Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Kejahilan Kenan 2


__ADS_3

“Hati-hati, Ken. Han. Jangan pulang terlalu malam, karena nanti malam kita akan makan malam bersama Kiara dan suaminya.”


Hanin terdiam saat Rasti menyebut Kiara dan suaminya, itu berarti nanti malam ia akan bertemu Gunawan. Walau saat ini, Hati Hanin sudah tak ada lagi nama Gunawan terukir. Namun, ia masih enggan bertemu wanita yang pernah menjambak rambutnya dan mempermalukannya di depan umum.


“Iya, Mam. Kenan ingat.” Kenan tersenyum pada sang ibu dan mencium pipinya.


Hanin pun mencium punggung tangan Rasti. Mereka pamit dan masuk ke dalam mobil. Rasti melambaikan tangannya hingga mobil Kenan keluar dari gerbang pintu kediaman itu.


Kenan bersama Hanin menuju kantor yang berada di Bandung. Mereka di supiri oleh Syamsudin. Namun, pulangnya nanti, Kenan sendiri yang akan mengemudi mobil ini, karena Syamsudin tidak kembali bersamanya ke Jakarta. Pria paruh baya yang sudah mengabdikan separuh usianya pada keluarga Aditama itu akan cuti selama tiga hari, karena ia akan menghadiri pernikahan anak dari kakaknya.


Kenan melirik ke arah sang istri. Lalu, Hanin pun melirik ke arah suaminya.


“Apa sih, Ken.” Hanin menggelengkan kepalanya sembari tersenyum.


“Emang ga boleh liatin kamu.”


Hanin menggeser tubuhnya untuk lebih dekat berhadapan pada sang suami. “Kamu merencanakan sesuatu ya?”


Hanin menatap kedua bola mata Kenan.


“Ngga,” jawab Kenan.


“Mau bawa aku ke apartemen dan kita bermalam di sana, supaya aku ga ketemu Mas Gun. Iya?” tanya Hanin dengan menaikkan alisnya sambil tersenyum.


“Ngga.” Kenan menggeleng.


“Nih, ya. Aku bilangin. Aku sama sekali udah ga ada perasaaan apapun ke Mas Gun. Semuanya sudah hilang, jauh sebelum kamu menikahiku. Ngerti?”


Kenan tersenyum. “Udah tahu, kamu sering bilang itu. Dan aku percaya, apalagi kamu sering menyebut namaku dengan sensual saat di ran ...”


Hanin langsung membungkam mulut suaminya. “Diam, nanti kedengeran Pak Udin,” bisik Hanin menunjukkan arah matanya ke depan, karena Hanin duduk di belakang kursi Syamsudin.


Kenan tertawa. Walau tawa Kenan tak terdengar karena mulutnya masih dibungkam oleh telapak tangan Hanin.


“Mmm ...” suara Kenan tertahan.


Kemudian, Hanin membuka telapak tangannya. “Maaf, lagian kamu sih, nakal banget.”


Kenan meneruskan tawanya. “Itu kan fakta.”


“Tau ah,” sungut Hanin, lalu ia mengalihkan pandangannya ke jendela dan membelakangi Kenan.


Kenan dengan cepat mengangkat tangannya dan menarik tengkuk Hanin untuk mengalihkan kepala itu kembali ke arahnya.


“Apaan sih, Ken. Dasar pemaksa!” Hanin melepaskan tangan Kenan yang ada di lehernya.


“Lagian, siapa suruh membelakangi aku.”


Hanin mengerucutkan bibirnya ke arah Kenan, membuat Kenan kembali tersenyum.


“Awas aku balas nanti,” Kenan tersenyum licik.


Sementara Syamsudin hanya menggeleng dan tersenyum mendengar dan melihat pertengkaran kecil yang lucu itu dari balik kaca spion dalam.


Sesampainya di Bandung. Hanin langsung berpamitan pada Kenan untuk langsung menuju rumah Irma. Kenan mengangguk dan meminta supir kantornya mengantarkan sang istri, karena Syamsudin sudah akan pulang ke rumahnya.


“Dah, Ken Ken. aku senang-senang dulu ya, selamat bekerja. Semangat,” ledek Hanin dengan mengibarkan kartu platinum milik suaminya, karena Hanin akan membelikan Irma perlengkapan bayi yang banyak.


Kenan tersenyum. “Silahkan. Tapi ingat, kamu siap-siap untuk menyenangkanku nanti.” Bisik Kenan, sesaat setelah Hanin mencium punggung tangannya untuk pamit.


“Dasar, mesum! Hmm ...” Hanin mengerucutkan bibir dan hidungnya bersamaan. Seolah tidak takut dengan ancaman sang suami.


Kenan kembali tertawa dan melambaikan tangannya ke arah sang istri yang hendak memasuki mobil yang sudah disiapkan sang suami.


Kemudian, Kenan masuk ke dalam kantornya dan mulai berkutat dengan pekerjaan, serta berkoordinasi dengan Riza yang sudah ia tugaskan ke Amerika. Sedangkan Hanin, tengah bersenang-senang menggunakan kartu limitid edition yang nolnya berjejer hingga berdigit-digit.


Hanin mampir ke sebuah baby shop, sebelum sampai di rumah Irma. Ia berbelanja semua perlengkapan bayi, hingga ke pompa ASI elektrik, karena menurut Hanin, pasti Irma akan memerlukan alat itu setelah ia kembali bekerja nanti.


Beberapa jam kemudian, Hanin sampai di depan rumah Irma. Kebetulan, suami Irma pun masih mendapatkan cuti dan masih menemani istrinya di rumah, yang baru pulang dari rumah sakit.


“Irma ...” teriak Hanin, yang langsung mengahmpiri sahabatnya dan bercipika cipiki.


“Han ... Apa kabar lu?”


Irma dan Hanin berpelukan hingga tubuh mereka bergoyang. Mereka berpelukan erat dan lama.


“Makin ceria aja lu, ga kaya dulu waktu pertama kali dateng ke rumah gue, kusut kek benang layangan.” Irma melinggarkan pelukannya.

__ADS_1


“Ck, sial banget gue hari ini. tadi pagi gue di bilang kebo. Eh sekarang di bilang kek layangan,” sungut Hanin.


Irma tertawa. “Siapa yang bilang lu kebo.”


“Kenan.”


Hanin beralih duduk di samping bayi mungil Irma yang sedang tertidur pulas di atas tempat tidur milik orang tuanya. Untung saja, teriakan kedua wanita dewasa ini tidak menyurutkan keinginan si bayi mungil itu untuk tetap terbang ke alam mimpi.


“Ir, anak lu cakep banget,” ujar Hanin dengan mengelus pipi lembut bayi Irma dan Rizky yang berjenis kelamin perempuan.


“Ya dong, emaknya cakep anaknya juga cakep.”


“Ih, narsis. Jangan tiru mama kamu ya, Sayang.” kata Hanin mengelus kembali pipi mungil itu.


“Eh, Han. Pak Kenan baru nyadar kalo lu tidurnya kek kebo. Tapi dia tetep cinta ya, sama kebo ini.”


“Irma,” rengek Hanin, membuat Irma tertawa.


Hanin memang terkenal kebluk jika sedang tidur. Ia pun biasa dipanggil ***** oleh kedua sahabatnya, karena asal ketemu bantal, ia akan langsung terlelap dan tidak ingat apapun, walau bumi sedang gonjang ganjing.


“Love is blind. Keburukan apapun dari orang yang dicintai, pasti dilihatnya menjadi lucu dan menggemaskan,” ucap Rizky sambil membawakan minuman dingin untuk Hanin.


“Tuh, itu kata cowok. Berarti bener,” sahut Irma.


“Irma kalau tidur suka ngiler terus ngorok. Tapi aku tetep cinta,” ucap Rizky lagi.


“Aaa ....” teriak Irma manja, membuat Hanin tertawa.


Yah, mungkin seperti inilah kaum Adam, selalu senang meledek dan menggoda istrinya.


Hanin cukup lama berada di rumah Irma, hingga ia lupa mengabarkan suaminya.


“Bu, Bapak sudah menelepon.” Ujar supir Kenan yang bekerja di perusahaan Eksport miliknya.


“Gih, pulang sana! dari pada kena hukuman nanti,” kata Irma.


“Biarin, Han. Paling dihukumnya nanti malam,” ledek Rizky.


“Aaa ... ledekin Hanin aja.”


“Ternyata ya, suami lu sama suami gue sebelas dua belas,” bisik Hanin di telinga Irma.


Hanin tertawa, ternyata perkataan sahabatnya ini ada benarnya. Kedua wanita dewasa ini pun tertawa bersama.


“Udah, gih sana pulang. Sampaikan terima kasih gue sama Pak Kenan atas bonusnya buat anak gue,” ucap Irma yang diberi insenstif dari kantong pribadi Kenan khusus untuk putrinya yang baru lahir.


“Sampaikan salamku juga untuk suamimu, terima kasih atas semua barang-barang ini,” sambung Rizky menunjuk pada perlengkapan bayi yang Hanin bawa tadi.


“Oke, A. Siap.” Hanin tersenyum.


Lalu, Irma dan Risky mengantarkan Hanin hingga mobil yang Hanin naiki berlalu dari rumahnya. Rizky merangkul istrinya untuk masuk kembali ke dalam rumah.


****


“Lupa pulang?” tanya Kenan dengan arah mata yang tetap tertuju pada lembaran kertas yang berada di mejanya, sementara Hanin perlahan masuk ke dalam ruangan itu.


“Maaf,” Hanin menggeser kursi di depan Kenan dan Hendak duduk di sana.


“Eit, siapa suruh duduk di sana. Di sini!” Kenan menatap wajah sang istri dan menepuk kedua pahanya.


Hanin kembali berdiri dan berjalan menghampiri suaminya. ia pun duduk di pangkuan Kenan dan melingkarkan kedua tangannya di leher itu. Hanin duduk di pangkuan kenan dengan melebarkan kedua pahanya dan menghimpit perut rata sang suami.


Kenan langsung berdiri dan menggendong Hanin seperti koala.


“Katanya tadi cuma tiga jam, tapi ini sudah empat jam,” ucap Kenan sembari membawa Hanin ke sofa yang ada di depan meja kerjanya.


Lalu, Kenan duduk di sana.


“Tadi tuh, aku cuma tiga jam di rumah Irma, terus satu jam di baby shop. Jadi emang tiga jam kan di rumah Irma nya.”


Kenan tersenyum. “Alasan. Kamu harus ...”


“Kena hukuman.” Hanin melanjutkan perkataan Kenan yang sengaja ia potong.


Lalu Hanin mendekatkan bibirnya pada bibir Kenan. Ia mulai mencium bibir sang suami dan **********, persis seperti yang biasa Kenan lakukan padanya. Kenan pun langsung membalas ciuman itu dan menekan tengkuk Hanin, agar pautan itu menjadi lebih lama.


Setelah puas menikmati bibir Hanin yang lembut, Kenan pun melepasnya. Ibu jarinya mengusap sisa saliva yang masih menempel di bibir ranum itu.

__ADS_1


"Hukuman selesai," ucap Hanin.


Kenan tersenyum. "Belum." Ia menyeringai licik.


Hanin kembali mengerucutkan bibirnya. "Masih ada lagi?"


Kenan mengalihkan pembicaraan. “Sekarang, ayo kita pulang! Mami dan Kiara pasti sudah menunggu kita di rumah,” ucap Kenan.


Hanin pun hendak turun dari pangkuan sang suami. Namun, Kenan menahan kedua paha Hanin.


“Sebelum itu, lepas ini dulu.” Kenan memegang kain segitiga pengaman yang menutupi bagian sensitif Hanin.


“Ih, apaan sih, Ken,” ujar Hanin menolak.


“Mau di lepas, atau kita keluar ruangan ini dengan menggendongmu seperti ini.” Hanin masih berada di posisi koala, jika Kenan menggendongnya lagi.


“Ngga mau, malu.” Hanin menggeleng.


“Ya udah lepas!” pinta Kenan.


“Malu.’


“Tidak terlihat, Sayang. kamu menggunakan rok hitam. Hanya aku yang tau kalau kamu tidak memakai itu.”


“Ken Ken, jelek, kamu pasti mau ngerjain aku lagi,” sungut Hanin.


Ia ingat saat sang suami mengerjainya dengan menyuruhnya menari erotis tanpa busana di hadapannya.


Kenan tertawa. “Ngga kok.”


“Ngga salah lagi,” Hanin mengerucutkan bibirnya, membuat Kenan kembali tertawa.


“Sudah? Ayo!” Kenan mengajak sang istri pulang, setelah ia merapihkan berkas-berkas yang sudah di tanda tangani.


Kenan keluar dari ruangannya dan memberi beberapa perintah pada sekretarisnya di sini untuk melanjutkan semua pekerjaan yang sudah ia kerjakan. Sekretaris itu pun mengangguk patuh. Kemudian, Kenan berjalan dengan menggenggam tangan sang istri menuju lobby.


Semua orang yang dilewati Hanin dan Kenan, tertunduk dan menyapa mereka dengan sopan. Walau masih ada di antara mereka yang berbisik tentang Hanin, si wanita cinderela yang mendapatkan pangeran.


Kenan mengendarai mobilnya dengan kecepatan pelan. Ia memang tidak terlalu terburu-buru.


“Ken, besok pagi kamu jadi ke Amerika?”


Kenan mengangguk. “Iya, aku harus koordinasi dengan orang-orangku di sana.”


“Bersama Vicky?” tanya Hanin.


Kenan menggeleng. “Tidak, hanya aku sendiri, karena Vicky harus menyelsaikan urusan di sini.”


“Berapa hari?” tanya Hanin lagi.


“Hanya dua hari, Kenapa? Rindu aku?” Kenan mengalihkan sedikit pandangannya pada Hanin lalu kembali ke depan.


Hanin mengangguk. “Ya, aku pasti rindu kamu.”


“Aku juga, apalagi ini.” Kenan meremas dua gundukan dada hanin bergantian dan menyentuh bagian sensitifnya. “Aku pasti akan rindu.”


“Tuh kan, baru pegang kamu, sudah seperti ini.” Kenan membuka resleting celana panjangnya dan menarik tangan Hanin untuk menyentuh pusakanya itu.


“Ken, ini di mobil.”


“Memang kenapa? Mau coba?”


Kenan melirik dengan penuh senyum ke arah sang istri. “Kamu duduk di sini." ia meminta Hanin untuk duduk di pangkuannya.


Hanin menggeleng. “Kamu lagi nyetir, Ken. bahaya.”


“Ngga, aku kurangi kecepatan.” Kenan berjalan di jalan bebas hambatan dan di jalur sebelah kiri.


Hanin pun menuruti suaminya, Ia duduk di pangkuan sang suami dengan menarik roknya ke atas, atas perintah Kenan.


Perlahan, Hanin menyatukan miliknya pada milik sang suami.


“Eum ....” lenguh Hanin saat milik Kenan berada penuh di dalam sana.


“Bergerak, Sayang,” bisik Kenan persis ditelinga Hanin, karena Hanin tengah memeluk erat sang suami.


Sementara Kenan menikmati pelayanan sang istri sembari fokus ke depan dan menyetir. Gerakan Hanin semakin hari semakin pintar dan mampu membuat Kenan terpuaskan. Akhirnya, Kenan berhasil menjahili istrinya. Hanin pun menerima kejahilan sang suami, malah sepertinya ia bergerak dengan penuh penghayatan, menikmati penyatuan di tengah perjalanan menuju Jakarta.

__ADS_1


Sensasi yang belum pernah mereka rasakan. Namun, sungguh nikmat tiada tara. Gerakan Hanin, membuat dirinya terbuai, matanya sayu. Hanin benar-benar semakin ahli memimpin pergulatan ini.


__ADS_2