Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Aku pun beruntung mendapatkannya


__ADS_3

Di apartemen, malam ini, Kenan masih berada di ruang kerjanya. Ia melihat beberapa laporan yang masuk ke emailnya. Ia pun melihat laporan keuangan dari beberapa kartu debit dan kredit yang ia berikan pada Hanin. Kenan membuka rincian penggunaan di tiga bulan terakhir. Ia menggelengkan kepalanya, saat mendapati tak ada pemakaian uang yang signifikan. Hanin praktis memakai kartu itu hanya untuk keperluan rumah tangga saja.


Kenan pun tersenyum. Ia benar-benar memiliki istri yang super hemat, padahal Hanin dapat melakukan apapun dengan uangnya.


Kenan menutup laptop dan membereskan berkas yang semula terserak di meja itu. Ia ingin segera menemui sang istri, lalu keluar dari ruangan itu. Saat keluar, ia menemukan sang istri yang berjalan ke arahnya.


“Loh, sudah selesai? Baru aku mau kasih kopi ini untukmu. Aku kira kamu akan bekerja sampai malam.”


Kenan dan Hanin berdiri berhadapan. Kenan tersenyum dan meraih gelas yang ada di tangan sang istri. Ia meminumnya sedikit, lalu meletakkan gelas itu asal di atas lemari kecil yang berada tak jauh dari tempatnya berdiri.


Kemudian, Kenan langsung mengangkat tubuh Hanin dan Hanin dengan cepat melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Kenan.


“Kamu kira aku akan biarkan kamu terlelap sebelum aku melakukan ritual malam kita.”


“Hubby.”


Hanin memanggil lirih panggilan kesayangan Kenan dengan senyum lebar.Entah mengapa, ia maasih saja malu jika Kenan berbicara yang menjurus ke arah itu.


Kenan pun ikut tersenyum. Ia berjalan ke kamar dengan masih posisi menggendong Hanin seperti koala.


“Malam ini, kamu harus aku hukum lagi,” ucap Kenan di sela langkah kakinya menuju kamar.


“Memangnya aku melakukan kesalahan?” tanya Hanin bingung.


“Tentu saja.”


“Apa? Roti yang gosong kemarin? Itu karena aku sedang menerima telepon dari Karmen dan Irma, By.”


Kenan tertawa. Ia malah lupa dengan insiden itu. “Bukan.”


“Lalu, apa?”


Kenan mendudukkan dirinya di sofa yang terdapat di dalam kamar itu. Sofa yang berada dua meter di depan ranjang king size berwarna biru laut tempat mereka memadu kasih.


Hanin mengapit kedua paha Kenan dan duduk di pangkuannya.


“Karena kamu tidak pernah menggunakan kartu yang aku berikan untuk kesenanganmu.”


“Baru saja aku ingin meminta izin untuk menggunakannya,” jawab Hanin. Ia memang ingin bertemu dengan kedua sahabtnya, mumpung saat ini Irma sedang ada di Jakarta.


“Pakailah sesukamu! Dan tidak perlu meminta izin untuk menggunakannya.”


Mata Hanin berbinar. “Benarkah?”


Kenan mengangguk. “Justru aku sangat marah, jika kamu tidak menggunakan fasilitas yang kuberikan.”


“Bukan tidak ingin menggunakan fasilitas itu, tapi belum sempat,” sanggah Hanin dengan manatap mata Kenan.


Mereka saling bertatapan tanpa jarak. Kedua tangan Kenan memeluk pinggang Hanin agresif, hingga dada Hanin menempel pada dadanya.


“Karena tiga bulan terakhir kamu tidak menggunakan kartu yang aku berikan, maka sebagai hukumannya kamu harus melayaniku sebanyak tiga kali malam ini.”


Hanin mengeryitkan dahinya. “Kok gitu.”


Kenan tertawa.

__ADS_1


“Itu akal-akalanmu saja.” Hanin memukul dada Kenan agar menjauh, karena Kenan tertawa sembari mengeratkan tubuhnya pada tubuh sang istri.


Hanin pun ikut tersenyum walau bibirnya semula cemberut.


Kenan mengangkat kembali tubuh sang istri dan merebahkannya di atas peraduan mereka. Kenan menindih tubuh Hanin.


“So, apa rencanamu besok?”


“Aku ingin keluar dengan Karmen dan Irma. Mungkin, kami akan shoping dan perawatan. Aku gunakan kartumu untuk mentraktir mereka ya,” ungkap Hanin sembari mengedipkan kedua matanya diiringi senyum yang sangat manis.


Kenan mengangguk dan tersenyum.


“Kalau begitu malam ini kamu membayar hukuman atas fasilitas yang tidak kamu gunakan, dan malam besok kamu membayar atas fasilitas yang kamu gunakan bersama teman-temanmu.”


“Berarti sama saja, digunakan tidak digunakan fasilitas itu, aku tetap mendapat hukuman,” rengek Hanin dan Kenan hanya tertawa.


Lalu, Kenan pun memulai aksinya. Ia senang sekali menjahili istrinya yang cantik dan polos itu.


****


“Ken, sorry gue ga bisa nemenin lu di acara penting ini.”


Sebuah pesan masuk dari Vicky.


Di dalam mobil, Kenan membalas pesan dari asistennya yang masih menikmati liburan. Ia duduk di kursi belakang penumpang dan tengah di supiri oleh supir operasional perusahaannya. Seperti yang sudah di jadwalkan, siang ini Kenan ditemani Siska menuju sebuah toko buku terbesar memenuhi jadwal acara launching biography kesukesasan Kenan yang dituangkan dalam tulisan.


Kenan duduk di kusi belakang sendiri, sedangkan Siska duduk di kursi penumpang depan bersama supir. Ia membaca pesan itu dan membalasnya.


“Gue ditemenin Siska. By the way kapan lu balik? Betah banget di Labuan Bajo.”


“Yoi, ada yang bening di sini.” Vicky memnggunakan emot tertawa. Lalu ia menuliskan pesan lagi. “Senin, gue masuk.”


Kenan kembali membalas.


“Cepet banget dapet yang bening. Well, baguslah kalau lu udah bisa move on dari adik gue.”


“Pengalihan, Ken. Tapi lumayanlah. Thanks, Bro untuk liburannya.”


Kenan tersenyum, membaca balasan terakhir Vicky. Pria itu memang benar-benar selengeyan. Mudah sekali dia mendapatkan pelarian dan tetap tertawa. Lalu, Kenan memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan mengalihkan pandangannya ke jalan.


Kemudian, Kenan teringat lagi kebersamaannya bersama sang istri semalam. Ia pun merogoh kembali ponselnya yang sudah berada di dalam saku celana. Ia melihat keberadaan sang istri yang tersambung pada ponselnya. Ia melihat Hanin baru saja berada di sebuah mall.


“Bersenang-senanglah, Sayang,” gumam Kenan.


Sesampainya di toko buku itu, Kenan sudah di sambut panitia dan menggiringnya ke sebuah pelataran yang sudah disiapkan. Di sana, Kenan memulai sambutan, setelah MC itu selesai memberi awalan kata.


Di kursi penonton, terdapat anak laki-laki yang baru saja lulus sekolah dasar bersama ibunya. Arah mata mereka tertuju pada Kenan yang sedang berbicara di depan panggung. Kenan duduk dengan melipat kakinya. Ada beberapa media yang meliput kegiatan ini.


Setelah Kenan memberi sambutan, MC yang duduk di depan Kenan pun mulai mewawancarai. Satu persatu rangkaian acara itu pun terlewati. Kini, tinggal sesi tanya jawab. Si MC pun memberi lima pertanyaan pada penonton dengan hadiah buku beserta tanda tangannya.


“Pertanyaan terakhir, ayo siap!” kata MC itu. “Sejak usia berapa tahun, Pak Kenan tertarik dengan dunia bisnis?”


Anak kecil yang duduk di samping ibunya itu pun mengangkat tangan dengan cepat. Lalu, diikuti dengan yang lain. Namun, Kenan lebih tertarik menunjuk ke arah anak kecil itu untuk memberi kesempatan padanya menjawab. Dia adalah satu-satunya anak kecil yang hadir dalam acara ini.


Anak kecil itu pun berdiri. “Dua belas tahun,” jawabnya lantang.

__ADS_1


Ya, Kenan memang sudah tertarik membaca buku bisnis dan manajemen aang ayah ketika ia seusia anak laki-laki yang menjawab pertanyaan itu.


Kenan pun tersenyum pada anak itu. Ia merasa seperti dejavu, ketika duduk di antara orang dewasa dan menjawab sebuah pertanyaan dari orang sukses kala itu yang juga tengah terkenal dan menjadi sorotan.


Usai acara selesai. Kenan menandatangani buku itu satu persatu untuk kelima orang yang menjawab pertanyaan MC tadi.


Lalu, tinggallah anak kecil tadi yang menjawab pertanyaan terkahir. Anak kecil itu berdiri di depan Kenan.


Kenan menatap anak kecil itu. “Siapa namamu?”


“Marcel.”


Kenan tersenyum dan mulai memberiu tandatangannya di halaman depan buku itu.


“Berapa usiamu?” tanya Kenan lagi sembari melirik ke araha Marcel.


“Dua belas tahun.”


“Sudah kuduga. Kau akan sepertiku nanti,” ucap Kenan. “Dengan siapa kau kesini?”


“Ibuku.” Marcel menunjuk ibunya yang berdiri di belakang.


Wanita itu tersenyum menatap Kenan dan Kenan pun tersenyum. Lalu, wanita itu berjalan mendekati Kenan dan putranya.


“Misya.” Kenan menyebut nama ibu sang anak itu.


“Kamu masih mengenaliku?” tanya wanita itu.


“Tentu saja.” Kenan tersenyum. Ia melihat wanita itu merangkul bahu putranya dan berdiri di balakang.


“Maaf, aku tidak datang saat pemakaman Excel,” ujar Kenan.


“It’s oke. Lagi pula aku tahu, saat itu bertepatan dengan insiden keluargamu.”


“Ya, benar.” Kenan mengangguk. “Ini putramu?”


Misya mengangguk.


“Dia akan sukses seperti ayahnya.”


Misya hanya tersenyum kecut.


Misya adalah teman kuliah Kenan. Wanita itu sangat menyukai Kenan sejak mereka bertemu saat ospek. Kenan hanya menanggapi perhatian Misya seperti teman, walau Vicky selalu mengingatkan bahwa perhatian yang diberikan Misya tidaklah seperti teman. Namun, Misya tidak pernah mengutarakan perasaannya pada Kenan, hingga Misya disukai oleh Excel yang merupakan anak dari rekan kerja Kean. Misya pun anak dari salah satu rekan kerja Kean. Biasanya di saat acara tertentu, Kean bersama rekan kerja dekatnya, termasuk James akan membawa keluarga. Vanesa, Kenan, Misya, Excel, dan beberapa anak yang lain dari keluarga masing-masing pun hadir. Dan, dari sanalah mereka saling mengenal.


Misya yang pemalu dan hanya bisa memendam perasaannya pada Kenan pun, hanya bisa memendam rasa itu hingga kini. Walau ia sudah dipersunting pria lain. Namun, hatinya masih mengingat Kenan. berbeda dengan Vanesa yang agresif sejak dulu.


Kenan sebagai lelaki pun pernah sedikit tertarik dengan keluguan dan kecantikan Misya. Namun, ambisinya untuk sukses dan akhirnya harus menjadi tulang punggung keluarga, membuatnya tidak berpikir tentang cinta.


“Istrimu tidak hadir?” tanya Misya.


Kenan menggeleng. “Tidak, dia sedang bersenang-senang dengan teman-temannya.”


Kenan menyerahkan buku yang telah ia tandatangani ke tangan Marcel.


“Beruntung sekali istrimu,” ucap Misya.

__ADS_1


“Ya, aku pun beruntung mendapatkannya,” jawab Kenan tersenyum ke arah Misya, membuat Misya langsung terdiam.


__ADS_2