
Hanin menyesali keputusannya yang mengirim pesan pada sang suami sebelum ia tiba di tujuan. Padahal maksudnya ia tetap ingin meminta izin pada suami, sebelum pergi. Sungguh, ia tak berniat kabur dari Kenan, tapi ia hanya ingin sendiri beberapa hari dulu, karena memang hidupnya terlalu berubah cepat.
Akhirnya, Hanin sampai di toilet. Petugas wanita itu membiarkan Hanin keluar sendiri ke tempat ini. Setelah menuntaskan hajat kecilnya, Hanin menatap dirinya ke cermin.
“Maaf Ken, aku hanya ingin menghilang sebentar saja,” gumam Hanin menatap dirinya di sana. Lalu tatapan itu tertuju pada perutnya yang bulat.
Hanin masih merasa Kenan belum menerima jenis kelamin bayi ini, karena setiap periksa, pria itu selalu menanyakan jenis kelamin pada dokter, padahal dokter itu selalu menjawab sama. Walau Kenan tidak menampakkan kekecewaan di wajahnya saat dokter mengatakan bahwa jenis kelamin di sana tetap sama, tapi lagi-lagi Hanin sensitif.
“Jika mereka tidak menginginkanmu. Kita bisa hidup berdua. Bunda menyukai anak perempuan. Kita bisa jadi teman, oke!” ucap Hanin lagi pada dirinya sendiri sembari tersenyum dan mengelus perutnya.
Kemudian, Hanin membasuh wajahnya dan menarik nafasnya lagi. Ia menyemangati dirinya sendiri. Sepertinya, ia akan menyusup keluar dari tempat ini.
Perlahan Hanin berjalan ke arah yang tidak sama dengan arah jalan semula. Ia melewati jalan yang tidak terlalu ramai dan tanpa disengaja ia pernah melewati jalan ini. Ya, ini seperti dejavu, ia pernah berlari seperti orang kesetanan ketika ingin kabur dari Kenan paska mereka menikah di Kuala Lumpur dan kembali ke tanah air.
Hanin tertawa. Bedanya saat ini, ia tidak sedang berlari karena kondisi tubuhnya yang tidak mungkin bisa berlari.
Hanin berjalan cukup panjang dan sudah cukup lama. Namun, tiba-tiba langkahnya terhenti sejenak karena suara seseorang yang memanggilnya.
“Hanin,” teriak orang itu lagi.
Hanin mematung, ia enggan menoleh karena khawatir yang memanggilnya itu adalah Kenan. Suara itu persis terdengar dari arah belakang tubuhnya. Namun, suara itu tidak seperti suara laki-laki. Suara Kenan sangat khas dan terdengar nge-bas.
“Hanin.”
Suara itu kini semakin terdengar jelas, karena ternyata jarak mereka tidak lagi jauh karena orang itu menghampirinya.
Hanin menoleh dan terenyum seketika.
“Masih inget gue?” tanya orang itu dengan senyum sumringah.
Hanin menutup mulutnya tak percaya, sejak kejadian Kiara melabraknya di kantor dan ia memilih resign dari kantor itu, praktis Hanin tak bertemu lagi temannya yang sangat baik ini.
“Lani,” ucap Hanin dengan senyum yang tak kalah lebar.
“Kirain lu udah lupa sama gue. Secara sekarang kan udah jadi nyonya besar dan terkenal pula,” ledek Lani.
Ya, dia adalah Lani, teman kantor Hanin dulu yang selalu menguatkannya ketika insiden pelabrakan Kiara terjadi, hingga membuatnya malu dan menjadi gunjingan seantero gedung.
“Apa kabar?” tanya Lani yang langsung memeluk teman lamanya itu.
Hanin pun menerima pelukan itu. “Baik. Lu juga apa kabar? Masih kerja di tempat lama?”
Hanin bertanya bertubi-tubi, rasanya ia ingin berbincang lama dengan wanita ini.
“Tunggu, sebelum gue jawab semua rentetan pertanyaan lu. Gue mau tanya, lu mau kemana bawa koper gini? Gak sama suami lu?”
Hanin menggeleng. “Ceritanya panjang.”
“Ya udah, cerita di rumah gue aja gimana?”
Hanin mengangguk. “Ide bagus.”
__ADS_1
Lalu Hanin mengikuti langkah Lani.
“Haduh, bu mil kasian banget sih bawa-bawa koper. Sini gue yang bawa.” Lani langsung merebut pegangan koper itu dan membawanya.
“Ngga berat kok,” sanggah Hanin, yang langsung di jawab senyuman oleh Lani.
Di ruang yang semula tempat Hanin duduk dan dijaga oleh petugas wanita itu, Kenan berlari dan sampai ke ruangan itu.
“Mana istri saya?” tanya Kenan pada petugas wanita itu.
“Yang mana, Pak?” tanya petugas wanita yang memang sudah berganti orang.
“Ah, ****. Saya tadi meminta anda untuk menjaga istri saya disini hingga saya datang. sekarang mana istri saya?” tanya Kenan dengan nada menggelegar, membuat petugas wanita itu takut.
Pasalnya petugas wanita itu baru saja duduk di sana.
“Tunggu, Pak. Sebentar. Saya akan tanyakan teman saya yang lain, karena kami baru berganti shif,” jawab petugas itu.
“Arrrggg ...” Kenan semakin frustrasi dan menjambak rambutnya sendiri. “Si*l .. si*l.” Ia terus mengumpat dan menendang kursi-kursi di ruangan itu.
“Tenang, Pak.”
“Bagaimana saya bisa tenang? Hah.” Kenan kembali berteriak.
Seketika beberapa karyawan maskapai itu pun datang ke ruangan itu dan menjelaskan pada Kenan.
“Kami minta maf, Pak. Atas kelalaian ini,” ucap manajer maskapai itu.
“Sekarang, bantu saya untuk mencari!” pinta Kenan yang langsung keluar dari ruangan itu.
Kenan keluar dari tempat tadi dan menyusur area keluar diirngi para petugas keamaan bandara yang memegang handy talky masing-masing untuk saling berkoordinasi dengan petugas keamaan yang lain yang ada di beberapa sudut tempat yang luas ini.
Kenan berlari kesana kemari, menyusuri semua sudut gedung ini. Ia mencari kemungkinan istrinya berada dibantu dengan cctv yang mungkin menangkap keberadaannya. Namun, keberadaan Hanin hanya tertangkap cctv di sudut tertentu. Itu pun tidak berhasil, karena ketika petugas ke tempta itu, Hanin sudah tidak ada. Dan kebetulan, pertemuan Hanin dengan Lani tidak berada di tempat yang terdapat cctv.
“Maaf, Pak. Kmi tidak menemukan istri anda,” ucap kepala keamanan gedung ini.
“Ken,” panggil Vicky berlari ke arah bosnya yang sedang terduduk lesu.
Setelah beberapa jam berlalu, akhirnya Vicky dapat menemui Kenan di tempat ini. ia fikir Kenan dapat langsung membawa istrinya pulang, tapi ternyata Hanin tetap belum ditemukan.
Vicky menghampiri Kenan dan menepuk pundaknya. “Siapa tahu Hanin malah sudah di apartemen, Ken.”
Kenan menggeleng. “Ngga mungkin, Vick. Ponselnya hingga saat ini ga diaktifin. Dia marah sama gue. Lu bener, dia pasti ngeliat gue di rumah sakit sama Misya.”
“Ya udahlah. Sekarang kita balik dulu. Lu udah berjam-jam di sini. Kalau di apartemen, Hanin ngga ada. Kita cari lagi.”
Kenan mengangguk. Lalu berdiri dan kembali ke parkiran untuk pulang dengan langkah gontai. Di belakang, Vicky hanya bisa menghelakan nafas dan menggaruk kepalanya yang tak gatal. Jika Kenan seperti ini, ia pun tak tega melihatnya.
Vicky dengan cepat duduk di kursi kemudi. Untungnya, ia ke tempat ini tidak sendirian. Ia ditemani supir kantor, sehingga ia dapat membawa mobil Kenan pulang ke apartemen bersama dan menyuruh supir itu pulang terlebih dahulu.
****
__ADS_1
Hanin dan Lani sampai di sebuah rumah minimalis. Ia tercengang dengan dekorasi rumah yang dulu bentuknya tidak seperti ini.
“Ini rumah nyokap lu, Lan? Udah di renov ya? Jadi bagus banget,” ucap Hanin, ketika Lani memarkirkan mobilnya di sana dan Hanin turun dari mobil itu.
“Iya, sebelum nikah. Gue langsung renov rumah ini karena gue barter sama nyokap. Gue ngebeliin dia tanah di samping rumah bapak gue di kampung, supaya lebih lebar. Dan sebagai gantinya rumah ini jadi punya gue.”
“Oh.” Bibir Hanin membulat. “Gue jadi penasaran siapa sih laki lu, Lan.”
“Pokoknya lu kenal dah,” sahut Lani menyeringai.
Hanin melangkahkan kakinya ke dalam rumah itu dan di sana langsung terlihat foto pernikahan Lani dan suaminya.
“Ya ampun Lani, suami lu ...” Hanin tak bisa berkata-kata karena ia sangat mengenal suami Lani.
Suami Lani adalah Tio, pria gemulai yang dulu juga menjadi teman baiknya di kantor mereka itu.
Lani mengangguk sembari tertawa.
“Ya ampun, akhirnya lu ngejinakkin pria gemulai ini.” Hanin tergelak.
Lani dan Tio baru dua bulan menikah. Lani pun bercerita tentang itu saat diperjalanan tadi, tapi ia merahasiakan nama suaminya ketika Hanin bertanya.
“Dia cowok, Han. Cuma gayanya aja yang lemes.”
Kemudian, mereka kembali tertawa.
“Tapi gituannya ga lemes kan?” tanya Hanin meledek.
“Nah, ya ngomongnya udah mulai vulgar. Dasar emak-emak.” Lani kembali tergelak, diikuti oleh Hanin yang juga tertawa lepas.
Sungguh, Hanin bersyukur karena dipertemukan oleh Lani, karena wanita itu memang dikenal humoris dan menyenangkan, membuat suasana hati Hanin pun langsung berubah menjadi ceria.
“Maaf ya, Lan. Gue ga datang di acara nikahan lu. Guw ngga tau.”
“It,s oke. Han. Gue tau sekarang lu sibuk. Maklum udah jadi istri konglomerat. Malah tadinya gue segen mau menyapa lu. Takut lu udah ga kenal gue.”
“Apaan sih.” Hanin memukul pelan lengan Lani dengan tersenyum. Ia bukanlah tipe orang seperti itu.
Kemudian, Hanin mengikuti langkah Lani yang berada di dapur dan hendak membuatkan dirinya minuman dingin.
“Tio berapa lama di Kalimantan?” tanya Hanin lagi.
Sewaktu bertemu Hanin tadi, Lani baru saja selesai mengantarkan suaminya yang sedang tugas beberapa hari di luar kota, hingga sampai di tempat yang tidak bisa di antar lagi. Lalu, saat Lani hendak berjalan menuju parkiran, tak sengaja ia menanangkap sosok Hanin yang tengah berjalan melewatinya, tapi ketika itu Hanin berjalan dengan pandangan lurus ke depan dan tidak melihat keberadaannya di sana, hingga akhirnya Lani memanggil nama temannya itu.
“Empat hari. Lama ya,” jawab Lani sembari memberikan minuman dingin hasil buatannya ke tangan Hanin.
Hanin terdiam. Lalu berkata, “gimana kalau gue temenin lu di sini selama Tio belum pulang?”
“Serius?” tanya Lani tak percaya. Walau sebenarnya ia sangat senang, mengingat ia hanya sendiri di rumah ini. “Terus laki lu gimana? Nanti gue kena amuk laki lu lagi. Adiknya aja kek gitu pasti kakaknya lebih parah lagi.”
Lani mengingat lagi saat Kiara menjambak dan menampar Hanin dengan brutal kala itu.
__ADS_1
Hanin langsung tertawa. “Ya, kedua kakak beradik itu memang macan.”