Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vicky dan Rea 10


__ADS_3

Pagi ini, Kenan memenuhi janjinya. Ia sudah memerintahkan beberapa anak buahnya untuk mencari penghulu dan seorang ustadz. Ia juga menyuruh orang untuk menjemput paman Rea untuk menjadi wali nikah serta satu orang saksi yang diambil dari saudara ibu Rea. Sebelumnya, Vicky sudah mencari data tentang keluarga besar Rea. Dan, ia menemukan orang-orang itu untuk diciduk dan dibawanya ke tempat ini hai ini.


Rea memiliki paman yang masih hidup dan tinggal di daerah Tangerang. Kebetulan hanya dialah adik laki-laki dari ayah Rea. Dahulu sewaktu keluarga Rea jaya, mereka cukup dekat. Namun ketika saat ini Rea tak punya apa-apa, keluarga itu menjauh. Kini, paman Rea dan keluarganya bersedia datang dengan mobil yang telah Kenan siapkan, belum lagi iming-iming uang yang cukup besar dari Kenan untuk keluarga itu.


Rea sejak semalam memang tidak pulang ke rumahnya. Vicky sengaja menahan wanita itu dengan segala cara agar tetap tinggal di sini. Memang semalam keadaan Rea tidak memungkinkan untuk pulang dan malam itu sudah semakin larut. Vicky pun beralasan sedang tidak enak badan dan tidak bisa mengantar Rea pulang. Entah mengapa Rea patuh dan ia pun masih etrlelap di kaamr Vicky saat ini.


Catat, tidak ada aktifitas apapun semalam antara Vicky dan Rea. Ya, sang mantan cassanova itu berhasil menahan gejolak hasrat yang sudah setahun lebih tak tersalurkan itu. Vicky tidur di sofa sementara Rea berada di kamar Vicky dengan mengunci pintu itu atas perintah Vicky sendiri.


“Gimana? Semua udah oke?” tanya Kenan yang saat ini ada di apartemen asistennya itu.


Si*l memang. Kenan baru saja tertidur pukul dua. Setelah subuh, seharusnya ia masih berleha-leha di tempat tidur menikmati hari weekend ini tapi karena Vicky, ia harus menjalankan misi itu. Yah, demi sahabat sekaligus asisten setia.


“Oke. Dekorasinya gini aja. Ngga perlu yang macem-macem,” jawab Vicky.


Kenan dan Vicky berdiri berdampingan melihat hasil ruang keluarga yang disulap menjadi pelaminan sederhana untuk ijab qobul.


“Gila, lu dadakan banget. Gue belum tidur tau. Liat nih kantong mata gue!” Kenan menunjuk matanya pada Vicky.


“Siapa suruh olahraga ampe subuh,” jawab Vicky asal.


“Ck ...” kesal Kenan, walau sebenarnya dalam hati kecilnya, ia bahagia melihat sang asisten menemukan pasangan hidup.


“Rea nya sekarang mana?” tanya Kenan.


“Masih di kamar, sengaja gue kunciin supaya jangan kelaur dulu sampe kedua adiknya dateng.”


“Parah.” Kenan tertawa sembari menggelengkan kepalanya.


“Ini kan ide lu.”


“Sebenernya ide gue lebih gila lagi. Tadinya gue pengen buat lu sama Rea pura-pura berbuat mesum di rumahnya, terus gue panggil pak RT buat ngegerebek lu berdua,” jawab Kenan.


“Gila, itu namanya ngerusak reputasi.” Vicky tertawa, Kenan pun demikian.


“Minum dulu, Pak,” ucap Siska dengan membawakan dua cangkir teh hangat.


Kenan dan Vicky pun mengambilnya.


“Gue kira, kalian bakal jadian,” kata Kenan melirik ke arah Siska dan Vicky.


“Pak Vicky maunya yang ori, Pak,’ jawab Siska asal membuat kedua pria itu tertawa.


Siska, sekrertaris Kenan itu memang memiliki gaya hidup modern tetapi ia memiliki hati yang baik dan untuk Kenan yang terpenting cara bekerjanya cepat dan cerdas.


Jam sudah menunjukkan pukul delapan. Sepertinya acara ijab qobul akan mundur menjadi jam sepuluh, karena penghulu harus menyiapkan beberapa dokumen. Walau acara ini hanya menikah secara agama dulu, tetapi dokumen itu tetap disiapkan untuk di proses setelahnya.


“Bu Hanin tidak kesini, Pak?” tanya Siska pada Kenan.


“Oh, iya. Sis kamu ke tenmpat saya dulu gih. Bantuin istri saya, dia pasti repot ngurusin dua anak sekaligus.”


Siska langsung mengangguk. Ia pun dengan cepat melesat keluar. Siska memangs edari tadi ingin menemani Hanin dan anak bosnya yang tampan. Ia lebih suka berbincang dengan istri bosnya dibanding dengan kedua pria tadi. Siska langsung turun ke lantai dua, karena Vicky dan Kenan tinggal di apartemen yang sama tetapi lantai berbeda.


“Assalamualaikum ...” sapa Thia dan Nisa bersamaan ketika memasuki apartemen Vicky.


“Waalaikumusalam,” jawab Vicky yang disambung Kenan.


“Ken, ini adik-adik Rea.” Vicky menunjuk ke arah Thia dan Nisa. “Nisa, Thia. Ini bosnya Om Vicky.”


“Halo, Om.” Thia dan Nisa menyalami Kenan bergantian dan mencium punggung tangan Kenan.


“Bosnya Om ganteng kan?” tanya Vicky pada Thia dan Nisa yang sedari tadi tak kedip memandang Kenan.


Kenan tersenyum dan mengulur tangannya.


Thia dan Nisa mengangguk. “Iya.”


Kenan dan Vicky tertawa.

__ADS_1


“Kak Rea dimana?” tanya Thia.


“Itu di sana. Kedalem gih, sekalian bangunin kakak kamu karena MUA nya udah dateng noh.” Vicky menunjuk pada wanita yang akan merias Rea.


“Oke, Om.”


“Siap, Om.”


Thia dan Nisa kegirangan melangkah ke kamar Vicky dan mengajak tata rias itu.


“Dipanggil Om jadi berasa tua gue, Vick.” ucap Kenan sembari menatap ke arah Nisa dan Thia.


Vicky tertawa. “Sampe sekarang, Rea juga masih manggil gue Om,” sahut Vicky.


Kenan tertawa. “Terus sekarang lu jadi sugar daddy, gitu? Oh my God.”


Vicky ikut tertawa lagi. “Seperti yang Siska bilang. Gue mau dapet yang Ori.” Vicky menaikturunkan alisnya.


“Menang banyak lu, dapat Ori dua kali.”


“Buah kesabaran dan ketulusan, Bro.’ Sahut Vicky.


“Najis.” Kenan dan Vicky kembali tertawa.


Di dalam kamar, Rea mengerjapkan kedua matanya. Ia melihat kedua sang adik yang berada di atas tempat tidur yang ia tiduri sekarang.


“Thia, Nisa. Kok bisa ada di sini?” tanya Rea sembari mengucek kedua matanya dan berusaha bangun.


Thia dan Nisa terlihat ceria. Senyum dari kedua anak ABG itu tak hentinya terulas.


“Bangun, Kak. Udah pagi,” kata Thia.


“Ayo, Kak. Mandi cepet,” kata Nisa menarik lengan sang kakak.


“Ada apa sih?”


“Kaka tuh ya, ngga bilang kalau nginep di sini. Untung aja Om Vicky nagbarin kita terus jemput kita ke sini,” ucap Thia.


Kini, Rea ditarik oleh kedua adiknya menuju kaamr mandi yang ada di dalam kamar itu.


“Aduh,” rintih Rea saat kakinya tersandung, karena kedua adiknya begitu antusias menyuruhnya segera mandi. “Iya, iya. Kak Rea mandi. Tapi lepasin tangan kalian.”


Thia dan Nisa melepaskan tangannya dari lengan Rea yang semula mereka tarik.


“Jangan lama-lama mandinya,” kata Nisa.


“Iya, mbak yang mau ngerias udah nungguin tuh.”


Rea hendak menutup pintu kamar mandi, setelah ia masuk ke sana. Rea menatap kedua adiknya “Aneh.” Lalu, Rea menutup pintu itu.


Thia dan nisa tertawa.


“Ngga tau aja dia mau diapain,” ucap Thia.


Nisa tertawa sembari menutup mulutnya dan mengangguk. Kedua adik Rea memang kompak mendukung si om mesum itu. Entah mengapa mereka lebih suka sang kakak bersanding dengan Vicky, lepas dari masa lalu Vicky yang tidak mereka ketahui, Vicky memang pria yang baik.


Setengah jam kemudian, Rea keluar dari kamar mandi. Ia pun sudah disambut oleh kedua adiknya yang menyuruh untuk memakai sebuah gaun yang menurutnya aneh.


“Ngapain sih, kakak pakai gaun seperti ini?” tanya Rea.


“Pakai aja, Kak. Please.” Jawab Nisa.


“Ya, tapi buat apa?” tanya Rea lagi.


“Pokoknya kakak pakai aja dulu. Ini buat tugas Thia, kak.”


“Tugas?”

__ADS_1


“Iya, tugas photography di sekolah. Kakak tau kan Thia ikut ekstra kulikuler itu.”


“Terus?” Rea menatap ke arah Thia.


“Nah, Thia disuruh motoin sepasang pengantin. Jadi Kak Rea dan Om Vicky yang bakal jadi modelnya. Thia udah minta tolong ini ke Om Vicky udah lama. Terus sekarang kebetulan kakak juga lagi ada di sini, jadi sekalian.” Thia menjelaskan kebohongannya panjang lebar.


“Kok kakak baru tahu kamu ada tugas ini. Dari kemarin kamu ngga cerita.”


“Tugasnya dadakan, Kak.” Thia melirik ke arah Nisa dan mengedipkan satu matanya.


“Iya, Kak. Kak Thia dapat tugasnya dadakan,” sahut Nisa.


“Ya udah deh.” Rea pun menurut dan duduk di depan meja rias itu.


Sementara Vicky berada di kamar tamu dan menyiapkan diri. Ia pun didandani oleh tim MUA yang telah disiapkan Kenan.


Setengah jam berlalu. Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan. Kenan kembali ke apartemennya untuk melihat istri dan anaknya di sana.


Ceklek ...


Seseorang membuka pintu kamar tamu unit Vicky.


“Vedy,” teriak Vicky dan memeluk salah satu adik kembarnya.


Vedy pun menerima pelukan itu. “Nikah udah kaya tahu bulet lu, kak. Dadakan.”


Vicky tertawa. “Ini beda, Ved. Jadi emang harus dadakan.”


Vedy menggeleng. “Tapi Vely tahu kan?”


Vicky mengangguk sembari merapihkan jasnya. “Udah, tadi subuh gue udah telepon. Gue udah ngabarin kalau gue mau nikah sekarang. Terus dia kelabakan mau langsung pesen tiket. Gue bilang ngga usah, nanti datengnya pas resepsi aja.”


“Ya, bener.” Vedy mengangguk. “Gue juga cuma dateng sendirian, Kak. Istri sama anak ngga bisa ikut soalnya lu dadakan. Mereka cuma bisa titip salam, semoga lancar.”


“Iya, ngga apa-apa.”


“Untung juga hari ini gue libur dinas.”


Vicky tersenyum. “Memang ini hari keebruntungan gue sepertinya.”


Waktu terus berjalan. Kenan dan Hanin sudah berada di unit apartemen Vicky. Siska pun di sini dengan memangku Kevin, Lastri juga hadir dengan memangku Kayla.


Keluarga paman Rea pun sudah tiba, beserta penghulu, Ustadz dan satu keluarga dari Ibu Rea.


Semua berkumpul dan duduk lesehan di ruang keluarga yang sudah di sulap menjadi suasana pelaminan sederhana.


Vicky keluar dari kamar tamu ditemani Vedy. Mereka bersalaman dengan para tamu yang sudah menunggu.


Gunawan dan Kiara tidak bisa hadir karena kebetulan Gun masih ada pertemuan dengan satu klien lagi hari ini dan mereka baru akan pulang ke Jakarta besok.


“Aaa ... ya ampun Kak, cantik banget,” ujar Nisa histeris ketika sang kakak sudah rapih dengan gaun pengantin dan riasan natural itu.


“Iya, Kak. Ya ampun.”


Cekrek


Thia langsung memoto sang kakak yang memang terlihat sangat cantik.


“Oke, saatnya kita keluar,” kata Nisa.


“Let’s go!” ujar Thia.


Thia dan Nisa berdiri di sisi kanan dan kiri Rea sembari memegang lengan mempelai wanita.


Si Mua membuka pintu kamar dan membantu Rea merapihkan gaun ketika ia sedang berjalan.


“Om Sadewa, Tante Susan. Om Bimo,” ucap Rea lirih saat menyebut keluarga dari ayah dan ibunya tengah duduk di sana.

__ADS_1


Rea bisa melihat apa yang ada di depan sana, dekorasi pelaminan sederhana, keluarga, penghulu, dan Vicky yang lengkap mengenakan jas seperti mempelai pria.


Rea menghentikan langkah kakinya. Ia menatap tajam ke arah Thia. “Maksudnya apa ini?”


__ADS_2