenyum. Untuk kali pertama, Kenan memanggil bayi yang ada diperutnya ini dengan sebutan itu.


“Jika sekarang dia perempuan, maka nanti kita akan membuatnya lagi,” ucap Kenan dengan tangan yang masih berada di atas perut Hanin.


“Jika perempuan lagi?” tanya Hanin.


“Buat lagi.”


“Jika ternyata perempuan lagi?” tanya Hanin lagi.


“Buat lagi.”


“Perempuan lagi?”


“Buat lagi.”


“Sampai kapan?” tanya Hanin kesal.


“Sampai menjadi kesebelasan. Lalu, kita buat tim kesebelasan wanita.”

__ADS_1


“Kenan ...” teriak Hanin sembari memukul dada suaminya.


Kenan pun tertawa. Sungguh, Ia sangat senang dan gemas melihat ekspresi sang belahan jiwanya yang tengah merajuk.


__ADS_2