Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Maafkan aku - End


__ADS_3

“Cari Lani, Pak?’ tanya seseorang di sana, ketika Kenan dan vicky akan melangkah pergi.


“Ya,” Kenan mengangguk diikuti Vicky.


“Kebetulan tadi pagi, mereka pergi ke Bogor,” jawab orang itu sembari berdiri di gerbang pintu rumahnya sendiri. Rumah yang bersebelahan persis dengan rumah Lani.


“Tunggu! Mereka yang bapak maksud Lani dan suaminya?” tanya Vicky.


Pria yang terlihat belum tua itu menggeleng. “Bukan, kalau suaminya sedang keluar kota. Sepertinya Lani pergi bersama temannya.”


“Temannya seperti apa?” tanya Kenan antusias. “Apa temannya seorang wanita?”


Pria itu mengangguk. “Iya. Wanita hamil.”


“Ya Tuhan, terima kasih.” Kenan langsung mengusap wajahnya dan tak henti berucap syukur.


Kenan dengan segera, masuk ke dalam mobil. Namun, Vicky masih berdiri di sana.


“Ayo, Vick!” Ajak Kenan yang tidak sabaran.


“Tunggu.” Wajah Vicky ke arah Kenan saat menjawab, lalu beralih ke pria tadi. “Dimana alamat rumah orang tua Lani ya pak?”


“Wah kalau itu, saya kurang tahu, Pak. Yang saya tahu rumah orang tuanya di Cisarua, Bogor.”


“Oh, oke. Terima kasih.” Vicky mendekati pria itu dan mengajaknya bersalaman.


Sementara Kenan dengan tidak sabaran menunggu Vicky di mobil.


“Lama amat sih,” ketus Kenan yang sudah duduk di kursi penumpang depan.


“Bentarlah, gue tanya alamat rumah orang tua temennya Hanin dulu. Emang lu tau rumahnya di Bogor sebelah mana?”


Kenan terdiam. Ia sama sekali tidak berpikir ke arah sana, karena ia langsung euforia ketika ciri-ciri yang disebutkan tetangga Lani sangat pas dengan ciri-ciri istrinya. Rasa khawatir Kenan sedikit terobati mengetahui bahwa sang istri semalam dalam keadaan baik dan tidur di tempat yang nyaman.


Kemudian, Vicky mulai menyalakan mesin mobil itu dan menjalankannya.


“Jadi?”


“Ya ke Bogor,” jawab Kenan.


“Huft, pasti macet banget nih,” keluh Vicky karena hari ini adalah hari sabtu, hari permulaan weekend. Untung saja hari belum terlalu sore, matahari masih bersinar sangat terang. “Padahal gue mau ngapl ke rumah Rea.”


“Ck, istri gue lebih penting.”


“Iya, iya, yang penting janji lu jangan lupa,” kata Vicky.


“Nikahin lu sama cewek itu?” tanya Kenan.


Vicky tersenyum ke arah Kenan sembari menaikturunkan alisnya, membuat Kenan geli sendiri melihat kelakuan sahabatnya itu.


“Iya dong, gue udah deket banget sama adik-adiknya. Gue kalo liat dia tuh, jadi inget gue dulu pas lagi ngebesarin Vely dan Vedy,” jawab Vicky.


“Gue jadi penasaran.” Kini Kenan sudah bisa menyungging senyum tipis di bibirnya.


“Baru umur dua puluh tahun, Ken.”


“Gila, pedofil lu.”


“Ya enggaklah, doi udah punya KTP kok. Tapi si*lnya dia juga udah punya pacar. Makanya gue harus bisa nyalip nih.”


Kenan kembali tersenyum tipis sembari mengalihkan pandangannya ke arah jendela. “Lu demen banget sama cewek yang udah punya pasangan. Dasar!”


“Ngerebut punya orang sensasinya berbeda, Bro,” sahut Vicky asal.


“Dasar sableng.” Kenan kembali tersenyum. Sedangkan Vicky tertawa lepas.


“Udah fokus, kita belum menemukan Hanin udah ketawa ketiwi,” protes Kenan.

__ADS_1


“Ya elah, dikit doang supaya ngga stres,” kata Vicky sembari tetap fokus menyetir.


Lalu, Kenan mengetik sebuah pesan pada Gunawan untuk menanyakan siapa tahu suami Kiara mengetahui alamat rumah orang tua Lani. Vicky juga sudah menyuruh orang untuk memberi informasi tentang Lani.


****


“Lan, mau pulang kapan? Sudah jam lima loh,” Abah bertanya pada putrinya yang masih asyik membantunya mengambil ikan di empang.


Lani dan abah nyemplung ke bawah empang itu dan menangkap beberapa ikan di sana untuk di bakar lalu di sajikan pada makan malam nanti. Sedangkan, Hanin hanya duduk di tepi empang itu sembari memberi menunjuk pada Lani letak ikan yang sedang berkumpul.


“Abis isya aja, Bah. Mau makan malam dulu pake ikan bakar dan sambelnya Ummi,” jawab Lani.


“Wah, mantap. Pasti enak nih,” celetuk Hanin.


“Udah lama ya, Han. Lu ga ngerasain sambel terasi Ummi,” kata Lani menatap ke arah sahabatnya.


“Iya, bener. Udah lama banget. Kangen.”


“Kamu sih, tidak pernah mein ke sini lagi,” kata Abah.


“Maklum, Bah. Sekarang Hanin kan udah jadi sitri konglomerat,’ sahut Lani.


“Bohong Abah, Lani ngibul,” sanggah Hanin yang tetap ingin dianggap keluarga ini seperti Hanin yang dulu dan orang biasa.


“Apa konglomelarat?” tanya Abah.


Sontak Lani dan Hanin tertawa.


“Iya aja deh, Bah,” jawab Lani.


“Kalian tuh, ngetawain abah kalau lagi ngomong.”


“Abis abah tuh lucu>’ jawab putrinya.


“Ya udah, sana kamu ke atas, beli areng sama bumbu buat bakar ikan,” kata Abah lagi. “Mumpung belum maghrib.”


“Oke, siap.” Lani segera naik dari kubangan empang itu dan mengganti baju.


“Lan, jangan sampe ke maghriban. Pamali bawa ibu hamil,” teriak ummi smabil berlari keluar, karena Lani dan Hanin sudah siap untuk memasuiki mobilnya.


“Iya, Ummi.”


Lani pun menyalakan mesin mobilnya. Mereka keluar dan naik ke atas. Lani dan Hanin mencari semua perlengkapan untuk membakar ikan yang mereka tangkap tadi.


Tiga puluh menit, Hanin dan Lani wara wiri di sana. sesekali mobil mereka pun terhenti saat melihat pemandangan indah di pertangahan jalan sebelum mencapai puncak.


“Lan, naik lagi ke atas, atau sekalian kita mampir di masjid ta’awun,” kata Hanin karena hari semakin dekat waktu maghrib.


“Kata ummi ga boleh sampe maghrib, Han,” jawab Lani.


“Tapi gue pengen ke sana, Lan.”


Akhirnya, Lani mewujudkan keinginan ibu hamil ini. Ia mengendarai kendaraannya untuk menanjak. Namun, Lani baru menyadari bahwa pasokan bahan bakar di kendaraannya mulai kedap kedip.


“Waduh, gue lupa beli bensin, Han.”


“Serius lu?’ tanya Hanin panik.


“Ini udah kedap kedip lagi. Yah, mogok dah, mana di tengah jalan gini.”


Hanin ikutan panik karena melihat Lani yang panik. “Emang di sini ngga ada pom bensin?”


“Ada tapi setahu gue masih sangat jauh.”


“Haduh, terus gimana dong?” tanya Hanin.


Kepala Lani ke kanan dan ke kiri meliat situasi, sembari melirik ke arah tanda kelap kelip di depannya.

__ADS_1


“Yah, Han, udah ga ada tenaganya nih. Haduh, gue tuh suka lupa kalo bensin kendaraan abis. Padahal pas keluar tol tadi gue udah inget tapi di entar-entar,” sesal Lani.


“ya udah mau di apain lagi.”


“Yah mati, Han.” Mobil Lani terhenti dan tidak mau lagi dinyalakan. “Haduh, gimana nih?”


Hanin pun bingung. Entah mengapa yang da di otak Hanin hanya Kenan, karena memang pria itu yang selalu ada di garda terdepan untuknya.


Hanin mengambil ponsel yang tak pernah ia aktifkan itu. Lalu, ia mengaktifkannya.


Selang beberapa detik, ponsel Kenan mendapat notifikasi, tepat setelah ponsel Hanin menyala sempurna.


“Ponsel Hanin diaktifin, Vick,” ucap Kenan dengan mata berbinar dan senyum lebar.


“Itu artinya, doi mminta dijemput.”


“Oke, cus! Nih letaknya.”


Untungnya, mereka sudah keluar tol dan hendak menelusuri jalanan Cisarua.


Di jalanan, Lani dan Hanin masih gelisah.


“Han, maaf ya. Haduh mana mau maghrib lagi. Lu lagi hamil pamali nih kalo masih keliaran di sini,” ucap Lani sambil menggosokkan kedua tangannya.


“Ngga apa-apa, Lan. Bentar lagi bala bantuan datang kok.” Hanin celangak celingung memperhatikan mobil yang lewat untuk melihat kedatangan pengerannya.


Benar saja, lima belas menit kemudian, mobil Kenan menemui titik keberadaan Hanin.


“Itu Hanin bukan?” tanya Vicky yang melihat Hanin berdiri dari kejauhan.


“Iya, bener. Iya.” Kenan sangat antusias. “ya ampun, akhirnya kamu ketemu juga, Sayang.”


“Ken, jangan bikin istri lu baper lagi,” kata Vicky.


“iya, gue tahu,” sahut Kenan ketus.


Lalu, mobil Kenan pun menepi. Di sana, Hanin sudah melihat ke arah mobil itu, begitu pun Lani. Hanin tersenyum menanti pengeran berkudanya itu keluar dari mobil. Eh, berarti bukan pangeran berkuda ya karena Kenan pakai mobil.


“Sayang.” Kenan langsung menghambur pelukan ke tubuh istrinya. Ia menangkup kepala Hanin. "Maafkan aku, Sayang."


Cup.


Ia ******* bibir Hanin dengan ganas dan menekan tengkuk lehernta, agar menerima ciuman itu. Baru saja Hanin akan mengangguk, sudah menerima serangan, hingga ia pun pasrah dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Kenan serta membalas ciuman itu, karena sejujurnya ia pun rindu.


“Bagaimana keadaanmu?” tanya Kenan setelah melepas ciuman itu.


Namun, Kenan ******* lagi bibir ranum Hanin, hingga Hanin hanya menjawab dengan anggukan.


“Mengapa kamu kabur dariku?” tanya Kenan setelah melepas ciuman itu.


Cup


Sebelum Hanin menjawab, kenan kembali menerjang bibir itu, hingga Hanin hanya menjawab dengan gelengan kepala.


“Aku tidak bisa tidur, jika tidak memelukmu.” Kenan kembali berkata setelah melepaskan pangutan tadi. Lalu, aksinya diulang kembali.


Cup


Ia mencium bibir ranum itu lagi, saat Hanin baru saja akan mengeluarkan suara.


Vicky berdiri di depan pintu mobilnya dan tersenyum sembari menggelengkan kepala. Kenan memang gila, pria itu sudah tergila-gila dengan istrinya. Sementara, Lani pun bersikap sama, ia hanya menyilangkan kedua tangannya di dada sembari tersenyum. Lalu menghampiri kedua insan yang masih bergelut dengan belitan lidah itu.


Vicky pun mengikuti Lani yang menutupi tubuh dua insan yang sedang berciuman itu, agar tidak menjadi tontonan orang-orang yang melintas.


T A M A T


Ekstra part sampe anak-anak KenHan dewasa dan ada Part Vicky Rea juga di sini. Terus sambil nunggu up, baca juga yuks karya baruku yang ini.

__ADS_1



Terima kasih untuk vote, hadiah, dan komen baik kalin. cup cup muaaaccchhh..


__ADS_2