
Kenan masih terdiam. Di dalam layar laptop itu, ia hanya bisa menatap sang ibu. Rasti pun terdiam, menunggu jawaban dari putranya.
“Mam, kita bicarakan ini nanti. Setelah Kenan pulang. Kenan janji sesampainya di Jakarta, Kenan langsung ke rumah Mami.”
“Ngga, Ken. Mami mau tahu jawabannya sekarang! Mami ngga tenang kalau harus menunggumu pulang.” Desak Rasti.
Kenan terdiam kembali, haruskah ia mengatakannya sekarang? Ia mencoba menimbang baik buruknya. Jika menjawab tidak, positifnya sang ibu akan senang tapi negatifnya sang ibu pasti akan memintanya untuk kembali pada Vanesa dan memberi wanita itu harapan palsu. Jika menjawab ya, positifnya ia tak perlu lagi berbohong karena menjadi pembohong itu merepotkan, karena setiap saat harus terus berpikir untuk mencari kebohongan kedua ketiga keempat dan seterusnya. Namun, negatifnya, mungkin ang ibu akan syok dan itu yang Kenan takutkan, walau sang ibu tak memiliki riwayat jantung. Namun, ia memiliki penyakit darah tinggi. Sesuatu yang mengejutkan bisa memicu penyakit itu kambuh dalam seketika.
“Mam. Kita bicarakan nanti ya,” ucap Kenan lembut.
“Mami ingin sekarang, Ken.” Rasti terus menekan Kenan.
“Kalau sekarang, Mami tahu. Apa nanti Mami tidak kaget? Nanti Mami sakit dan Kenan tidak ingin itu.”
“Berarti, itu benar?” tanya Rasti dengan raut wajah yang tidak lagi lembut.
Kiara yang mendengar hal itu pun, langsung berdiri dan menghampiri sang ibu yang duduk di sana.
“Kak.” Kiara berdiri di belakang sang ibu yang tengah duduk di kursi kerja Vicky.
“Kiara.”
“Jadi benar? Kakak sudah menikah? Dengan siapa?” tanya Kiara bertubi-tubi.
“Dengan siapa, Kenan? Mengapa kamu tega sama Mami? Mengapa tidak memberitahu Mami sebelumnya? Ken, kamu telah mempermalukan Mami, apa yang harus Mami ucapkan pada Alin dan James? Apa, Ken?” Rasti menangis tersedu-sedu.
“Tuh, Kan. Kalau Kenan jawab, pasti Mami jadi ngga tenang. Ya sudah besok, Ken pulang,” ucap Kenan tegas. “Mami tidak perlu khawatir, Ken sudah minta maaf pada Mommy dan Daddy Vanesa. Mami tidak perlu memikirkan hal ini, karena Kenan yang akan menyelesaikannya.”
“Tidak bisa, Ken. Mami dan orang tua Vanesa sudah seeprti keluarga.” Rasti masih menangis.
“Ya ampun, Mami. Sudahlah, jangan menangis! Aku mohon! Kenan sedang kerja, Mam. Tolong, jangan buat pikiran Kenan disini bercabang,” jawab Kenan memelas.
“Mam, benar kata kakak. Jangan menagis dulu, dengar penjelasan dari kakak nanti. Sudahlah, Mam.” Kiara mengelus punggung sang ibu untuk menenangkan.
“Mam, sudah ya! Kenan putuskan dulu sambungan ini. Ken, masih banyak kerjaan. Besok ken pulang dan langsung ke rumah Mami. Mami jangan banyak pikiran! karena Ken ngga mau Mami sakit. Oke.”
“Ken,” Rasti memanggil putranya lirih.
Namun, Kenan tetap mematikan sambungan zoom itu, sambungan komunikasi terkini yang mampu berkomunikasi dengan meilihat wajah orang itu seperti sedang berhadapan langsung.
Kenan memang benar-benar anak berbakti. Ia tak pernah ingin membuat sang ibu menangis, karena ia cukup tahu betapa menderitanya Rasti paska ditinggal oleh suami atau ayah Kenan. Ia mencoba berada di tengah antara ibu dan istri yang ia cintai.
Sementara, Vicky hanya duduk menunduk sambil memainkan rubik yang ada di meja kantornya.
“Vick,” panggil Rasti.
__ADS_1
Vicky langsung meletakkan rubik itu dan berdiri. “Iya, Mam.”
“Kamu tahu Kenan sudah menikah? Siapa wanita itu? Siapa wanita yang dinikahi Kenan?” tanya Rasti penuh penekanan.
Arah mata kedua wanita yang beda usia itu tengah mengintimidasi Vicky. Vicky pun melirik ke arah Rasti dan Kiara bergantian.
Vicky menggeleng. “Saya tidak tahu, Mam. Sumpah!” ia menunjukkan dua jarinya ke atas.
Vicky tidak ingin melangkahi Kenan, karena ini adalah urusannya, biar sahabtnya itu yang membereskan. Ia hanya perantara jika dimintai pertolongan.
“Bohong, kamu pasti tahu. Kamu kan orang yang sangat dekat dengan Kenan,” ucap Rasti.
“Katakan, Vick.” Kiara pun bersuara.
“Bener, Mam, Ra. Saya tidak tahu. Saya asisten dalam pekerjaan tapi dalam urusan cinta, itu urusan Kenan. Saya tidak tahu,” jawab Vicky bohong.
“Huh .... semua jawaban tidak ada yang bisa membuat Mami puas.” Rasti keluar dari ruangan itu tanpa pamit pada Vicky, padahal ia baru saja duduk dan menggunakan laptop milik pri yang tengah berdiri di hadapannya itu.
“Mam, Mami mau kemana?” tanya Kiara.
“Mami mau ketemu teman-teman Mami di mall xxx. Mami stres di sini. lebih baik Mami menenangkan diri di sana.”
Rasti pergi meninggalkan Kiara dan Vicky di ruangan itu. Kiara melihat pintu itu tertutup otomatiss setelah sang ibu berlalu pergi. Ia pun menarik nafasnya.
“Maafin, Mami ya Vick,’ ucap Kiara.
“Masa?” Kiara tertunduk malu.
Ia memang wanita angkuh dan arogan, sebelas dua belas dengan sang kakak. Kiara paling anti yang namanya mengucap Maaf dan terima kasih. Namun, hari ini ia berubah dan itu membuat Vicky tersenyum. Begitu pun dengan Kenan yang berubah karena telah menemukan tambatan hatinya.
Kiara mengambil tas yang ia taruh di kursi tamu Vicky.
“Aku pami, Vick.”
“Kamu mau kemana? Mau aku antar?”
Kiara menegakkan kepalanya. Mereka bertatapan dengan jarak yang tidak begitu jauh.
“Aku ingin ke supermarket xxx,” jawab Kiara.
“Aku antar, sebentar.” Vicky merapihkan laptop dan kertas-kertas yang berserakan di mejanya.
“Ngga usah, Vick. Kamu lagi sibuk. Lagian aku bisa naik taksi.” Kiara menyantelkan tas selempangnya ke bahu.
“Ngga repot, kok. Lagian udah mau jam makan siang juga. ngga apa-apa.” Vicky dengan semangat merapihkan ruangannya. “Tidak baik, ibu hamil jalan sendirian. Kalau ada apa-apa ngga ada yang tahu.”
__ADS_1
“Tuh kan, kamu doain aku yang buruk lagi. Emang bener ya, nasib aku buruk karena kamu.”
“Suudzon.” Vicky tertawa dan kiara akhirnya tersenyum tipis.
Lalu, keduanya berjalan bersama.
Vicky mengantarkan Kiara berbelanja, membeli perlengkapan dapur sesuai catatan si Bibi, juga susu hamil. Vicky tak pernah mempermasalahkan Kiara hamil dengan siapa dan pernah berhubungan dengan siapa. Yang pasti ia masih mencintainya. Cinta tak bisa memilih kepada siapa ia berlabuh. Cinta pun tak mengenal status, walau etika tetap di jaga. Vicky hanya ingin melindungi dan membahagiakan Kiara, walau wanita itu sedang mengandung anak dari pria lain, tapi ia tetap mencintai Kiara dan tak berkurang sedikit pun.
Vicky mendorong troli, sementara Kiara memgambil barang yang terdisplay. Mereka seperti layaknya suami istri, apalagi perut Kiara sudah terlihat buncit.
“Bu, boleh di coba produk baru ini,” Seorang wanita muda yang merupakan sales promotin girl itu, tengah menawarkan produk barang yang ia pegang.
Kiara melirik ke arah Vicky yang sedang tertawa.
“Bu, Pak, ini produk terbaru kami. Lebih elastis dan nyaman. Pasti bapak sama ibu ketaguhan pakai produk ini. tidak seperti produk yang lain Bu, Pak. Lagi pula ini ada berbagai macam rasa, jadi harum gitu pak, bu.” SPG itu terus menawarkan produknya pada Kiara dan Vicky.
Vicky makin tertawa. “Kamu mau coba? boleh juga.” ledek Vicky, karena produk yang di tawarkan SPG itu adalh kond*m.
“Apaan sih kamu, ngga jelas.” Kiara mencubit pinggang Vicky yang masih tertawa geli.
“Maaf ya, Mba.” Kiara dan Vicky melanjutkan langkahnya ke tempat yang lain. lalu, SPG itu pun pergi.
“Kenapa ngga di ambil, luamyan lagi diskon. Ada rasanya lagi,” ledek Vicky lagi.
“Buat kamu aja tuh, supaya ngga kenan penyakit pas lagi maen sama cewek-cewek club,” jawab Kiara.
“Sok tahu,” ucap Vicky.
“Tahulah,” kata Kiara asal dengan tetap pandangan yang lurus ke depan.
“Itu kan karena kamu. Kalau dari dulu kamu ngga milih dia dan mau jadi istriku. Aku ngga akan seperti ini.”
Sontak Kiara menoleh ke arah Vicky, karena lagi-lagi pria itu mengungkit masa lalu.
“Aku akan terima kamu, Ra. Walau bayi ini bukan anak aku. Aku akan tebus dosaku yang dulu aku tidak ingin jadi pria pengecut seperti dulu.”
Ternyata, persis di belakang Vicky dan Kiara yang tengah berjalan, ada Gunawan yang ingin menghampiri mereka. Semula, ia hanya ingin menyapa istri dan temannya itu. Namun, ia justru malah membuntuti karena percakapan mereka sepertinya sesuatu yang rahasia dan ingin ia dengar.
Seketika, Gunawan penuh tanya. Masa lalu apa yang terjadi antara Kiara dan Vicky? Dosa apa yang telah Vicky perbuat?
Gunawan diam mematung dan membalikkan tubuhnya untuk keluar dari tempat itu. Ia tidak jadi menyapa kedua orang yang ssangat ia kenal itu. padahal, ia sudah rindu istrinya.
Di kota kembang, Kenan masih memikirkan cara agar sang ibu tidak syok mendengar berita ini. ia memijat pelipisnya dan bergegas pulang. Ia ingin memeluk Hanin, karena hanya sang istri yang membuat moodnya kembali normal, hanya sang istri yang mampu meleraikan penatnya, dan yang mampu membuatnya tertawa.
“Hanin, aku akan mempertahankanmu untuk selalu di sisiku. Sungguh, aku sangat mencintaimu,” gumam Kenan dan bergegas pulang.
__ADS_1
Namun sebelum itu, ia merencanakan sesuatu untuk sang istri.