Aku Bukan Wanita Penggoda

Aku Bukan Wanita Penggoda
Vicky dan Rea 4


__ADS_3

Tok ... Tok ... Tok


Vicky mengetuk rumah Rea tepat di jam tujuh malam. Ia sudah janji dengan Nisa, adik bungsu Rea untuk membawakan steak. Padahal Vicky ingin sekali membawa Nisa langsung ke restoran steak itu, tetapi Rea melarang.


Ceklek


Thia, adik Rea yang pertama membuka pintu rumahnya. Senyum gadis berusia lima belas tahun itu langsung melebar saat melihat sosok pria yang sudah mereka tunggu berdiri di depannya.


“Om Vicky.”


Mendengar nama Vicky disebut, Nisa yang sedang duduk di depan televisi itu pun langsung keluar dengan wajah ceria.


Padahal sebelumnya, kedua gadis itu anti dengan pria yang kerap mendekati kakaknya, tetapi dengan Vicky kedua gadis ini mudah sekali lengket. Entah, Vicky menggunakan pelet apa?


“Steak datang.” Vicky mengangkat makanan yang dibawa.


“Yeay .. asyik.” Sorak Thia dan nisa bersamaan dengan wajah yang penuh ceria.


“ayo masuk!” Thia membuka lebar pintu rumahnya.


“Sesuai janji, om Vicky bawa ini.”


“Asyik ...” Nisa langsung mengambil bagiannya. Ia pun segera membuka dan tak sabar untuk melahap makanan itu.


“Ups.” Thia menepak punggung tangan sang adik ketika ingin mulai menyuap makanan itu. “Baca doa dulu.”


“Eh iya.” Nisa dengan wajah polosnya, nyengir dan menampilkan jejeran gigi yang rapih dengan kedua gigi depan yang lebih panjang.


Hal itu membuat Vicky ikut tersenyum. Sungguh, ia seperti dejavu saat masa-masa sulit ketika harus membiayai hidup kedua adiknya yang sekarang sudah mapan dan bahagia dengan keluarganya masing-masing.


Kedekatan Vicky dengan kedua adik Rea yang lucu dan banyak berceloteh ini menjadi kesenangan baru tersendiri untuknya. Kini, ia merasa tidak hidup sendiri dan tidak kesepian.


“Kakak kalian belum pulang?” tanya Vicky.


Nisa menggeleng dengan mulut yang penuh. Sementara Thia menjawab. “Belum, katanya ada kelas sampai sore, jadi tanggung maghrib dulu di kampus.”


“Oh.” Vicky membulatkan bibirnya. Sepertinya Rea dan kedua adiknya dididik dengan pendidikan agama yang cukup bagus oleh kedua orang tuanya dulu.


Vicky duduk santai di depan televisi bersama kedua adik Rea yang asyik memakan makanan yang ia bawa tadi. Mereka duduk di lantai yang beralaskan permadani sedang berwarna ungu dengan gambar sofia. Matanya mengerilngkan pandangan dan menangkap beberapa makanan camilan di meja yang tak jauh dari jangkauannya itu.


“Ini ada bolen,” ucap Vicky sembari memegang makanan itu dan mengambilnya satu. Ia tahu pasti makanan ini dari Attar karena ini adalah makanan khas Bandung.


“Iya, itu dari Kak Attar,” sahut Thia.


“Iya, tadi Kak Attar ke sini pagi-pagi sekalian jemput Kak Rea ke kampus,” sambung Nisa.


“Oh, perasaan baru kemaren balik ke Bandung, udah dateng lagi aja,” sungut Vicky.


“Iya, katanya skripsi Kak Attar di sana udah selesai. Tinggal nunggu wisuda aja. Jadi sambil nunggu wisuda, Kak Attar udah di sini terus dan udah mulai kerja sama papanya.” jawab Thia.


“Wah gawat, gue bener-bener harus gerak cepet nih,” gumam Vicky dalam hati.


“Terus, Rea di antar jemput setiap hari sama Attar?” tanya Vicky.


Thia menggeleng. “Ngga tau deh.”


Vicky kembali mengarahkan matanya pada layar televisi yang tengah menyuguhkan film dewasa, mengingat bulan ini adalah bulan valentine sehingga acara yang ada di televisi pun menyuguhkan film drama romatis. “Ih, kalian masih kecil nontonny kaya gini.”

__ADS_1


“Ngga tau, tadi mah belum film ini,” kata Nisa. “Ih kapalnya besar banget.”


Media televisi yang mereka lihat tengah menyuguhkan film titanic.


“Udah pernah naik kapal sebesar itu belum?” tanya Vicky.


Sontak Thia dan Nisa menggeleng dan menjawab bersamaan. “Belum.”


“Kalau om Vicky ajak naik kapal sebesar itu mau?” tanya Vicky lagi.


“Mau ... Mau ...” jawab Nisa sumringah, begitu pun dengan Thia.


Namun, seketika wajah mereka kembali muram.


“Tapi pasti sama kak Rea ngga boleh,” kata Nisa.


“Iya, pasti kak Rea ngga izinin,” sahut Thia.


“Diizinin kalau Kak Rea ikut. Kalian harus bisa buat kak Rea ikut,” kata Vicky mendoktrin kedua anak polos itu.


Thia dan Nisa pun berpikir. Vicky yakin kedua anak ini akan berhasil karena kedua anak ini selalu banyak akal.


“Memang ada acara apa Om Vicky mengajak kami ke sana?” tanya Thia.


“Kebetulan, Bos Om ingin mengadakan anniversary pernikahan mereka sekaligus syukuran anaknya yang baru lahir. Dia mengadakan dengan mengajak hampir semua karyawannya menjelajah Asia menggunakan kapal pesiar. Mau?”


“Mau banget,” seru Thia dan Nisa bersamaan.


“Perjalanannya kemana aja, Om?” tanya Thia.


“Wah ...” sorak Thia dan Nisa kembali bersamaan dan teriak mereka sangat nyaring hingga memekikkan telinga Vicky. Bahkan suara riang nan ceria itu hingga sampai keluar rumah mereka.


Di luar, Rea baru saja akan membuka pagar rumahnya yang tidak besar. Ia mendengar suara soark sorai dari kedua adiknya.


“Ada siapa, yank?” tanya Attar yang menjemput Rea, setelah pulang dari kantor ayahnya.


Rea mengangkat bahunya. “Ngga tau.”


Lalu, Rea membuka pagar itu lebar, agar Attar dapat masuk ke dalam bersamanya. Kemudian, ia menutup pagar itu kembali dan bergegas masuk ke dalam rumah.


“Assalamualaikum,” ucap Rea.


“Waalaikumusalam,” jawab Thia dan Nisa bersamaan, begitu pun dengan Vicky walau suara Vicky teramat kecil.


Rea terlihat tidak suka saat melihat Vicky duduk bersama kedua adiknya di sana.


“Siapa dia, Yank?” tanya Attar pada Rea dengan suara yang cukup di dengar Vicky.


“Dia ... Hmm ...” Rea bingung mengatakan siapa VickY? Karena jika dijawab teman, mereka tidak berteman. Jika dijawab saudara, Vicky juga tidak punya hubungan keluarga sama sekali dengan Rea.


“Gue temen bos nya Rea di travel xxx,’ jawab Vicky lantang.


Ah, Rea tidak terpikir sama sekali bahwa Vicky teman Adi, pemilik travel yang menjadi tempatnya untuk mencari pundi-pundi kehidupan.


“Iya, Yang?” tanya Attar lagi dengan menatap wajah Rea yang sedikit kebingungan untuk mencari alasan.


“Hmm ... i .. iya,” jawab Rea sedikit gugup. Pasalnya Rea dan Vicky pernah berciuman dan hal itu membuat Rea merasa bersalah pada Attar, mengingat sang kekasih justru tidak pernah meminta itu darinya.

__ADS_1


“Ngapain kamu ke sini?” tanya Rea ketus.


Attar menghampiri Thia dan Nisa. ia pun duduk di antara kedua adik Rea dan Vicky.


“Nisa dan Thia ke pengen steak dan aku udah janji untuk membawakan ini,” jawab Vicky pada Rea.


“Kenapa kalian ngga bilang? Kak Attar kan bisa bawain,” sahut Attar sembari mengelus pucuk kepala Nisa, karena ia duduk di sampingnya.


“Ngga perlu nanti ngerepotin,” sahut Thia.


Thia pernah memergoki Attar yang sedang jalan di mall dengan wanita yang ia pacari di bandung. Ketika itu, Thia pun sedang jalan-jalan bersama teman-temannya di sana sembari mencari referensi buku untuk tugasnya di toko buku yang berada di mall itu. ia pun semakin tidak respect dengan kekasih sang kakak, walau Attar bukan orang lain untuk keluarganya.


“Ngga ngerepotin dong, Ya. Kak Attar malah seneng. Pokoknya nanti kalau kalian mau makan apa, bilang sama Kak Attar, nanti kak Attar bawain, oke!”


Thia dan Nisa saling bertatapan sembari memiringkan senyumnya. Rea pun melihat ekspresi kedua sang adik. Ia sadar bahwa kini, kedua adiknya lebih pro pada Vicky si om jelek mesum yang menyebalkan itu.


“Thia, Nisa,” panggil Rea untuk memperingatkan sang adik melalui matanya.


Beberapa menit kemudian, Rea emmasuki kamarnya dan bersih-bersih. Sementara Thia dan Nisa ke dapur untuk membuatkan minum dan merapihkan sisa kotoran makanan yang mereka santap tadi.


Alhasil, di ruang itu Vicky berhadapan berdua dengan rivalnya. Rival yang ia anggap hanya anak ingusan yang baru bandel.


Attar menatap tajam ke arah Vicky. Kedua matanya membulat seperti ingin mengajak perang. Sedangkan Vicky bersikap santai sembari memainka ponselnya.


“Lu ngeliatin gue?” tanya Vicky sembari tetap berfokus pada gawainya. “Awas nanti mata lu keluar lagi.”


Kini, Vicky menatap kedua bola mata Attar yang menatapnya tak suka.


“Lu cowok yang gangguin Rea di Laboan bajo itu kan?” tanya Attar.


Ya, Rea memang menceritakan Vicky pada Attar tentang pertemuan mereka di Bali, tapi tidak saat insiden di jalan raya itu. Rea hanya menceritakan tentang Vicky yang selalu mengganggunya ketika menjadi guide tetapi tidak bercerita tentang dia yang mencium ciuman pertamanya.


Vicky tertawa. “Rea cerita?”


Attar mengangguk.


“Rea cerita apa?” tanya Vicky.


“Lu suka godain cewek gue.”


“Cuma itu?” tanya Vicky menyeringai.


“Maksud lu?” Attar balik bertanya.


“Rea ngga cerita kalau kita pernah tidur berdua sekamar saat di sana?”


“Brengs*k lu!” hardik Attar yang langsung berdiri dan hendak memukul Vicky.


“Emangnya lu ngga brengs*k?” tanya Vicky. “Asal lu tahu, gue punya semua bukti tentang hubungan lu sama cewek lu di Bandung.” Ucap Vicky di telinga Attar.


“Kalau gue mau? Gue bisa kasih semua itu ke Rea. Bahkan gue juga punya video mesum lu sama cewek lu itu,” kata Vicky lagi, membuat Attar menciut.


Attar langsung mematung. Tenggorokannya seperti tercekat dan tak mampu membalas perkataan Vicky.


“Kak, maaf aku lama ya.” Tiba-tiba Rea muncul.


Seketika Attar menegang dan Rea menatap bergantian ke arah Attar dan Vicky. Rea menangkap sesuatu yang tak beres di antara kedua pria ini.

__ADS_1


__ADS_2