Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Ekstra part 3


__ADS_3

Gunawan menaruh Kayla di box tempat tidur yang masih berada dalam kamar itu. Sementara, Kiara tengah berdiri di depan lemari besar untuk menyiapkan pakaian ganti sang suami. Sore ini, Kayla tidur lebih cepat, karena sedari siang bayi mungil berusia lebih dari tiga bulan itu asyik bermain dengan sang ayah, mengingat hari ini adalah hari libur. Biasa, setiap weekend Gunawan akan membawa jalan-jalan anak dan istrinya berbelanja keperluan Kayla, ke mall, atau ke taman. Tempat-tempat yang masih bisa mereka jangkau, mungkin setelah Kayla mencapai enam bulan, mereka akan membawa putrinya ke kota kelahiran Gunawan di Solo.


Setelah memastikan posisi Kayla tertidur dalam keadaan benar, arah mata Gunawan tertuju pada tubuh sang istri yang sedang membelakanginya dan fokus dengan beberapa pakaian di sana. Lalu, Gunawan seger melangkahkan kakinya menuju sang istri. dengan cepat kedua tangan itu melinkar di pinggang Kiara.


“Istriku makin sexy aja sih,” ucap Gun persis di telinga Kiara.


Kiara memang hanya memakai tangtop hitam dan celana pendek yang hanya menutupi b*k*ngnya saja, berwarna senada dengan tangtop yang ia pakai.


Kiara menoleh ke wajah suaminya sembari mengelus kepala itu. Gun mendusel ke leher jenjang sang istri, hingga kebahu. Lalu, menggigit bahu itu.


“Mas ... Eum,” Kiara melenguh sembari menggigit bibir bawahnya. Ia tak tahan jika sang suami mengodanya seperti ini.


“Mas, jangan digigit di situ! Nanti merahnya ga hilang-hilang,” protes Kiara.


Lalu, Gun pun melepas bibirnya dari kulit putih nan mulus itu. ia tersenyum sembari mengusap bahu putih sang istri.


“Maaf, Sayang.”


“Ck, kamu nih. Bahuku merah semua,” rengek Kiara. “Bahkan yang ini biru.” Kiara menunjukkan sebelah bahunya pada sang suami.


Gunawan pun tertawa. “Maaf, Sayang. Aku gemas.”


Kiara membalikkan tubuhnya dan memonyongkan bibir. “Dari dulu, aku memang selalu jadi pelampiasanmu.”


Gun tertawa lagi. “Iya pelampiasan dari rasa cinta.”


“Gombal,” Kiara memukul pelan dada Gun.


“Oh, iya. Bagaimana dengan Kenan? Hanin sudah ketemu kan?’ tanya Gun.


Kiara mengangguk. “Tentu saja, malah sekarang mereka sedang babymoon di puncak.”


“Masa’ babymoon ke puncak, dekat sekali,” jawab Gun.


Kiara melepas kedua tangan suaminya yang semula melingkar. Ia hendak ke kamar mandi untuk mematikan air yang semula ia nyalakan untuk suaminya mandi.


“Mending Hanin merasakan babymoon. Daripada aku, sama sekali tidak merasakan babymoon kemana-mana,” ujar Kiara sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Lalu, Gunawan langsung mengejar sang istri dan dengan cepat mengangkat tubuh Kiara yang sedang berjalan santai menuju kamar mandi.


Hap.


Gunawan mengangkat tubuh mungil Kiara dan membopongnya seperti karung beras.


“Aaa ....” sontak Kiara terkejut dan berteriak. “Ih, turunin. Mas.”


Gunawan hanya tertawa dan membawa sang istri masuk ke dalam kamar mandi. Lalu, mendudukkan Kiara di marmer wastafel dan mengungkungnya.


“Kalau begitu sekarang aku buat kamu hamil lagi.” Gun memajukan wajahnya dan meletakkan bibirnya tepat di depan bibir Kiara, hingga ujung kedua hidung mereka yang mancung pu ikut bersentuhan.

__ADS_1


“Ngga mau, Kayla masih kecil,” jawab Kiara sembari menggelengkan kepalanya.


“Katanya mau merasakan babymoon,” ledek Gun.


“Iya tapi ngga sekarang.”


“Sekarang juga ngga apa-apa.” Gun mengecup lembut bibir sang istri.


“Mas,” teriak Kiara yang pasrah dengan keinginan sang suami dan hanyut dalam godaannya.


****


Satu bulan berlalu, kandungan Hanin kini sudah memasuki usia delapan bulan. Hari perkiraan sang buah hati pun sudah di depan mata dan Kenan menjadi pria paling heboh menyambut kehadiran buah hatinya.


“Bagaimana, Dok. Bayi saya sehat?” tanya Kenan saat sang istri tengah berbaring dan melakukan pemeriksaan rutin.


“Sangat baik,” ucap dokter itu. “Berat badan bayi anda juga bagus.”


“Alhamdulillah,” Hanin dan Kenan sama-sama mengucap syukur.


“Bu Hanin juga sehat, sepertinya tidak ada keluhan selama kehamilan. Bukan begitu?” tanya dokter itu lagi.


Hanin mengangguk. “Iya, Dok. Alhamdulillah.”


“Ya, karena usia Bu Hanin masih sangat produktif.”


Saat ini Hanin berusia dua puluh tujuh tahun. Sebenarnya sudah memasuki usia matang untuk mendapatkan momongan.


“Baik, dok.” Hanin mengangguk, begitu juga Kenan.


Kenan tak lagi menanyakan pada wanita paruh baya yang menggunakan jas putih itu tentang jenis kelamin bayinya.


“Apa Bu Hanin dan Pak Kenan ingin melakukan usg empat dimensi?” tanya wanita paruh baya yang menggunakan ja putih itu.


Kenan menatap wajah sang istri. Begitu pun dengan Hanin, ia melihat ke arah sang suami untuk melihat jawabannya.


“Sepertinya tidak perlu, Dok,” jawab Kenan sembari menatap mata Hanin.


Ia tidak ingin Hanin mengira bahwa dirinya masih mempermasalahkan jenis kelamin dan ingin memastikannya dengan teknologi canggih itu.


“Memang apa manfaat dari usg empat dimensi itu, Dok?” tanya Hanin.


“USG 4 dimensi itu menggunakan gelombang suara untuk menampilkan kondisi kehamilan, mulai dari keadaan rahim, wujud janin, hingga gangguan yang terjadi di dalam kandungan. Dan untuk usia kehamilan Bu Hanin yang sudah memasuki trimester ketiga, saya merekomendasikan ini untuk mengetahui posisi plasenta menjelang persalinan, mengamati posisi dan pergerakan janin, serta memeriksa kelainan pada rahim dan pinggul ibu,” terang si dokter.


Hanin tampak mempertimbangkan. Ternyata fungsi kecanggihan itu bukan hanya untuk melihat wujud dan jenis kelamin bayinya saja.


“Ternyata pemeriksaan itu sangat penting ya, Dok?” tanya Kenan.


“Ya, sebenarnya dengan rajin memeriksakan rutin, itu sudah baik. Tetapi jika Bapak dan Ibu ingin lebih akurat, saya menyarankan melakukan ini.”

__ADS_1


“Bagaimana, By?” tanya Hanin pada Kenan.


“Menurutmu?” Kenan bertanya kembali pada sang istri.


“Aku mau untuk melihat kondisi kesehatannya secara akurat,” jawab Hanin.


Kenan pun tersenyum dan mengangguk. “Aku ikut saja.”


“Jika Bapak dan Ibu mau, bisa langsung ke ruang radiologi. Saya akan periksa langsung,” ucap dokter itu.


Kemudian, Kenan dan Hanin menyetujui dan segera menyudahi pemeriksaan itu, lalu berlanjut dengan pemeriksaan yang lain.


Hanin bangun dari tempat tidur itu, setelah perut besarnya dibersihkan dari gel-gel yang menempel oleh perawat.


Kenan yang siaga, membantu istrinya untuk bangun. Ia juga berjongkok untuk memakaikan sepatu sandal yang tak berhigh heel ke kaki Hanin, saat kaki sang istri belum menyentuh lantai dan masih menggantung di ranjang pasien.


Hanin tersenyum, melihat sang suami yang begitu sigap dan perhatian. Dokter dan perawat itu pun sampai ikut tersenyum kala melihat perhatian Kenan.


“Terima kasih, sayang.” ucap Hanin, ketika Kenan selesai memakaikan alas di kedua kakinya dan berdiri untuk membantu istrinya berdiri.


Kemudian, mereka keluar dari ruangan itu dan melangkh menuju ruang yang diperitahkan dokter tadi.


“Aku tidak akan menanyakan jenis kelamin anak kita,” ucap Kenan ketika keduanya berjalan beriringan menuju ruangan yang dituju.


Hanin tersenyum menoleh ke arah Kenan. “Tidak apa, kalau kamu ingin menanyakan itu. aku ngga baper kok.”


Kenan menggeleng. “Tidak, aku tidak ingin membuatmu sedih. Lagi pula buatku perempuan dan laki-laki sama saja.”


Hanin tersenyum dan Kenan memeluk bahu sang istri dari samping sambil tetap berjalan.


Sesampainya di ruangan itu, Hanin langsung diperiksa. Di sana, Kenan emnepati janjinya, ia sama sekali tidak menanyakan tentang jenis kelamin, justru yang lebih ia tekankan adalah pertanyaan seputar kondisi kesehatan bayinya di sana.


“Ini wajahnya?” tanya Kenan dengan mata berkaca-kaca. Ia sungguh takjub dengan teknologi ini, karena dapat menampilkan dengan jelas wajah bayinya di dalam sana.


“Iya, Pak.”


“Mirip kamu, By,” ucap Hanin tersenyum.


Kenan pun tersenyum, karena secara bentuk wajah memang bayi itu mirip Kenan.


“Ingin mengetahui jenis kelaminnya?” tanya dokter itu.


“Tidak,” jawab Kenan lantang. “Yang penting kesehatannya saja, Dok. Itu yang terpenting.”


Dokter itu pun mengangguk, lalu menyudahi pemeriksaan setelah semuanya dinyatakan bagus dan sehat.


Hanin tertawa melihat ekspresi sang suami. Saat ini, Kenan benar-benar sangat berhati-hati menjaga hatinya. Sungguh, Hanin benar-benar bersyukur memiliki pria ini sebagai suaminya, walau semula ia sangat kesal dengan perilaku Kenan yang sudah melecehkan dan memaksanya menikah dengan cara kotor. Namun, saat ini ia malah bersyukur.


“Love you, Hubby,” ucap Hanin, ketika tangan kiri Kenan sudah melingkar ke bahunya untuk dipeluk dari samping sembari berjalan menuju parkiran.

__ADS_1


Kenan menoleh ke arah sang istri dan tersenyum manis. “Love you more, sayang.”


Hanin tersenyum dan mengeratkan tangan kanannya ke pinggang Kenan. Mereka sungguh sangat bahagia.


__ADS_2