Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Panggilan kesayangan


__ADS_3

Syamsudin memarkirkan mobilnya di halaman rumah utama Aditama. Ia berlari memutar untuk membuka pintu untuk majikannya. Rasti duduk di kursi penumpang depan dengan menggendong Kayla. Lalu, Gunawan pun melakukan yang sama. Ia berjalan memutar dan membuka pintu untuk sang istri yang massih berjalan pelan.


Di depan pintu, Kenan merangkul Hanin. Keduanya tersenyum lebar ke arah Kiara dan Rasti yang sedang menggendong cucunya. Di belakang Kenan dan Hanin, ada beberapa pelayan rumah itu yang ikut berdiri untuk menyambut cucu pertama keluarga ini.


“Selamat datang.”


Sorak semua orang yang berdiri di pintu utama itu, sembari kertas-kertas kecil yang bertebaran dari atas.


Kiara dan Rasti terkejut, begitu pun Gunawan. Mereka tidak tahu, bahwa rumah ini telah di sulap untuk menyambut kedatangannya.


Terlihat senyum Kiara yang mengembang di sana. Gunawan pun sama, ia terus melebarkan senyum. Apalagi saat mereka memasuki ruang keluarga yang sudah di hias dengan nama “Welcome Kayla”.


“Siapa yang buat ini?” tanya Kiara.


“Siapa lagi kalau bukan, ini!” ibu jari Kenan menunjuk ke arah Hanin.


“Ini ide Mas Kenan,” sahut Hanin.


“Bukan, ini ide Hanin. Aku hanya membantu saja.” Kenan membanggakan nama sang istri di hadapan keluargnya.


“Terima kasih, Hanin.” Kiara tersenyum.


Gunawan yang merangkul tubuh istrinya itu pun masih mengambang senyum. “Makasih ya, Han.”


Hanin membalas senyum itu dan mengangguk. Lalu, ia beralih mendekati Rasti. “Sini, Mam. Biar Hanin yang gendong.”


Rasti pun menyerahkan Baby Kayla pada Hanin, kebetulan tangannya memang cukup pegal, sedari tadi menggendong bayi yang memiliki berat 3,4 kilogram itu.


Rasti duduk di samping Kenan dan Gunawan masih setia merangkul istrinya walau mereka kini dalam keadaan duduk. Mereka berada di ruang keluarga. Sedangkan Hanin berdiri sembari mengelus pipi mulus Baby Kayla yang matanya sayup-sayup di gendongan Hanin.


Si Bibi datang dan menaruh minuman dingin di sana.


“Han, kandunganmu bagaimana? Sudah di periksa?” tanya Rasti.


“Belum Mam,” ucap Kenan, di iringi gelengan dari kepala Hanin.


“Kalau periksa, jangan lupa tanya jenis kelamin bayi kalian. Mami sangat berharap kalian memiliki putra.”


Hanin tersentak kaget. Lagi-lagi mempermasalahkan jenis kelamin. Tadi saja di kamar, Hanin sempat sensitif ketika Kenan terdiam saat ia mengucapkan kemungkinan bayi yang ia kandung anak perempuan karena ia senang berdandan.


Namun, Kenan kembali tersenyum. Ia tidak ingin membuat sang istri tertekan dengan keinginan dirinya dan sang ibu. Walau memang biasanya, anak pewaris tahta ketika menikah akan di tuntut untuk memiliki anak laki-laki untuk anak pertamanya.


“Apa saja jenis kelaminnya, Mam. Yang penting bayi dan ibunya sehat,” jawab Kenan.


Hanin tersenyum ke arah Rasti. Ia senang mendapat pembelaan dari sang suami.


“Ya, tapi alangkah lebih baik anak pertama kalian adalah laki-laki, karena kelak dia yang akan menjadi penerus keluarga Aditama,” ucap Rasti lagi.


“Semoga, Mam. Doakan saja,” jawab Kenan lagi.


“Kamu rajin makan-makanan yang mengandung kalium, Han,” sahut Kiara.


Hanin mengangguk dengan senyum yang menyungging terpaksa. Gunawan menatap kasihan ke arah Hanin. Ia melihat aura wajah Hanin yang penuh beban. Begitulah jika menjadi istri sultan. Sang ibu s*ri pasti akan menuntut cucu laki-laki dari anak pertama mereka.

__ADS_1


“Ya, benar kata Kiara, Han. Kamu banyak makan-makanan yang mengandung kalium. Sewaktu hamil Kenan, Mami juga melakukan itu,” ucap Rasti.


Hanin mengangguk, Ia menuruti perkataan ibu mertuanya sembari menatap ke arah Rasti dan bergantian ke arah Kiara. Lalu, tatapannya bergantian ke arah Gunawan yang masih menatap ke arahnya. Hanin lupa untuk menatap ke arah Kenan. Ia dan Gunawan lama bertatapan, karena tatapan Gunawan mengandung makna menyemangati dan itu membuat Hanin tersenyum lebar.


Dan, Kenan melihat senyum lebar itu sedang mengarah pada Gunawan dan sebaliknya, membuat Kenan kembali di landa cemburu, walau ia tahu bahwa saat ini Gunawan sudah berubah, tetapi cemburu itu jelas belum bisa hilang mengingat keduanya pernah terlibat hubungan sebelumnya.


“Sayang, aku bawa Kayla ke kamar ya,” bisik Gunawan pada sang istri dan melepas rangkulan itu.


Gunawan berdiri dan berjalan menghampiri Hanin. Sementara Rasti masih melanjutkan pembicaraan dengan Kiara. Rasti menanyakan jadwal kontrol Kiara dan bayinya ke rumah sakit. Begitu juga kontrol kesehatan untuk Gun.


“Sini, Han. Kayla aku bawa ke kamar saja.” Gun mengambil putrinya dari tangan Hanin.


“Iya, Mas. Ini!”


Hanin menyerahkan bayi cantik yang akhirnya memejamkan mata itu pada sang ayah. Kayla nampak sedikit terbangun karena gerakan tubuhnya yang ingin di pindahkan. Namun dengan cepat, hanin mengelus kening Kayla, saat bayi itu sudah berada di dalam gendongan Gunawan. Gerakan refleks Hanin, sontak membuat mereka sangat dekat.


“Kayla bangun, mas!” Hanin kembali mengelus kening bayi cantik itu. “Tidur lagi ya, sayang.”


Gunawan menenggak ke arah Hanin. “Kamu kalau jadi ibu pasti lembut, Han.”


Hanin tersenyum. Ia mengalihkan pembicaraan. “Anak kamu cantik, Mas.”


Kenan melihat jelas adegan itu. seketika otaknya memanas, karena Hanin dan Gun terlihat romantis, walau Kiara dan Rasti tidak melihat itu.


“Mam, setelah makan malam, kami pulang ke apartemen,” ucap Kenan lantang, membuat Rasti dan Kiara yang sedang berbincang langsung menoleh.


Mata Hanin pun tertuju pada Kenan dan Rasti. Kemudian, Gunawan berlalu ke kamarnya untuk menaruh Kayla pada box tidurnya sendiri.


“Iya, kakak tidak menginap di sini saja?” Kiara pun bertanya yang sama.


Kenan menatap ke arah Hanin. “Kamu mau menginap di sini?”


Hanin melihat tatapan Kenan yang tajam ke arahnya. “Terserah, aku ikut kamu.”


“Kalau begitu, kami tidak menginap, Mam. Karena ada pekerjaan yang harus Kenan selesaikan dan kebetulan berkasnya ada di sana.”


Rasti menghela nafasnya. “Ya sudah.”


“Ih, kakak. Kirain nginep di sini. katanya mau main sama Kayla,” sahut Kiara.


“Ya, lain waktu, aku ke sini lagi.”


“Heum ... paling bulan depan baru main ke sini. kakak kan sibuk terus,” kata Kiara dengan nada manja.


Kiara benar, kemungkinan memang minggu depan, Kenan akan disibukkan dengan pekerjaannya. Bahkan, ia akan sering keluar kota atau keluar negeri. Dan, sepertinya, Kenan tidak mengizinkan sang istri untuk mengunjungi rumah ini sendirian tanpa dirinya. Ia tidak ingin Hanin sering bertemu dengan Gunawan.


****


Setelah makan malam bersama Rasti selesai. Kenan langsung mengajak Hanin pulang. Mereka sampai di apartemen sekitar pukul delapan malam.


“Huft ...”


Kenan langsung mendudukkan tubuhnya di sofa da menelentangkan kepalanya pada punggung sofa itu. Ia memijat pelipisnya, seharusnya ia memberi kepercayaan pada Hanin dan Gunawan. Namun, entah mengapa rasanya sulit. Ia terlalu pencemburu.

__ADS_1


“Kamu haus? Aku buatkan minum?” tawar Hanin.


Kenan melihat ke arah sang istri dan mengangguk.


Hanin ke dapur dan menekan dispenser. Kenan memang tidak terlalu menyukai air dingin, berbeda dengan Hanin yang justru tidak bisa meminum air putih biasa, karena rasanya anta da tidak enak.


Kenan memeluk Hanin yang kembali berdiri tegak setelah air di gelas itu terisi penuh.


“Jangan ke rumah Mami sendirian! Jika kamu ingin ke sana, harus bersamaku,” ucap Kenan lirih di telinga Hanin.


“Kenapa?”


“Aku masih cemburu, jika kalian berdekatan,” sahut Kenan.


Hanin membalikkan tubuhnya. “Cemburu?”


Kenan mengangguk.


“Dengan siapa?” tanya Hanin bingung, pasalnya di otak Hanin tidak berpikir seperti apa yang saat ini Kenan takutkan.


“Gunawan.”


“Ya ampun, Ken.” Hanin menepuk keningnya.


“Bahkan kamu masih memanggilnya Mas, sedangkan denganku, hanya jika di depan Mami saja.”


“Ken.”


Hanin tersenyum. Ia tak menyangka bahwa Kenan masih saja menyimpan rasa cemburu pada Gunawan.


Hanin mengalungkan kedua tangannya pada leher Kenan.


“Baiklah, kamu mau aku panggil apa?” tanya Hanin.


Kenan pun melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Hanin.


“Panggilan kesayangan.”


“Ken Ken Jelek,” ucap Hanin.


“Itu dulu, sekarang mau yang lain.”


Hanin kembali tertawa. “Hmm ... Bagaimana kalau hubby, babe, atau bee?”


“Hubby, kedengarannya lucu,” jawab Kenan.


Hanin tertawa. “Kamu yang lucu. Hari gini masih aja cemburu sama Gunawan.”


Hanin menggelengkan kepalanya.


Kenan pun tersenyum. “Entahlah, mungkin karena aku terlalu mencintaimu.”


Hanin ikut tersenyum, lalu mereka saling berpandangan dengan kedua bola mata yang memancarkan kasih sayang serta cinta dari keduanya. Hanin percaya akan cinta yang diberikan sang suami, karena ketulusan itu sampai hingga ke dalam hati Hanin.

__ADS_1


__ADS_2