
Malam semakin larut, penghuni rumah ini pun sudah berada di kamarnya masing-masing. Hanin tengah membantu sang suami untuk mengamasi pakaian dan barang-barang yang diperlukan sang suami, saat berada di negeri paman sam itu. Hanin membawa pakaian berbahan tebal dan mantel, karena kebetulan cuaca di sana saat ini sedang sangat dingin.
“Sudah Sayang, cukup. Ini saja yang di bawa. Aku ‘kan di sana tidak lama.”
“Yakin keperluanmu hanya segini? Tidak ada yang tertinggal?” tanya Hanin.
“Ada yang tertinggal,” jawab Kenan lesu, sembari mendudukkan dirinya di tepi ranjang.
Sedangkan Hanin berdiri persis di samping Kenan, sambil menata pakaian di dalam koper yang terletak di atas tempat tidur itu.
“Apa?’ tanya Hanin lagi. Ia serius bertanya pada Kenan, karena baru kali ini, ia menyiapkan keperluan sang suami yang ingin pergi jauh.
Hanin menatap Kenan dan Kenan pun menatap istrinya.
“Cintaku yang tertinggal,” jawab Kenan.
Hanin tersenyum dan Kenan langsung meraih pinggang Hanin untuk dipeluk. Hanin pun mengelus kepala sang suami yang menempel di dadanya.
“Gombal banget sih kamu.”
“Aku ga bisa jauh darimu, Sayang.”
“Cuma dua hari kan?” tanya Hanin.
Kenan melonggarkan pelukannya dan menatap sang istri. Ia tak perlu mendongak, walau posisi Kenan duduk dan Hanin berdiri. Namun, karena postur Hanin yang jauh lebih pendek dari Kenan, membuat seolah seperti sejajar, jika Kenan duduk dalam posisi yang tegak.
Wajah Kenan terlihat lesu, antara khawatir meninggalkan istrinya sendiri di sini dan rindu dengan kehangatan serta wangi tubuh itu.
“Atau aku batalkan saja keberangkatan ini.”
“Bukannya ini pertemuan penting? Apa tidak mengapa jika kamu tidak hadir?” tanya Hanin.
“Aku tidak bisa jauh darimu, Sayang. Apalagi di rumah ini sedang ada Gunawan,” sungut Kenan.
Hanin mengusap wajah sang suami dan meminta Kenan untuk melihat kedua matanya. “Hei, kamu masih cemburu?”
__ADS_1
“Apa semua yang telah aku serahkan belum cukup untuk membuktikan kalau aku mencintaimu?” Hanin menatap kedua bola mata Kenan. “Tidak ada di otakku terpikir tentang Mas Gun, walau hanya sekedar terlintas pun, itu tidak ada sama sekali.”
Kenan tersenyum. “Aku percaya.” Ia mengangguk. “Tapi aku tidak percaya dengan Gun. Dia selalu memperhatikanmu, mencuri-curi pandang ke arahmu, dan aku cemburu melihat itu.”
Hanin memang menyadari hal itu. Walau Hanin tidak pernah sekalipun melihat ke arah Gunawan, tapi ia sadar bahwa Gunawan sering menatap ke arahnya. Hal itu pula yang membuat Hanin takut, jika Kiara salah faham terhadapnya. Oleh, karena itu, ia selalu memulai pembicaraan agar mengalihkan pandangan Gunawan terhadapnya.
Hanin menangkup wajah Kenan dan mencium bibirnya.
Cup
Kenan pun langsung membalas ciuman itu. Keduanya menyatukan bibir dengan lembut dan penuh perasaan, seolah rasa cinta mereka tersalurkan oleh bibir yang sedang menyatu itu. Hanin mengelus bahu dan meremas rambut Kenan pelan, sementara kedua tangan Kenan setia melingkar di perut sang istri dan semakin mengeratkan pelukan itu.
Setelah keduanya merasa akan kehabisan oksigen, akhirnya kedua insan ini melepaskan penyatuan bibir itu. Suara kecapan terakhir terdengar nyaring, memisahkan bibir yang semula menyatu dengan lembut.
Hanin menyatukan keningnya pada kening Kenan. Nafasnya terengah-engah, karena mencoba mengimbangi ciuman lihai dari Kenan.
“Aku mencintaimu, Kenan Aditama.”
“Aku juga mencintaimu dan mungkin lebih,” jawab Kenan.
“Bagaimana kalau aku ikut denganmu? Menemanimu di sana,” ucap Hanin.
Kenan menyungging senyum yang lebar. “Sungguh?” tanyanya tak percaya. Ia pikir akan sulit mengajak Hanin, padahal ide itu sempat terbesit dibenaknya.
Hanin mengangguk. “Sungguh. Aku ingin menemanimu, kemanapun kamu pergi.”
Kenan memeluk erat istrinya. “Terima kasih, Sayang.”
Hanin memeluk kepala Kenan. “Sama-sama, Sayang.”
Indahnya mereka yang tik menyimpan dendam. Jika, Hanin seorang pendendam, mungkin ia tak akan menerima Kenan sebagai suaminya, karena Kenan pun melakukan hal yang sama seperti Kiara, Kenan menikahi Hanin dengan cara yang licik dan menjebaknya. Namun, Hanin melihat kesungguhan Kenan sebagai seorang suami, lalu ia menerima takdirnya dan mulai mencintai Kenan, hingga semakin hari cinta itu pun semakin terpupuk seiring kebaikan serta cinta Kenan yang sedikit demi sedikit terlihat dan tampak jelas.
Sementara di kamar yang berbeda, Kiara dan Gunawan sama-sama terdiam. Mereka belum mulai bicara sejak berada di kamar itu. Kiara pun tak ingin memulai pembicaraan. Sedangkan Gunawan, merasa gengsi untuk memulai pembicaraan lebih dulu, terlebih lagi ia masih marah karena melihat sang istri yang sangat akrab dengan Vicky, sahabat sekaligus orang yang sudah ikut andil dalam kehancuran hidupnya. Walau di sini, Vicky pun tidak pernah tahu bahwa Kiara memanfaatkannya, yang ia kira saat itu, Kiara memang sudah jatuh hati padanya.
“Ra,” Akhirnya, Gunawan memulai pembicaraan lebih dulu.
__ADS_1
Kiara hendak berbaring di atas tempat tidur itu dan menyelimuti tubuhnya. Sedangkan, Gunawan sudah berada di atas tempat tidur dengan menyandarkan tubuhnya pada punggung tempat tidur itu.
“Ya.” Kiara yang ingin berbaring memunggungi Gunawan pun akhirnya menoleh. “Ada apa?”
“Sedekat apa kamu dan Vicky?” tanya Gunawan.
“Maksudnya?” tanya Kiara tak mengerti.
“Apa kalian masih memliki hubungan?” tanya Gunawan lagi dengan dingin, karena melihat Kiara dan Vicky sungguh membuatnya sesak dan ingin mengeluarkan pertanyaan ini.
Kiara menggeleng. “Tidak.”
Gunawan ingin tahu bagaimana perasaan Kiara pada pria itu sekarang, karena ia tak ingin lagi dibohongi.
“Tapi yang aku lihat sebaliknya. Kalian masih sangat dekat. Jangan kamu kira aku tidak melihat itu! Aku melihat Vicky mengupas jeruk dan kamu memakan jeruk itu dari tangannya. Romantis sekali.” Seketika, kata-kata itu keluar dari bibir Gunawan dengan lancar.
“Kamu cemburu?” tanya Kiara.
Gunawan langsung mengelak. “Buat apa aku cemburu.”
“Kalau kamu tidak cemburu. Untuk apa bertanya? Toh aku juga tidak bertanya, mengapa kamu sedari tadi melihat ke arah istri Kak Kenan, karena aku tidak cemburu.” Kiara tersenyum dan kembali membalikkan tubuhnya untuk tidur, lalu menyelimuti dirinya sendiri.
Seketika, jawaban Kiara membuat Gunawan bungkam seribu bahasa. Kiara tidak cemburu dan itu membuat Gunawan semakin kesal.
“Apa Kiara sudah tidak lagi mencintaiku?” tanya Gunawan dalam hati.
Tidak, tidak, Gunawan tidak ingin Kiara berpaling darinya. Ia tidak ingin Kiara tak lagi mengejarnya. Ia tidak ingin Kiara berubah. Ia ingin Kiara yang dulu, Kiara yang selalu berelayut di lengannya dengan nada manja dan menggoda, Kiara yang menggunakan lingeri tipis di setiap malam agar ia mau menyentuhnya, dan Kiara yang banyak bicara untuk mendapatkan perhatiannya. Namun, ia sadar kini Kiara tidak seperti itu lagi.
Gunawan menatap lama punggung itu, punggung kecil yang tidak menghadapnya.
"Aku juga sering menyakitimu, tapi aku tidak pernah meminta maaf padamu. Sedangkan kamu selalu meminta maaf padaku. Namun, sakit hatiku menghilangkan semua perjuanganmu. Maaf, Kiara." gumam Gunawan lirih.
Tangan Gunawan terangkat, hendak menyentuh kepala Kiara dan ingin mengelusnya. Namun, Gunawan menahan tangan itu untuk sampai pada kepala Kiara dan menurunkannya.
Gunawan memilih membaringkan tubuhnya dan ikut membelakangi punggung Kiara. Mereka tidur dengan posisi saling memunggungi, walau sebenarnya kedua insan ini sama-sama belum memejamkan mata.
__ADS_1
Kiara mendengar gumaman Gunawan tadi, walau terdengar lirih dan pelan. Ia hanya terdiam. Sungguh, semua hal ini tidak membuatnya sakit hati dan tidak juga membuatnya menangis. Kiara hanya tersenyum dan mengelus perutnya, karena tidak ada hal lain yang berharga selain sesuatu yang sedang hidup di dalam sana.