Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kapal pesiar - enam


__ADS_3

Malam semakin larut, hampir semua penghuni kapal sudah terlelap. Hanya segelintir orang yang berada di luar, menikmati udara malam di tengah laut termasuk Kiara.


Setelah mendengar kejujuran dari suaminya tentang masa lalu yang belum ia ketahui itu, Kiara praktis tak bisa memejamkan mata. Ia berpura-pura tidur saat Gunawan memeluk tubuhnya dari belakang. padahal pikiran Kiara menerawang tentang Vely dan keterpurukannya dulu. Kiara adalah saksi bagaimana sahabanya itu menderita dan bangkit sendirian. Kala itu, Kiara pun menghujat pria tidak bertanggung jawab yang menjadi kekasih Vely dulu. Namun, kini pria itu adalah suaminya.


Kiara berdiri termenung di paling ujung kapal. Ia melihat hamparan laut yang tak berujung. Langit yang gelap dan hanya disinari oleh bintang-bintang kecil. Posisi Kiara saat ini sama seperti Rose, peran utama wanita di film titanic yang hendak melompat untuk bunuh diri. Bedanya saat ini Kiara yang berdiri sambil menopangkan dagunya di atas pagar besi dengan mengarahkan pandangannya pada laut.


Kiara menyadari bahwa dirinya pun bukan wanita baik. Sebelumnya ia pernah menjebak Gunawan dan menyerahkan keperawanannya pada Vicky. Ternyata Tuhan membalas apa yang ia lakukan. Kiara kembali mengusap pipinya yang mulus. Ia menyesal karena pernah melakukan hal yang buruk.


Di dalam kamar, Gunawan menggeliat dan meraba sisi yang biasa diisi tubuh Kiara saat tidur. Namun, Gun merasakan tangannya yang kosong. Ia kembali meraba tempat itu dan membuka matanya.


“Ra, kamu dimana?” tanya Gun yang seketika langsung bangkit.


Dengan tergesa-gesa, Gunawan bangun dari tempat tidur dan mencari Kiara di seluruh penjuru kamar hingga balkon.


“Ra ... Kiara,” Gun panik dan terus memanggil nama istrinya.


Ia pun segera memakai celana dan kaos oblong untuk keluar kamar dan mencari istrinya di luar. Tak lupa ia pun memakai jubah malam, karena udara di luar sangat dingin.


Gunawan mengetuk pintu kamar Baby sitter Kayla yang berada di samping kamarnya. Tak lama kemudian, wanita yang berusia empat puluhan itu pun keluar.


“Bi, tolong jagain Kayla di kamar saya.”


Wanita itu langsung mengangguk tanpa bertanya. Ia pun menutup lagi pintu kamarnya dan menuju kamar Gunawan.


Gunawan langsung berlari mencari keberadaan istrinya.


“Apa Kiara ada di kamar Kenan ya?” tanya Gunawan pada dirinya sendiri. Lalu, ia pun menuju kamar Hanin.


Di depan pintu kamar Kenan dan Hanin, Gunawan berdiri. Ia ragu mengetuk pintu itu. karena nanti Kenan pasti akan bertanya kenapa? Ada apa dengan dirinya dan sang adik. Ah, itu malah akan menambah runyam saja. Gun, mengacak-acak rambutnya.


“Sayang, kamu dimana?” Gun terus bergumam sambil berjalan cepat dengan kepala menengok ke kiri dan kanan.


Lalu, kakinya melangkah ke area luar kapal. Ia kembali mengedarkan pandangannya.Tak lama kemudian, ia menghelakan nafas karena akhirnya ia menemukan sosok yang sedng dicari. Gunawan melihat Kiara dari belakang. Wanita itu terlihat tengah memeluk tubuhnya sendiri karena saat ini, Kiara hanya menggunakan piyama lengan pendek dan celana panjang.


Gun langsung membuka jubah malamnya dan mengenakan jubah itu pada Kiara dari belakang. “Seharusnya bawa ini kalau mau keluar.”


Gun mengusap kedua bahu Kiara dan Kiara pun sontak, menoleh ke arah suaminya. Namun, wajah Kiara langsung menoleh ke arah lain setelah tahu bahwa yang memakaian jubah itu ke tubuhnya adalah Gun.


Gunawan Berdiri di samping Kiara dan emngikuti apa yang sedang wanita itu lihat. “Melihat laut di saat sedang ada masalah itu memang menenangkan, seolah apa yang kita alami tidak ada apa-apanya. Laut begitu luas.”


“Dan tak berujung,” sahut Kiara. Lalu, Kiara berkata lagi. “Manusia memang harus memiliki hati seluas ini. Agar dia bisa menerima bahwa hidup tak selamanya indah.”


Gunawan mengangguk. “Ya, agar cinta yang kita miliki pun tak berujung. Cinta itu akan terus berjalan.”


Kiara tak kuat untuk tidak menangis. Seketika, air matanya kembali turun. Gun menoleh ke arah istrinya dan memeluk tubuh Kiara dari samping.


“Kalau kamu berpikir, aku telah membalas perbuatanmu dulu dengan Vicky? Tidak. Aku tidak pernah ingin seperti itu. Bahkan aku lupa dengan dosa aku terhadap Vely, hingga aku bertemu dengannya di pernikahan Kenan waktu itu,” ucap Gunawan.


“Aku benar-benar mencintaimu, Ra. Lepas dari apa yang pernah terjadi sebelumnya diantara kita. Yang pasti aku sangat kehilanganmu, saat kamu ingin berpisah dariku. Ternyata aku tidak bisa hidup tanpamu.” Gunawan pun menieteskan air mata.


Kiara menatap wajah suaminya. Ia bisa melihat kesungguhan pria itu dari air mata yang menetps di pipinya.


“Apa Dave tahu hal ini?” tanya Kiara.


Gun menganggukkan kepala, membuat Kiara terkejut.


“Jadi Dave tahu? Tapi mengapa dia masih mau menginvestasikan uangnya di perusahaanmu yang sedang kolabs? Mengapa dia mau membantumu? Apa dia tidak cemburu?” tanya Kiara bertubi-tubi.


“Menurut penuturannya. Dia hanya ingin mengenal masa lalu Vely dan meyakinkan dirinya bahwa dia tulus menerima masa lalu Vely dengan menerimaku juga sebagai temannya.”


Kiara memejamkan mata. Amazing, Dave yang notabene tidak berbuat kesalahan pada Vely saja bisa menerima masa lalu istrinya. Bagaimana dengan dia, yang juga pernah melakukan hal buruk pada Gunawan. Ibarat sebuah pertandingan antara ia dan Gun adalah satu sama sedangkan Vely dan Dave satu nol, tapi Dave memiliki hati seluas samudera seperti yang ia lihat saat ini, hamparan laut seluas samudera.


Kiara mengusap wajahnya sambil menutup wajah itu dengan kedua telapak tangannya.


“Maaf, Sayang. Maafkan aku. Kamu mau apakan aku, terserah. Asal jangan pergi dariku. Ku mohon!” Gunawan memasang wajah memelas.


Kiara membuka kedua telapak tangan yang menutup wajahnya dan menatap wajah suaminya yang terlihat sendu. “Apa aku pernah marah padamu?”


Gunawan menggeleng.


“Walau kamu dulu pernah membawa wanita di club dan tidur di ranjang kita. Apa aku pernah marah?” tanya Kiara lagi.

__ADS_1


“Sayang,” panggil Gun sambil mendekatkan wajahnya pada wajah Kiara.


“Aku tidak pernah bisa marah padamu, Mas.” Kiara kembali menangis.


Gun mengeratkan pelukan itu. Ia mengecup kening Kiara dan menempelkan pada keningnya. Gun pun ikut menangis. Ya, masa yang mereka lalui dulu begitu berat. Tapi kini, ia ingin mengubur dalam-dalam masa yang buruk itu. Ia ingin ke depannya hanya kebahagiaan antar dirinya, Kiara dan anak-anak mereka nanti.


“Mulai saat ini dan seterusnya, kita tidak boleh saling menyakiti,” ujar Kiara.


“Tentu saja, Sayang. Tentu saja.” Gun kembali mengecup kening Kiara. “Itu tidak akan.”


Gun menggelengkan kepalanya. Ia sudah berubah, sudah taubat dan ingin hidup lurus. Ia memang tidak akan penrah lagi mengulangi kesalahannya yang dulu. Apalagi saat ini, ia memiliki Kayla.


Kiara juga membalas pelukan itu. Ia melingkarkan kedua lengannya di pinggang Gun. Gun dapat bernafas lega. Akhirnya ia mampu melawan ketakutan ini. Ia, mampu berkata jujur di hadapan Kiara.


Gun pun tersenyum sambil berpelukan dan kembali memandang hamparan laut di depannya.


“Kayla sama siapa, Mas?” tanya Kiara sambil menoleh lagi ke arah sang suami.


Gun pun menoleh ke arah istrinya. “Sama Bibi. Sebelum mencarimu, aku meminta dia untuk ke kamar kita dan menemani Kayla.”


Kiara pun mengangguk.


“Kenapa kamu terbangun?” tanya Kiara lagi.


“Karena tidak ada kamu di sisiku,” jawab Gun menggoda.


Kiara tersenyum dengan bibir mencibir. Gun pun ikut tersenyum dan kembali berpelukan.


“Kamu ngga kedinginan, Mas?”


Gun menggelengkan kepala. “Ngga. aku kan kuat.”


“Sombong.”


Selang, beberapa detik kemudian.


“Hacih ...” Gun bersin dan Kiara pun tertawa.


Kiara kembali tertawa. “Belagu sih, katanya ngga kedinginan.”


Gun pun tertawa. “Kan nanti kamu yang angetin aku.”


“Ih mau nya.” Kiara langsung pergi meninggalkan Gun yang masih berdiri di sana.


“Eh, kamu mau kemana?” tanya Gun.


“Ke kamar lah.”


“Angetin aku?” tanya Gun dengan wajah mesum.


Kiara tersenyum. “Ayo!” ia pun membalikkan tubuhnya dan kembali berjalan.


Gun ikut tersenyum. “Tunggu aku, Sayang.”


Gun berlari mengejar istrinya yang sudah berjalan lebih dulu sambil tersenyum. Kemudian, Gun menarik tubuh Kiara dan memeluknya dari samping. Kiara membalas pelukan itu hingga mereka berjalan beriringan sambil berpelukan.


Gunawan dan Kiara berjalan menuju kamar mereka. Lalu, di pertengahan jalan, mereka melihat sosok yang sangat mereka kenal.


“Vicky,” panggil Gun.


“Rea.” Kiara juga memanggil wanita yang bersama Vicky.


“Kalian ngapain?” tanya Kiara.


“Ah, mumpung ada kamu, Ra. Kamu harus jelasin ke Rea, kalau Siska bukan apa-apa aku,” ucap Vicky terhadap Kiara.


Di dalam kamar tadi, Rea cemburu dengan chat Vicky dan Siska, sekretaris Kenan yang kebetulan tidak bisa mengikuti acara ini, karena urusan keluarga. Ibu Siska sakit, sehingga ia memilih merawat ibunya. Kemudian, Siska menanyakan acara ini pada Vicky hingga chat mereka pun berlanjut pada pembicaraan privasi termasuk ranjang.


“Ngga ada apa-apa tapi pernah tidur,” ketus Rea yang tak mau melihat ke arah suaminya.


Padahal sebelumnya mereka habis bercinta. Vicky dan Rea sudah dua kali bertengkar setelah bercinta. Lucu sekali.

__ADS_1


Gunawan dan Kiara mendengarkan pasangan suami istri yang tengah bertengkar ini.


“Aku ngga ada apa-apa, Re. Kami hanya teman kerja. Kalau pun kami dulu pernah seperti itu, hanya sekedar kebutuhan bukan making love,” ucap Vicky.


“Apa?” tanya Rea sambil menggelengkan kepalanya.


Ternyata Vicky dan Attar sama saja. Bedanya Vicky melakukan itu dengan status lajang dan tanpa komitmen dengan wanita manapun, sedangkan Attar bisa melakukan hal buruk itu dengan status dan memiliki ikatan serius pada seorang wanita.


“Re, Vicky memang seperti itu dulu. Tapi sekarang udah ngga. percaya deh,” ucap Gunawan membela sahabatnya.


“Iya, Re. Kamu itu menikah dengan salah satu pria gila tiga bersahabat ini. Jadi jangan kaget dengan masa lalu mereka!” sambung Kiara.


Rea menatap wajah Kiara.


“Itu baru, Siska. Nanti kamu bakalan nemuin yang namanya Wina, Vika, Putri, Anggita ....” Kiara menggerakkan jarinya sambil menyebut nama-ama wanita itu.


“Cukup ...” Vicky langsung memotong ucapan Kiara. “Lu, ya Ra. Bukan bantu ngademin malah ngomporin.”


Sontak Kiara dan Gun pun tertawa.


“Maaf,” ucap Kiara sembari tertawa.


“Jangan denger kata Kiara, Sayang! Kalau pun itu bener, itu dulu. Sekarang ngga,” ucap Vicky memelas di hadapan Rea.


Rea masih cemberut. Lalu, Kiara pun mendekati Rea.


“Iya, Re. Itu dulu. Sekarang Vicky ngga gitu kok. Ngga salah lagi maksudnya,” ledek Kiara yang membuat ia kembali tertawa.


“Ra.” Vicky membulatkan matanya ke arah Kiara.


“Sayang,” panggil Gun untuk memperingatkan istrinya.


“Maaf, Re. Aku bercanda,” ujar Kiara, lalu ia membisikkan sesuatu di telinga Rea. “Kan aku pernah bilang kalau kita itu wanita pilihan untuk pria-pria gila ini. Entah beruntung apa buntung, yang pasti para penjelajah wanita ini memilih kita sebagai wanita terakhir dalam hidupnya, menjadi pelabuhan terakhir dalam petualangannya.”


Kiara tersenyum sambil menatap wajah Rea, begitu pun dengan Rea. Kini, gadis berusia dua puluh satu tahun itu mengerti.


Kiara mengusap bahu Rea. “Jangan biarkan hubungan kamu rusak hanya karena masa lalu yang cuma sekedar masa lalu. Oke!”


Rea pun tersenyum dan mengangguk.


Lalu, Kiara kembali ke tempat suaminya berdiri. Gun pun kembali memeluk tubuh istrinya dari samping.


“Udah, balik lagi ke kamar. Di sini dingin,” kata Gunawan sebelum pergi.


“Ayo, Sayang! kita ke kamar lagi.” Vicky mengajak istrinya.


Vicky mengulurkan tangannya ke arah Rea. Gun dan Kiara pun sudah berjalan lebih dulu meninggalkan mereka. Tak lama kemudian, Rea membalas uluran tangan itu.


Vicky pun tersenyum dan Rea membalas senyum itu walau tipis.


Cup


Vicky langsung ******* bibir istrinya gemas. Ia gemas melihat sang istri yang merajuk dan sulit sekali dibujuk.


“Mmppphh ...” Rea memukul pelan dada suaminya dan Vicky pun melepaskan ciuman itu.


“Malu, nanti keliatan orang,” rengek Rea.


“Kalau gitu lanjut di kamar, yuk!” kata Vicky dengan wajah menyebalkan sambil menaik turunkan alisnya.


"Gendong," rengek Rea.


Vicky tersenyum dan langsung membelakangi Rea, lalu berjongkok.


"Ayo naik!" Vicky menepuk pundaknya.


Rea tersenyum dan melakukan yang diperintahkan suaminya. Vicky menggendong belakang Rea hingga ke kamar sambil tertawa dan bercanda.


"Aww ... Jangan dilepas!" rengek Rea karena Vicky seolah ingin melepas gendongan itu.


Vicky tertawa dan Rea langsung memukul pundak suaminya.

__ADS_1


"Ngeselin."


__ADS_2