
Kenan keluar dari kamar mandi dan meninggalkan istrinya di sana. Padahal ia ingin sekali ikut mandi bersama. Namun, jika ia mengikuti keinginannya, ia tak akan kuat menahan gejolak itu lagi, pastinya ia akan memakan sang istri yang saat ini tengah kelaparan dan kesakitan akibat ulahnya sore tadi hingga malam ini.
Kenan tersenyum, tatkala mengingat betapa ganasnya ia terhadap tubuh sang istri. Ia pun tersenyum ketika mengingat kembali tubuh Hanin yang begitu nikmat.
“Ah, baru mengingatnya saja, dia sudah bangun.” Kenan menggelengkan kepala sembari menatap ke bawah celananya yang sedikit menggelembung.
Kemudian, ia menghampiri ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur. matanya tiba-tiba tertuju pada noda merah yang sedikit mengering persis di samping ponsel yang tergeletak itu.
“Maaf, Hanin. selama ini aku selalu menuduhmu yang tidak-tidak,” gumam Kenan lirih.
Lalu, ia membereskan sprei itu. Ia melepaskan sprei yang bernoda itu dan menggantinya dengan baru.
Walau Kenan lahir dari keluarga kaya, tetapi ia cukup mandiri. Ia pernah melanjutkan kuliah bisnis di UK, tepatnya di Cambridge University. Saat itu, sang kakek masih hidup dan menyuruhnya untuk melanjutkan gelar magister di sana, dalam waktu dua tahun, tidak boleh lebih.
Selama kuliah di negara maju itu, ia tak pernah sedikit pun bermain-main. Ia hanya fokus belajar dan kembali ke negaranya tepat waktu untuk memajukan bisnis sang ayah. Hidupnya pun di sana cukup prihatin, karena saat itu kondisi perusahaan sang ayah sedang dalam keadaan tidak baik. Sehingga ia melakukan apapun sendiri termasuk memasak dan berusaha mencari tambahan dengan bekerja part time.
Tepat dua tahun, ia kembali ke indonesia dan tak lama dari itu, sang kakek ikut berpulang. Untunglah Kenan kian matang dengan pendidikan dan pengalaman yang cukup untuk membangun bisnis keluarganya sendiri, hingga besar seperti saat ini. Kenan memang pria bertanggung jawab. Ia tak mengeluh ketika harus meninggalkan masa mudanya untuk mewujudkan pesan sang ayah.
Kemudian, Kenan beralih ke dapur. Ia melihat bahan makanan yang ada di lemari es. Kenan tidak jadi memesan makanan online, karena restoran terdekat hanya menawarkan makanan itu-itu saja. Ia ingin memakan makanan buatannya sendiri.
Setelah tiga puluh menit, Kenan akhirnya berhasil menyelesaikan masakannya. Ia hanya membuat pasta, agar lebih cepat.
Hanin keluar dari kamar dan mendapati pria arogan itu tengah berkutat di dapur. Sungguh pemandangan yang langka untuknya, karena selama ini Hanin hanya tahu pria itu angkuh, sombong, pemaksa, dan suka melecehkannya.
Sementara, di sana Kenan tengah asyik menata dua piring yang berisikan fusili bolognese dengan taburan keju parut di atasnya. Kenan tak menyadari bahwa ada wanita yang sedang menatapnya kagum. Ya, diam-diam Hanin mengagumi ketampanan Kenan saat memasak. Sepertinya, chef terkenal yang suka marah-marah di acara misterchef itu pun lewat dengan ketampanan suaminya.
Hanin tertawa cekikikan sendiri, ia mentertawakan dirinya yang dengan mudah mengagumi Kenan, padahal dulu ia sangat membenci pria itu. Sepertinya Hanin memang agak sedikit gila.
Kemudian, Kenan menenggakan kepalanya dan melihat sang istri yang sudah duduk di meja mini bar itu. “Kenapa ketawa?”
“Lucu lihat kamu masak. Emang bisa?” Hanin balik bertanya dengan nada meremehkan.
Lalu, Kenan meletakkan piring itu di hadapan Hanin. “Coba saja.”
Kenan menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Hanin. Hanin mengambil makanan itu dari piring dengan sendok yang ia pegang. Lalu, ia memasukkan makanan itu ke mulut. Ia mengunyah perlahan, terasa ada yang berbeda di mulutnya, makanan ini tidak seperti yang pernah ia makan, justu ini terasa lebih enak.
“Eumm ...” Hanin menyendokkan kembali makanan itu ke mulutnya dengan tergesa-gesa dan seperti orang kelaparan.
“Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ...” Hanin tersedak karena ia terlalu bersemangat dalam menyantap pasta buatan Kenan.
“Pelan-pelan, Han.” Kenan menuangkan air putih dan memberikannya pada Hanin.
“Terima kasih.” Hanin langsung menerima gelas dari Kenan dan meminumnya.
“Pasta buatanmu enak, Ken. Malah lebih enak dari yang di resto.”
Kenan tersenyum dan menaikan alisnya sembari tetap menyuapkan makanan itu perlahan. “Benarkah?”
Hanin mengangguk dan tersenyum. “Benar, kalau aku juri di acara chef televisi itu, aku kasih nilai 100. Eh jangan deh, terlalu sempurna, 90 boleh.”
Kenan tertawa. “90 juga sudah di sebut nilai sempurna, Han.”
“Oh, iya iya. Kalau begitu 80. Tapi ngga, ini enak, terlalu pelit kalau di kasih nilai 80.”
Kenan tertawa lagi. “Terserah kamu, yang penting di habiskan.”
“Itu pasti. Malah sepertinya aku ingin tambah,” ucap Hanin bersemangat.
__ADS_1
“Tidak bisa tambah, karena aku membuatnya hanya dua porsi.”
“Kalau begitu, aku minta dari piringmu saja.” Hanin hendak meraih piring Kenan. Namun dengan cepat Kenan menarik piringnya.
“Tidak, kalau kamu mau nambah, aku akan suapi dari mulutku.” Kenan membuka mulutnya yang masih terisi makanan.
“Dih, ogah.” Hanin mengerutkan bibirnya.
Kenan semakin tertawa. Lalu, ia menuangkan sebagian isi makanan di piringnya untuk Hanin. “ini, habiskan. Awas kalau tidak habis dan di buang.”
Hanin tersenyum manis. “Terima kasih, Ken Ken.”
Kenan membalas senyum itu. Hatinya tidak bisa digambarkan oleh apapun. Sungguh, ia sangat bahagia, kebahagiaan yang sebelumnya tidak pernah ia rasakan. Walau ia pun bahagia jika membahagiakan ibu dan adik kesayangannya. Tapi, ini bahagia yang berbeda.
Kenan menatap Hanin yang masih memakan lahap makanan buatannya. Lalu, ia berdiri dan meletakkan piring dan gelas bekasnya itu ke wastafel.
“Ken, biar aku saja yang mencuci piringnya. Kamu sudah masak, giliran aku yang membersihkan,” ucap Hanin.
Kenan mencuci tangan dan menghampiri istrinya yang masih duduk di meja mini bar itu. “Baiklah, aku mandi dulu ya.”
Hanin mengangguk dan tersenyum. ‘Oke.” Ia menampilkan ibu jarinya ke atas.
Lalu, Kenan memajukan wajahnya. Arah matanya terus tertuju pada bibir bawah Hanin yang belwpotan saus dan sedikit sisa fusili yang menempel. Ia pun ******* bibir bawah Hanin dan memakan makanan yang menempel di sana.
Tubuh Hanin pun tiba-tiba kaku. Ia terkejut dengan apa yang Kenan lakukan.
“Ada sisa makanan di sini.” Kenan mengusap bibir yang telah ia ***** tadi. “Lain kali, jangan ada sisa makanan di sini, karena aku pasti akan memakannya.”
Hanin masih terdiam kaku. Sementara, Kenan dengan santai melenggang pergi meninggalkan Hanin yang masih terdiam.
“OMG, jantungku. Tolong di kondisikan,” gumam Hanin kesal sembari menekan-nekan jantungnya agar berdegup normal, karena sedari tadi jantung itu tak henti-hentinya berdegup cukup kencang.
Kenan memang brengs*k. Untung saja, dia bukan pria yang suka menebar pesona. Jika iya, sudah di pastikan pria itu pun akan memiliki predikat playboy yang akan dengan mudah bergonta-ganti wanita, karena sebenarnya ia memiliki bakat itu.
Selesai makan, Hanin pun membereskan semua piring kotor dan perabot yang telah Kenan gunakan untuk memasak tadi. Untuk menghilangkan rasa bosannya berada di dapur sendirian. Ia menyetel lagu maron 5, grup musik asal Amerika Serikat yang beraliran pop rock.
Hanin bernyanyi sambil merapihkan dapur itu, hingga benar-benar terlihat rapih dan bersih. Terakhir ia mengelap kitchen set marmer yang terlihat mulus dan cantik, sambil berjoged karena kali ini ia sedang mendengarkan lagu “Girls like you”.
'Cause girls like you
Karena gadis sepertimu
Run around with guys like me
Bergaul dengan pria sepertiku
'Til sundown, when I come through
Hingga matahari terbenam saat aku datang
I need a girl like you, yeah yeah
Aku butuh serang gadis sepertimu
Hanin bernyanyi mengikuti lirik lagu itu dan mencuci kembali tangannya di wastafel setelah ia selsai membersihkan dapur ini.
“I need a girl like you.” Tiba-tiba Kenan bernyanyi mengikuti penggalan lirik lagu itu, tepat di belakang telinga Hanin. Ia pun memeluk Hanin dari belakang dan melingkarkan kedua tangannya pada pinggang sang istri.
__ADS_1
Hanin kembali diam mematung.
“Kamu suka Maroon?” tanya Kenan berbisik.
Hanin membalikkan tubuhnya. Ia menggangguk tersenyum. “Bahkan aku sudah menonton konsernya di Singapura.”
“Oh, ya? Ya ya.. aku tahu konser itu. aku juga sempat ingin menontonnya, tapi jadwalku saat itu sedang padat,” jawab Kenan.
“Kamu juga menyukai grup musik itu?” tanya Hanin. Mereka bercengkaram ria.
Kenan mengangguk dan tersenyum. “Suka.”
“Kalau gitu kita sama.” Hanin menonjok pelan dada Kenan. “Bahkan di konser itu juga aku bertemu Mas ...” Hanin tak lagi meneruskan kata-katanya. Ia tak ingin menyebut nama Gunawan di hadapan Kenan.
Kenan menyipitkan matanya, ia tahu siapa yang tengah akan Hanin sebut.
“Siapa?” tanya Kenan dingin.
Perbincangan hangat tadi, sudah tidak lagi hangat, karena Kenan kini menampilkan wajah dinginnya.
“Bukan siapa-siapa.” Hanin menggeleng dan berjalan meninggalkan Kenan.
“Bertemu siapa, Han?” Kenan mengejar langkah Hanin dan menarik pundak Hanin agar menghadap ke arahnya.
“Sudah bukan siapa-siapa, Ken,” jawab Hanin jujur.
Kenan menatap lekat kedua bola mata Hanin yang berwarna hitam bersih. Ia menangkap kejujuran di dalam mata itu. Mata teduh itu pun mengisyaratkan kejujuran. Mereka saling bertatapan dengan durasu cukup lama, hingga Kenan akhirnya bersuara.
“Sepertinya, aku harus memberimu hukuman kedua sekarang.”
Kenan langsung menggendong Hanin seperti karung beras dan membawanya ke kamar.
“Ken.” Hanin kembali meronta dan memukul punggung suaminya.
Kenan melangkahkan kakinya ke kamar dengan cepat. Lalu, menjatuhkan tubuh Hanin di atas ranjang. Ia pun dengan cepat membuka pakaiannya dan membuka pakaian Hanin yang hanya memakai kaos milik Kenan tanpa bawahan.
“Ken, Ah.” Hanin berdesis, saat Kenan memaksa pakaian itu terlepas dari tubuhnya.
“Aku akan membantumu untuk menghilangkan pria itu dalam ingatanmu.” Kenan kembali garang, persis seperti pria yang semula Hanin kenal. Pria yang melecehkannya pertama kali di sebuah hotel, pria yang hampir saja merenggut kehormatannya, jika ia tak berteriak meminta tolong pada kedua orang tuanya yang sudah tak lagi berada di dunia ini.
“Ken, aku sudah melupakannya. Sungguh!” Hanin menyilangkan kedua tangannya untuk menutupi dadanya yang terbuka, karena Kenan berhasil membuat tubuhnya kembali polos.
Hanin berangsut mundur dan Kenan tetap mengejarnya dengan merangkak. Keduanya berada di atas ranjang.
“Aku tidak suka kamu menyebut namanya dihadapanku.”
“Maaf, Ken. Bukan maksudku un...”
Cup
Kenan ******* bibir Hanin, hingga ia tak meneruskan perkataannya. Bibir Hanin menjadi santapan awal kebringasan Kenan yang sedang kesal.
Kecapan itu terdengar nyaring dan bertubi-tubi, karena Kenan tak memberi jeda nafas untuk Hanin. ia terus memainkan bibir bawah dan atas Hanin bergantian dan membelit lidahnya.
“Ken... Mmmpphh ..” Hanin berusaha menahan dada Kenan.
Ia tak tahu apakah Kenan saat ini tengah cemburu? Itu artinya Kenan mencintainya? Namun, ia tak berani berspekulasi tinggi. Ia takut akan terjatuh, saat mengetahui bahwa kenyataan tidak seperti yang di bayangkan.
__ADS_1