
Hanin baru saja akan merebahkan diri, karena Kevin juga baru saja tertidur setelah ia susui cukup lama. Biasanya saat siang seperti ini, Hanin mencuri waktu untuk bisa tidur, karena ketika Kevin terjaga, maka ia pun akan terjaga.
Dret ... Dret ... Dret ...
Ponsel Hanin bergetar dan tertera nama Hubby. Ini adalah kali kedua Kenan meneleponnya setelah pukul sepuluh tadi, ia juga menelepon dan menanyakan perihal tentang cincin itu.
“Halo.” Suara Hanin ketika sudah menekan tombol hijau untuk menjawab panggilan itu.
“Halo, Sayang lagi apa?” tanya Kenan.
“Baru mau tidur, mumpung Kevin juga lagi tidur.”
“Oh,” jawab Kenan. “Oh iya gimana cincinnya udah ketemu?”
“Belum sempat di cari, By. Dari tadi aku sibuk ngurusin Kevin,” jawab Hanin.
“Ini telepon aku yang kedua, tapi belum ketemu. Berarti dua ronde.”
“Ish, apa sih? Aturan dari mana itu?” tanya Hanin kesal.
“Aturan dari aku lah.”
“Ih, nyebelin banget. Ya udah nanti aku cari. Dah ...”
Hanin langsung menutup sambungan telepon itu, sementara di sana Kenan terkikik geli. Hanin langsung mencari Bi Lastri dan meminta bantuan untuk mencari cincin itu. Mereka mencari ke beberapa laci dan sudut ruangan, terutama kamar mandi, karena menurut Hanin, ia meletakkan benda itu terakhir di kamar mandi, tapi ia pun lupa di kamar mandi yang mana karena Ketika membersihkan Kevin saat pup tidak hanya di kamar mandi kamarnya saja.
Satu jam berlalu, tapi cincin itu belum juga ketemu.
“Ngga ada Non,” kata Bi Lastri.
__ADS_1
“Haduh, dimana ya Bi? Saya juga lupa lagi,” jawab Hanin lirih. Ia duduk dan coba berpikir sembari menekan pelipisnya.
Dret ... Dret ... Dret ...
Tiba-tiba ponselnya kembali berdering. Hanin pun langsung mengambil ponsel itu dan menjawabnya.
“Belum ketemu, By.” Hanin langsung to the poin, karena Kenan menelepon pasti menanyakan hal itu.
“Kok bisa ngga ketemu? Itu benda berharga sayang. Aku memberikannya dengan cinta,” jawab Kenan dengan senyum licik di sana.
Sedangkan Hanin memasang wajah panik dengan artian panik sebenarnya.
“Maaf, By.” Ucap Hanin lirih.
“Ini ketiga kalinya aku telepon tapi belum ketemu berarti tiga ronde,” jawab Kenan di seberang sana dengan antusias.
“Ngga ah, satu jam lagi aku telepon kamu lagi.”
“Kenaaan ...” teriak Hanin, tapi Kenan justru sudah menutup teleponnya.
“Ish, nyebelin. Kurang kerjaan banget nelepon orang sejam sekali,” gumam Hanin yang terdengar oleh Bi Lastri.
“Maklum, Non. Soalnya Den Kenan kan cinta mati sama Non Hanin,” ucap Bi Lastri tertawa sembari menutup mulutnya dan meluyur pergi untuk mencari kembali cincin itu.
“Cinta mati tapi mesumnya ngga ketulungan,” kesal Hanin.
Di kantor, Kenan masih terkikik geli. Hal itu disaksikan oleh Vicky yang kebetulan duduk di depan bosnya yang berada di dalam ruangan Kenan.
"Seneng banget sih lu ngerjain Hanin,” kata Vicky.
__ADS_1
Kenan hanya tertawa pelan. Lalu, menyudahi tawanya. Sungguh hidup bersama Hanin memang penuh warna.
“Ya, dia tuh mood booster gue banget.”
Vicky mengangguk. Ia setuju, karena ia juga sudah memiliki mood boosternya sendiri yaitu Rea.
“Eh iya, gimana acara anniversary gue nanti? Lancar kan persiapannya?” tanya Kenan.
Kenan memang mempersiapkan perayaan anniversari pernikahan mereka, sekaligus rasa syukur karena ia telah di angerahi seorang putra penerus keluarga Adhitama dengan mengajak para karyawannya menjelajah Asia menggunakan kapal pesiar.
Acara Aqiqah untuk Kevin sudah dilaksanakan satu minggu lalu, anniversary mereka pun sebenarnya adalah hari ini. Tetapi jadwal Kenan yang cukup padat, membuat perayaannya tidak tepat pada hari H-nya.
Dan satu lagi, Kenan merencanakan perayaan ini tanpa sepengetahuan Hanin. Ia ingin memberi kejutan pada sang istri yang telah memberinya banyak kebahagiaan.
“Bagus lah, gue percayain semua sama lu.”
“Siap,” jawab Vicky lantang. Lalu ia bangkit dari dudukny dan hendak meninggalkan ruangan itu karena urusannya dengan si bos sudah selesai.
“Terus lu jadi bawa cewek itu dan adik-adiknya nanti?” tanya Kenan.
Vicky sudah berdiri di depan pintu ruangan itu. “Udah sih, tapi masih belum tau bisa apa ngga kakaknya. Kalau adik-adiknya sih oke.”
“Lu belum kasih video itu sama doi?” tanya Kenan lagi.
“Nunggu waktu yang tepat, Ken.”
“Okelah atur aja, di saat dibutuhkan gue pasti ada terdepan,” kata Kenan.
Kemudian, Vicky mengangkat ibu jarinya ke atas. Ia memang beruntung memiliki sahabat sebaik Kenan. Ia teringat lagi ketika masa sulit seperti Rea saat ini, jika dulu Kenan dan keluarga Adhitama tidak memberikan pekerjaan padanya, mungkin ia dan adik-adiknya tak akan jadi seperti ini.
__ADS_1