
Rasti semakin kesal, karena Kenan memasangkan tubuhnya untuk melindungi sang istri. Wanita yang sudah memasuki usia lebih dari setengah abad itu terus memukuli putranya. Ini adalah kali pertama, Rasti memukul Kenan. Wanita itu memberi pukulan sembari menangis hingga pukulan itu melemah.
Sedangkan Vanesa, hanya bisa menjadi penonton. Vanesa di buat menganga atas apa yang Kenan lakukan. Pria itu berani pasang badan hanya untuk wanita penggoda yang dulu ia benci. Sungguh, ia tak percaya dengan fakta ini.
“Mengapa kamu kecewakan Mami, Ken. Mengapa?” tangis Rasti pecah. “Mengapa kamu kecewakan Vanesa?” Rasti menunjuk ke arah Vanesa yang tertunduk sedih dan lemah, padahal tadi wanita itu terlihat sangar di hadapan Hanin.
Kenan mengendurkan pelukannya pada tubuh sang istri. Ia menggeser tubuh Hanin agar berdiri di belakangnya.
Arah mata Kenan, kini beralih pada Vanesa. “Aku sudah meminta maaf padamu dan keluargamu. Apa itu tidak cukup, Van?”
“Aku tidak terima dengan semua ini, Nan. Pernikahan kita sudah di depan mata. Tapi, gara-gara wanita penggoda itu, semuanya berantakan,” jawab Vanesa sembari menunjuk ke arah Hanin.
“Bukan salah Hanin.” Kenan menggelengkan kepalanya. “Dia sama sekali tidak pernah menggodaku, justru akulah yang menggodanya, mengancamnya hingga dia mau menikah denganku.”
Kenan menoleh ke arah sang istri sembari mengelus wajahnya. “Hanin telah banyak menderita karena perlakuan kasarku dulu. Saat itu, aku percaya dengan segala hal yang diceritakan Kiara. Aku membelanya mati-matian. Tapi apa? Orang yang dibela malah jadi biang dari masalah ini.”
“Tapi, Nan. Aku ingin kita seperti dulu.” Vanesa masih berusaha mendekat ke arah Kenan dan berusaha meraih tangannya untuk di peluk.
“Please, Van.” Kenan mengangkat tangannya ke atas untuk menahan agar Vanesa tidak semakin mendekat padanya. “Kamu kenal aku. Kita berteman dari kecil, bahkan kita pernah sangat dekat. Kamu tahu bagaimana aku? Jika kamu bersikukuh dengan keinginanmu, maka aku pun akan bersikukuh dengan keinginanku. Mulai sekarang, aku merasa kita tidak pernah saling kenal.”
“Kenan.” Isak tangis Vanesa tumpah. Ia kalah sebelum berjuang.
Kenan sudah benar-benar tak bisa lagi dijangkau. Pria itu sangat keras kepala, maka jika ia bilang tidak pernah saling kenal, untuk selamanya Vanesa tak akan menjadi apa-apa bagi Kenan, walau hanya sebagai teman.
“Kenan, kamu keterlaluan. Keras kepala,” ucap Rasti.
Rasti berusaha membela putri sahabatnya. Ia masih mencoba ingin menyerang Hanin. “Dasar wanita tidak tahu diri. Senang kamu dapat pembelaan dari putraku. Hah? Tidak dapat Gunawan, lalu kau menggoda putraku.”
“Mam, dia tidak pernah menggodaku, sudah berapa kali aku bilang. Aku yang menggodanya, bukan Hanin.” Kenan menahan tubuh sang ibu agar tidak mendekati istrinya.
“Pakai pelet apa kamu? Hah!” Rasti melotot ke arah Hanin. sementara Hanin hanya menggelengkan kepalanya dengan raut yang sedih.
Hanin tak kuasa mendengar cacian itu. ia pun menangis.
“Mami, tolong! Jangan seperti ini! Ken menghargai Mami, jadi tolong hargai keputusan Ken,” ucap Kenan memelas dengan mengatup kedua tangannya.
“Kenan mencintainya, Mam.” Kenan memeluk bahu Hanin.
“Maaf, jika kali ini Kenan egois. Ken tidak akan meninggalkannya. Walau Ken harus kehilangan semua harta yang Papi tinggalkan. Ken akan tetap memilihnya. Walau Mami mencoret nama Ken dalam keluarga Aditama, Ken pun akan tetap bersamanya,” ucap Kenan tegas di hadapan Rasti, Vanesa, dan Hanin.
Hanin menggelengkan. Ia tak ingin memisahkan antara ibu dan anak. Hanin tahu persis bagaimana kehilangan ibu. Ia tak ingin ini terjadi, apalagi ia tahu bahwa suaminya sangat menyayangi ibunya.
“Ken, jangan seperti itu!” kata Hanin lirih dengan menatap kedua mata sang suami.
Kenan memeluk Hanin. “Ini keputusanku.”
Rasti pun melemah, tubuhnya tiba-tiba merosot. Ia teringat kata-kata itu. Perkataan putranya sama persis dengan apa yang di ucapkan Kean, saat suaminya berseteru dengan sang ibu. Saat itu, Kean pun bersikukuh mempertahankan dirinya di depan orang tua Kean, ayah Kenan dan Kiara. Seketika, tangis Rasti pecah. Ia tak percaya, hal ini terulang. Ini benar-benar seperti dejavu.
Hanin langsung bersimpuh di hadapan Rasti. Namun, Kenan melarangnya, Kenan mengangkat tangan Hanin untuk berdiri, tetapi Hanin masih ingin bersimpuh di depan Rasti.
“Maafkan saya, Bu. Kenan sangat menyayangi ibu. Dua malam dia mengigau dan selalu menyebut nama ibu di sela tidurnya. Maafkan, jika kata-kata Kenan tadi menyinggung ibu. Dia tidak sedang bersungguh-sungguh.”
__ADS_1
“Han,” panggil Kenan kesal. Matanya menatap tajam sang istri, padahal saat ini ia sedang membelanya, memilihnya. Namun, Hanin malah berkata seperti itu.
“Ken. aku tidak ingin memisahkanmu dengan ibumu. Aku pun pernah kehilangan ibu, rasanya sakit sekali. Jangan seperti itu, Ken! Jangan!” Hanin membalas tatapan Kenan dengan wajah lembut dan memelas.
Rasti menatap ke arah Hanin. Sungguh, ini benar-benar dejavu. Dulu, ia pun melakukan hal sama seperti Hanin, ketika Kean memilihnya dan ingin meninggalkan keluarganya. Kini, sejarah itu terulang.
Rasti memeluk Hanin. “Maafkan Mami. Maaf.” Keduanya menangis.
“Mami.” Teriak Vanesa yang gagal total dalam memperjuangkan Kenan.
Rasti menoleh ke arah Vanesa. “Maaf, Van. Mami tidak ingin kehilangan Kenan.” terdengar suara Rasti yang lemah.
Vanesa kesal. Ia pun menghentakkan kakinya untuk keluar dari tempat ini. Dan, sebelum Vanesa berlalu.
Ia pun kembali berkata, “aku masih tetap tidak terima diperlakukan seperti ini. Lihat, apa yang akan aku lakukan untuk keluargamu, Nan.” Ancam Vanesa sembari mengusap air matanya yang terus mengalir.
Sungguh, ini adalah penghinaan baginya. Keluarga Kenan benar-benar telah menampar pipinya keras.
“Lakukan apa yang ingin kamu lakukan, Van. Aku mengenalmu, mengenal ayahmu. Aku tahu orang suruhannya sudah mengintaiku selama satu bulan ini. ayahmu pasti penasaran wanita seperti apa yang aku nikahi. Dia adalah Hanin Aqila, wanita sederhana yang cantik, lembut dan selalu membuatku tertawa.” Kenan tersenyum ke arah Hanin dan Hanin tersenyum ke arah Kenan.
“Aku pun akan mengumumkan pembatalan pertunangan kita ke media besok. Aku juga akan mengumumkan bahwa aku sudah menikahi Hanin, wanita pilihanku,” ucap Kenan lagi.
“Si*l.” Vanesa kembali menghentakan kakinya keluar. Ia berlari keluar dari apartemen itu sambil menangis tersedu sedu.
Di dalam apartemen, Kenan dan Hanin membawa Rasti untuk duduk di sofa.
“Terima kasih, Mami. Terima kasih karena telah mengerti Ken.” Kenan memeluk erat sang ibu.
“Bu, Hanin buatkan teh hangat ya,” ucap Hanin dan berdiri untuk meninggalkan anak dan ibu itu, berdua.
Namun, Rasti langsung menahan tangan Hanin. “Panggul aku, Mami.”
Senyum Hanin langsung mengembang. Ia pun mengangguk. “Baik, Mam.”
Hanin kembali pamit pada kedua orang yang sangat ia sayangi, karena mulai sekarang ia akan menyayangi orang-orang yang di sayangi suaminya.
“Ken, kamu harus berhati-hati pada James. Pria itu pasti tidak akan terima, putrinya kamu tolak,” ucap Rasti.
Kenan mengangguk. “Itu sudah Ken pikirkan, Mam. Hal terburuk adalah mereka membuka skandal Kiara, karena hanya Vanesa yang tau hal itu. Dia hadir sore itu.”
Rasti mengusap wajahnya kasar. “Kiara. Adikmu memang benar-benar pembuat onar. Mami tidak habis pikir, mengapa dia bisa melakukan hal selicik itu.” Rasti menggelengkan kepalanya sembari jari telunjuknya memegang kening.
“Cinta memang buta, Mom. Obsesi mengalahkan segalanya. Sama halnya dengan Vanesa.”
Rasti mengangguk. Ia setuju dengan jawaban Kenan.
"Bagaimana keadaan Kiara sekarang?" tanya Kenan.
"Entahlah, sejak kejadian itu Mami tidak menegurnya. Biar dia menyelesaikan masalahnya sendiri. Jangan kamu bantu adikmu lagi!"
"Tapi Kiara sedang hamil, Mam." Kenan masih tak tega dengan nasib sang adik.
__ADS_1
"Biarlah, Ken. Biar dia belajar apalagi dia akan menjadi seorang ibu."
Rasti dan Kenan terdiam dan berpikir dengan pikirannya masing-masing.
“Bu.. eh Mam.” Tiba-tiba Hanin datang dan membuyarkan pembicaraan ibu dan anak itu.
Rasti dan Kenan langsung menoleh ke arah Hanin bersamaan.
“Maaf, mengganggu. Hanin hanya ingin tanya, Minuman Mami boleh di pakai gula?” tanya Hanin polos. Ia tidak tahu apakah ibu mertuanya itu menyukai manis atau menghindari manis karena ada penyakit yang di derita.
Rasti tersenyum lalu melirik ke arah Kenan. Kenan pun tersenyum. Sementara, Hanin bingung dan hanya melirik bergantian ke kedua orang yang ada di hadapannya itu.
“Tidak, Sayang,” jawab Rasti tersenyum ke arah Hanin.
“Baiklah, mengerti!” Hanin mengangguk. “Maaf mengganggu.” Hanin membungkukkan sebagian tubuhnya dan kembali berlalu dari hadapan kedua pembesar itu.
“Dengan apa kamu menjebak wanita itu, hingga dia mau menikah denganmu? Hmm? tanya Rasti pada putranya dengan menaikkan kedua alisnya.
“Menurut Mami dengan apa?” Kenan bertanya balik sambil tersenyum.
“Menekan keluarganya?”
“Hanin tidak punya keluarga, Mam. Dia hanya memiliki satu kakak perempuan dan itu tinggal di KL karena kakaknya menikah dengan pria asli melayu.”
“Pantas kamu menikah di sana. orang tuanya?”
“Ayahnya meninggal, ketika Hanin berusia 18 tahun, sama sepertiku dan ibunya menyusul dua tahun kemudian.”
“Oh,” Rasti kembali merasa bersalah. “Dia yatim piatu?” Rasti semakin memiliki persamaan dengan menantunya ini.
Kenan mengangguk.
Lalu, Rasti mengelus rambut putranya. “Kamu benar-benar putra ayahmu.”
Kenan tersenyum. “Sepertinya begitu.”
Keduanya tertawa dan Hanin menyaksikan itu. Hanin hendak mendekati Kenan dan Rasti yang sedang bersenda gurau. Ia pun tersenyum bahagia, karena akhirnya ibu Kenan menerima kehadirannya.
“Mam, Ken. Ayo di minum!” kata Hanin lembut.
“Kamu memanggil putraku dengan sebutan apa?” tanya Rasti pada Hanin.
“Ken..nan,” jawab Hanin ragu dan takut.
Ternyata Kenan mewarisi sifat galak itu dari sang ibu. Hanin baru menyadari.
“Tidak romantis sama sekali. Tidak adakah panggilan sayang yang lain?”
Hanin menatap Kenan dan Kenan pun menatap Hanin tersenyum sembari menaikkan alisnya.
“Ken Ken jelek,” jawab mereka bersamaan. Lalu ketiganya tertawa.
__ADS_1
“Itu bagus,” jawab Rasti mengangguk, membuat ketiganya kembali tertawa.