
Di kamar hotel Kuala Lumpur, Kenan sama sekali tak memikirkan Vanesa. Bahkan, ia lupa untuk mengabarkan kekasihnya itu, padahal kemarin ia telah berjanji pada Vanesa akan menelepon kembali. Namun, Vanesa seperti sesuatu yang sudah tidak penting bagi Kenan. Sebenarnya, sudah dua tahun terakhir, ia merasa hubungannya dengan Vanesa semakin hambar. Rasa itu semakin terasa, justru setelah peresmian pertunangan mereka, satu tahun yang lalu.
Kenan terpaksa mengiyakan pertunangan itu, karena desakan dari sang ibu dan orang tua Vanesa. Karena ia merasa telah lama mengenal Vanesa dan malas untuk menjalin hubungan lagi dengan wanita baru, akhirnya ia pun menyetujui. Kenan juga paling sulit dekat dengan lawan jenis. Lagi pula ia pun merasa pernah melakukan hubungan badan dengan sang kekasih. Hal itu juga yang menguatkan dirinya untuk mengambil keputusan itu.
“Aaa ....” Teriak Hanin dari dalam kamar mandi. Ia kesal karena di dalam lemari itu tak menemukan pakaian yang layak ia pakai.
Kenan yang tengah duduk di atas ranjang pun, langsung berlari ke sumber teriakan itu.
“Ada apa?” Kenan langsung membuka pintu kamar mandi tanpa mengetuk lagi.
Hanin yang belum siap, sontak menarik handuk yang ada di sana dan langsung menutupi bagian depan. Tubuhnya pun sengaja berhadapan ke arah Kenan, agar bagian belakang yang belum tertutupi handuk itu tak terlihat oleh pria itu.
“Kalau masuk tuh ketuk dulu.”
“Kamu berteriak kencang. Ada apa?” Kenan berjalan menghampiri Hanin.
“Stop, jangan mendekat!” Hanin kembali memperingatkan pria yang sudah sah menjadi suaminya secara agama dan KBRI. Namun, belum surat dari negaranya belum keluar dan Vicky tengah mengurus surat-surat pernikahannya itu.
__ADS_1
Kenan tersenyum menyeringai. “Aku sudah melihat tubuhmu yang tidak memakai apapun, bahkan aku sudah menelusuri semuanya dengan bibirku.”
“Dasar licik,” sungut Hanin, yang mulai melangkah mundur, hingga tubuhnya terbentur dinding.
Kenan semakin tertawa, lalu ia menghimpit tubuh Hanin. “Sepertinya aku ingin mengulang kejadian itu.”
“Jangan harap!”
“Kenapa? Aku berhak melakukannya bukan?” tanya Kenan dengan mata yang terus menatap kedua mata Hanin.
Tangan Kenan bergerilya di area b*k*ng dan kedua paha Hanin. Lalu satu tangannya terhenti di bagian sensitif itu. Ia menggerakkan jari telunjuknya di sana, mengobrak-abrik bagian sensitif itu, membuat Hanin menggigitkan bibirnya menahan agar suara ******* itu tidak keluar.
Dada Hanin bergemuruh mendengar pertanyaan Kenan yang sifatnya merupakan sebuah penghinaan. Ia menggelengkan kepalanya.
“Cukup, lepaskan tanganmu, Ah.” Akhirnya ******* itu lolos dari mulut Hanin.
Kenan semakin menyeringai. “Kamu mudah sekali basah, Sayang. Apa Gunawan juga sering melakukan ini? Atau kamu pun sering melakukan ini dengan pria lain?”
__ADS_1
Kepala Hanin menggeleng dengan cepat sambil terus menggigit bibirnya, karena gerakan jari Kenan semakin cepat bergerak di bawah sana, membuat tubuh Hanin serasa ada yang ingin meledak. Hati Hanin teriris mendengar perkataan Kenan yang memfitnahnya, padahal Kenan adalah satu-satunya pria yang memperlakukan Hanin seperti ini.
“Nggg..” Tanpa di sadari, Hanin mengerang melepaskan pelepasannya, akibat ulah jari Kenan yang bertubi-tubi menyerang miliknya.
Kenan tertawa. “Kamu menikmatinya, wanita penggoda? Ternyata benar dugaanku, kamu tidak sepolos wajahmu.”
Kemudian, Kenan menarik jarinya dari sana dan segera mencuci, lalu meninggalkan Hanin yang masih berdiri bersandar di dinding. Setelah kenan keluar dari kamar mandi ittu, tubuh Hanin merosot. Ia menangis, tubuhnya lemas bercampur perih di bagian intinya, karena Kenan memainkan jari itu dengan brutal di area yang belum pernah tersentuh oleh siapapun sebelumnya.
Kenan kembali mendudukkan dirinya di tepi ranjang. Ia memandangi jari yang di gunakan untuk memperdaya wanita yang telah resmi menjadi istrinya. Sempat terbesit di otaknya, mengapa susah sekali menerobos jarinya ke milik Hanin, padahal itu hanya satu jari? Sedangkan pengalamannya bersama Vanesa, kekasihnya itu tidak akan merasakan nikmat jika hanya dengan satu jari saja, bahkan ia menambahkan dengan ketiga jarinya.
“Apa aku keterlaluan?” tanya Kenan pada dirinya sendiri. Kenan mengusap wajahnya kasar. Entah apa yang terjadi dengannya kini, padahal ia sangat menghormati wanita sebelumnya, karena ia memiliki ibu dan adik perempuan yang juga seorang wanita.
Dengan Vanesa pun, ia sangat menghormati kekasihnya itu. Ia berusaha untuk tidak melecehkan sang kekasih dan menggunakan tubuhnya saat gairah itu datang. Kenan adalah pria normal yang terkadang gairah itu pun hinggap. Vanesa sendiri yang sering menawarkan tubuhnya untuk menjadi pelampiasan sang kekasih, tapi kenan tetap menolak dengan dalih menghormati kekasihnya itu.
Namun, dengan Hanin, ia pun tak mengerti, mengapa bisa sekejam ini. Apa ini karena Hanin pernah menyakiti hati Kiara dan menjadi wanita yang di cintai Gunawan, hingga membuat sang adik kesayangan pernah ingin mengakhiri hidupnya? Atau sebenarnya, dia sendiri yang sudah tergoda oleh pesona Hanin. Entahlah? Ia semakin tak mengerti.
Yang jelas, ia terhibur dengan ekspresi gemas Hanin yang selalu marah-marah padanya. Juga, ekspresi wajah Hanin, jika sedang bergairah seperti tadi. Apalagi saat Hanin melakukan pelepasan, wajah istrinya itu terlihat semakin seksi dan cukup membuat milik Kenan pun tegak berdiri.
__ADS_1
“Ah si*l.” Kenan memandang miliknya, yang belum juga kembali normal.
“Hei, kau menginginkannya?” Kenan bergumam, sembari memukul miliknya yang tidak bisa di kondisikan. “Cepat atau lambat, kau akan merasakannya nanti.” Kenan kembali mencoba mnidurkan miliknya, sambil menunggu Hanin keluar dari kamar mandi, karena sepertiya Hanin akan semakin lama berada di kamar mandi itu.