
Peserta acara gathering perusahaan Kenan Ahitama, kembali memasuki kapal. Tepat pukul sebelas malam, kapal pesiar nan mewah itu mulai bergerak. Seharian, mereka menikmati negeri jiran dengan segala tempat wisata yang banyak dikunjungi para pelancong.
Berbeda dengan para peserta lain yang memang mengikuti bus tour yang disediakan penyelenggara, Kenan dan keluarganya justru bertandang ke rumah Nida. Rasti dan Kiara dengan keluargnya pun ikut ke rumah kakak kandung Hanin, kecuali Vicky dan Vanesa. Vicky menjadi guide istri dan kedua adiknya di sana, sedangkan Vanesa, Riza dan Sean justru memilih melipir ke Lego Land bersama Dave dan Vely. Yang penting saat kapal akan bergerak, mereka kembali lagi ke kapal.
Hari ini adalah hari spesial untuk Emran karena rumahnya didatangi oleh keluarga Kenan, keluarga yang memiliki reputasi bisnis internasional termasuk di sini. Mereka bercengkrama hangat. Keluarga Kenan dan Hanin tampak saling terikat satu sama lain. Rasti mencoba membuat beberapa masakan khas negeri ini dari Nida. Begitu pun Kiara. Nida mengajarkan cara membuat Naan bread rasa Malaysia lengkap dengan saos kare dan acar asam.
“Eum, tapi kok rasanya beda ya, kalau aku bikin sendiri,” ujar Kiara yang menyicipi makanan itu ketika sudah matang.
“Kalau ini memang Naan, Sayang. kalau yang kamu buat itu martabak,” sahut Gunawan.
“Tapi kamu doyan. Buatanku kamu habisin semua,” jawab Kiara manja.
“Emang kamu bisa bikin ini, Ra? Kok kakak ga pernah nyobain,” kata Kenan.
“Baru sekali Kak. Iya kan, Mom?”
Rasti mengangguk tersenyum. “Kalau begitu nanti kita buat versi resep Nida nanti.”
“Hanin ikut,” seru istri Kenan.
“Nah,, iya ajak Hanin. pasti Hanin juga udah jago bikin ini.”
“Boro-boro, Mam. Hanin ga pernah bantuin aku kalau lagi masak. Dia mah bisa nya makan doang,” ujar Nida yang membuat Hanin tersipu malu.
Semua orang yang duduk di meja makan itu pun tertawa.
"Kak, ih. Buka kartu aja deh,” ucap Hanin.
“Tapi aku tetap cinta kok,” jawab Kenan tersenyum ke arah istrinya.
“Uuuuuuu ....” sorak semua orang di sana. Apalagi Kiara, suara wanita itu paling kencang.
Sementara Kenan tersenyum ke arah istrinya sambil mengedipkan satu mata, membuat bibir Hanin yang duduk di seberang suaminya itu pun terus mengembang. Kenan memang selalu saja bisa membuat dirinya terbang.
Puas berada di negara itu, mereka kembali ke Kapal saat matahari tak lagi bersinar. Kini kapal mulai bergerak melaju Thailand, negara terakhir yang akan mereka kujungi.
Kak Nida dan keluarganya tidak lagi berada di dalam kapal ini. setelah mereka sampai di rumahnya dan menyambut tamu dari keluarga Adhitama, mereka memang tidak berencana kembali ikut ke kapal, karena setelah sampai di Thailand, kapal akan langsung kembali ke Indonesia tanpa mampir berlabuh ke tempat lain.
“Udah puas ngobrol sama Kak Nida? Hmm?” tanya Kenan saat keduanya tengah berada di kamar.
Malam ini, Kevin tidur di kamarnya sendiri bersama pengasuhnya.
Hanin nyengir. Ia ingat betul selama di rumah Nida hari ini, ia memang banyak mengabaikan suaminya. Hanin lebih sering bersama Nida, Rasti, dan Kiara. Ralat, Kiara dan Gunawan yang semakin bucin setelah kejadian malam itu, justru semakin lengket dan terlihat tidak pernah terpisah. Kebetulan rumah Emran sangat asri dan dilengkapi dengan berbagai permainan anak yang edukatif. Kayla juga tampak senang bermain dengan kedua anak Nida. Pengasuh Kayla dan Kevin sengaja dibebaskan untuk ikut bersama bus tour, sehingga di rumah itu benar-benar hanya ada keluarga inti Kenan.
“Maaf, Hubby.” Hanin mengelus rambut Kenan yang sedang memeluk perutnya.
Hanin dan Kenan berada di atas ranjang. Namun, Hanin masih duduk dengan menyandarkan tubuhnya pada dinding tempat tidur itu. Sementara Kenan sudah berbaring dan menjadikan kedua paha Hanin sebagai alas kepalanya hingga memeluk perut ramping itu.
“Untung aja, Kak Nida jauh. Kalau Kak Nida tinggal juga di Jakarta, pasti aku akan lebih sering kamu tinggal,” kata Kenan manja dengan posisi yang masih sama.
“Ih, apa sih? Jangan bilang kamu cemburu sama Kak Nida!” Hanin tertawa.
Kenan menganggukkan kepalanya. Gerakan kepala itu terasa di perut Hanin, membuat wanita itu pun tertawa. “Kamu tuh lucu banget sih, By. Cubit nih!” Hanin gemas, mencubit pipi Kenan dan mengacak-acak rambut ikal suaminya.
Kenan tersenyum, lalu mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah istrinya yang sedang tertawa lepas. “Pokoknya perhatian kamu cuma buat aku. Fokus kamu itu aku, dan waktu paling banyak bersama aku.”
Hanin nyengir dan menggelengkan kepalanya. “Ish posesif banget. Ngga bagus tau. Yang ada nanti kamu cepet bosen sama aku.”
__ADS_1
Kenan langsung bangun dan mesejajarkan wajahnya pada Hanin. Ia menempelkan keningnya pada kening Hanin hingga deru nafas Kenan pun terasa di kulit wajah Hanin.
“Aku ga pernah bosen sama kamu,” kata Kenan dengan suara sensual.
Bibir Kenan kini menelusuri leher jenjang Hanin, hingga wajah Hanin mendongak ke atas untuk memberi akses suaminya menelusuri bagian itu.
“By, tadi kamu bilang kamu capek,” ucap Hanin dengan suara sensual menahan sensasi yang tengah Kenan ciptakan.
“Ini bukti kalau aku ga pernah bosan, Sayang.” Tangan Kenan meraba ke belakang dan membuka resleting gaun tidur Hanin hingga pakaian itu meorot sampai pinggul.
Kenan langsung melahap dua gunung kembar itu bergantian, karena tubuh Hanin memang hanya dibalut dengan gaun tanpa dalaman.
“Ken, ssshh ....” desis Hanin sambil meremas rambut Kenan yang masih setia bermain di bagian dadanya.
“Tidur, By. Istirahat. Eum ...” Hanin menggigit bibir bawahnya karena hisapan Kenan semakin kuat di sana.
Kini Kenan menggantikan posisi Kevin. Beberapa menit kemudian, mulut Kenan terlepas dari bagian itu. Kepalanya kembali mensejajarkan pada wajah Hanin sambil tangannya bermain di bagian yang ia hisap tadi.
“By, Ssshhh ...” Hanin masih melenguh karena tangan Kenan yang nakal.
Kenan tersenyum. “Makanya jangan bilang kalau aku akan bosan! semakin kamu bilang gitu, aku akan lebih sering sentuh kamu.”
Hanin tertawa.
“Oh, atau jangan-jangan kamu malah sengaja bilang gitu, supaya aku sering sentuh kamu. Iya!” Kenan menoel pinggang Hanin, membuat tubuh wanita itu tersentak.
“Ngga. kamu aja yang sensi.” Hanin masih tertawa.
Kenan tertawa dan kembali menggelitiki pinggang Hanin hingga Hanin memeluk tubuh suaminya, karena Hanin sadar betul bahwa ia telah bertelanjang dada.
“By, udah stop!” Hanin mengaduh
“Udah ah, By. Capek. Tidur aja ya!” pinta Hanin setelah memelankan tawanya.
Kenan tersenyum dan mengangguk. “Oke. Tapi aku mau gantiin posisi Kevin selama tidur.”
“Ish, kamu.” Hanin memukul pelan dada suaminya dan Kenan pun tertawa.
Di kamar Vicky dan Gunawan juga tak jauh berbeda. Ketiga pria mesum ini tidak pernah berhenti mengerjai istri mereka ketika malam. Untung saja, Vicky memiliki istri seperti Rea yang masih muda dengan hasrat yang juga tengah menggelora.
Walau keduanya lelah dengan aktifitas hari ini yang pergi kesana kemari, tapi malam ini Vicky tetap memenuhi kepuasan batin Rea dan Rea pun tidak menolaknya, karena buat Rea sentuhan Vicky memabukkan.
****
Pagi menjelang. Hari ini adalah hari terakhir dengan destinasi terakhir. Mereka mengunjungi The Grand Palace, Wat Arun, dan Sung Nong Nooch sebagai salah satu taman yang paling indah di dunia. Destinasi wisata yang satu ini memiliki panorama yang indah dan sejuk, lengkap dengan pemandangan yang tiada duanya.
Sore harinya, mereka mampir ke pantai pattaya. Di sana panitia sengaja mengadakan acara sebagai acara penutup dari perjalanan mereka. Di pantai itu mereka mengadakan perlombaan kecil seperti voly pantai, tarik tambang dan segala jenis permainan seru untuk karyawan-karyawan Kenan yang ikut dalam gathering ini.
Hanin bersama Kiara, Vely, dan Rea tampak tertawa melihat orang-orang yang tengah mengikuti lomba. Mereka sejenak melupakan keberadaan para suami mereka.
“Hai, Mr. Kenan. Mr. Vicky,” sapa seorang wanita yang ditemani oleh ketiga wanita lainnya. Dia adalah salahs seorang mitra bisnis Kenan yang berasal dari negera ini.
Kenan, Vicky, Gunawan, dan Dave berada di hotel yang cukup dekat dengan pantai. Kenan sengaja meminta Vicky untuk bertemu dengan rekan bisnisnya yang bernama Jane itu di sini, agar masalah bisnisnya dengan Jane dapat terselesaikan.
“Hai.” Kenan membalas uluran tangan wanita itu, begitu pun Vicky.
Lalu, Kenan memperkenalkan Dave dan Gunawan pada wanita itu. Dave dan Gunawan pun mengulurkan tangannya.
__ADS_1
Kenan memang cukup akrab dan tidak terlalu canggung dengan pengusaha wanita asal Thailand ini, karena wanita ini sangat supel. Ditambah kerjasama mereka pun sudah hampir sepuluh tahun, sehingga mereka cukup tahu satu sama lain.
“Hai, Vick. Long time no see,” ucap wanita cantik yang duduk di samping wanita yang menyapa Kenan tadi.
Rekan Kenan itu memang memiliki banyak bisnis di negara ini termasuk club malam dan prostitusi. Hanya saja, kenan berbisnis dengannya bukan dalam hal itu melainkan pasokan udang dan saat ini mulai merambah properti.
“Hai, May.” Vicky tersenyum ke arah wanita cantik dan seksi itu.
“Ini wanita yang suka nemenin lu kalo lagi tugas di sini?” tanya Gun sambil berbisik.
Gun dan Dave duduk di antara Vicky.
“Waw, lumayan,” ledek Dave menatap ke arah May tanpa kedip.
“Ck, pantes lu betah banget kalo disuruh Kenan ke Thailand,” ujar Gun lagi.
Gunawan menengok ke kiri dan kanan. “Kira-kira di sini ada Rea ga ya?”
Vicky membulatkan matanya ke arah Gun. “Lu seneng banget kalo liat gue sama Rea berantem. Dasar sahabat kurang ajar.”
Gun tertawa, begitu pun Dave.
Sementara di depan mereka para wanita yang di bawa Jane, wanita yang merupakan teman bisnis Kenan memang wanita penghibur yang bekerja di club malamnya. Ia sengaja membawa wanita unggulan di club malamnya itu untuk menemani dirinya bertemu dengan Kenan.
Jane tidak tahu bahwa Kenan ke sini bukan mengkhususkan pertemuan mereka. Jane pun tidak tahu kalau Keempat pria itu ke sini dengan membawa istri mereka.
Di pantai, Kiara mencari suaminya. “Mas Gun kemana ya?”
“Kenan juga ngga ada,” sahut Hanin.
“Sama, aku juga nyari Dave ga ketemu.”
Ketiga wanita itu tengah berdiri di pinggir pantai sambil mencari suaminya.
Dari arah yang berbeda, terlihat Rea berlari ke arah Hanin. “Mbak, liat Mas Vicky ga?”
Ketiga wanita itu menatap Rea dan menggeleng.
“IH, pada kemana sih, cowok-cowok itu?” tanya Vely.
“Ya udah, ayo kita cari! Mungkin di dalam hotel itu.” Kiara menunjuk ke sebuah gedung yang tak jauh dari tempatnya berdiri.
“Yuk!” Hanin mengajak Vely dan Rea.
Keempat wanita itu pun berjalan ke dalam hotel. Mereka terus menelusuri keberadaan suami mereka, hingga mereka melihat ke arah restoran.
Ada keempat pria yang sedang berdiri tengah mengambil makanan di temani oleh keempat wanita. Kenan berdiri bersama Ajne di sampingnya samil berbincang cukup dekat, lalu Vicky bersama May, sedangkan Gun dan Dave bersama dua wanita lain yang di ajak Jane.
Kiara geram, melihat suaminya yang sedang tertawa bersama wanita seksi itu sambil bertolak pinggang. “Kurang ajar banget mereka.”
“Wah, ternyata mereka di sini lagi senang-senang. Tadi izinnya mau ketemu klien. Klien apaan kaya gini,” ujar Hanin geram sambil bergaya sama dengan Kiara.
“Kok, Mas Vicky begitu sih. Awas aja!” Rea sudah mengepalkan kedua tangannya seolah ingin bertinju.
Ketiga wanita itu sama-sama bertolak pinggang dengan arah mata ke pemandangan yang tak mengenakkan itu.
Tinggal hanya Vely yang belum bersuara. Ia masih syok dengan pemandangan di depannya. Pasalnya Dave adalah tipe pria yang susah didekati lawan jenis. Tapi siang ini, ia melihat Dave tertawa dengan wanita itu di sana.
__ADS_1
“Dave sebelumnya ngga gini loh. Ini pasti gara-gara ketemu suami kalian nih,” rengek Vely.